Artikel berikut ini sebagaimana yang dimuat Jawapost hari ini sangat menarik , 
maka saya forwardkan kepalanta karena berkaitan atau paling tidak bercerita 
tentang suatu legenda yang konon katanya pernah terjadi di Sumatera Barat .
 
zul amry piliang 
 
Jawapost , Minggu 14-08-2005.
Malin Kundang

Oleh D. Zawawi Imron

Ingat Si Malin Kundang? Anak miskin yang pamit pada ibunya untuk ikut saudagar 
kaya berlayar ke negeri-negeri yang jauh, setelah besar dan menjadi orang 
suskes ia tak mau mengakui ibunya yang miskin dan renta. Akhirnya ia dikutuk 
bersama perahunya menjelma jadi batu di dekat pantai Teluk Bayur, Padang, 
Sumatra Barat.

Itu sebuah legenda, cerita yang berkaitan dengan nama sebuah tempat. Kisah itu 
dulu sering dikisahkan kepada anak-anak agar tidak durhaka kepada orang tuanya. 
Cerita itu tentunya tak pernah terjadi, tapi sebagai karya sastra, dongeng itu 
mengandung kearifan, akhlak mulia, sebuah paham yang merasuk ke dalam kalbu 
bahwa anak durhaka akan terkutuk.

Suatu ketika, pada awal 2005, beberapa pakar budaya berkumpul di Jakarta untuk 
membicarakan tentang pentingnya mengolah tradisi. Namun ada seorang pakar yang 
merasa bahwa nilai-nilai tradisional sudah tidak penting lagi. Alasannya, sang 
pakar satu ketika memberi putranya buku bacaan "Si Malin Kundang". Sehabis 
membaca buku itu, si anak berkomentar, ia sangat kasihan pada si Malin Kundang 
karena anak durhaka itu terkutuk menjelma batu.

"Bukankah cerita ini sudah tidak relevan lagi dengan zaman, karena anak saya 
tiba-tiba bersimpati kepada si Malin Kundang," kata sang pakar.

Menurut saya, sang putra adalah anak yang cerdas, karena mampu memberi 
interpretasi yang lain dari ayahnya. Bukankah sebuah karya sastra, termasuk 
legenda, tidak harus punya tafsir tunggal? Salahkah seorang anak yang merasa 
kasihan kepada orang yang durhaka? Bukankah seorang yang durhaka, seperti 
koruptor, pencoleng, penipu, dan orang durhaka lainnya perlu dikasihani?

Rendra pun dalam sajaknya Dengan Kasih Sayang menulis:
Kepada penjahat yang paling laknat
Pandanglah dari jendela hati yang bersih

Dengan demikian, kita tidak bisa memaksa orang lain, bahkan anak sendiri, untuk 
menginterpretasi karya sastra harus sama dengan interpretasi kita. Tak ada 
tafsir tunggal terhadap karya sastra. Itulah barangkali, kenapa sutradara 
terbaik Amerika, Robert Wilson, mau menyutradarai nukilan dari sastra tua Bugis 
Lagaligo, tapi dengan interpretasi yang lebih segar.

Arifin C. Noer pernah menulis dan menyutradarai lakon Dalam Bayangan Tuhan. 
Dalam salah satu adegannya, Malin Kundang yang tetap durhaka itu memasukkan 
ibunya ke dalam sorotan sinar laser sehingga sang ibu menjelma batu atau 
patung. Kemudian patung ibu itu ia serahkan ke museum sebagai fosil. Di sini 
Arifin C. Noer telah melakukan olah kreatif, ia lukiskan tragedi kemanusiaan 
yang menggambarkan si Malin Kundang zaman modern dengan segala kegagahan dan 
arogansinya menyatakan orang tua yang telah melahirkan dan mengasuhnya sebagai 
fosil. Antara ibu dan anak sudah terjadi jarak dan jurang budaya yang 
sedemikian jauh, sejauh ufuk timur dengan ufuk barat.

Olah kreatif yang demikian tidak hanya dilakukan Arifin C. Noer saja. Gus TF 
Sakai misalnya, dalam novelnya Tambo, telah memanfaatkan tambo (dongeng) 
Minangkabau dengan tokoh-tokohnya yang dijadikan sebagai media mengungkapkan 
sikap dan karakter manusia-manusia masa kini. Tiba-tiba tambo menjadi aktual.

Sikap yang demikian adalah sikap kreatif terhadap tradisi atau meminjam istilah 
Ignas Kleden, "mengolah tradisi dengan cara yang tidak tradisional". Bersikap 
kreatif terhadap tradisi, tentu saja memerlukan kecerdasan berpikir, membaca 
dan melakukan lompatan berpikir ke wilayah-wilayah tak terduga. Ibarat orang 
berlayar, pergi ke laut yang di peta tidak kita temui.

Sikap kreatif terhadap tradisi memerlukan dialog panjang dengan tradisi agar 
kita bisa melakukan seleksi tentang kemungkinan tradisi itu untuk bisa diolah. 
Sikap seperti itu untuk mengelak agar tidak apriori alias tidak menjadi Malin 
Kundang terhadap tradisi. Tradisi yang ternyata tidak berpihak kepada hidup dan 
kehidupan memang harus dianggap sebagai fosil. Dan perlu dimuseumkan. (*)



                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search. Learn more.
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke