Nyit Sungut.
Ambo copy pastekan, bagi nan indak bisa akses 
 ke interenek.
Akaik sore cako kami lah ba-kumpua2 dirumah Capt Darul,
Ajoduta jo nyonya anak, minantu dan cucu lai hadir.

mak ban
~~~~~~~~~


Srikandi Keluarga dari Limapuluh Kota
* Ingin Menyerah, Tapi Tak Bisa 
Sabtu, 18-Februari-2006, 01:36:48 41 clicks   
 
 
Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Rangkaian kata itu
sering kita dengar. Mungkin pepatah itu cocok untuk nasib seorang warga
Mungka Kabupaten Limapuluh Kota, Yeni Yulvita (37) dan keluarganya.
Sejak rumah semi permanennya terbakar, tanggal 8 Januari 2006 lalu,
nasib penjual pucuk ubi dan telur retak di Pasar Ibuah itu tidak
dipedulikan lagi sampai sekarang. 

Ibu muda itu nampak tua dengan perjuangan hidupnya. Dengan pakaian yang
kumal dan kulit tertutup debu jalanan, serta kain sarung coklat tua yang
sudah tua melilit di badannya, Yeni berjualan pucuk ubi di tepi Jalan
Pasar Ibuah Kota Payakumbuh. Warga Jorong Koto Tuo, Jorong Mungka,
Kenagarian Mungka Kecamatan Limapuluh Kota itu seakan ingin menyerah
akan nasib hidupnya. 

"Uni (panggilan kakak di Minangkabau-red) ingin menyerah, tapi kepada
siapa harus menyerah," ucapnya dengan air mata tergenang. Mengapa Ia
harus tetap berjuang, walaupun telah merasa kalah Yeni mengaku telah
mengadukan nasibnya kebanyak pihak, tetapi akhirnya Ia harus menjadi
pejuang bagi perutnya dan masa depan anak-anaknya. 

Ibu dari dua orang anak itu, menjual sayuran yang di ambil suaminya dari
tebing-tebing dekat kampungnya. Sayuran segar itu diikat sebanyak
sepuluh ikat, dan dijual dengan harga yang sesuai dengan harga waktu
itu. Kadang-kadang jika punya kelebihan uang, Srikandi keluarga itu
membeli telur retak dengan harga murah dan di jual ke Pasar Ibuah. 

Suami Yeni, Yasirwan (45) tidak tinggal diam. Sebagai kepala keluarga
pria yang hampir separuh abad itu tetap berusaha memberi makan
keluarganya, sebagai buruh tani. Penghasilan tidak seimbang dengan
kebutuhan istri, dua orang anak dan seorang mertua yang sakit asma
membuatnya terpaksa membiarkan istrinya ikut bertahan hidup di tengah
riuhnya pemerintah dan legislatif membahas Rencana Anggaran Belanja
Daerah (RAPBD). 

Ketika ditanyakan di mana ia dan empat keluarganya yang lain tinggal,
Yeni lugas menjawab di dangau tirih (pondok yang bocor-red). Tanpa
diminta seakan ingin membagi sebuah kesedihan Yeni menceritakan pondok
itu baru saja dilantai semen seadanya. Ketika baru terbakar, Ia membawa
keluarganya dan ibu yang melahirkannya, Raniah (68) ke pondok tersebut.
"Dangau itu berlantaikan tanah, Amak Uni (ibunya-red) sakit asma
sehingga harus dilantai semen, untuk beliau shalat. Dangau itu dari dulu
hingga sekarang atapnya banyak berlubang, sehingga jika hujan airnya
sampai ke dalam dangau," tuturnya lirih seraya menyebutkan bapaknya
sudah meninggal. (abk) 
 


> -----Original Message-----
> From: Sjamsir Sjarif

> 
> Dari Pdang Ekspres kito baco:
> 
> Srikandi Keluarga dari Limapuluh Kota
>   -- Ingin Menyerah, Tapi Tak Bisa
> Sabtu, 18-Februari-2006, 01:36:48 27
> 
> Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Rangkaian kata itu
sering
> kita dengar. Mungkin pepatah itu cocok untuk nasib seorang warga
Mungka
> Kabupaten Limapuluh Kota, Yeni Yulvita (37) dan keluarganya. Sejak
rumah
> semi permanennya terbakar, tanggal 8 Januari 2006 lalu, nasib penjual
> pucuk
> ubi dan telur retak di Pasar Ibuah itu tidak dipedulikan lagi sampai
> sekarang.
> .. dst
>
http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=
10
> 698


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke