Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,


Updated, Selasa 11 Oktober 2005 l
 

------------------------------------------------------------------------
--------
 
Balada PNS 
Oleh Razak Samik Ibrahim 

Seandainya hidup ini bisa bak kato ati awak , maka saya berniat untuk
memilih hidup kembali ke zaman Bundo Kanduang atau ke zaman Gubernur
Harun Zein. Di kedua zaman itu, hidup sebagai PNS enak tenan !
Segala-macam fasilitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja PNS
dipenuhi. Tidak seperti kehidupan PNS di zaman reformasi seperti
sekarang, " Oto dinas dimintak, sumpah dapek !". 

Pegawai Negeri Sipil Kerajaan Minangkabau seperti Engku Cindua Mato
hidupnya mewah sekali. Selain gaji yang cukup dia juga diberi uang saku,
uang taktis berupa emas dan perak. Untuk melaksanakan aktifitas rutin,
Cidua Mato dilengkapi fasilitas kendaraan canggih berkaki empat dan
bertenaga kuda yang bernama " Si Gumarang". 

Konon kabarnya berlari seperti kilat. Sehingga tugas dinas Cindua Mato
untuk memonitor pembangunan kemana-mana dilaksanakan hanya dalam
hitungan detik. Baru saja mulut Bundo Kanduang selesai bersabda, Cindua
Mato dan Si Gumarang telah kembali untuk membuat laporan dengan rinci
dan mendetil. 

Fasilitas yang lain adalah bulldozer bertenaga "Turbo" ( turunan kebo )
yang bernama " Si Binuang ". Binatang yang menjadi simbol Minangkabau
itu selain merancah sawah, juga difungsikan untuk menjaga ketertiban dan
keamanan kerajaan. Cara kerjanya selain menubruk kaum ekstrimis anti
Bundo Kanduang juga menanduk-nanduk para pembangkang yang ingin mengacau
keutuhan kerajaan kesatuan alam Minangkabau (sama dengan NKRI sekarang).


Lain Bundo Kanduang lain pula dengan kiat Harun Zein. Kondisi ekonomi di
awal pemerintahan Harun Zein sangat parah. Infrastruktur hancur
berantakan, apalagi saat itu eforia "Amanat Penderitaan Rakyat "(Ampera
) menjadi kalimat sakti yang selalu dikunyah-kunyah orang setiap hari.
Apa saja masalah selalu digarami "Ampera". Mahasiswa dan pelajar
berteriak "Ampera". Penjual nasi ramas menyebut produknya "Ampera", para
muda-mudi dimabuk cinta memilih lokasi pacaran "Ampera" di bioskop
terbuka stadion Iman Bonjol, dan malah bayi menjerit-jerit minta susu
nyebut" Ampeya....ampeya " . 

Di saat seluruh publik Sumbar dengan mata melotot mengontrol tingkah
laku pejabat Pemprov yang tidak "Ampera", Gubernur Harun Zein merekrut
SDM bergaji mahal dari Jakarta, di antaranya Ir. Harun Al Rasyid, Ir
Yanuar Muin, Ir. Sabri Kasim, Ir Azwar Anas dan Ir Yusrin Syarif untuk
membantunya membangun Sumatra Barat. 

Kerena yang didatangkan itu adalah SDM kelas wahid, yang di Betawi
bekerja dengan fasilitas cukup dan mahal, maka Harun Zain menyiapkan
ratusan mobil dinas baru perumahan baru, sebab tidak mungkin para
insinyur Betawi itu ke lapangan naik jeep bobrok yang lebih sering
rusaknya itu. Kendaraan rongsokan itu digantinya dengan Toyota Hardtop,
Land Rover, dan Nissan Patrol baru. Menurut Harun Zein umur ekonomis
sebuah kendaraan dinas adalah lima tahun, lebih dari itu kendaraan
tersebut afkir kerena akan menguras dana dan waktu. 

Harun Zein tidak takut dihujat anti "Ampera" oleh mahasiswa dan pelajar.
Di saat gubernur se-Sumatra pada bingung wacana "Komando Operasi
Harapan" (Kopan ) Jenderal Mokoginta, Harun Zein mengembangkan konsep
itu menjadi suatu megaproyek untuk pembangunan dan rehabilitasi
infrastruktur yang rusak berat. Dia mengganti truk-truk kingkong eks
perang dunia kedua yang dengan dump truck Chevrolet dan flat bed general
motor, alat berat canggih excavator dan bulldozer. Kendaraan baru
tersebut langsung dioperasikan mengangkut batu-batu besar membangun dam
pantai Padang. Dan dalam kondisi ekonomi kembang kempis seperti itu,
Harun Zein juga mendatangkan helikopter dari Jerman untuk menebarkan
pupuk dan pestisida di atas sawah-sawah di seluruh Kabupaten Sumatra
Barat secara cepat dan efisien, pekerjaan berbulan-bulan itu tuntas
dalam hitungan minggu dan akibatnya Sumatra Barat surplus beras. 

Langkah terobosan Harun Zein itu menaikan peringkat pembangunan Sumbar
dari underdog ke posisi paling tinggi di Indonesia. Jalan-jembatan yang
seusai pergolakan PRRI rusak parah , berubah menjadi mulus oleh aspal
beton. Hutan Sitiung, hutan Pasaman Barat, hutan Abai Siat yang
dahulunya tempat jin buang anak, berubah menjadi pemukiman yang sibuk
dan produktif. Semula pakar-pakar ekonomi tidak yakin kalau Sumatra
Barat mampu membangun PLTA Maninjau. Tapi Harun Zein berhasil
merampungkan beberapa bulan lebih cepat. Ir. Sutami Menteri PUTL
memenuhi janjinya, Dia pernah bersumpah bila PLTA Maninjau berhasil
dibangun Dia akan menggendong Ir.Yanuar Muin. 

Kwik Kian Gie pernah mengembangkan konsep " Carrot and Stick " , artinya
para PNS itu harus diberi gaji dan fasilitas lebih dari cukup bekerja,
apabila mereka masih juga menyeleweng dan berkhianat maka mereka diberi
sangsi hukum seberat-beratnya. Sayang " Carrot and Stick " itu layu
sebelum berkembang, waktu Kwik mengusulkan gaji PNS sama dengan gaji
Pegawai BUMN, seluruh LSM di negeri ini ngomel-ngomel " Belum saatnya
kita berhura-hura.! Kita harus prihatin! Jangan melukai hati rakyat! ". 

Sebetulnya sosial kontrol di zaman Harun Zein lebih galak dari sekarang.
Tapi Harun Zein berhasil merangkul segenap komponen masyarakat untuk
memahami visi dan misi pembangunannya. Bahkan dia berhasil meyakinkan
orang yang paling cerewet secara persuasif " Pak, buk, etek, uni,
Potensi ekonomi kampuang awakko sangat minus, untuk mambangunnyo kito
butuh modal gadang SDM nan digaji maha, kalau awak marepet-repet taruih
sarupo aktifis Jakarta tu bisa samakin bansek awak , jadi tolong dukuang
karajo ko bilo ambo lai luruih dan tolong agiah patunjuak ambo bilo
salah , ambo kamancari dana kalua untuak Sumbar!". 
 
   
       
     
   


Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke