Kalau kita jeli menghayati, akan terasa ada bedanya , salaman lebaran yg sepenuh hati dengan salaman yg sekedar basa basi doang dg wajah dingin.
sekitar sepuluh tahun yg lalu , di sebuah kota kecil, setelah beribadah sebulan penuh di ramadhan, dg sepuluh malam terakhir nya yg penuh kenangan, ditutup dg pembagian zakat fitrah menjelang idul fitri, saat hari raya, serasa mendapat pencerahan , bertemu dg keluarga, ustadz dan teman2 apalagi dg teman lama, serasa begitu syahdu , bersalaman pun kita sepenuh jiwa, bahkan sampai terharu karena nya. benar kata sebuah hikmah, bahwa teman terbaik, bila bertemu akan bertambah ilmumu, bila melihat saja, akan meningkatkan keimanan mu. tak ada TV, tak ada HP utk sms, telepon pun tak jamak, setiap orang perlu bertatap muka utk saling menguatkan ikatan sosial yg merenggang. terasa sekali berbeda dg ramadhan dan lebaran tahun2 belakangan ini di kota besar spt Jakarta. Ramadhan hanya terasa di awalnya saja, setelah itu tak ada beda nya dg hari biasa, akhir ramadhan pun orang2 disibukkan dg materi keduniaan di pasar2. sehingga lebaran pun tak lagi menjadi id yg fitri ( hari yg suci ) . Lebaran hanyalah sebuah peristiwa kegembiraan budaya (carnaval, holiday) , yg telah menjadi sebuah peristiwa khusus yg membudaya di berbagai kebudayaan dunia selama ini. yah, lebaran tak sama dg idul fitri, lebaran yg berasal sunda , adalah peristiwa budaya , sama spt peristiwa budaya2 lain nya orang2 tak merasa perlu keluar rumah utk bertemu , cukup dg mengirim sms dan telepon, di rumah nonton TV atau pergi ke tempat hiburan/berlibur , kalaupun bersalaman , jabat tangan nya dingin dg senyum yg kaku , yah hanya sekedar basa basi doang. walau mulut berkata mohon maaf lahir batin, padahal hati berkata,ah ini mah sekedar basa basi doang kok , saya juga nggak perlu perlu amat sih dg kamu ,mau dimaafin atau tidak peduli amat. tak ada pencerahan, tak ada kesyahduan , karena telah berawal dg bulan ramadhan yg kering makna pula , ceramah romadhan baik di mesjid atau TV telah menjadi sekedar komoditas verbal belaka , spt banyak ragam acara keagamaan di TV , yg sebenarnya agama hanya menjadi sekedar kulit dari komoditas kapitalis yg ditawarkan. yah, demikian lah kondisi sosial budaya pada masyarakat urban modern yg cenderung individualis dan pragmatis , keagamaan hanya tinggal selapis kulit luar, tanpa esensi yg mendalam sehingga selepas ramadhan, setelah hari yg suci ( idul fitri ) , serasa biasa biasa saja, kembali lagi ke dalam rutinitas duniawi yg biasa , malah sebagian orang merasa telah terbebas dari kewajiban yg melelahkan spt bangun malam utk sahur, atau menahan nafsu di siang hari. sholat subuh telat lagi, dosa & maksiat akrab lagi , korupsi mulai lagi , enaknya ngomongin jelek orang lain terasa lagi , mulai malas ngasih infak & sadaqah dan berbagai sifat jelek lain nya mulai akrab lagi dg kita Kalau hal tsb disampaikan pada orang banyak, pasti mereka akan menolak , tapi kalau kita mau jujur melihat pada hati nurani kita yg dalam, memang demikianlah adanya , keberagamaan yg telah mulai berkurang esensi nya, tinggal kulit belaka, pada sebagian besar masyarakat kita... mudah2 an, itu semua hanya asumsi negatif belaka, dan bukan lah kita nauzubillahi min zalik, ya Allah , jadikanlah hamba , orang yg benar2 muslim, benar2 beriman pada Mu dg sepenuh jiwa wassalam Hendra Messa realita kehidupan sehari hari adalah alam terkembang yg bisa jadi guru http://hdmessa.multiply.com Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

