Orang Minang
Rawan Terkena Jantung Koroner 

Kebiasaan orang minang yang suka makan daging dan jerohan, namun minim
sayur  menyebabkan mereka sangat rentan terhadap penyakit darah tinggi
(hipertensi),   yang   kemudian  merembet  menjadi  penyakit  jantung.
Peneliti  masalah  jantung  RSUP  dr  Djamil,  Prof  dr Asnil mencatat
penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu di Sumatera Barat.

"Satu dari tiga kasus kematian yang menimpa orang Minang adalah akibat
serangan  jantung,  sehingga  tercatat  penyakit  itu sebagai pembunuh
utama  dibanding  penyakit  lain," ujar Prof Dr Asnil dalam percakapan
dengan wartawan, di Padang, Sumatera Barat, belum lama ini.

Pernyataan  Prof  Asnil  didukung  penelitian  yang dilakukan Fakultas
Kedokteran  Universitas  Andalas (Unand) pada tahun 2000 tercatat dari
sekitar  4.2  juta  penduduk  Sumatera Barat yang meninggal pada tahun
itu, ada sekitar 1.600 orang yang meninggal akibat jantung dan masalah
pembuluh darah setiap tahunnya.

"Sebanyak  400  orang di antaranya yang meninggal itu sebelumnya telah
mendapat perawatan medis yang cukup lengkap," ujarnya.

Akibat  kebiasaan  makan  yang  tidak berubah, ditambahkan Prof Asnil,
sejak  setahun  lalu  terjadi  peningkatan  yang cukup signifikan dari
kunjungan  penderita  penyakit  jantung  ke  pusat  perawatan penyakit
jantung  atau  Cardiac Center. Dari 17.000 pasien pada 2002, jumlahnya
meningkat menjadi 23.500 pasien pada tahun 2003.

Prof  Asnil menjelaskan, jumlah kasus penyakit kardiovaskuler terbesar
dipicu  penyakit  jantung  koroner  69 persen, hipertensi 15,7 persen,
jantung reumatik 8 persen, kelainan bawaan 3 persen, vaskular 2 persen
dan lainnya 7 persen.

Sedangkan  penyebab utama penyakit jantung adalah 20,3 persen penduduk
Sumbar berumur di atas 40 tahun menderita hipertensi dan pola makannya
tidak  teratur.  Sekitar  84  persen  penduduk  malas  berolahraga dan
sekitar 60,2 persen remaja putra serta 2,3 persen pemudi di Padang dan
Bukittinggi aktif merokok.

Dari  data statistik tersebut, menurut Prof Asnil, sebenarnya pihaknya
telah  mengasumsikan sejak tahun 1957 lalu bahwa akan terjadi lonjakan
kematian  akibat  serangan  penyakit  di  Sumatera Barat pada 50 tahun
mendatang.  Hal  itu  didasarkan  pada  pola makan dan kebiasaan orang
Minang yang tidak sehat.

"Setelah  terjadinya  peningkatan kasus kematian akibat jantung setiap
tahun,   pihak   Pemda   Sumbar   telah   melakukan   berbagai   upaya
penanggulangan  penyakit  jantung  mulai  dari  pendirian  perkumpulan
peduli  jantung, pusat rehabilitasi hingga penyediaan sarana perawatan
mutakhir. Bahkan bila dirupiahkan, mungkin telah ratusan miliar rupiah
bantuan  Pemerintah  untuk penyediaan peralatan dan laboratorium untuk
penanganan masalah penyakit jantung," ucapnya.

Namun secara garis besar, Cardiac Center yang telah diresmikan Menteri
Kesehatan  Sujudi  pada Senin (21/6) lalu telah menghabiskan investasi
sekitar Rp 10 miliar lebih.

Sementara   Kepala  Dinas  Kesehatan  Sumbar,  Dr  Abdul  Rival  Rivai
mengatakan,  pembangunan  Cardiac  Center tersebut juga diikuti dengan
peningkatan sumber daya pendukung.

Dinas  kesehatan menyiapkan upaya deteksi bertingkat mulai dari tenaga
primer yang bertugas mendeteksi serangan penyakit jantung terdiri atas
pada 140 dokter kepala Puskesmas beserta 200 tenaga medisnya.

Kemudian  deteksi  penderita jantung ditingkatkan pada bagian sekunder
yang  terdiri  atas  jaringan  rumah  sakit umum dan meningkat lagi ke
bagian  tersier  di  Rumah  Sakit kelas B di Bukittinggi serta rujukan
teratas di Cardiac Center di RSUP Dr M Djamil. (T-1)


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke