Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Pejabat BPK dan Dua Anak Tewas
Terkena Penyakit Misterius?
Tangerang, Warta Kota
        Kirim Teman | Print Artikel




Auditor BPK Iwan Siswara Rafei (38) beserta dua anaknya tewas akibat
penyakit misterius. Ini merupakan kasus pertama di Indonesia. Iwan
merupakan auditor muda Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan jabatan
terakhir Kabag Kesekretariatan BPK. Iwan tinggal di Jalan Cempaka Blok
SR  14 No 7 Perumahan Villa Melati Mas, Serpong, Tangerang.
Beristrikan Ny Lien Rosalina, Iwan dikaruniai tiga anak: Fariz Rizki
Nurrahman (12), Sabrina Nurul Aisyah (10 tahun), dan Thalita Rachmah
Nurul Azizah (1 tahun). Yang pertama meninggal adalah Thalita pada Sabtu
(9/7) setelah dirawat di RSAB Harapan Kita. Iwan meninggal Selasa (12/7)
pukul 17.55 WIB setelah sepekan dirawat di Rumah Sakit Siloam Gleneagles
(RSSG), Lippo Karawaci, Tangerang. Yang terakhir meninggal adalah
Sabrina pada Kamis (14/7) pukul 04.30 WIB, juga di RS Siloam Gleneagles.
Dua anggota keluarga tersisa, Ny Lien dan Fariz kini diungsikan ke
Bandung.
Awalnya, mereka diduga tewas karena penyakit flu burung atau SARS
(severe accute respiratory syndrome) yang bikin heboh tahun lalu. Namun
para pejabat kesehatan maupun pejabat di RSSG membantah. Demikian pula
keluarga almarhum Iwan. Sebelum sakit, Iwan mengadakan kunjungan kerja
ke Hong Kong, Thailand, Filipina, dan India. Tapi paman Ny Lien
Rosalina, Dedi Hawadi, membantah tegas menantu dan cucunya meninggal
karena penyakit flu burung yang pernah heboh itu.
Menurut Dedi, semenjak di rawat di rumah sakit, kondisi kesehatan Iwan
memang drop. "Mungkin karena beliau kelelahan," katanya. Hanya sehari di
rumah sakit pihak keluarga mampu berkomunikasi dengan Iwan. Selebihnya,
Iwan tak pernah mampu diajak berkomunikasi lagi. Jadi sampai meninggal,
Iwan tak tahu anaknya sudah meninggal," kata Dedi.
Bantahan serupa disampaikan oleh Pingkan Purwandari, Corporate Marketing
& PR RS Siloam Gleneagles. Direktur Medik dr Anastina Tahjoo juga
menerangkan bahwa Iwan masuk ke rumah sakit tersebut karena radang
paru-paru. Sampel bakteri sudah diambil dan diteliti di
laboratorium.Persoalan ini semakin serius setelah Sabrina akhirnya
meninggal kemarin pagi, menyusul adik dan ayahnya. Menteri Kesehatan
Siti Fadilah Supari berjanji tidak akan menutup-nutupi kasus ini. Depkes
pun sudah membentuk tim yang diketuai oleh dr Sardikin untuk menangani
kasus ini.
Keluarga Ny Lien Rosalina sangat terpukul dengan terenggutnya tiga
anggota keluarga. Air mata Ny Lien nyaris tak keluar lagi karena habis
terkuras. Ia masih berusaha tegar di depan peti jenazah anaknya.
Mengenakan pakaian hijau, berkerudung krem, ia harus diapit oleh para
kerabat. "Bu, biar saja adik pergi...," tutur Fariz Rizki Nurrahman yang
kini jadi anak semata wayang. Fariz yang berusia 12 tahun itu lebih
tegar kendati kehilangan ayah dan dua adiknya.
Jenazah Sabrina dikebumikan di pemakaman Astana Raga Pamulang. Ketika
Sabrina dimakamkan, tanah kuburan ayah dan adiknya belum kering.
Karangan bunga, tenda, kursi di rumah duka pun belum dipindah dari
tempatnya. Hujan yang terus mengguyur seakan menjadi tanda ucapan
perpisahan untuk Sabrina. Pelayat pun tak kuasa menahan air mata saat
terdengar azan melepas peti jenazah Sabrina ke liang lahat. Makam
Sabrina dan Thalita mengapit makam sang ayah.
Musibah yang mendera keluarga ini begitu berat dan membuat semua orang
dekat mereka terperangah. Hanya dalam hitungan enam hari, tiga anggota
keluarga bergantian dipanggil Yang Kuasa. Kepergian ayah dan dua anak
ini pun penuh misteri karena sempat diisukan terserang flu burung.
"Kami meminta pemerintah bisa mengungkap penyakit yang menyebabkan
kepergian tiga anggota keluarga kami. Meski merasa beban ini terlalu
berat tapi kami harus mengedepankan kepentingan orang banyak dan kami
akan terbuka soal apa yang telah terjadi," kata Dedi Hawadi, paman Ny
Lien yang mewakili keluarga.
Saat Sabrina kritis pukul 04.00 WIB, Lien dan Fariz sedang berada di
rumah kerabatnya di Bogor. Sabrina mengalami masa kritis akibat gangguan
kerja paru-parunya dan akhirnya mengembuskan napas terakhir 30 menit
kemudian.
Di mata warga Villa Melati Mas, Serpong, keluarga Iwan sangat familier.
Iwan menetap di sana 15 tahun dan dipercaya sebagai bendahara Masjid As
Sajadah yang berada di kompleks perumahan itu. "Saat Sabrina masuk rumah
sakit, Pak Iwan ngobrol panjang dengan saya soal kepengurusan mesjid.
Saya tidak mengira dia akan meninggalkan kita karena saat itu dia tampak
sehat," kata Ketua Paguyuban Duka Cita Villa Melati Mas, Sopian Husin,
yang turut ke pemakaman Sabrina. (Has)



Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke