Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

KETUPAT LEBARAN 1426 H

Setiap kehidupan berlalu dalam suatu siklus perulangan keteraturan yang
nyaris abadi. Sebuah keteraturan yang berulang seperti teraturnya matahari
terbit dan terbenam. Seperti teraturnya perputaran siang dan malam. Seperti
teratur datangnya waktu-waktu shalat. Seperti teraturnya peredaran bulan di
langit yang diawali dengan manzilah tipis. Lalu semakin berisi. Lalu semakin
membulat purnama untuk kemudian bergerak lagi turun semakin kecil menuju
bentuk kelopak tua. Sebelum menghilang dan memulai lagi urut-urutan yang
sama. Keteraturan peredaran bulan itu bahkan dapat digunakan manusia untuk
alat pengenal waktu. 'Yas aluu naka 'anil ahillah. Qul hiya mawaaqiitu
linnasi wal hajj' (Mereka bertanya kepadamu tentang besar kecilnya bulan.
Katakanlah, 'bulan itu menunjukkan tanda-tanda waktu bagi manusia dan untuk
menentukan waktu berhaji.' (Q2-189)).

Bulan-bulan waktu itu selalu datang dan pergi dalam keteraturan yang nyaris
abadi. Dianya akan tetap berputar seperti itu insya Allah sampai hari
kiamat. Sampai Allah Sang Maha Pencipta menetapkan lain. Sya'ban berlalu
Ramadhan datang. Ramadhan usai Syawal menjelang. Begitu terus. Dan manusia
menumpang menghitung perjalanan waktu hidupnya diantara Ramadhan-Ramadhan
yang dilaluinya itu, sampai akhirnya dia terpaksa mengalah dalam usianya
yang singkat. Ramadhan demi Ramadhan bagaikan makhluk lincah berlompatan
yang satu sesudah yang lain.

Sebuah Ramadhan baru saja berlalu mengiringi terbenamnya matahari sore hari
tadi. Membawa kesaksian pengabdian hamba-hamba Allah yang beriman. Yang
sebelum Ramadhan itu datang diseru ulang untuk menjalankan sebuah perintah
Allah 'azza wa jalla, yakni perintah menjalankan puasa, menahan diri dari
gejolak hawa nafsu. Menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu itu sedemikian
rupa agar jatuh tersungkur kedalam sebuah kepatuhan total kepada Sang
Khaliq. Pengendalian dan pengekangan dari penyimpangan yang mungkin terjadi
melalui setiap  anggota panca indera. Ada saja mereka yang patuh total
menahan diri itu. Ada saja mereka yang setengah-setengah dalam menahan diri
itu. Ada saja mereka yang sebegitu beraninya menantang perintah yang tidak
sulit itu.

Manusia yang dibekali akal, selera dan nafsu memang harus menapaki hidup
dengan penuh hati-hati, kalau ingin selamat baik untuk kehidupan dunia
maupun untuk menghadang kehidupan akhirat. Terdorong akal takabur jadinya.
Terdorong selera akan membawa penyakit. Terdorong nafsu miriplah dia dengan
hewan. Maka Allah bekali pula manusia itu dengan hati dan kecenderungan
kepada kebenaran. Dan kebenaran yang hakiki itu datangnya hanya dari Allah
semata. Hati yang mau menuruti kebenaran yang datang dari Allah itulah yang
dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Orang-orang  beriman yang diseru
untuk patuh menjalankan perintah-perintah Allah termasuk perintah
menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Perintah pengendalian diri. Dimulai dengan pengendalian selera makan minum.
Dan pengendalian nafsu biologis. Dan pengendalian nafsu berkata-kata yang
tidak perlu. Pengendalian dari mendengar kata-kata yang tidak bermanfaat
yang cenderung mengarah kepada yang tidak senonoh. Dan pengendalian mata
dari memelototi hal-hal yang tidak pantas untuk dilihat. Pengendalian jiwa
dari khayalan-khayalan porno. Semua itu. Semua itu dilatih dalam Ramadhan.
Dan itu bukanlah latihan yang mudah. 'Betapa banyak orang yang berpuasa tapi
yang mereka dapatkan tidak lebih dari rasa lapar dan haus,' sabda Rasulullah
salallahu 'alaihi wasallam. Karena meskipun mereka berhasil mengendalikan
rasa lapar dan haus namun mereka gagal total dalam mengendalikan diri dari
kata-kata kosong. Dari mata yang jelalatan. Dari tangan-tangan kotor mereka
untuk menggerayangi hal-hal yang tidak halal. Entah itu mengambil hak orang
lain. Entah itu menzhalimi orang lain. Entah itu membuat bersekongkolan
jahat untuk memenuhi nafsu serakah. Meskipun mereka puasa pula. Nilai puasa
mereka itu tidak ada di sisi Allah.

Berbagai ragam kepatuhan mereka-mereka yang diseru. Bermacam-macam cara
mereka-mereka menyikapi perintah Allah itu.  Ada yang maksimal usahanya. Ada
yang penuh keberhati-hatian. Namun tidak kurang pula yang asal-asalan. Yang
sekedar ikut-ikutan. Bahkan ada pula yang menghindar dengan kesombongan.
Dengan seribu dalih. Padahal Allah Maha Tahu dengan apa yang mereka perbuat.

Seandainya saja kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang Allah
berkenan dengan ibadah Ramadhan yang lalu itu. Yang Allah ridha dengan apa
yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu. Baik puasanya. Maupun
ibadah-ibadah malamnya. Sadaqahnya, infaqnya, zakatnya. Tadarus al Qurannya.
I'tikafnya. Silaturrahmi sesama jamaahnya. Bahkan tidur diantara waktu-waktu
sempitnya. Seandainya saja kekeliruan-keliruan kecil kita yang perbuat juga
namun kita cepat-cepat minta ampun kepada Allah, lalu Allah segera
mengampuninya. Seandainya saja kita termasuk orang yang mempunyai kesabaran
untuk mengendalikan diri selama bulan Ramadhan itu, dan pengendalian diri
itupun dinilai oleh Allah. Betapa akan bahagianya kita mendapatkan pahala
dari sisi Allah. Betapa akan berbahagianya kita ketika Allah mengakui bahwa
jiwa kita dinilai Allah kembali fitri, suci murni seperti ketika kita baru
saja dilahirkan ibu kita. Dan tentulah kita akan berusaha keras menikmati
kebersihan jiwa itu selama mungkin. Menjaga agar ianya jangan segera pula
menjadi cacat dan kotor kembali oleh berbagai dosa.

Karena kita tidak tahu entahkah kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan
berikutnya. Siapa tahu tepian tempat kita berlabuh sudah semakin dekat.
Siapa tahu perputaran waktu yang sangat teratur itu sudah membawa kita
kepada akhir petualangan dunia. Dan seandainya demikian apa lagi yang dapat
kita perbuat?

Menyempurnakan bilangan hari puasa di bulan Ramadhan telah menyentakkan hati
kita untuk taat dan patuh kepada Allah semata. Untuk mengakui keesaan Allah
dan oleh karenanya semua ibadah hanya tertuju bagiNya semata. 'Walitukmilul
'iddata walitukabbirullaaha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykuruun'.
(Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan hari berpuasa dan mengagungkan
Allah karena Dia telah menunjuki kamu. Mudah-mudahan kamu bersyukur. (Q2 -
185)).

Dan sesudah berakhirnya bilangan Ramadhan bergemuruhlah gema takbir
mengagungkan asma Allah. Allaahu Akbar - Allaahu Akbar - Allaahu Akbar. Laa
ilaha illallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar wa lillaahil hamd. Gema takbir
yang merasuk kedalam relung hati. Mengakui kebesaran Allah. Tiada Tuhan
selain Allah. Dan kita tidak menyembah kepada selain Allah. Dan kita
mengikhlaskan beragama dengan agamaNya, meskipun orang-orang kafir tidak
menyukainya. Tidak ada Tuhan selain Allah sendiri Nya. Dia membenarkan
janjiNya, menolong hamba-hambaNya, menghancurkan segala rombongan musuhNya.
Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha besar.

Begitu gema takbir itu berkumandang. Laa ilaha illallaahu wa laa na'budu
illaa iyyaahu mukhlishshiinalahuddiin walau karihal kaafiruun. Laa ilaha
illallaahu wahdahu, sadaqaa wa'dahu, wa nashara 'abdahu, wa a'azzajundahu wa
hazamal ahzaaba wahdahu. Laa ilaha illallaahu wallaahu akbar.

Wassalaamu'alaikum,

Lembang Alam
____________

Jatibening awal Syawal 1426H



Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke