Amrios Amsyar wrote: >Assalamualaikum WWW. > >
Wa 'alaikumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh, >Kalau buliah ambo maagiah saketek pendapat, sebetulnya hadist yang saling >bertentangan itu pasti ada (disini pasti ada hadist yg palsu) dan juga ada >pula hadist yg saling mendukung. > Pak Amrios, penentuan derajat suatu hadits bukanlah berdasarkan "selera" namun dilakukan secara ilmiah sesuai dengan musthalahul hadits. Kadang ada hadits yang sepertinya bertentangan namun sebenarnya tidak; seringkali kita yang keliru memahaminya. Kadang pertentangan seperti ini juga dituduhkan oleh orang-orang kafir terhadap ayat-ayat al-Qur'an namun itu sebenarnya karena ketidakmampuan mereka memahaminya (seringkali sudah ada prasangka yang keliru). Bukan pula karena suatu "pembuktian ilmiah" lantas suatu hadits diklaim sebagai lemah atau palsu. Berkenaan hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidaklah sembarangan dalam menentukan suatu hukum karena beliau melakukannya dengan tuntunan wahyu. Itulah kenapa Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk menaati perintah beliau dan menjadikan beliau suri teladan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman (yang artinya): "Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. Aali Imraan 3:132) >Begitu juga dalam kita menterjemahkan hadist tersebut dan berhubung karena >Nabi Muhammad telah lama meninggal, dan hadist tersebut banyak yg dibukukan >jauh setelah Nabi meninggal. > Pak Amrios, penulisan hadits dalam bentuk yang rapi memang disusun pada masa 'Umar bin 'Abdul Aziz rahimahullah namun tidak benar jika dikatakan bahwa hadits tidak pernah dituliskan sebelumnya. Seperti halnya penyusunan mushaf Al-Qur'an yang dilakukan oleh Amirul Mukminin 'Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu bukan berarti Al-Qur'an tidak pernah ditulis sebelumnya. Dalam hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim yang mencatat perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar pesan beliau dituliskan untuk Abu Syah. Selanjutnya izin Rasulullah kepada Abdullah ibn 'Amr ibn al-Ash radhiallahu 'anhuma untuk menulis ucapan beliau baik saat beliau senang maupun marah. Juga keterangan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma mencatat hadits. 'Ali juga memiliki catatan tentang diyat (denda). Para ulama hadits juga merupakan orang-orang yang kuat hapalannya. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah disebutkan hapal satu juta hadits. Al-Bukhari rahimahullah menyusun kitab shahihnya dari hapalannya sebanyak 600 ribu hadits. Beberapa ulama hadits lainnya juga diketahui hapal ratusan ribu hadits. Maksud sebuah hadits di sini adalah dengan jalur periwayatan (sanad) tertentu. Jadi sebuah isi hadits (matan) yang memiliki 10 sanad dihitung sebagai 10 hadits. Metode periwayatan lewat hapalan dengan mendengar langsung dari guru atau membacakan hadits kepada guru juga masih dilakukan sampai masa kini. Yang lebih sering adalah dengan melalui ijazah (seorang guru mengizinkan muridnya untuk meriwayatkan dari kitabnya). Allah Subhanahu wa Ta'ala menjamin terjaganya hadits sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya): "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. al-Hijr 15:9) Lho, kan yang disebutkan adalah al-Qur'an? Kenapa dikaitkan ke hadits? Karena terpelihara di sini bukanlah hanya terpelihara lafazhnya namun juga pemahamannya. Sebagai contoh, dalam al-Qur'an disebutkan banyak perintah untuk menegakkan shalat dan cara-cara shalat banyak dijelaskan dalam hadits. Dengan demikian, agar perintah Allah Ta'ala itu dapat diikuti tentunya "petunjuk pelaksanaan"-nya harus terpelihara juga. Belum lagi banyak ayat tentang perintah menaati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga menjelaskan bahwa akan senantiasa ada umatnya yang menampakkan kebenaran. Tentunya tidak akan mungkin tanpa mengikuti tuntunan al-Qur'an dan as-Sunnah. Dari Tsauban radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): "Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menampakkan di atas kebenaran tidak memudharatkan mereka orang yang mencerca mereka sampai datang perintah Allah (hari Kiamat)." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan lainnya) Tentang hadits ini Ali bin al-Madini (guru al-Bukhari) berkata "Mereka adalah ashhabul hadits." Imam Ahmad bin Hanbal juga berkata, "Jika bukan ulama hadits maka saya tidak tahu siapa selain mereka." Imam asy-Syafi'i berkata "Wajib bagi kalian bersama ulama hadits karena merekalah manusia yang paling banyak benarnya." >Disinilah letak permasalahnya. Jika ada permasalahan begini ada baiknya kita >lihat sumber dari hadist tersebut. Kalau menurut ambo pribadi ambo akan >MAMILIAH hadist nan diriwayatkan oleh Aisyah karena beliau adalah istri Nabi >sendiri sehingga kedekatan hubungannya amat sangat dekat sekali dibandingkan >Abu Hurairah (maaf ambo indak merendahkan Abu Hurairah doh--jan sampai salah >sangko). > Memang terkadang muncul perbedaan pendapat di antara para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang bersumber dari perbedaan pengetahuan yang mereka peroleh. Sebagai contoh, ketika berubahnya kiblat menjadi menghadap Masjidil Haram, sebagian orang masih shalat menghadap Masjidil Aqsha karena belum mengetahuinya. Namun mereka langsung mengubah arah kiblat mereka ketika ada yang memberitahukan. Dalam menghadapi perbedaan pendapat ini tentunya kita harus kembali melihat dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Dalam masalah ini sungguhkah hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu di sini keliru? Apakah ada dalil yang lebih kuat yang bertentangan dan tidak dapat dikompromikan? Kembali ke permasalahan awal. Suami dan istri memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing. Yang terbaik tentunya ketika masing-masing pihak memenuhi hak dan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Mengenai keutamaan perempuan yang menjadi ahli surga digambarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau (yang artinya): “ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu) Sekian dari saya. Semoga dapat bermanfaat. Allahu Ta'ala a'lam. Wasalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, -- Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1980M/1400H) -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

