Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

Tulisan dari lapau sabalah;

Wassalamu'alaikum

Lembang Alam

  
Yang Untung dari Flu Burung

Teror flu burung, bagi sebagian kecil orang justru berkah. 
Layaknya keping
mata uang, ketika satu pihak buntung, yang lain justru 
mengeruk untung.


Fenomena itu awalnya dikupas F William Enghdahl, peneliti 
dari
GlobalResearch, California, AS. Dia membuat tiga tulisan 
menarik soal pihak
yang diuntungkan di balik serbuan flu burung. Menurut 
Enghdahl, segelintir
pihak yang diuntungkan itu adalah para pelaku agrobisnis 
AS, politikus,
sampai para pejabat negara.


Enghdahl memulai tulisannya dengan dua pertanyaan. 
Pertama, bagaimana bisa,
hanya ada satu perusahaan yang memonopoli peredaran obat 
flu burung,
Tamiflu, di seluruh dunia? Hingga kini, monopoli dipegang 
perusahaan
patungan AS-Swiis, Roche Holdings.


Pertanyaan kedua, tidakkah aneh bila pemusnahan jutaan 
unggas ternyata
lebih menyentuh unggas-unggas milik peternak kecil di 
Asia, dibanding
ternak milik perusahaan peternakan raksasa, terutama milik 
AS?


Kejutan pertama dari Enghdahl diterbitkan Oktober tahun 
lalu. Judulnya
sensasional, ''Is Avian Influenza Another Pentagon Hoax?'' 
(Apakah Flu
Burung itu Hanya Gurauan Pentagon?). Hanya berselang satu 
bulan, terbit
tulisan keduanya, Bird Flu and Chicken Factory Farms: 
Profit Bonanza for US
Agribusiness (Flu Burung dan Pabrik Peternakan Ayam: Panen 
Untung Buat
Agrobisnis AS).


Tulisan ketiga Enghdahl bahkan jauh menusuk . Bird Flu: A 
Corporate Bonanza
for the Biotech Industry, Tamiflu, Vistide and The 
Pentagon Agenda.. (Flu
Burung: Panen Untung bagi Perusahaan Industri 
Bioteknologi, Tamiflu,
Vistide, dan Agenda Pentagon).


Menurut Enghdahl, terlepas dari keampuhan Tamiflu 
memberantas flu burung,
peredarannya yang dimonopoli Roche terbukti hanya 
menguntungkan segelintir
pihak. Beberapa di antaranya sangat dikenal publik sebagai 
pejabat dan
mantan pejabat pemerintahan Amerika Serikat (AS), yakni 
mantan menteri
pertahanan, Donald H Rumsfeld, dan George P Shultz, mantan 
menteri luar
negeri.


Tamiflu ditemukan dan dipatenkan pada 1996 oleh sebuah 
perusahaan
bioteknologi bernama Gilead Sciences Inc. Gilead saat ini 
terdaftar di
Nasdaq (bursa kedua di AS) dengan kode GILD. ''Kebetulan'' 
Rummy (sapaan
Donald Rumsfeld) dan George Shultz sempat duduk di jajaran 
direksi Gilead.


Rummy masih duduk di kursi dirut sampai menjelang ia 
diangkat menjadi
menteri pertahanan AS pada 2001. Dalam siaran pers Gilead 
yang terbit 1997,
Rummy duduk di jajaran direksi perusahaan sejak 1988. 
Menurut Enghdahl,
tahun lalu secara diam-diam Rummy menambah sahamnya sampai 
mencapai 18 juta
dolar AS. Ada pun George Shultz, ia dikabarkan meraup 
untung setidaknya 7
juta dolar AS dari hasil penjualan saham Gilead, awal 
tahun lalu. Sejalan
dengan menyebarnya flu burung di berbagai belahan bumi, 
saham Gilead sejak
2001 terus melejit. Dari posisi tujuh dolar AS per lembar 
di 2001, November
lalu harganya sampai ke kisaran 50 dolar AS. Saat ini, 
nilai kapitalisasi
pasar Gilead telah mencapai 22 miliar dolar AS.


Lalu, apa hubungannya Gilead dengan Roche? Selidik punya 
selidik, ternyata
Gilead menyerahkan hak pemasaran dan paten obat-obatannya 
(terutama
Tamiflu) kepada Hoffman-LaRoche. Dengan begitu, dari 
setiap Tamiflu yang
dijual Roche, Gilead mendapat bagian 10 persen keuntungan. 
Tidak heran,
sampai akhir tahun lalu, pendapatan Gilead dari sisi 
royalti saja mencapai
219,1 juta dolar AS, meningkat 166 persen dari 2004.


Dominasi Roche terhadap Tamiflu makin tak tertahan. 
Semester II tahun lalu,
Roche menolak permintaan Kongres AS yang memintanya 
melepas hak eksklusif
atas Tamiflu untuk diberikan kepada perusahaan farmasi 
lain. Alasan
penolakan Roche, saat ini flu burung masih menyerang 
berbagai penjuru bumi.
Menurut Roche, perusahaan farmasi lain tidak dapat 
memproduksi Tamiflu
dengan kecepatan produksi sebanding Roche.


Di pihak lain, ada lima perusahaan raksasa AS yang 
bergerak di industri
peternakan ayam. Mereka adalah Tyson Foods, Goldkist Inc, 
Pilgrim's Pride,
Con Agra Poultry, dan Perdue Farms. Dari kelimanya, Tyson 
adalah yang
terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi 77,5 juta 
kilogram daging ayam
per pekan.


Anehnya, menurut Enghdahl, kasus flu burung justru tidak 
muncul dari
perusahaan-perusahaan besar tersebut. Flu burung seolah 
hanya mau hinggap
di unggas-unggas peternak kecil di Asia. Terhadap hal ini, 
Dirut Tyson
Foods, Greg Lee, mengatakan industri peternakan AS sangat 
berbeda dengan
Asia. ''Kami lebih melindungi ternak kami dari penyakit,'' 
kata Lee, tahun
lalu.


Dalam laporan FAO, sepanjang 2004 lalu, flu burung telah 
mengimbas Asia.
Akibatnya, Thailand dan Cina bahkan dilarang mengekspor 
ayam ke luar
negeri. Pada saat yang sama permintaan ayam Asia tentu 
harus dipenuhi.
Ketika Thailand dan Cina dilarang itulah, perusahaan AS 
masuk. Jepang yang
rakyatnya doyan ayam, harus mengalihkan impor ke AS.
(evy/berbagai sumber )
========================================================================================
Ikuti Lomba Puisi Online Jawa Timur, dapatkan hadiah menarik setiap bulannya 
dan hadiah total senilai 60 juta rupiah
hanya di http://www.plasa.com
========================================================================================
 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke