Hakikat Kecantikan dan Ketampanan
Sasa Esa Agustiana
 

Sebutlah namanya Intan, penampilannya oke punya, dengan tinggi 170 cm,
langsing,  kulit putih bersih. Teman-temanya sering menjulukinya gadis
kutilang  (kurus,  tinggi,  dan  langsing).  Ia termasuk bunga kampus,
banyak pria yang memuji kecantikannya.

Tak  jauh  beda,  Agus  pun  kerap  mengundang  decak kagum wanita, ia
bintang basket, aktif di senat dan DKM (Dewan Keluarga Masjid) kampus,
dengan  tinggi 180 cm, wajah keindo-indoan, padahal ia orang Indonesia
asli   lho.  Tampilan  fisik  keduanya,  secara  umum  dapat  dijuluki
cantik/tampan.

Penampilan  Ira dan Anto, biasa-biasa saja, tinggi sedang-sedang saja,
kulit  hitam  manis. Mereka juga banyak disukai orang. Lalu siapa yang
cantik/tampan di antara mereka sesungguhnya?

Mengukur  kecantikan/ketampanan  seseorang menjadi relatif, tergantung
siapa  yang  berkomentar  dan dari sudut apa penilaian dilakukan, bisa
karena ukuran tinggi badan, bentuk wajah, atau warna kulit seseorang.

Sesungguhnya  tak  mungkin  kita  akan bersombong ria, dengan menghina
orang  lain (baik secara lisan atau di dalam hati) eh… kamu tuh jelek,
hidungmu  dataran rendah, mukamu berjerawat, badanmu semampai (semeter
pun  tak sampai alias pendek), gemuk, kulit hitam legam, matamu sipit,
dll. karena kecantikan dan ketampanan lahiriah ini didapat gratis dari
Allah  swt.  tanpa  campur  tangan  orang yang bersangkutan, diberikan
begitu  saja, "Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya." (At- Tiin 95: 4).

Walaupun  telah  diciptakan  dalam  sebaik-baik bentuk, kecantikan dan
ketampanan ini hanyalah titipan, akan berarti bila disertai ketaqwaan.
"Sesungguhnya  Allah  tidak  melihat  tubuh-tubuh  kalian,  juga tidak
penampilan  kalian, tapi melihat hati dan amal perbuatan kalian. Taqwa
itu di sini, taqwa itu di sini, taqwa itu di sini, beliau pun menunjuk
dadanya."  (H.R.  Bukhari  dan Muslim). Kemuliaan manusia hanya dengan
iman  dan  mengerjakan amal shaleh, sebagaimana diterangkan dalam Q.S.
At –Tiin 95: 6.

Oleh  karenanya,  tampilan  apa pun yang ikhwan/akhwat miliki tak usah
berkecil     hati.     Betapa     adilnya    Allah    yang    mengukur
kecantikan/ketampanan  kita  semata  dari isi hati masing-masing. Agar
kecantikan/ketampanan  yang  ada  di dalam seseorang terpancar keluar,
diperlukan beberapa hal sebagai berikut:

Menjaga Lisan

Dalam bahasa Indonesia dikenal sebuah pepatah, mulutmu adalah harimau.
Maksudnya,   apa-apa   yang  kita  ucapkan  dapat  berdampak  langsung
mencelakakan  si  pembicara  ke dalam kebinasaan akibat kata-kata yang
diucapkannya itu.

Menarik  atau  tidaknya  seseorang,  dapat terpancar dengan tutur kata
yang  santun,  lemah lembut, menyejukkan, sapaan ramah, walau isi yang
disampaikannya  itu  mungkin menyangkut hal yang sederhana sekali pun,
apalagi  bila ditambah dengan wawasan keilmuannya mumpuni/berbobot. Ia
selalu  hadir menempatkan dirinya menjadi pribadi yang tawadhu (rendah
hati),  apabila  tahu  ia katakan tahu, apabila tidak ia akan bertanya
pada ahlinya.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk dapat menjaga tutur kata, "…Dan
barang  siapa  yang  beriman  kepada  Allah  dan  hari akhir hendaklah
bertutur  yang  baik atau diam." ( Diriwayatkan Asy-Syaikhany dan Ibnu
Majah).

Rasulullah  saw. menetapkan dua pilihan: bertutur kata yang mengandung
unsur  kebaikan  atau  diam,  karena pada dasarnya semua perkataan itu
tidak  terlepas  dari dua nilai, yaitu perkataan berunsur kebaikan dan
perkataan  berunsur  keburukan.  Tidak  berkata-kata alias diam (tidak
berkomentar)  karena  apabila  berkomentar  dipandang mengandung unsur
keburukan.  Misalkan  menahan  diri  dari  mengeluarkan kata-kata yang
dapat   menyakiti   hati   orang,   meledek/menghina,   mencaci  maki,
menghasut/provokasi, mengkritik orang dengan tidak arif, dll.

Hadits  lain  dalam  riwayat Bukhari dan Muslim menerangkan, perkataan
yang  manis  adalah  salah  satu  bentuk  shadaqah.  Bahkan  Al Qur’an
menerangkan:  "Perkataan  yang  baik  dan  pemberian  maaf  lebih baik
daripada   sedekah  yang  diiringi  dengan  sesuatu  yang  menyakitkan
(perasaan  penerima).  Allah  Maha  Kaya  lagi  Maha Pengampun." (Q.S.
Al-Baqarah 2: 262).

Perilaku yang Baik

"Sesungguhnya  yang  terbaik  di antara kalian adalah yang paling baik
perilakunya."  (H.R.  Bukhari).  At-Tirmidzi  meriwayatkan dari hadits
Jabir,  sesungguhnya Nabi berkata, "Sesungguhnya orang yang paling aku
senangi  dan paling dekat kedudukannya denganku kelak pada hari kiamat
adalah yang terbaik perilakunya di antara kalian."

Juga  hadits  yang  lain,  "Sesungguhnya  aku (Rasulullah saw.) diutus
untuk menyempurnakan perilaku yang benar." (H.R. Ahmad).

Firman   Allah   swt.,   "Dan   sesungguhnya  kamu  (Rasulullah  saw.)
benar-benar  berbudi  pekerti  yang  agung."  (Q.S.  Al  Qolam 68: 4).
Menurut  Aisyah  r.a.,  istri  Rasul,  perilaku  Muhammad  saw. adalah
cerminan   kandungan  Al  Qur’an.  Misalkan  kesabaran,  jiwa  pemaaf,
keikhlasan   dalam   beramal,   keberanian   membela  yang  benar/hak,
bijaksana, dll.

Sangat  banyak  keterangan  yang  mengajak kita berperilaku cantik dan
tampan  dalam  hal  akhlak/perilaku,  dengan cara berupaya mengamalkan
firman-Nya.

Kalau   perilaku   ini   sudah   terlatih   (melalui  riyadhoh/latihan
membiasakan  diri  sehingga  menjadi  kebutuhan),  insya Allah menjadi
sifat  yang  tertanam  kuat  di  dalam  jiwa.  Dengan  sendirinya akan
melahirkan   perbuatan   amal  shaleh  yang  dibiasakan,  tanpa  harus
terpaksa.  Misalnya hati akan mudah tergerak untuk memberi tanpa harus
lebih  dahulu  diberi  oleh  orang  lain, kesabaran hatinya melahirkan
sikap  yang  tanpa  menyerah  menghadapi  komentar  orang  bodoh/jahil
terhadapnya lalu mampu memaafkannya, dan bertindak bijaksana/hati-hati
mengharuskan   ia   menimbang  dahulu  apa  saja  dengan  pertimbangan
kemaslahatan untuk dirinya, keluarganya, lingkungan, dan umat.

Mampu Mengendalikan Diri

Dari  Abu  Hurairah  r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Orang
kuat  itu  bukan  karena  (kekuatannya)  pada  saat  berkelahi.  Tapi,
sesungguhnya  orang  kuat  itu  adalah  orang yang dapat mengendalikan
dirinya pada saat marah." (H.R. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).

Boleh-boleh  saja  ikhwan/akhwat  marah  terhadap seseorang/pada suatu
keadaan,  asal  dalam  kemarahan  itu ia tetap dapat menjaga lisan dan
perbuatan,  jangan terlalu memperturutkan hawa nafsu ingin marah tanpa
kendali.   Misalkan  sambil  mencaci-maki,  memukul,  sambil  melempar
barang,   tidak  mau  memaafkan  kesalahan  orang  yang  membuat  kita
marah/dendam,  marah sampai berhari-hari, memutuskan tali silaturahmi,
dll.

Pada  umumnya reaksi orang pada saat marah biasanya raut muka memerah,
kedua  matanya membelalak, urat leher tegang, hati tersulut emosi, dan
kata-kata  tak  terkontrol,  sehingga  membuat  orang di sekelilingnya
tidak nyaman bila berdekatan dengannya.

Upayakan  penampilan  ikhwan/akhwat  tetap menarik walau dalam keadaan
marah  sekalipun.  Caranya  dengan melatih diri untuk menegur/memarahi
orang  dengan  niat  karena Allah, membenci pun karena Allah swt. Kita
benci  pada  perbuatanya bukan pada orangnya, sehingga menjadi ibadah,
bukan memperturutkan hawa nafsu syetan.

Memiliki Rasa Malu

Dari  Imran  bin  Hushain,  ia  berkata, Nabi saw. bersabda, "Malu itu
hanya bisa tercipta dari kebaikan." (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Rasa malu seseorang kepada Allah swt. dapat melahirkan suatu kebaikan.
Misalkan  ketika  bertemu dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya lalu
menundukkan  pandangan/tidak menatap dengan syahwat, ketika bergaul ia
mampu  menahan kata-katanya untuk tidak membicarakan hal yang sia-sia,
dll.  semata-mata  karena merasa malu kepada Allah swt. Orang tersebut
malu  bila menggunakan karunia/nikmat Allah swt. untuk kemaksiatan, ia
sadar selalu diawasi oleh Nya.

Menjauhi Prasangka, Memata-Matai, Dengki, dan Saling Memusuhi

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. berkata, "Jauhilah
oleh    kalian    berprasangka,    sesungguhnya    berprasangka    itu
sebohong-bohong  perkataan.  Dan janganlah kalian saling memata-matai,
saling  menduga-duga  (kesalahan orang lain), saling mendengki, saling
membenci,  dan  saling  memusuhi. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah
yang  bersaudara,  sebagaimana  telah Ia perintahkan. Orang Muslim itu
adalah    saudara    orang   Muslim   lainnya,   tidak   menzaliminya,
menghinakannya dan merendahkannya. Cukuplah kejahatan orang Muslim itu
ketika  ia  merendahkan  saudaranya  sesama Muslim. Setiap Muslim atas
Muslim  lainnya  diharamkan:  Darahnya,  hartanya, dan kehormatannya."
(H.R. Bukhari dan Muslim).

Kita  dilarang: Mengorek/memata-matai aib/aurat/keburukan/sisi negatif
orang  untuk diberitahukan kepada yang lain (tajassus) atau untuk diri
sendiri  (tahassus).  Hasad,  berharap  agar nikmat yang didapat orang
lain  secepatnya  musnah,  sama saja apakah harapan itu diikuti dengan
usaha  memusnahkannya  atau  tidak.  Tadabur  yaitu  saling  menjauhi,
berpaling,  atau memusuhi. Haqr, menghina, merendahkan, dan menganggap
remeh. Zhann, kecurigaan yang tanpa sebab, tanpa dasar, yang tidak ada
kesesuaian dengan kenyataan, tanpa melihat bukti-bukti.

Walaupun  demikian, ada zhann (prasangka) yang diperbolehkan, misalnya
terhadap   orang   yang   terang-terangan  menunjukkan  potensi  untuk
diragukan,    zhann   terhadap   masalah   yang   terang-terang   akan
mencelakakan, zhann bahwa Allah itu Maha Adil, tidak pernah zalim pada
hambanya.

Memata-matai   orang   diperbolehkan   untuk  tujuan  menjauhkan  dari
kerusakan karena pertimbangan kemaslahatan yang lebih besar. Misalkan,
apabila  kita  mengetahui  ada  orang yang berniat melakukan kejahatan
pembunuhan   atau  pencurian,  kita  memata-matai  mereka  agar  dapat
menggagalkan rencana tersebut.

Berbahagialah    ikhwan/akhwat    bila    kita   dapat   berpenampilan
cantik/tampan  luar-dalam,  terutama  bila  hati  kita dipenuhi dengan
sifat-sifat  positif  seperti  di  atas. Wallahu A’lam Bishshawab.

Doa   kita   bersama:  "Allaahumma  kamaa  hassanta  khalqii  fahassin
khuluqii",  Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku,
maka perindah pulalah akhlakku. (H.R. Ahmad).


Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke