Dari Republika http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19 

BIM atau MIA 

Oleh : Ahmad Syafii Maarif 


BIM adalah singkatan dari Bandar Udara (Bandara) Internasional Minangkabau dan 
MIA adalah Bahasa Inggrisnya Minangkabau International Airport. Diresmikan 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 22 Juli 2005, bandara ini menurut ukuran 
daerah cukup megah dengan dua belalai gajahnya, sesuatu yang langka kita jumpai 
di daerah, kecuali di Manado dan Batam. Orang Minang tampaknya bangga sekali 
dengan bandara baru ini, termasuk saya tentunya. Seolah-olah hati mereka yang 
terluka sejak pemberontakan daerah akhir 1950-an dan awal 1960-an telah sedikit 
terobati, sekalipun tidak sesederhana itu.

Pada jam-jam tertentu orang akan menyaksikan pesawat Garuda parkir di situ, 
diikuti oleh Lion, Mandala, Batavia, Adam Air, kadang-kadang terlihat juga 
Awair, dan pesawat asing. Panorama ini menambah semaraknya BIM yang berlokasi 
di daerah Pariaman itu, sekalipun awak pesawat tetap saja mengumumkan: "Kita 
baru saja mendarat di Bandara Internasional Minangkabau Padang." Pariaman tidak 
pernah disebut. Pengumuman serupa juga kita dengar sewaktu mendarat di Bandara 
Soekarno-Hatta yang terletak di Provinsi Banten itu. Tetap saja Jakarta yang 
disebut, seakan-akan nama Banten tidak ada dalam peta penerbangan. Jakarta dan 
Padang menang nama dan pamor. 

Untuk mengangkut jamaah haji BIM memang belum mampu karena panjang landasan 
pacu belum memadai. Perlu ditambah antara lima ratus sampai seribu meter lagi, 
sehingga calon jamaah haji tidak perlu lagi buang ongkos ke Medan sebelum 
terbang ke Jeddah. Mulai dikerjakan sejak periode Gubernur Zainal Bakar, BIM 
rampung pada periode Gubernur Gamawan Fauzi.

Di samping kebanggaan dan rasa terima kasih yang harus disampaikan kepada 
pemerintah, ada catatan awal yang perlu direkam di sini. Seperti halnya bandara 
daerah-daerah lain di Indonesia yang kurang terawat, BIM yang belum berusia 
satu tahun itu sudah mulai mengidap penyakit yang satu ini: tak terpelihara, 
khususnya yang menyangkut toilet. Kran air yang bocor, lantai yang kotor, 
kertas tisu yang habis tak cepat diganti. Dan di luar kadang-kadang tampak 
berkeliaran pula anak-anak muda yang berambut pirang karena dicat agar tampak 
seperti orang Barat, tetapi warna kulit dan bentuk hidungnya tidak mendukung. 
Mereka ini adalah bagian dari anak-anak Indonesia yang tidak mendapatkan 
lapangan kerja saking sukarnya.

Apalagi di Sumatra Barat dengan lahan yang sempit dan PAD (Penghasilan Asli 
Daerah) yang rendah, kawasan ini sungguh tidak menjanjikan apa-apa bagi pencari 
kerja baru. Solusinya sejak puluhan tahun yang lalu: merantau. Itu pun sudah 
tidak gampang lagi, karena rantau juga menghadapi masalah serupa: sempitnya 
lapangan kerja.

Tempo Doeloe orang Minang cukup diberi peringatan dengan pribahasa: laut sakti 
rantau bertuah. Maksudnya agar mereka sebelum meninggalkan kampung halaman 
harus mempersiapkan mental dan semangat hidup yang tinggi untuk memasuki 
kawasan baru dengan subkultur yang berbeda, jika bukan asing. Sekarang dengan 
jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai 220 juta, semuanya terjepit dalam 
lingkaran setan.

Lihatlah betapa membludaknya anak-anak bangsa yang turut tes calon pegawai 
negeri sipil. Sewaktu antre ada yang pingsan, terinjak, bahkan tewas, hanya 
dalam upaya untuk membebaskan diri dari pengangguran. Ini pun tidak akan 
menyelesaikan masalah, sebab angka pengangguran kita tetap saja membengkak dari 
hari ke hari. Semua subkultur Indonesia sama-sama dibebani oleh masalah 
pengangguran ini dengan segala dampak buruknya bagi keamanan dan kenyamanan 
lingkungan. Si rambut pirang yang sering bergerombol di sekitar BIM haruslah 
dibaca dalam perspektif kondisi lingkaran setan itu.

Kembali kepada masalah pemeliharaan bandara. Pengalaman saya yang sudah 
menyinggahi hampir seluruh bandara di Tanah Air, dan puluhan bandara di 
mancanegara, untuk Indonesia masalah pemeliharaan kebersihan dan kenyamanan 
kurang sekali mendapat perhatian dari mereka yang bertanggung jawab untuk itu. 
Apakah itu Angkasa Pura atau bagian keamanan lingkungan. Sekalipun tidak 
seburuk dan sekumuh Bandara Anjamina di Chad (Afrika), saya mohon perhatian 
kepada para petugas untuk benar-benar menjalankan kewajibannya untuk menjaga 
keasrian bandara yang berada di bawah wewenang dan tanggung jawabnya 
masing-masing.

Orang Minang jangan hanya sibuk dengan "dunia pepatah-petitih", tetapi gagal 
memelihara BIM yang elok itu. Jika perlu gubernur memanggil petugas bandara ini 
agar memahami apa tugas yang perlu mereka laksanakan, demi citra Minang yang 
katanya beradat dan beradab. 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke