Sorry, ambo ingin pulo manyolo, meskipun indak mengikuti topik ko dari awal. Tenang rauangan shalat di kampus-kampus, jelas berbeda dari kampaus ke kampaus tergantung fasilitas di kampus itu sendiri.
Jadi tidak mutlak apaki bangku-bangku dan segalanya itu. Kalau kebetulan, itu krn memanfaatkan fasilitas yg ada. Krn Islam memang tidak major di kampaus mana saja. Begitu juga dg menjadikan gereja sbg mesjid. Rasaya dari sini titilk tolak diskusi ini. Sebenarnnya hal ini juga sehubungan dg memanfaatkan fasilitas yg ada sehubugan dg harga. Salah satu faktor yg membuat mesjid sangat terbatas jumlah nya di Amerika adalah soal uang. Kenapa? Karena mulims di Amerika believe in "not to take the loan from banks". Seperti yg Rahima jelas kan, berhutang di bank pakai (bunga uang begitu tidak lah halal. Jadi setiap mesjid di Amerika itu adalah dg uang tunai, tergantaung pada muslim community setempat dan aktifiti nya menjalankan fund raising. (Memaang sekarang ada juga bank Islam, tp itu lain lagi persoalannya. Saya takakn membuka issue ini disini). Jadi kalau gereja yg semakin megah dan yg berdirinya spt cendawan tumbuh saat kesaat, semakin megah dan semakin banayk saja, memang sangat menyayat hati bila dibandingkan dg pertumbuhan mesjid yg sangat susah. (catatan: pendirian gereja bisa dg uang yg bersumber apa saja, sesuai keyakinan mereka). Berdasar kan logika diatas, maka sebagaian Muslims di Amerika memanfaatkan, membeli gereja yg dijual sbg tempat beribadah kit aIslam (mesjid, adakalanya termasuk sekolahan Islam). Tidak hanya gereja yg di manfaatkan begitu, tp umunya toko dan rumah pun juga adalah asal suatu mesjid. Diamabil gereja dg banyak pertimbangan lain lagi, seperti: daerah dan lokasi nya ytg memang telah utk lokasi dan aman utk beribadah, ounya parking spaces yg telah tersedia utk sekian kapasitasnya (ini adalah hal yg palin gutama), ruangan nya yg jelasa memnuhi utk peribadatan kita, (tp sudah ke;las dimodifikasi dulu, sesuai dg persyaratan meshid kita), merka bahkan juga punya play ground atau rauangan utk menjaga anak2, ... dan fasilitas lainnya yg sangat bermanfaat, termasuk ruang temapt beruduk (yg tentu juga di modifikasi). Sehubungan dg mesjid yg ber-kamar2, itu jug apunya sejarah dan alsan tertentu. Di mesjid kami di Knoxville, sorry, mulut saya juga resposible utk membuat tempat yg terturup utk shalat kaunm wanita? Kenapa? Sorry lagi, sbg kebiasaan ummat Islam di negara ini, saya lihat di manapun (sekarang telah mulai di tertibkan), tp dulu nya anak2 mereka tidak tertib spt anak2 kita di Indoensia. Waktu shalat, pengajian, khotbah, mereka berkeliaran di mana-mana dan sangat bising nya. Dg dasar begini saya bilang ke Ralph, mari kita buat pintu yg bos di kunci utk ruangan shalat wanita ini. Sorry, say juga rtermasuk dlm hal ini. Disamping itu, setelah dan sebelum waktu shalat, rauangan terturup ini punya sekian fungsi, antara lain sbg kelas mengaji/sekolah.sunday school dll, tempat meeting dll, wirid ibu2, dll. Jadi dg terturup ny ruangan ini, adalah memanfaatkan ruangan mesjid yg terbatas jumlah nya utk multi guna. Mesjid yg terdiri dari ruangan2 , itu lah juga akibat mesjid itu yg asal mulanya adalah dari sebuah rumah, yg telah beruang-ruang, atau office (yg juga sering berasal dari ruamh biasa). (Kita memang akan heran melihat gaya toko dan office disanan (tergantugn daerah dan income nya) yg hanay berupa sebuah rumah saja. KRn memamng ada kalanya rumah yg dijadikan temapt bisnsi. Tp kalau mesjid di disign dari wal, itu memmang berupa mesjid, dg ruangan besar terbuka dan mega, lagi2 sesuai dg income dan selera muslim commuity setempat. Yangjelas temapt wanita dan pria terpisah sedemikian, tidak hanya sekedar tabir seperti di mesjid kita (tauapun tidak bertabir sama sekali spt mesjid2 besar kita). Terpisah dlm berbagai versi pula, ada yg berupa level/tingkat. Mesjid yg besar yg umumnya dua tigakat, buat wanita di tingkat atas dan buat pria di tingkat bawah. nah ada lagi mesjid yg terpisdsah berkamar-kamar ataupun bertingkat yg kaum want=ia yg terpisah tak bisa melihat Imam. Ini pernah menjadi topik yg santer dulu nya, nun di zaman waktu saya masi dih tanah air, tp saya tidak mendengar lagi pemecahan/jawaban hal ini. (Sorry, ini tidak di edit). Sekian dulu, salam dan maaf, Nurbaini McKosky In a message dated 9/5/2005 4:11:22 AM Eastern Standard Time, [EMAIL PROTECTED] writes: Kalau di kampus2 amerika tu biasonyo ado Ruang Ibadah Serba Guna, mukasuiknyo buliah dipakai oleh agama/sekte apa saja untuk melakukan ritual keagamaan disitu... hanya disainnya memang seperti gereja yaitu sudah dipasang bangku-bangku duduk yang permanen... salam - tg # -----Original Message----- # From: On Behalf Of darul # # Assalaamu'alaikum W W. # # Disini, denegaraku .......... eh salah negara kita, justru kebanyakan # gereja. Karena gereja dibangun oleh setiap group kebaktian # (majelis ta'lim bagi kita), dimana seorang pendeta mengumpulkan # jemaah dan kalau sudah cukup banyak membangun gereja. # Jadi gereja adalah untuk satu gruop, paling ya sekte. # Bukan seperti masjid yang untuk semua umat Islam. # # Jadi kata fasilitasiko apo artino goh? Apo urang non Islam # buliah baamal di musajik? Ambo kiro alah jaleh Syari'-nyo, kan? # # Wassalaamu'alaikum W W. # Darul Makmur # # ----- Original Message ----- # From: "boes" <[EMAIL PROTECTED]> # # Angku Darwin, # # Benar kata Sdr. Dwi W Soegardi, sudahkah kita memfasilitasi kelompok # non-muslim dinegara indonesia? bukankah ummat islam adalah mayoritas # di negara ini? # # # wassalam, # boes # Website http://www.rantaunet.org Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

