mak Ridwan, yo dunsanak sadonyo, 

dari hota awak di dunia maya iko, memang banyak timbul ide2 nan 
brilian , tapi indak terus berlanjut , ambo cubo menganalisa , ba'a 
kok sampai seperti itu jadinyo , salah satunya mungkin ialah bahwa 
dalam kultur minang bila suatu komunitas (nagari) akan membuat suatu 
hajat yg besar , dilakukan di balai pertemuan adat dg dihadiri semua 
pihak dan perdebatan yg panjang , bukan lah di lapau , lapau hanyalah 
tempat bertukar wawasan belaka , tak bisa dari lapau diwujudkan 
sesuatu kegiatan yg direncanakan dg seksama. Bisa dikata awak mahota 
di Rantaunet iko, adolah di lapau juo , namonyo sajo palanta maya , 
tampek duduak di lapau atau lapau maya , sehingga memang tak bisa 
kita berharap banyak , lanjutan usaha besar dari hota di lapau ,

hal lain yg perlu difahami juga, dunia internet berbeda dg dunia 
nyata , orang hanya memasukkan sebagian diri nya di dunia maya, tak 
bisa sepenuh hati, beda dg pertemuan di dunia nyata.
Bisa membawa sesuatu perbincangan rencana di dunia maya, ke dunia 
nyata , diperlukan effort yg besar pula dan belum tentu berhasil.

mungkin hanya dunia maya orang ahli IT yg benar2 bisa mewujud jadi 
aktivitas nyata yg fenomenal, spt pengembangan software open source 
Linux yg bergulir di dunia maya oleh para expert IT.

begitu kira2 analisa secara  sosiologi dunia maya nya

secara analisa sosiologi budaya , saya punya pendapat sementara bahwa 
orang minang lebih adalah type single fighter ( berjuang secara 
individu ) daripada berjalan bersama dalam suatu kelompok ( group ) , 
ia akan berhasil dan gigih bila berjuang secara individu, tapi akan 
penuh dg pertengkaran atau tidak bisa maju, bila bergerak bersama2 
dalam kelompok. mudah2 an pendapat ambo iko salah , tapi bantuak itu 
lah realita nan awak caliak.

bahkan beberapa orang dunsanak awak, sampai pula pada kesimpulan 
sementara ( yang ekstrim) , untuk tak begitu berharap banyak lagi 
pada sesama orang Minang ( tapi ambo kiro , indak paralu seperti itu 
bana )

berikut kiro2 uraian secara sosiologi budaya nyo ttg hal tsb ;

Dalam kultur minang, struktur sosial nya bisa terlihat pada 
karakteristik sebuah "nagari" , yg bisa dianggap sbg microsystem 
kultur minang. Sebuah nagari berdiri dg kelengkapannya berupa : balai 
adat, lapang nan bapaneh 
( lapang besar tempat upacara adat ) , tampek pamandian  ( biasanya 
dekat sumber air ) , surau , lapau, kuburan, pasar dan beberapa 
kelengkapan tambahan lain nya. Tempat pemukiman ( rumah2 gadang ) ada 
pula lokasinya , yg tak biasanya berdampingan dg daerah pesawahan / 
perladangan.
Kalau kita analisa secara sosialogi , terlihat betapa telah tersusun 
dg rapih , sistematika sebuah nagari tsb.

Tempat utk bertukar pikiran bersama adalah di balai adat atau di 
lapau,  di balai adat / atau di ruang tengah rumah gadang, dibahas 
bersama masalah2 adat, kekerabatan , politis dan masalah sosial lain 
nya.  Kalau di lapau adalah tempat berdiskusi bebas dg tema lepas , 
juga adalah tempat para perantau yg pulang bercerita banyak ttg kisah 
di rantau, dari lapau lah, banyak orang muda minang menyimak kisah2 
dan wawasan2 ttg hal2 baru .
tempat lain utk ngobrol bersama adalah di surau.
para kaum ibu2 dan anak gadis, ngobrol bersama sambil mencuci di 
tempat pemandian/ cucian bersama di dekat sumber air.  kalau di 
pasar , orang berjualan masing2  ( individual )
tempat terakhir orang minang masih bersama adalah di pekuburan, tapi 
di beberapa nagari, kuburan berlokasi di dekat pemukiman , di tanah 
kaum adat sendiri ( suku nya sendiri ), jadi masing2 juga, tak 
dikumpulkan di satu tempat.

Dilihat dari analogi struktur sosial budaya tsb, terlihat bahwa dalam 
beberapa hal orang minang bisa bersama, tapi dalam hal lain ia 
cenderung untuk bergerak sendiri2 ( individualis )

Mereka bisa bersama ketika membuat keputusan adat, politis atau 
mahota bebas, berdiskusi, mendengar carito rantau atau mendengar 
carito kaba di lapau.
mereka akan bersama pula ketika membuat kegiatan bersama di nagari 
mereka, spt perayaan adat , baralek, membuat bangunan baru atau 
kegiatan lain yg menyangkut hajat hidup orang banyak di nagari tsb , 
spt membuat saluran pengairan ke sawah2 mereka.

kalau lapau adolah tampek mahota lapeh, menambah wawasan2 baru, 
mambaok carito baru rantau , atau bahkan jadi arena gadang hota, utk 
menunjukkan bahwa diri nya hebat , yah memang begitu lah kultur lapau
jangan berharap terlalu banyak terhadap hota di lapau ( termasuk di 
lapau maya )

Namun dalam urusan ekonomi /bisnis atau kegiatan lain di rantau , 
dalam sejarahnya jarang terdengar orang minang melakukan nya secara 
bersama2 , tak pernah kita dengar orang minang membuat kongsi bisnis 
bersama , sebagaimana halnya orang cina membuat kongsi dagang atau 
spt para pedagang kain di solo / surabaya di awal abad 20 membuat 
kongsi usaha, semacam Syarikat Dagang Islam yg kelak menjadi 
organisasi massa, Syarikat Islam

Dalam urusan2 ekonomi dan kegiatan di rantau, orang minang cenderung 
untuk berusaha sendiri , mereka menjadi single fighter yg tangguh dan 
ulet. paling2 ia akan saling bantu dalam keluarga, misal seorang 
mamak yg berdagang akan mengajak kemenakanya membantu nya, yg kelak 
diharapkan bisa berdagang sendiri.

kisah si malin kundang juga menceritakan ttg orang minang yg sukses 
di rantau secara individu bukan berkelompok.

Kita bisa melihat sendiri betapa banyak kegagalan terjadi pada usaha2 
bersama yg dirintis oleh orang minang selama ini, karena memang 
begitulah karakter sosial orang minang, sudah kodratnya kata orang 
betawi.

Dulu para saudagar Bukittinggi pernah pula membuat kongsi yg antara 
lain melahirkan Bank Nasional th 1930 , namun itupun tak bertahan 
lama. ( sebagai bandingan perkumpulan pedagang di Bandung awal abad 
20 membuat HS1906 , Himpunan Saudara, yg saat ini tetap berdiri 
menjadi Bank HS1906 )

begitu pula kita lihat sejarah th 60-an ketika terjadi  perang PRRI , 
gebu minang di jaman orba , sampai juga gagasan2 besar dan usaha 
bersama yg pernah kita gagas lewat lapau maya milis Rantaunet ini , 
seperti Minang Incorporated yg di gagas mak Barijambek, ( menantu 
bung Hatta , keponakan Dahlan Jambek yg memimpin PRRI dulu ), ide 
pengembangan pesisir barat sumatera dg Padang, sbg anchornya dari mak 
Ridwan Risan, bisnis pariwisata di Sumbar, Sekolah unggulan , serta 
berbagai ide2 besar lain nya , semuanya akhirnya sedikit demi sedikit 
padam.

nampaknya batua kecek mak Lembang alam , kita harus terjun langsung 
dan berjalan walau pun tak ada orang lain yg bersama. Dulu ambo 
pernah basuo yo salah seorang aktivis LSM urang awak ,nan dulu jadi 
aktivis mahasiswa pulo waktu di Bandung, namonyo Zukri Saad , waktu 
basuo , baliau mangecek kalau ingin mambangun Sumbar, indak bisa 
hanya sekedar berkata kata di Jakarta saja, tapi harus turun ke sini 
( sumbar ), kalau bisa pindah lah ke Padang atau Bukittinggi 
misalnya , mulai lakukan usaha nyata. 
Beliau sendiri telah melakukan nya , hijrah dari Jakarta pindah ke 
Padang , membuat usaha pertanian markisa di daerah Solok ( alahan 
panjang ) dan aktif di kegiatan sosial di Padang antara lain dg 
rekan2 nya mendirikan koran Mimbar Minang ( penerbit Koran berbentuk 
Koperasi ) , dan terbukti sampai saat ini kiprah beliau ke Padang dan 
Sumbar secara umum , terbukti secara nyata di lapangan.

Sesuai kaidah Alam terkembang jadi guru , kita perlu banyak belajar 
dari sejarah dan sosiologi orang minang , sehingga berbagai niat baik 
yg ingin kita gulirkan perlu lah pula , memasukkan hal tsb sebuah 
faktor resiko yg diperhitungkan. Baintun pulo lah berbagai ide besar 
nan dilemparkan ko , awak basamo haruslah bisa memperkirakan 
bagaimana respek orang minang thd hal tsb dan coba memahaminya.

kalau memang lah bertekad bulat , ba'a kecek mak Ridwan, just do it , 
the show must go on

wassalam 

HM

http://hdmessa.mutliply.com


--- In [EMAIL PROTECTED], "Muhammad Dafiq Saib" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wa'alaikumsalaam wa rahmatullahi wa barakaatuhu
> 
> Pak Ridwan,
> 
> Saya mungkin  termasuk yang 'kulimek' menanggapi ide-ide 
> yang beredar di Palanta seperti yang pak Ridwan sampaikan. 
> Terasa oleh saya, pekerjaan-pekerjaan besar yang 
> 'dicita-citakan' itu terlalu sulit direalisasikan kalau 
> hanya dengan cara coba-coba, tanpa menerjuninya benar 
> langsung ke lapangan. Segala macam konsep bisa digelar, 
> apalagi hanya untuk sekedar konsumsi di Palanta, atau 
> katakanlah dengan rapat pleno sekali dua kali, namun untuk 
> merealisasikan, tanpa terjun ke lapangan, saya tidak 
> terlalu yakin ianya akan membuahkan hasil. Masalahnya 
> barangkali, tidak atau belum ada diantara anggota Palanta 
> yang sanggup turun tangan untuk merealisasikan ide-ide 
> cemerlang itu secara nyata berhubung karena masing-masing 
> kita punya gawe masing-masing.
> 
> Baitu nan taraso di ambo.
> 
> Wassalamu'alaikum,
> 
> Lembang Alam
> 
> 
> On Tue, 25 Oct 2005 13:01:47 +0700
>   "Ridwan M. Risan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Assalamu'alaikum wr wb.
> > 
> > Sudah banyak idea yang dilempar dalam media Palanta ini. 
> >Sejak lebih 4 tahun
> > yang lalu saya mengikuti kegiatan ini, sudah simpang 
> >siur yang dibicarakan
> > dan diusulkan untuk dikerjakan. Ada yang tunjuk tangan 
> >ikut terlibat, tetapi
> > setelah terkumpul 3-5 orang idea tetap menjadi idea. 
> >Yang melempar idea
> > hanya sekedar melampar idea, yang tunjuk tangan menunggu 
> >apakah menarik atau
> > tidak perkembangan yang terjadi.
> > 
> 




Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke