----- Original Message ----- 
From: "willy aditya" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Saturday, February 18, 2006 6:24 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Filsafat Kerja Masyarakat Minang!


>
>  Filsafat Kerja Masyarakat Minangkabau  Oleh: Willy Aditya[1]
>
>
>  Salah satu yang selalu menarik di Minangkabau ini
>   ialah selalu adanya usaha untuk memberikan makna terhadap kenyataan
>   yang mengitari diri berdasarkan paradigma adat
>   yang dianggap masih tetap berlaku.
>  (Taufik Abdullah)
>
>
>  Kerja secara filsafat merupakan realisasi diri manusia sepenuhnya dalam 
> hidup ini. Selain itu dalam faktor produksi, kerja ditinjau dari ekonomi 
> politik merupakan bentuk interaksi manusia merubah nature untuk membentuk 
> culture, sementara secara sosiologisnya kerja adalah  relasi sosial 
> pertama, dimana bekerja berati bekerja sama. Disinilah kerja merupakan 
> eksistensi manusia yang paling pokok dalam merealisasikan sejarah 
> hidupnya.
>              Kerja produksi merupakan sejarah pertama yang membentuk 
> karakteristik masyarakat/formasi sosial yang kemudian saling mempunyai 
> relasi sosial yang menciptakan strata sosial dalam masyarakat. Ada dua 
> tipologi kerja produksi; yang pertama adalah kerja yang koorporatif dimana 
> antar subjek tidak ada yang saling berposisi sub-ordinasi sementara kerja 
> kedua adalah kerja yang menciptakan karakteristik sub-ordinasi pemilik 
> (The Have) terhadap subjek yang menjadi pekerja (The Labour) .
>              Dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia merupakan 
> suatu perkembangan yang kompleks ditinjau dari ekonomi-politik corak 
> produksi dan formasi sosial yang membentuk masyarakat. Dimana kultur 
> produksi agraris yang masih feodal dicangkok oleh para kolonial Belanda 
> yang membawa corak produksi berdagang diawal dan kemudian berkembang 
> menjadi masyarakat industri yang kapitalistik. Disinilah terjadi 
> pergeseran-pergeseran pola produksi dan relasi kerja dalam masyarakat 
> Indonesia. Pertama tergambar dalam novel Machavellar[2] dimana seorang 
> pekerja kebun pada tuan tanah yang selama ini bekerja diberi sebagian 
> hasil garapannya oleh si pemilik dengan istilah maro[3]. Ketika Belanda 
> datang si pekerja kebingungan hasilnya diambil semua dan dia mendapat 
> bayaran atas keringat dan kerjanya dengan upah(uang). Disinilah masyarakat 
> industri baru dikenal di Indonesia, dimana masyarakat kapitalis primitif 
> sebelumnya dalam bentuk markantilis/perdagangan masih terlokus di 
> daerah-daerah
> pesisir.
>              Setelah meninjau historis dalam konteks masyarakat Indonesia 
> secara umum, maka dalam meng-ekplorasi gagasan yang jauh lebih mikro dalam 
> konteks masyarakat Minangkabau merupakan bagian dari Indonesia yang 
> memiliki identitas sebagai masyarakat markantilis atau Cina[4]-nya 
> Indonesia, akan kita tilik dari corak produksi dan formasi sosial 
> masyarakat Minangkabau atau Sumatera Barat-nya sebagai basis historis dan 
> teoritis.
>              Dalam konsep kepemilikan masyarakat Minangkabau memiliki dua 
> aturan; yang pertama adalah tanah kaum yang dimiliki secara komunal, serta 
> harta pusaka yang bersifat matrilinial dan harta pencaharian yang 
> diturunkan oleh Ayah kepada anaknya. Dalam kepemilikan masyarakat 
> Minangkabau sangat ketat dimana tanah atau harta pusaka tidak boleh 
> diperjual-belikan, apalagi tanah kaum atau kepemilikan adat merupakan 
> suatu hal yang dikelola secara bersama.
>              Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan terhadap 
> pergeseran pola produksi masyarakat Minangkabau terlihat jelas pada fase 
> tanam paksa  1908-1912 terjadi, dimana rakyat disuruh menanam tanaman 
> komersil seperti karet, kopi, dan kelapa. Disinilah kata Schrieke 
> masyarakat Minang mulai mempunyai mentalitas pedagang.
>              Suatu revolusi dalam semangat yang serupa dengan yang terjadi 
> pada periode kapitalisme awal di Eropa seperti yang ditunjukkan oleh Max 
> Weber dan Sombart. (Schieke, 1955:98)
>              Bersamaan dengan hal ini terjadi pergeseran nilai (baca: 
> corak produksi) dan strata sosial baru dalam masyarakat, sehingga dengan 
> tepat Geertz mengemukakan (1976:133)
>              Dalam dua dasawarsa dari perjumpaan yang kurang akrab dengan 
> kapitalisme Eropa itu, petani ladang Minangkabau telah berubah menjadi 
> pedagang pengejar keuntungan yang terjerat erat-erat dalam tali-temali 
> keuangan - suatu hal yang tak pernah dapat dicapai oleh petani sawah Jawa, 
> yang sudah lebih dari seabad lamanya harus berjuang membanting tulang 
> untuk bisa sekedar hidup.
>              Nah, disinilah kita dapat mengeksplorasi dalam berbagai 
> tinjauan, secara sosiologis perkembangan sejarah masyarakat Minangkabau 
> terjadi sesuatu hal yang unik, dimana banyak asumsi yang menjelaskan bahwa 
> masyarakat Minangkabau adalah masyarakat pendatang dan tidak ada suatu 
> kelompok pendatang atau penduduk asli yang dominan terhadap yang lainnya. 
> Layaknya tanah merdeka dan ditempati bersama-sama oleh para pendatang yang 
> beragam pula sehingga dalam konsep kepemilikan kaum atau adat ia lebih 
> bersifat komunal. Dalam hal pameo sering orang menyebutkan:
>              Orang batak dengan ciri khas rahang yang besar, orang jawa 
> dengan mata yang agak sipit dan muka loncong, orang palembang dengan kulit 
> putih hampir mirip Cina sementara Orang Minangkabau sulit untuk melihat 
> kesamaan genetis karakteristik fisik dan paras yang mengarah pada 
> penunjukan suatu perwakilan umum terhadap identitas.
>              Masyarakat Minangkabau ditinjau dalam tinjauan historis 
> feodal-nya tidaklah merupakan suatu hal yang lahir dari proses pergeseran 
> pola produksi dari masyarakat perbudakan menuju kepemilikan tuan-tuan 
> tanah, tidaklah begitu. Feodalisme atau masa kerajaan di Minangkabau lebih 
> bersifat politis karena ada penundukkan daerah atau kawasan oleh Majapahit 
> terhadap Minangkabau. Dalam prosesi inipun Minangkabau tidak ditundukkan 
> dengan per-perang-an namun dengan negosiasi politik yang melahirkan 
> kekuasaan kerajaan Pagaruyung tidak begitu hegemonik. Karena secara 
> kepemilikan atau sistem kultural masih tetap memakai pola komunal untuk 
> harta kaum dan matrilinial dalam harta pusaka. Secara politis juga 
> keberpihakan kerajaan Pagaruyung serta kaum Adat pada pemerintahan VOC 
> lebih menimbulkan kontradiksi yang memaksa masyarakat Minang untuk 
> melakukan perlawanan. Dalam perspektif geopolitis kerajaan merupakan 
> sentrum kekuasaan yang akan menjadi titik utama dari pemerintahan, 
> ekonomi,
> serta interaksi masyarakatpun tidak terbukti dengan demografisnya kerajaan 
> Pagaruyung yang jauh terpencil di Batusangkar serta kalah populer dengan 
> kota-kota pesisir seperti Padang atau Pariaman serta daerah Luhak yang 
> jauh di dalam yaitu Bukittinggi.
>              Disinilah dapat ditinjau secara kritis bagaimana komparasi 
> antara Jawa yang memiliki struktur produksi dan politik yang foedal 
> seperti apa yang dijelaskan oleh Greertz diatas, yang membedakan loncatan 
> perkembangan masyarakatnya secara produksi. Dalam masyarakat Minangkabau 
> yang tidak melewati fase feodal meloncat pada fase markantilis atau 
> kapitalisme primitif disini dapat kita tinjau relasi tenaga produktif 
> dengan alat produksinya yang untuk pembahasan kali ini lebih fokus pada 
> karakteristik kerja masyarakat Minangkabau.
>
>  Pola Produksi dan Munculnya Kelas Pedagang  Tenaga produktif yang 
> tersingkirkan oleh faktor produksi akan lebih banyak mencari peluang 
> diluarnya, disinilah sebenarnya identitas atau pola ekonomi politik 
> masyarakat terbentuk. Dalam masyarakat pra feodal apalagi ditegaskan 
> dengan pola matrilinial dimana dominasi perempuan atas kepemilikan  alat 
> produksi dan segaligus menjadi tenaga produktif yang menggarap lahannya 
> telah membuat kaum laki mencari peluang lainnya. Dalam masyarakat 
> Minangkabau tradisi perantauan dimulai dari gejala tersingkirnya tenaga 
> produktif dalam proses produksi. Sebab akan banyak pengangguran yang akan 
> tercipta di kampung halaman bila tidak mencari pekerjaan yang lainnya. 
> Masyarakat Minangkabau juga terstimulus oleh pandangan hidup mereka yang 
> mengatakan alam terkembang jadi guru, dimana mereka dituntut untuk belajar 
> dan hidup juga di luar negerinya sehingga dituntut untuk mempunyai daya 
> adaptasi dan interaksi yang organis dan instant. Hal ini mengakibatkan 
> tidak
> banyak dilakukannya pembukaan lahan baru dalam lima puluh tahun terkhir 
> ini. Apalagi opini atau mindstream  masyarakat Minangkabau yang tidak mau 
> kerja kasar atau fisik telah membuat kosong beberapa kerja secara 
> fungsional, faktor inilah salah satunya yang membuat migrasi atau 
> transmigrasi penduduk dari daerah lain semakin massif untuk mengsisi 
> kerja-kerja seperti buruh kereta api, bangunan, dan lainnya. Disamping 
> faktor budaya yang permisif dan demokratis terhadap budaya manapun.
>              Kecendrungan kerja masyarakat Minangkabau yang tersinggirkan 
> dalam proses produksi ini karena tidak memiliki SKILL[5] untuk membuka 
> lahan baru dalam produksi agraris apalagi membuka industri rumah tangga 
> (gilda) seperti masyarakat Eropa yang mampu untuk meningkatkan tenaga 
> produktif untuk mempunyai skill dan alat produksi yang terus berkembang 
> seperti apa yang terjadi di Inggris dengan penemuan mesin uap sebagai 
> cikal-bakal masyarakat industrialis. Disinilah pilihan kerja untuk tetap 
> menjadi kapitalis primitif yaitu pedagang apalagi dengan kemampuan 
> merantau dan berjualan apapun menjadi karakteristik kerja yang tidak 
> memerlukan skill yang unggul dan lama. Selain itu berdagang atau berjaja 
> masih tetap menjamin pemeliharaan watak kebebasan untuk menetukan langkah 
> sendiri yang tidak ter-sub ordinat oleh orang lain.
>
>  Lebih baik jadi kepala semut dibandingkan ekor gajah atau lebih baik jadi 
> tuan kecil dibandingkan budak besar[6]
>
>  Kecendrungan karakteristik berdagang ini dituntun oleh budaya verbal 
> (petah-petitih) dan prosa dalam masyarakat Minangkabau sebab budaya 
> tulisan baru ditemukan dalam fase masyarakat feodal, sebab bentuk hegemoni 
> atau dominasi terhadap interpretasi sejarah kekuasaan raja menjadi 
> penting.  Sampai sekarang dengan jaringan para pedagang Minangkabau yang 
> mengusai sektor informal atau kaki lima yang seharusnya akan 
> bertransformasi progresif juga tidak terbukti. Soeharto pernah 
> menggalakkan program GEBU MINANG (Gerakan Seribu) yang memotivasi 
> masyarakat perantauan minang untuk mengumpulkan seribu setiap hari-nya dan 
> akan dikelola sebagai bentuk koperasi atau lebih maju bank (kapitalis 
> finance). Beberapa cacatan yang perlu digarisbawahi dimana dalam proses 
> transformasi menuju masyarakat kapitalis yang maju tidak memenuhi 
> prasyaratnya. Dalam bentuk yang ekstrim seorang kriminolog putra 
> Minangkabau sendiri Amilijoes Sa'danoer menandaskan karena pendidikan yang 
> rendah dan tidak mempunyai
> skill akhirnya pekerjaan yang di kampung halaman tidak diterima dan 
> akhirnya diterima, apalagi persaingan ekonomis di kota-kota besar seperti 
> Jakarta dimana kemiskinan menciptakan tradisi kejahatan dan disinipun para 
> perantau Minangkabau tidak terelakkan untuk ambil peran. Cuma peran yang 
> jauh lebih cerdik dan bersih saja dimainkan dengan memilih menjadi copet, 
> tidak menjadi perampok atau maling yang secara vis avis akan 
> berkontradiksi secara fisik.
>
>  Kerja Intelektual Sebagai Patokan Kemuliaan
>  Karakteristik kerja yang cukup mengesankan bagi budaya emas Minangkabau 
> adalah kerja inteklual-nya. Karakter yang kedua ini memiliki akar historis 
> yang panjang dan kental sekali sampai sekarang walaupun tinggal 
> puing-puing kejayaannya masih bisa terlihat seperti mayat dalam kuburan. 
> Kultur petatah-petitih dan kaba yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai 
> intelegensia, yang dipandang sebagai takdir historis kelebihan manusia 
> dibandingkan mahluk lainnya serta terhadap infrastruktur lainnya seperti 
> tenaga fisik atau kekuatan fisik. Keunggulan fisik atau kekuataan fisik 
> acap kali diidentikkan dengan hewan, sementara watak cadiak candokio 
> (intelek) acap kali tercermin dari kefasihan dalam bertutur kata. 
> Pentingnya kerja intelektual ini termanifeskan dalam sistem sosial 
> masyarakat Minangkabau dimana pengambilan keputusan selalu memakai 
> musyawarah untuk mufakat. Sistem sosial-politik musyawarah untuk mufakat 
> adalah mekanisme dimana mencari persesuaian, perbedaan pendapat yang
> di-dialog-kan serta mencari kata mufakat. Disinih masyarakat Minangkabau 
> selain memaknai kekerasaan fisik yang cendrung kurang manusiawi serta 
> kondisi sistem sosial politik yang dialogis dan egaliter yang tidak 
> membuat banyak masyarakat Minangkabau tidak menjadi serdadu atau militer.
>              Ada dua hal yang dilakukan masyarakat Minangkabau untuk pergi 
> merantau, selain pedagang yang sudah sedikit-banyaknya dibahas diatas 
> adalah belajar atau pergi menuntut ilmu. Tradisi ini sebenarnya dalam 
> klasifikasi kelas sosial adalah golongan yang berpunya atau kelas menengah 
> atas. Tidak jarang beberapa tokoh besar Indonesia dari Minangkabau 
> merupakan jebolan luar negeri seperti Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka, 
> Abdul Muis, Moehamad Hatta, Agus Salim. Juga beberapa tokoh pelopor 
> kebangkitan Islam Padri yang banyak terpengaruh oleh pemikiran Timur 
> Tengah. Sementara untuk Konteks internal Minangkabau mempelopori beberapa 
> pilar-pilar pendidikan Indonesia seperti INS Kayutanam yang didirikan M 
> Syafei pada tahun 1926, Perguruan Thawalib dan Dinyah Putri di 
> Padangpanjang yang pertama sekali mengajarkan ilmu-ilmu sekuler di 
> lingkungan agama, sekolah guru di Bukittinggi yang mencetak banyak pemikir 
> dan tokoh pergerakan. Disinilah Minangkabau sangat kondusif bagi tradisi
> intelektual yang progresif dimana pada masa 1945-1965 terjadi dialektika 
> pemikiran agama Islam dan Sosialisme yang mewarnai pemikiran mereka. 
> Bagaimana kegemilangan Kotogadang di Bukittinggi yang mempunyai 1000 orang 
> dokter-dokter di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa orientasi kelas 
> menengah atas Minangkabau dalam eksplorasi intektual adalah titik pijak 
> penting dalam tradisi Minangkabau.
>
>  Posisi Engku Syafei Dalam Dekonstruksi Masyarakat Lewat Pendidikan
>              Keberadaan INS Kayutanam sekarang mungkin tidak sebesar 
> sejarah dan jasanya akan kemerdekaan Indonesia dan pembangunan 
> karakteristik masyarakat. M Syafei nama itulah tokoh sentral dibalik 
> transformasi sosial besar dan dialektika masyarakat Minangkabau dalam 
> memecahkan tantangan zamannya dan mengisi pembangunan resourches 
> manusia-nya. INS Kayutanam hadir pada posisi kritik fundamental terhadap 
> masyarakat Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya. Posisi kritik yang 
> berseberangan dengan karakter pendidikan umum yang menghamba sebagai juru 
> ketik atau posisi birokrasi baik di zaman kolonial ataupun kondisi 
> transisi pasca kemerdekaan bahkan sampai sekarang tentang orientasi 
> primitif dari kaum terpelajar Indonesia yang sesat.
>              M Syafei hadir dalam Tiga Dimensi pendidikan yang 
> komprehensif dalam membangun manusia Indonesia yang progresif dan tangguh. 
> Dimensi spiritual dan seni dalam basis kepercayaan, emosional dan daya 
> imaji manusia yang kreatif dimensi akal budi sebagai cerminan kekuatan 
> pikiran manusia dalam memecahkan persoalan hidup dan ilmu pengetahuan 
> akademik serta dimensi keterampilan produktif atau teknik dalam 
> menciptakan manusia yang aktif berkarya dan berproduksi sesuai dengan 
> alam-nya. Pada posisi inilah INS Kayutanam hadir sebagai bangunan utuh 
> dari pendidikan yang paripurna dalam menjalankan 3 sekolah umum dalam satu 
> ruang pendidik asrama seperti tradisi pesantren, sekolah umum dan sekolah 
> teknik.
>              INS Kayutanam dalam prakteknya mencoba menjungkirbalikkan 
> tradisi produksi masyarakat dunia ketiga yang terbelakang dan tertinggal 
> dalam posisi ilmu pengetahuan serta teknologi. Dekonstruksi karakter 
> masyarakat yang tidak produktif menjadi produktif inilah yang ingin 
> dicapai oleh Engku Syafei sebagai pendidik yang banyak mempelajari Eropa 
> dalam pembangunan masyarakatnya.
>              Dalam posisi teori dan praktek INS Kayutanam setidak-tidaknya 
> Engku Syafei telah membuktikan bahwa kemunduran industri nasional dan 
> industri Sumatera Barat hancur luluh lantah diserbu oleh Neo-liberalisme.
>              "Berproduksi di setiap rumah tangga, jangan hanya bisa 
> berkomsumsi karena kalau konsumsi lebih tinggi dari produksi maka yang ada 
> hanyalah hutang dan korupsi"[7]
>              Senyata-nya pelajaran dari Engku Syafei telah melanda 
> masyarakat Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya dengan cacatan 
> nomor wahid sebagai negara penghutang dan  penuh sesak oleh koruptor.
>
>
>  Penutup
>
>  Dalam dua kutub besar dapat digambarkan bagaimana lahirnya kerja 
> berdagang akibat seleksi tenaga produktif yang tidak memiliki skill dan 
> harus merantau untuk mencari pemenuhan eksistensi hidupnya di luar kampung 
> halaman yang lebih banyak merupakan cita-cita kelas bawah dalam mencari 
> pekerjaan di luar keluarga dan kampung halaman, entah apapun pekerjaannya 
> dan paling ekstrim adalah tindakan kriminalitas.
>              Sementara kerja intelektual adalah realisasi diri kelas 
> menengah-atas Minangkabau yang menyisakan banyak puing-puing ke-emas-an 
> serta sampai sekarang masih terus bergulir.
>              Dalam filsafat kerjanya masyarakat Minangkabau lebih 
> menonjolkan sisi intelektual/intelegensi yang lebih meninggalkan kerja 
> kasar dan kekerasaan fisik jikalau diperbolehkan memilih. Tetapi bukan 
> untuk konteks kontemporer sebab jangan untuk berdagang, untuk jadi buruh 
> bangunan saja sudah sulit!
>
>
>
>
>
>  Daftar Pustaka:
>  1.      Dialektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial dan Politik, Genta 
> Singgalang Press1983
>  2.      Alam Ta Kambang Jadi Guru, A A Navis, Grassindo
>  3.      Copet dan Sistem Sosial Minangkabau suatu Perbincangan Permulaan, 
> Amilijoes Sa'danoer
>  4.      Kesempatan Kerja dalam Pembangunan bagi Minagkabau, Hendra Esmara
>  5.      Minangkabau Dalam Dialektika Kebudayaan Nusantara, Muctar Naim
>  6.      Ekonomi Politik strukturalis, Bintang bersinar, 1960
>
>
> ---------------------------------
>      [1] Penulis adalah alumnus INS Kayutanam Sumatera Barat dan Sarjana 
> Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
>
>    [2] Karya Multatuli menulisnya pada tahun 1860, kemudian menjadi 
> rujukan Parlemen Belanda dalam Menjalankan Politik Etis
>
>    [3] Istilah bagi hasil untuk petani penggarap yang tidak memiliki lahan 
> yang mengunakan tenaganya dalam mengolah lahan pertanian.
>
>    [4] Isilah ini mengacu pada penguasaan distibusi perekonomian Indonesia 
> serta penguasaan pasar tradisonal yang dikenal dengan kaki lima.Relasi 
> paling kongkrit ketika kerusuhan '98 yang melanda pengusaha dan jalur 
> distribusi Cina maka dengan gerakan nasional BJ Habibie melalui Abdul 
> Latief menjadikan jalur pedagang Minang menjadi penopang distribusi 
> perekonomian Indonesia dalam masa transisi.
>
>    [5] Dr. Nuzirwan dalam Diktat Kuliah Filsafat Kerja, Fakultas Filsafat 
> UGM
>
>    [6] Engku M Syafei Pendiri Ruang Pendidik INS Kayutanam sekolah yang 
> didirikan sebagai Indentitas Masyarakat Minang dan Indonesia yang 
> men-antitesa kultur masyarakat yang kurang produktif.
>
>    [7] Pamudya A Tatoer dalam salah satu pidato 2005
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on 
> new and used cars.


--------------------------------------------------------------------------------


> --------------------------------------------------------------
> Website: http://www.rantaunet.org
> =========================================================
> Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan 
> ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> --------------------------------------------------------------
> UNTUK DIPERHATIKAN:
> - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
> - Besar posting maksimum 100 KB
> - Mengirim attachment ditolak oleh sistem
> ========================================================= 


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke