Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Diambiak dari Singgalang, paganti pangingek kalau lupo.
Wassalam, syb.


Updated, Jumat 18 November 2005 l
Mempertanyakan Industri Otak di Sumbar 

ANEH kedengarannya. Sumatra Barat mengembangkan industri otak.
Kenyataannya bukan demikian. Otak itu tidak bisa dibuat dalam sebuah
industri. Maksudnya adalah Sumatra Barat bertekad melahirkan tokoh-tokoh
cerdas. Hal ini adalah untuk mengimbangi kekurangan Sumber Daya Alam
(SDA). 

Jika Sumber Daya Manusianya (SDM) kuat, daerah itu pasti maju. SDA
adalah faktor kedua. Contohnya Jepang dan Singapura. Kelemahan Indonesia
selama ini kaya SDA, miskin SDM yang berkualitas. 

Khusus Sumbar, miskin SDA. Tidak ada minyak atau perkebunan besar yang
menonjol serta Industri seperti Riau dan Jambi. Untuk itu dunia
pendidikan harus dimajukan. Persoalan kita adalah, cerita industri otak
itu belum terbukti. Peringkat Sumbar dalam dunia pendidikan, jauh di
bawah rata-rata nasional. 

Adalah menyedihkan kita, ketika suratkabar ini kemarin memberitakan,
"Ratusan gedung SD rusak" di Sumbar. Bukti bahwa kita belum menyesuaikan
kata dengan perbuatan. Pada satu sisi menyebut industri otak, pada sisi
lain sarana dan prasarananya tidak dibenahi dengan baik. Kita khawatir,
karena fisiknya seperi itu, tentulah guru-gurunya tidak bergairah pula
mengajar. Ujung-ujungnya kualitas pendidikan juga akan rendah. Sementara
di daerah lain sekarang mulai SD sudah diperkenalkan komputer, kita
lokal belajar saja tidak nyaman. 

Melihat kenyataan di lapangan dan hasil prestasi belajar di Sumatra
Barat selama ini, kita berharap pemerintah meninjau kembali tentang
industri otak ini. Mungkin dalam konsep ataupun program pendidikan
Sumatra Barat, arah dan tujuan yang telah di promosikan semenjak 20
tahun terakhir ini sudah benar. Tetapi semuanya itu, terkesan wacana
saja. 

Untuk itu harus ditinjau kembali pola pikir dan mental pejabat yang
selama ini di satu sisi mulutnya bicara soal industri otak, ternyata
prilakunya ada yang menjadikan dunia pendidikan sebagai proyek,
seakan-akan tak bertanggungjawab terhadap dunia pendidikan ini. 

Untuk itu Sumbar sebagai daerah yang pernah melahirkan tokoh-tokoh
nasional dan punya nama internasional, seperti Proklamator Bung Hatta,
H.Agus Salim, Tan Malaka, Buya Hamka dan banyak lagi nama-nama lainnya,
harus mengevaluasi kembali tentang penanganan dunia pendidikan secara
utuh. 

Arah atau konsep fikiran untuk dunia pendidikan itu sudah benar, dengan
menyebut Sumbar sebagai industri otak. Yang meleset itu adalah
prateknya. Anggaran pendidikan di setiap APBD baik provinsi maupun
kabupaten dan kota cendrung dinaikkan, tetapi mungkin tak tepat sasaran.
Dana yang ada bukan untuk peningkatan kualitas pendidikan secara
langsung, tetapi mungkin untuk mobilitas dan biaya perjalanan pejabat.
Ini contoh saja, yang perlu dievaluasi. 

Soal industri otak untuk Sumbar seharusnya tidak isapan jempol. Atau
angan-angan, bagaikan pungguk merindukan bulan. Alasannya, semenjak dulu
kualitas pendidikan di Sumbar ini dikenal baik. Selain melahirkan
tokoh-tokoh berkualitas, Sumbar juga mengirim guru ke Malaysia , dan
propinsi tetangga seperti Riau dan Jambi. 

Tetapi, sekarang Sumbar tertinggal. Bayangkan Jambi kini sedang
memproklamirkan program sejuta Doktor dan Riau sedang memprogramkan
untuk staf pengajar SLTA adalah S-2. Jelas dan tegas programnya. Sumbar,
bagaimana dengan industri otaknya?** 
 

Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke