Kpd M Datuak Marah Bangso (pusri, plb) di ML Rantaunet. Posting iko sabana paralu dibaco dan penting diketahui. Sayang saketek judul di subjectno "Selamat jalan sanak ......"
Dek karano paralu dibaco ambo rubah judul subjectno dan ambo postiangkan sakali lai kasadono, juo untuk konsumsi banuanet ( rang banuampu) Wass Mak Ban bgr ~~~~~~~~~~~ > -----Original Message----- > From: Mulyadi > Sent: 28 Nopember 2005 10:58 > To: [email protected] > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Selamat jalan Sanak Irdam Syah > > Assalamualaikum,wr,wb. > > Sebuah rubrik yang diambil dari Harian Singgalang online hari ini. > > Wassalam, > HM Dt.MB (48,5 th) > > RATUSAN RUMAH GADANG TERANCAM ROBOH > > PADANG - Ratusan rumah gadang di Sumatra Barat terancam roboh. Apakah itu > juga sebagai pertanda adat di Minangkabau juga akan ambruk?Bangunan yang > diidentikkan sebagai lambang kebanggaan kaum itu saat ini berada dalam > berbagai kondisi, antara lain dinding dan tonggak dimakan rayap, atap > bocor > dan lainnya. Salah satu penyebabnya adalah anggota kaum merasa kurang > beruntung tinggal di rumah yang dibangun dengan gaya rumah panggung itu. > Mereka dipandang orang miskin dan tidak berdaya membangun rumah untuk > keluarga intinya. Akankah cerita 'Robohnya Surau Kami' karya A.A Navis > akan > mendapatkan versi baru menjadi 'Robohnya Rumah Gadang Kami' dengan penulis > baru menjadi dokumen sastra negeri ini? Berikut temuan wartawan Singgalang > dari beberapa daerah di Sumbar. Keberadaan rumah gadang yang nyaris roboh > banyak terdapat di Kabupaten Tanah Datar. Kendati kabupaten itu dijuluki > sebagai pusat budaya Minangkabau, rumah adat yang tidak terawat mudah > ditemukan di daerah itu. Sebutlah di Pagaruyung, minimal ada satu rumah > gadang dengan kondisi tanpa dinding dan atap bocor. Di Nagari Rao-rao, > Kecamatan Sungai Tarab, paling tidak ada tiga rumah gadang dengan kondisi > yang tak kalah memprihatinkan. Begitu juga di Kecamatan Lima Kaum, ada > sekitar dua rumah gadang terancam roboh. Sekitar tiga rumah gadang lagi > terdapat di Kumango. Di Nagari Padang Ganting dan Atar juga tidak kurang > puluhan rumah gadang terancam ambruk. Sekarang rumah tersebut hanya > digunakan sebagai gudang dengan kondisi lapuk dan atap bocor. Dari > pantauan > Singgalang, setidaknya setiap nagari yang berjumlah 75 nagari itu terdapat > satu rumah gadang yang terancam runtuh. Sementara di Kabupaten Solok > Selatan > yang dikenal dengan julukan seribu rumah gadang juga dilanda fenomena yang > sama. Kendati belum ada data riil tentang jumlah rumah gadang, berdasarkan > survey Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Solok Selatan, dari jumlah yang > mencapai ribuan itu, 5 persennya dalam kondisi rusak parah. Kabid > Dikporabud > Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Solok Selatan, Mukyar Muluk mengatakan, > sekitar 30 persen rumah gadang tidak didiami lagi, 55 persen dihuni, dan > 10 > persen lagi dipakai sekali setahun. Menurut mantan Ketua KAN Pakan Rabaa > Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Yuliar Dt. Rajo Salam, penyebab > tidak dihuninya rumah gadang salah satu faktornya perselisihan anggota > kaum. > Sementara Sekretaris Suku Durian Nan Limo Ruang, Drs. Firdaus Dt. Nan > Batuah > Majo Lelo, berpendapat lain. Ia menilai, terancam robohnya rumah gadang > adalah imbas kemajuan zaman. Rumah gadang dipandang tidak relevan lagi > sebagai tempat tinggal, karena tidak memiliki WC, kamar mandi dan > fasilitas > lainnya. Baik Yuliar maupun Firdaus berpendapat, dalam waktu dekat ini > rumah > gadang berpotensi punah. Pasalnya, ada imej yang terbangun di masyarakat > bahwa orang yang tinggal di rumah gadang adalah keluarga miskin. Selain > itu, > biaya perawatan rumah gadang tergolong besar nilai nominalnya dan ditambah > lagi dengan kurangnya kesadaran anggota kaum untuk melestarikan rumah > tersebut. Sedangkan Kabupaten Dharmasraya yang jumlah rumah gadangnya > mencapai 400 buah, separuhnya terancam ambruk. Kebanyakan rumah gadang itu > terdapat di Gunung Medan dan Pulau Punjung. Ada rumah tanpa penghuni dan > diselimuti semak belukar. Tetapi anehnya, kebanyakan rumah gadang di > daerah > itu malah dihuni oleh pendatang yang merantau ke sana. Rumah gadang > bukannya > dihuni oleh anggota kaum, melainkan orang lain yang mencari penghidupan di > sana. Sementara anggota kaum sendiri merasa terhina tinggal di rumah > gadang. > Pasalnya, tinggal di rumah gadang dianggap sebagai orang yang tidak > berdaya > secara ekonomi. Selain itu juga faktor gengsi, masyarakat lebih merasa > modern kalau tinggal di rumah yang berlantai keramik daripada tinggal di > rumah panggung.Di Kota Solok juga ditemukan sekitar 25 dari 75 rumah > gadang > dalam keadaan memprihatinkan. Seperti rumah gadang di tepi Jl. KTK. > Menurut > Ketua LKAAM Kota Solok, H. Yusril Dt. Khatib Pamuncak mengatakan, banyak > rumah gadang dengan keadaan yang menyedihkan. Setidaknya sebanyak 15 rumah > gadang juga sedang direnovasi dengan perpaduan bangunan batu dan kayu > serta > tidak lagi beratap ijuak. Rumah gadang riskan hilang kalau tidak ada > kepedulian kaum untuk menyelamatkannya. Apalagi untuk membangun rumah > gadang > atau renovasinya butuh dana yang tidak kecil. Sekretaris LKAAM Kabupaten > Solok, Naspi Datuk Mudo Nan Itam mengatakan, setidaknya di Kabupaten Solok > terdapat 1.000 rumah gadang. Sebagiannya kondisi rumah tersebut masih > utuh, > namun sebagian besar lagi dalam keadaan rusak yang nyaris roboh. > Dindingnya > dimakan rayap dan atapnya kebanyakan bocor. Menurut Naspi, tradisi > merantau > adalah penyebab terlantarnya rumah gadang. Selain itu, perkembangan di > masyarakat, rumah gadang bukan lagi dijadikan tempat utama dalam > penyelesaian masalah keluarga maupun kaum. Kecenderungan lain, anak yang > sudah berkeluarga enggan tinggal di rumah gadang. Lebih suka membangun > rumah > sendiri meski lokasinya tak jauh dari rumah gadang. Rumah gadang yang > sekarang berada dalam tahap renovasi, antara lain di nagari Saningbakar, > terdapat 18 unit rumah gadang yang direnovasi yang biayanya berasal dari > pemerintah provinsi Sumbar. Di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung rumah gadang > sudah banyak terlihat lapuk dan tidak terawat sehingga kondisinya terancam > roboh. Diperkirakan ada sekitar 300 unit rumah gadang di daerah yang > terkenal dengan julukan lansek manih itu. Salah satu penyebab terancam > robohnya rumah gadang tersebut adalah besarnya biaya perawatannya. > Sehingga > tidak salah rasanya kalau masyarakat setempat lebih memilih membangun > rumah > baru daripada merenovasi rumah gadang. Sehingga rumah gadang mulai sulit > ditemukan. Kalaupun ada, rumah gadang dimaksud sudah direnovasi dan nyaris > kehilangan identitasnya sebagai rumah kebesaran kaum. Selain itu, rumah > gadang tesebut jarang dihuni masyarakat dan terkesan hanya sebagai lambang > kebesaran kaum di daerah itu. Menurut Zainal Wann, Kepala Dinas Pariwisata > Kabupaten Sawahlunto Sijunjung mengatakan, rumah gadang yang terdapat di > daerah ini diperkirakan masih banyak dan masih dihuni oleh masyarakat > setemapt. Di nagari Sijunjung misalnya, ada sebuah perkampungan masyarakat > yang masih didominasi banguann rumah gadang. Sekitar 95 persen bangunan > yang > ada masih berupa bangunan rumah gadang lama dengan usia yang tergolong > tua. > Namun kondisi bangunannya sudah lapuk. Hal itu terjadi karena > ketidakberdayaan keuangan kaum untuk memperbaikinya. Di Kabupaten Agam, > tepatnya di Paninjauan, Koto Kacik, Tanjung Raya dan Tilatang Kamang, dan > Banuhampu di Kabupaten Agam, masih terdapat rumah gadang. Namun rumah- > rumah > tersebut terkesan lusuh, tidak terawat dan dibiarkan begitu saja dimakan > zaman. Ada pula rumah gadang yang dirombak dan hal itu nyaris > menghilangkan > identitasnya sebagai rumah gadang. Seperti halnya rumah gadang kaum mantan > Presiden RI, Mr. Assaat yang sukunya Pili di Banuhampu. Rumah gadangnya > sudah banyak yang dirombak, sehingga tidak lagi terlihat seperti aslinya. > Menurut Muhammad Irfan, 25, salah seorang cucu, Mr. Assaat, kini rumah > gadang yang pernah dihuni Mr. Assaat, kakeknya tidak ada lagi, karena > sudah > dirombak, kendati demikian modelnya dengan mudah dapat dilihat persis > seperti yang terdapat di Area Kebun Binatang Bukitinggi. Rumah adat yang > terdapat di sana modelnya diambil dari rumah kediaman Mr. Assaat. > Seandainya > tidak ada aral melintang dalam tahun 2006 nanti, keinginan keluarga akan > direalisasikan untuk merehab rumah adat tersebut, persis seperti aslinya, > termasuk perabotannya. Wali Nagari Banuhampu, Gusmal Sutan Batungkek Ameh, > menuturkan upaya pelestarian rumah gadang sudah pernah disampaikan kepada > pemerintah kabupaten, namun belum ada jawaban yang pasti. Sementara Kepala > Dinas Pariwisata dan Seni Budaya, Ir. Edwardi, mengatakan kebijakan untuk > merehab gedung-gedung bersejarah seperti rumah adat itu sudah dituangkan > dalam Renstra Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya tahun 2006, namun > realisasinya masih menunggu dana dari APBD nantinya. Ketua Umum LKAAM > Sumbar, H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie juga tidak menafikan fenomena > kultural yang memprihatinkan itu. Datuk melihat penyebabnya adalah unsur > pembiaran yang didorong pikiran sempit anggota kaum. Orang sekarang merasa > risih tinggal di rumah gadang, apalagi dengan kepala keluarga yang lebih > dari satu. Dahulunya berlaku rimbun-rimbun batutuah. Artinya, kalau ada > dua > orang anak gadis dari pemilik rumah gadang, ketika terjadi pernikahan > putri > pertama, kamar pengantinnya di anjuang. Menikah putri yang satu lagi, > putri > pertama tadi bersama suami dan anaknya pindah ke kamar dalam. Dahulunya > juga > di rumah gadang, tepatnya di tonggak tuo atau sako, diresmikan > pengangkatan > seorang penghulu suatu kaumnya. Selain itu, rumah gadang juga difungsikan > sebagai tempat baralek. Pendeknya, rumah gadang disaktikan, sehingga > dengan > demikian anggota kaum secara moral terpanggil dan berkewajiban > memeliharanya. Sekarang yang terjadi malah sebaliknya, orang malu tinggal > di > rumah gadang karena dinilai sebagai orang miskin. Semestinya di > Minangkabau > yang dikenal dengan sistem matrilokal, yaitu pihak pria pulang ke rumah > perempuan, kata Datuk, rumah tetap lestari. Namun apa boleh dikata, unsur > pembiaran telah menggerogoti pola pikir masyarakat. Masyarakat merasa > lebih > terhormat tinggal di rumah sendiri ketimbang di rumah gadang. - Tim > > > > Website http://www.rantaunet.org > _____________________________________________________ > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: > http://rantaunet.org/palanta-setting > ____________________________________________________ Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

