Assalamua'alaiukumwarahmatullahiwabarakaatuhu. Membaca artikel dibawah ini saya menjadi teringat dengan ibu saya di kampung, ibu yang melahirkan dan membesarkan saya. Sekarang saya sering chatting, melihat wajah dan mendnegar suaranya melalui internet. Saya di Kairo, beliau di P. Siantar.
Saat ini beliau sudah sakit hampir sebulan lamanya, karena memang sudah tua umurnya, ingin saya pulang kampung, dan suami mengizinkan saya pulang, namun ibu saya mengatakan :" Jagalah anak-anak dan suami, jadilah istri yang shalihah, kejarlah surga dunia dan akhirat dimana itu jauh lebih berharga dari dunia seisinya". Ibu saya ini Minang asli dan sangat kental keminangannya, sampaipun masakannya. Adat istiadat sangat beliau pegang sekali, namun tatkala sampai kepadanya kebenaran agama dari anaknya soal harta warisan, beliau tidak berani mengambil semuanya, cukup bahagiannya saja yang menurut agama dipandang sah dan halal. Beliau anak tunggal dari ibu yang anak tunggal juga(nenek saya anak tunggal). Memang sudah takdir Allah beliau (ibu saya),hidup menderita sejak dari lahir, karena korban rasa iri dan dengki orang lain, ibunya(nenek saya) sampai diobat-obati hingga hilang ingatan, harta dirampas, namun hafalan AlQuran sampai nenek saya sampai meninggalnya tidak pernah lupa, begitupun bahasa Arab, nahu sharafnya, tetap dalam ingatan, nenek saya meski sudah diobati oleh orang kampung yang beliau memang tidak mengingat anaknya sendiri siapa, suaminya siapa, keluarganya siapa, namun sampai akhir hidupnya yang dibacanya adalah AlQuran sampai berlinang air matanya. Subhanallah . Maha kuasa Allah, semoga beliau sekarang berada di surgaNya. Ibu saya yang menderita sejak kecilnya, selalu mendidik kami menjadi anak yang berbakti pada orang tua, agama dan menjadi suami/istri yang shalih/ah. Itulah kesan saya tentang ibu dan nenek saya. Semoga dalam jangka waktu dekat ini saya bisa pulang kampung menjenguknya. Beliau sudah sangat merindukan saya, selalu bertanya kapan pulang.Artikel dibawah ini benar-benar mengingatkan saya akan sikap ibu saya kepada saya dalam mendidik anak-anaknya. Wassalam. Rahima. Ibuku, Inspirasiku Mahyudin Purwanto Waktu masih kanak-kanak, ibu pernah memintaku untuk mengangkut sekarung beras dari sebuah pabrik menuju ke rumah di kampung yang berbeda. Namun karena tenagaku yang tidak kuat, aku terjatuh di sebuah jembatan. Akibatnya karung beras itu jatuh di bantaran kali kecil itu. Sesampai di rumah ibuku mendengarkan semua alasanku. Aku khawatir ia akan marah. Namun, ternyata ia hanya berkata: "Oh jembatan kayunya kecil ya..." Padahal kejadian ini adalah untuk ketiga kalinya. Sekali waktu ibu pernah memarahiku karena aku tak mau membantunya menimba air. Aku sedang malas dan barulah pertama kali itu aku tidak melakukannya. Di depan pintu dapur, ia hanya mengucapkan: "Nanti kalau besar mau jadi apa, kalau malas...". Aku pun pernah marah kepadanya. Karena ia telah memakan kue pisang kesukaanku yang diberi oleh tetangga. Dengan peluhnya sehabis membuat sapu lidi, ia langsung mengambil kue itu dan berkata: "Kamu gak mau kan...". Ibu tak memperhatikan jawabanku selain langsung memakannya, padahal aku sangat ingin. Lain waktu setelah pulang dari sekolah, perutku lapar. Namun, aku tak menemukan nasi di meja makan dekat tungku api. Aku menemuinya, berharap ia menyimpan makanan itu di suatu tempat yang tak kuketahui. Tapi tebakanku salah. Dengan ringannya ia berkata: "Kamu panjat kelapa dan mencabut singkong di belakang rumah, lalu ibu yang memasaknya. Setelah itu kita makan bareng ya...". Ibuku memang tak pernah marah ketika aku melakukan kesalahan, asalkan aku memberikan alasan yang bisa dimakluminya. Ia memberikan kesempatan dan waktu terus menerus untukku menyempurnakannya. Ia juga sangat menyukaiku bila aku mau disiplin dan tidak malas dalam melakukan sesuatu. Sedangkan, dulu yang kuanggap kesalahan ibu, justru ia mendidikku untuk belajar berempati dan menghargai jerih payah orang lain. Sewaktu kami kekurangan bahan makanan, ia mengajakku bekerja sama menjemput rezeki yang halal dan baik. Aku terbiasa dengan perlakuan ibu kala itu. Kadang merasa nyaman, kadang was-was khawatir ibu akan marah. Walaupun aku menemui sikapnya berbeda jauh dari sangkaanku. Namun sungguh, di kala kami anak-anaknya menjalani kemiskinan justru ibu memperkaya diri kami dengan makna hidup yang sebenarnya. Memberikan asupan, semangat, dan cara mensiasati hidup dengan keridhoan terhadap apa yang didapatkan dan dijalani. Ibuku lulusan sekolah rakyat dan tak mengenyam pendidikan tinggi. Ia adalah wanita yang dicintai dan disegani anak-anaknya. Satu hal saja yang menempatkan ibu pada posisi sangat dihargai oleh anak-anaknya. Yaitu soal calon pendamping hidup. Tak satu pun pasangan hidup anaknya, baik laki atau perempuan yang tak melalui "tes ujian menantu". Satu hal saja, yang akan selalu ia tanyakan, "Apakah kamu sanggup dalam kemiskinan dan kekurangan anakku?". Saat ini aku telah menikah dan dianugerahi seorang anak yang memasuki tahun pertama usianya, ia telah dapat meniru banyak hal. Aku dan istriku mengajarinya beberapa hal, seperti berterima kasih, berdoa di setiap kesempatan, tanda hormat dengan mencium tangan, rela melepas dan memberikan mainannya. Bila ia menangis, aku ajarkan untuk menyadari sendiri tingkahnya. Sampai akhirnya ia terdiam dan bermain kembali tanpa campur tangan ibunya untuk menghentikan tangisnya. Ternyata, ia mau melakukannya walau membutuhkan waktu. Namun dari semua itu, aku belajar dan terkayakan ilmu dari seorang wanita. Dialah Ibuku, yang menitipkan banyak nasihat dalam perjalanan hidupku, melekat, mendalam, dan penuh makna dengan ketulusannya. Aku bersyukur, Allah telah memberikan wanita hebat itu. Semua itu melahirkan sebuah inspirasi besar bagaimana mendidik anakku. Ibuku, inspirasiku. Aku akan berusaha melahirkan banyak hal untuk anak-anakku. Agar kelak mereka mendapatkan inspirasi luar biasa dan lebih baik setelahku. Walaupun aku tahu, ada sisi kekurangan dan keterbatasan ibu yang terbungkus dalam kesederhanaannya dalam hidup. Tentunya, setiap anak pasti akan menemukan kekuatan inspirasi itu dari seorang ibu bagaimana pun keadaannya. Wallahu'alam. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

