Buya Hamka lahir 16 Februari 1908, di desa kampung Molek, Nagari Sungai
Batang Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya), Kabupaten Agam, dan meninggal di
Jakarta 24 Juli 1981. Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim
Amrullah, disingkat menjadi Hamka. 
Untuk sampai ke nagari kecil di tepi danau dari Kota Padang bisa melalui
Pariaman, berjarak sekitar 140 km ke utara. Atau bisa juga melalui
Bukittinggi, kira-kira 50 km di sebelah barat. Dari Bukittinggi, sebelum
sampai di Maninjau, Anda akan melalui jalan bertikungan tajam sebanyak 44
kali. 
Rumah Buya tepatnya berada di Kampung Tanah Sirah, Sungai Batang, sebuah
bangunan bercorak rumah adat Minangkabau berdiri di pinggir jalan menghadap
ke barat, arah Danau Maninjau. Di rumah kayu berukuran 17 x 9 meter yang
berdiri di areal sekitar 75 meter persegi.
Ayahnya, Syekh Abdul Karim bin Amrullah adalah seorang ulama pembaharu
Minangkabau. Bersama Abdullah Ahmad dari Padang, Karim menjadi orang
Indonesia pertama yang memperoleh doktor honoris causa dari Universitas
Al-Azhar, Mesir, karena kepakarannya dalam ilmu fiqih. Beliau lah pelopor
Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun
1906.

Buya HAMKA melanjutkan kebesaran nama ayahnya. Mantan Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) pertama tersebut, bukan saja menjadi ulama Indonesia, tapi
juga dunia. Namanya begitu dihargai karena sulit mencari seorang ulama yang
juga penyair, sastrawan, sekaligus ilmuwan seperti Buya.

Kini, ratusan buku karangan HAMKA, semenjak novel fiksi Tenggelamnya Kapal
Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah, sampai kepada buku filsafat
seperti Tasauf Modern dan Falsafah Hidup bisa ditemui di museum rumah
kelahiran Buya HAMKA tersebut. Tentu saja termasuk Tafsir Al-Azhar yang
diselesaikan ketika Buya dipenjara tanpa alasan yang jelas oleh rezim
Soekarno.

Sayangnya, museum itu tak bisa menggambarkan bagaimana kiprah dan perjuangan
penyair angkatan pujangga baru itu. Keterangan puluhan foto HAMKA yang
dipajang di dinding museum tersebut bahkan banyak yang tak akurat. Foto
HAMKA bersama mantan Ketua MPR/DPR Amir Machmud misalnya, ditulis: HAMKA
bersama Hamir Marmut. Padahal, dalam sejarah akurasi amatlah penting.

Selain foto bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah tokoh, di sana
terdapat foto Buya semenjak kanak-kanak, remaja, sampai foto lautan manusia
mengantar jenazah Buya HAMKA ketika wafat pada 1981. Selain foto juga ada
jubah, sarung, dan toga ketika Buya HAMKA dikukuhkan menjadi doktor honoris
causa di Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Al-Azhar, Mesir.
Juga ada foto yang menggambarkan kedekatan HAMKA ketika masih remaja dengan
Muhammad Natsir, mantan Perdana Menteri dan Ketua Partai Masyumi kelahiran
Alahan Panjang, Solok, yang aslinya juga berasal dari Maninjau.

Di masa lalu, daerah selingkar danau itu memang menghasilkan banyak tokoh
nasional. Selain Dr Karim Amrullah, HAMKA, dan Natsir, Maninjau juga
melahirkan Rangkayo Rasuna Said, pejuang perempuan yang pidato-pidatonya
amat ditakuti Belanda.

ETHS & H. Makmur, dari berbagai sumber.


---------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
---------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Posting maksimum 100 Kb
- Attachment, ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke