----- Message from Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]> on Tue, 17
Jan 2006 20:12:02 -0800 (PST) -----
To:
Subject:        Liputan Tour d'Sumbar...
Dear Dunsanak kasadonyo,

Ini cara lain utk ikut menunjang program promosi pariwisata Ranah
Minang tercinta. Silahkan klik link ini :
http://www.kamera-digital.com/forum/viewtopic.php?TopicID=8434#66570.
Kualitas foto yg ditampilkan disini hanya utk bahan diskusi dan sdh
diperkecil sizenya. Jd kualitasnya agak menurun dr file orisinalnya yg
rata2 diatas 2-3 MB (jpg format) dan sbg besar 8-10 MB per picture
(RAW format).

10-16 Januari lalu saya ambil cuti dan pulang ke Sumbar dengan
mengajak 2 orang Senior Fotografer dr Jakarta, yaitu Bpk Faisal Arief
Loebis dan Bpk Alfred Lilipaly. (FYI, Des 2004 dan April 2005, saya
juga ngajak 1 org fotografer dr Jkt, Guntur Primagotama). Dari Padang,
kita juga sangat terbantu dg ditemani beberapa Fotografer lokal  juga
yg ikut bergabung keliling Sumbar (blm full keliling2 amat sih
sebetulnya). Kebetulan, Ketua Komunitas Fotografi Padang yang baru
terbetuk, Yudi Febrianda adalah salah satu Team Website West Sumatra
juga. Rute dan lokasi yg baru kita singgahi : Sitinjau Laut, Danau
Kembar, Singkarak (tp cuman lewat aja krn mslh waktu), Ngarai Sianok,
Benteng, Ambun Pagi Maninjau, Koto Gadang, Pandai Sikek, Silaing dan
Lembah Anai.

Kita bertiga mendarat di Pdg di Hari Lebaran Haji, Selasa 10 Jan sore
(pulang ke Jkt Senin jam 6 pg). Saya sendiri lgs plg ke Muara Labuh
utk ketemu orang tua, walaupun hanya 1 malam saja. Karena Rabu
siangnya sdh hrs berada di Padang utk acara diskusi fotografi dan
peluncuran Klub Fotografi yg br bbrp hari terbentuk.

Antusiasme dari rekan-rekan di Padang utk tidak malu-malu dan sungkan
bertanya, termasuk yg sudah senior segala dan punya studio besar,
sangat luar biasa. Cukup mengagetkan, even buat saya sbg orang asli
Minang. Pak Faisal yg juga kolektor kamera milyaran rupiah tsb, ibunya
asli Koto Gadang, sampai di daulat utk menjadi Penasihat organisasi.
Beberapa foto wild life beliau dulu pernah masuk ke National
Geographic.

Bagi yg tertarik, silahkan ikuti terus proses perjalanan ini. Masih
banyak lagi yg belum diupload. Ribuan foto, hampir 10 GB totally, yg
kita jepret. Tetapi tentu hanya bbrp nanti yg akan di upload ke
www.west-sumatra.com setelah diseleksi dan dikurasi sebelumnya.
Sekaligus menunggu peluncuran versi baru dari website ini bulan depan.
Kita berusaha utk mendapatkan foto2 dg angle2 yg berbeda yg tidak umum
dan sudah sering dipublikasikan sebelumnya. Tetapi tidak mudah juga
ternyata, karena kesulitan dengan masalah waktu yg terbatas dan
posisi/lokasi utk tempat pengambilan. Belum lagi cuaca yg kurang
bersahabat. Fokus perjalanan kali ini masih ke Landscape. Belum
menyentuh ke tempat2 sejarah, legenda, rumah gadang, budaya dan yg
paling mendasar, kehidupan sosial budaya masyarakat. Orang asing
biasanya lebih suka dg kehidupan masyarakat, bukan dengan publikasi
foto-foto formal. Masih akan banyak trip berikutnya, jika waktu dan
kondisi mengizinkan...:-) Maklum lah msh kuli bo' he..he...

Yg cukup menarik dan penting utk saya sharing ke dunsanak disini
adalah betapa 'tersentuhnya' perasaan paling dalam dari seorang senior
seperti Pak Faisal (56 thn)melihat keindahan alam Minangkabau. Seorang
macho yg suka berburu ke Afrika/Alaska dan berlayar menerjang ombak dg
kapal2 layarnya, bisa 'sambok' dan berlinang air matanya saking
kagumnya dg tanah kelahiran ibunda tercinta beliau. Ini terjadi 4 kali
ditempat yg berbeda. Dan 4 kali jg beliau menepuk bahu saya dan sangat
berterima kasih karena telah diajak pulang ke Sumbar. Bisa dimaklumi,
karena beliau lahir diluar negeri dan baru umur 14 thn belajar bahasa
Indonesia. Sebagian besar hidupnya juga berada dan berpindah-pindah di
manca negara. Pernah kerja di Wall Street, Expatriate di Perusahaan2
Minyak Asing, dlsbnya. Beliau br sekali plg ke Koto Gadang, thn 1970,
tp itupun memorynya sudah totally blank sama sekali ttg Padang.
Almarhum Ayahanda beliau, Bpk Aboe Bakar Loebis adalah sekretaris Bung
Hatta dulu dan tangan kanan Bung Sjahrir kemana-mana. Kata Pak Faisal
: "Sesuatu yg sebetulnya sangat dekat selama ini dengan akar saya,
tetapi kok sampai tidak tersentuh ya oleh saya...?". Ibunda beliau di
Jkt yg sdh tidak bisa bepergian lagi, sampai menangis tersedu-sedu
ketika beliau telepon lgs dari Novotel Bukittinggi tentang 'ungkapan
perasaan' beliau berada ditengah keindahan Ranah Minangkabau dan bahwa
Koto Gadang masih seperti sedia kala tidak tersentuh oleh bangunan2
dan peradaban modern.

Nah, bagaimana dengan kita...?? Apakah kita sudah cukup menyadari
bahwa kita harus bersyukur ke Allah swt bahwa kita dilahirkan di
daerah dengan keindahan luar biasa ini? The best part of Indonesia?
Apakah kita yang lahir dan dibesarkan di Ranah Minangkabau akan
tinggal diam begitu saja? Apakah harus selalu menunggu orang lain dulu
berkiprah, baru kita menyusul dibelakang? Apakah kita biarkan ribuan
orang-orang asing setiap bulan masuk dan menikmati ombak raksasa
Mentawai begitu saja? Adakah 'kue' yg juga bisa dinikmati oleh local
people utk meningkatkan pendapatannya? Apakah kita nanti belakangan
hari tidak akan 'berteriak' : "Wah gak fair nih...". Padahal kita yg
tidak mau melihat peluang dan berusaha bersusah payah dari awal utk
berjuang secara business wise and in a good ethic? Saya belum pernah
dengar orang Minang rasialis. Tidak ada itu sejarahnya. Kalau gak,
mana mungkin orang Minang bisa buka rumah makan sampai ke ujung dunia
sana...:D

Untuk saya pribadi, setidaknya saya sudah memulai dengan cara saya
sendiri dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang saya miliki.
Mudah-mudahan dunsanak yg lain juga bisa 'do some thing' dengan cara
masing-masing untuk meningkatkan pendapatan anak adik keponakan cucu
dunsanak dll di Ranah Minang. Agar tidak semua berorientasi utk
merantau dan membiarkan Rumah Gadang di kampung lapuk begitu saja di
makan waktu... Untuk berkontribusi, jangan lah sekali-kali pernah
bicara masalah jumlah. Yang penting kita sama-sama punya niat baik
ajalah dan tumbuhkan rasa saling menghargai satu sama lain... Kata
Kahlil Gibran: "Waktu tidak pernah mundur ke belakang...". Itu saja.
Talabiah takurang, mohon maaf sebelumnya. Semoga bermanfaat. Terima
kasih.

Salam,
Nofrins
www.west-sumatra.com
www.solok-selatan.com

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke