Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Dek masih dalam suasana bakabuang RN, mako awak santai2 dulu, karano kato aa 
gym yang duduak disuduik tu akan manyusul 5th lai, yang duduak dimuko kompor tu 
10 th lai yang manulih ko alun tahu lai, he he.

Sasuai pasan MakNgah diangek2kan juo lah angku Hendra dkk, dalam soal IT sumbar 
ko, sabanta lai insyaAllah si Kumbang Ja/n ti, walaupun alun tabayang funding 
nyo lai, tapi alah ado angin dari Reza, Herman di garuda, untuak bocoran2 
maoperasikan si kumbang, juo mak Darul, MakNgah, dan bayangan ambo adolah dari 
komunitas Amrik dan Kawan singo pak Junaidi yang bisa dimanfaatkan, alun lai 
komunitas minang dunia lainnyo, he he bamimpi baliak, kato urang to be 
continued.

Wassalam, syb.



Sabtu, 26 November 2005  
 
"Good Corporate Governance" 


Suryopratomo

Bagaimana menilai sebuah perusahaan yang dalam waktu 25 tahun bisa meningkatkan 
nilai penjualan tahunannya dari mula-mula hanya 250 dollar AS atau sekitar Rp 
2,5 juta menjadi 1,8 miliar dollar AS atau Rp 18 triliun? Hanya satu kata, 
"mengagumkan".

Itulah penilaian yang pantas diberikan kepada perusahaan teknologi informasi 
(TI) terkemuka India, Infosys Technologies Ltd. Perusahaan yang dibangun NR 
Narayana Murthy ini mampu menjadi perusahaan dunia karena bisa menghasilkan dan 
menawarkan solusi sistem bagi banyak bidang dan kepentingan, mulai dari 
keuangan, kesehatan, hingga pengaturan penerbangan.

Tentu mengagumi saja tidaklah cukup. Pertanyaan yang lebih penting untuk 
dipelajari, bagaimana mereka bisa seperti itu?

Ternyata, jawabannya sederhana, terapkan good corporate governance, tata kelola 
perusahaan yang sehat. Dimulai dari perumusan visi dan nilai-nilai (values) 
perusahaan secara benar, lalu konsisten melaksanakannya.

Masalah nilai merupakan sesuatu yang penting karena itulah yang menjadi pilar 
dan panduan bagi setiap orang yang berada dan bekerja dalam sebuah perusahaan 
untuk melakukan tugas keseharian. Bahkan seseorang yang akan bergabung dengan 
Infosys, pertama-tama ditanyakan mengenai kemauan dan kemampuan untuk 
menyesuaikan nilai yang ada dalam perusahaan.

Tugas pimpinan bukan hanya merumuskan nilai, tetapi juga memberi contoh dalam 
mengaplikasikannya. Murthy dikenal sebagai seorang pimpinan yang sangat 
bersahaja. Kebesaran Infosys tak harus dicerminkan dengan gaya hidup 
berlebihan, tetapi cukup dengan kesederhanaan. Di Kantor Pusat Infosys di 
Bangalore, tidak terlihat ada kemewahan.

Lebih terasa justru suasana asri nan nyaman sehingga memungkinkan sekitar 
46.000 karyawan yang bekerja di perusahaan itu menghasilkan karya-karya 
terbaik. Berbagai fasilitas, mulai dari tempat berolah raga hingga tempat 
makan, disediakan untuk membuat karyawan yang bekerja pada 41 gedung di 
kompleks itu tak hanya merasa diperas otaknya, tetapi memang dimanusiakan. 
Setiap saat ketika kepenatan tiba, mereka bisa melampiaskannya dengan 
berolahraga, pergi makan, atau mendengar musik.

Persaingan ketat

Masuk ke bisnis TI memang memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk berkembang 
dengan cepat. Satu yang juga fenomenal dan kini menjadi pembicaraan banyak 
investor adalah Google, perusahaan yang menyediakan jasa search engine. Harga 
sahamnya bisa melonjak tajam dari semula 85 dollar AS menjadi 400 dollar AS 
lebih sekarang ini.

Namun, peluang itu sekaligus menjadi ancaman. Persaingan di bidang ini sangat 
ketat dan berat karena yang diadu adalah kecerdasan. Kecerdasan saja tidak 
cukup tanpa diimbangi nilai. Di sinilah Infosys mampu memenangi persaingan 
dengan memegang prinsip "ditopang oleh kecerdasan, didorong oleh nilai".

Murthy mengajar betul karyawannya untuk selalu menghasilkan produk baru 
(pioneering) dan inovatif. Juga berupaya memuaskan konsumen dengan produk 
berkualitas. Semua itu hanya bisa dicapai jika semua karyawan memberikan 
kinerja terbaik, selalu meningkatkan produktivitas, serta sadar akan 
pengeluaran biaya. Ketika prinsip itu dijalankan semua orang, tak usah heran 
jika perusahaan bisa terus berkembang. Tahun lalu mereka membukukan keuntungan 
bersih 480 juta dollar AS (Rp 4,8 triliun).

Keuntungan sebesar itu tidak sepenuhnya hanya dinikmati mereka yang bekerja di 
Infosys. Secara sadar, Murthy mengembangkan tanggung jawab sosial yang harus 
dilakukan perusahaan yang dibangunnya. Infosys merasa bertanggung jawab untuk 
memberikan beasiswa atau membantu apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat yang 
ada di sekitar perusahaan.

Pada dasarnya, perusahaan jangan pernah hanya menjadi binatang bisnis. 
Perusahaan adalah juga organisasi sosial yang harus peduli terhadap kehidupan 
masyarakat di sekitarnya. Ibaratnya, jangan pernah bisa tidur nyenyak ketika 
masih ada tetangga kita yang hidup dengan kemiskinan. Itulah yang dikenal di 
kalangan dunia usaha sebagai corporate social responsibility.

Kalau kemudian kita berpaling pada yang terjadi di Indonesia, apa yang harus 
dilakukan? Seperti dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberi 
evaluasi terhadap kunjungan tiga harinya di India, Rabu (23/11) malam, kita 
harus belajar dari kekuatan orang lain untuk memperkuat kelemahan kita.

TI diakui merupakan salah satu alternatif untuk membawa kemajuan bangsa karena 
masa depan ditentukan penguasaan TI. Dukungan TI terhadap berbagai bidang 
kehidupan sangat nyata. Namun, untuk menjadikan semua itu tidak cukup hanya 
ditopang kekuatan modal. Jauh lebih penting, penghormatan terhadap nilai. 
Bangsa Indonesia lemah dalam masalah itu, seperti halnya urusan moral.

Bagaimana tidak bisa dikatakan lemah jika orientasi dari banyak penguasa selalu 
jangka pendek. Sepertinya hanya berpikir mendapatkan keuntungan secepat 
mungkin, tanpa peduli cara maupun prosesnya. Akibatnya, tidak usah heran jika 
segala macam cara ditempuh demi keberhasilan diri sendiri.

Contoh untuk itu sangat mudah kita temui. Untuk memulai usaha, banyak pengusaha 
mengajukan kredit ke bank. Karena tidak mau uang sendiri terpakai, biaya itu 
digelembungkan (mark-up). Pihak bank sebenarnya tahu adanya kejanggalan, namun 
itu justru menjadi peluang untuk terjadinya "kongkalikong". Jadilah kredit 
dikucurkan. Tetapi, karena tahu bahwa investasinya tidak benar, sang pengusaha 
tahu perusahaan yang dibangunnya tidak akan bertahan menghadapi persaingan. 
Akibatnya, mereka memilih untuk tidak sepenuhnya menggunakan kredit yang 
diperoleh itu untuk kepentingan usahanya. Sebagian dimasukkan ke kantong 
sebagai bagian dari keuntungan.

Apa yang lalu akan terjadi? Perusahaan yang di-mark-up habis-habisan itu pasti 
tidak akan bertahan lama, bakal bangkrut. Akhirnya bank pemberi kreditlah yang 
harus menanggung rugi.

Dengan kondisi seperti itu, apa yang harus kita lakukan? Tidak bisa lain 
kecuali reformasi dunia usaha. Pola pikir pengusaha harus dirombak total bahwa 
mereka adalah warga negara yang mempunyai tanggung jawab besar terhadap 
kemajuan negaranya dan kemakmuran rakyatnya.

Selama tujuh tahun terakhir ini, reformasi politik sudah kita lakukan. 
Reformasi sama sekali belum menyentuh kalangan dunia usaha. Tidak usah heran 
apabila perilaku dunia usaha tidak pernah berubah. Mereka hanya menjadi 
binatang bisnis, yang sama sekali tidak peduli akan nasib bangsa dan negara. 
Sepanjang masih ada untung yang bisa dikantongi dan hidup senang, mereka akan 
melakukannya meski itu merugikan masyarakat yang lebih besar.

Penerapan good corporate governance tak terhindarkan. Upaya pemerintah untuk 
melaksanakan good governance akan sulit terealisasi jika secara bersamaan tidak 
didorong adanya good corporate governance. Karena, setiap kali pengusaha akan 
mengganggu para pejabat pemerintah dan bahkan juga anggota legislatif untuk 
melakukan kolusi. Dan dari tiga huruf KKN, yang paling merusak bukanlah korupsi 
dan nepotisme, tetapi kolusi karena sulit untuk dideteksi, apalagi ditindak.

Kalau kita bermimpi untuk bisa melahirkan perusahaan besar sekualitas Infosys, 
maka langkah itu harus juga dilakukan. Kita tidak perlu khawatir untuk gagal 
karena pada dasarnya masih banyak perusahaan Indonesia yang sudah menerapkan 
good corporate governance dengan baik, bahkan menerapkan good corporate social 
responsibility. Ukuran bisa dilihat dari besar pinjaman yang dimiliki, aset 
yang dipunyai, pajak yang dibayarkan, jumlah karyawannya, dan kontribusi yang 
diberikan kepada masyarakat.

Best regards,

Syahril Bakri
Human Resources & GA. 
PT. Wärtsilä Indonesia 
Jl. Jababeka XVI Kav W-28 
Bekasi 17530, West Java - Indonesia 
Tel. +62 21 8937654 ext. 453 
Fax +62 21 8937660 / 61 

---------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
---------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Posting maksimum 100 Kb
- Attachment, ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke