From: Satria Dharma <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, February 20, 2006, 11:28:39 PM

“SUSTAINED SILENT READING” DI RUANG MAKAN SAYA

Saat ini keluarga kami punya kegiatan bersama baru. Kegiatan tersebut
adalah “Sustained Silent Reading” alias membaca dalam hati
berkelanjutan. Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak beberapa bulan
lalu dimana kami sepakat untuk melakukan kegiatan membaca selama
minimal 30 menit setiap pagi. Ini kegiatan rutin kami setelah kami
sholat Subuh berjamaah. Ini saya lakukan karena lelah meminta sekolah
anak kami agar mau melakukan program Sustained Silent Reading ini di
sekolah anak saya dan tidak mendapat tanggapan yang memadai. Akhirnya
saya putuskan untuk melakukannya sendiri di rumah. Sebuah keputusan
yang sangat saya syukuri. Jadi setelah sholat Subuh kami langsung
mengambil buku bacaan kami masing-masing dan tenggelam dalam buku
bacaan kami sendiri-sendiri di meja makan. 

Meski baru berjalan beberapa bulan tapi kegiatan ini sungguh
menggembirakan hati saya. Yubi,  anak pertama saya yang duduk di SMP
kelas 1, telah menyelesaikan beberapa buku fiksi kesukaannya dan pagi
ini ia pasti akan dapat  menyelesaikan “Eragon” karya Christopher
Paolini yang tebalnya lebih dari 500 halaman itu. Itu bukan buku tebal
pertamanya. Ia juga telah menyelesaikan beberapa seri Harry Potter yang
tidak kalah tebalnya. Tebalnya buku nampaknya sudah tidak membuatnya
gentar seperti dulu. Banyak orang dewasa yang menolak untuk membaca
buku yang tebalnya hanya 200 halaman dan menganggap membaca sebagai
siksaan. Anak saya telah mengalahkan rasa enggannya membaca buku tebal.
Pada mulanya ia tidak nampak tertarik dengan cerita “Eragon” tapi
semakin lama ia membaca nampaknya kisahnya semakin menarik sehingga ia
bahkan mendedikasikan waktu luangnya untuk membaca buku tersebut di
luar waktu SSR kami. Saya pernah melihatnya tenggelam dalam buku itu
selagi ia bersama teman-temannya yang asyik bermain. Nampaknya “Eragon”
lebih menarik ketimbang permainan dengan teman-temannya saat itu. Saya
jadi ingat diri saya ketika seusianya yang juga gemar membaca. Saya
menjadi tersiksa jika harus berlibur ke desa orang tua yang tidak ada
buku bacaannya. Saya yakin ia akan menjadi ‘voracious reader’ kelak dan
ketrampilannya membaca akan sangat membantunya dalam kehidupannya di
masa mendatang seperti saya banyak terbantu dengannya. Kemarin ibunya
memberitahu bahwa ia memperoleh nilai tertinggi untuk program membaca
cepat di kelasnya. Ia tentu bangga dengan hal tersebut mengingat
prestasinya dalam pelajaran yang BBS, alias biasa-biasa saja.
Yufi, yang berumur 8 tahun, lebih suka membaca buku-buku ilmu
pengetahuan ketimbang fiksi. Buku-buku tentang alam semesta dan jagad
raya membuatnya terpesona. Ia bisa lama mengamati gambar-gambar dan
ilustrasi tentang planet, asteroid, dan bintang-bintang. Ia nampak
mengaguminya. Ia memang dalam banyak hal berbeda dengan kakaknya. Ia
suka matematika dan IPA tapi kakaknya membencinya. Ia suka buku tentang
fakta-fakta dan kejadian nyata kakaknya suka fiksi.
Pagi ini ia mulai membaca buku yang baru saja saya belikan untuknya
yaitu “100 Bencana Terbesar Sepanjang Masa”  bukunya Stephen J.
Spignesi. Sampai dua bulan terakhir ini ia masih sering ganti buku
berkali-kali dalam sesi membaca yang 30 menit tersebut. Pada awalnya ia
berganti-ganti buku setiap lima menit sehingga ia memenuhi meja makan
kami dengan buku-buku yang tidak selesai ia baca. Kami membiarkannya
karena itu memang proses alami dalam ‘early reading’. Buku bacaan
favoritnya adalah Seri Ilmu Pengetahuan dari Hamparan Dunia Ilmu- Time
Life yang dibeli oleh istri saya secara kredit beberapa tahun yang lalu
ketika saya masih di Surabaya. Harga buku tersebut cukup mahal untuk
ukuran kantong saya waktu itu dan ketika buku tersebut tetap dalam
boksnya tanpa ada yang membaca saya menjadi uring-uringan pada istri
saya. Untunglah kemudian kami mampu beli lemari buku dan buku tersebut
kami pajang di ruang keluarga. Sejak itu buku tersebut menjadi
kunjungan favorit bagi keponakan-keponakan saya yang banyak itu.
Sungguh senang melihat anak-anak membuka buku-buku tersebut dan
terpesona oleh gambar-gambar dan ilustrasinya. Mereka dengan asyiknya
berkomentar satu sama lain tentang gambar dan ilustrasi yang menurut
mereka menarik. Yubi dan Yufi biasanya berperan menjelaskan
gambar-gambar tersebut karena mereka sudah melihat atau membacanya
berulang-ulang. Biasanya istri saya selalu bertindak sebagai
‘book-watch’ dan setiap kali anak-anak itu membuka dengan sembrono atau
bahkan mendudukinya ia akan berteriak untuk mengingatkan mereka
bagaimana cara membaca yang baik. Sesekali ada keponakan yang terkena
sanksi tidak boleh ambil buku dan baca sendiri karena pernah menyobek
buku tanpa sengaja. Istri saya mungkin masih ‘traumatik’ dengan
mahalnya cicilan buku tersebut sehingga ia harus mengencangkan ikat
pinggangnya selama setahun. Tapi kini melihat Yufi membaca buku-buku
tersebut dengan penuh gairah sungguh membuat pengorbanan kami tersebut
jadi terbayarkan. 
Istri saya sendiri bukanlah ‘a reader’. Ia tumbuh dalam lingkungan yang
tidak beriklim membaca seperti keluarga saya. Ia lama tinggal di desa
dan satu-satunya tempat di mana buku bacaan bisa dipinjam adalah
perpustakaan keliling yang seminggu sekali lewat desanya. Keluarganya
juga bukan penikmat buku sehingga ia tidak memiliki kemampuan membaca
sebaik anak-anak kami. Ia mengatakan bahwa Yubi memiliki kecepatan
membaca dan memahami lebih baik darinya.
Untuk melatihnya saya sering memintanya untuk membaca buku-buku tentang
pendidikan anak yang telah saya baca dan saya tandai dengan Stabilo
Boss agar memudahkannya menangkap inti bacaan. Karena malu dengan
kemampuan anak-anaknya ia menjadi terdorong untuk juga membaca. Meski
ia mengaku bahwa sulit baginya untuk memahami bacaan yang berat dan
kalimat yang panjang-panjang. Sering ia hanya membaca dua atau tiga
halaman dari sebuah buku dan tertidur karena lelah membacanya. Meski
demikian saya mesti mengakui bahwa ia seorang pembaca yang tidak kenal
putus asa. Meski untuk membaca sebuah buku ia mesti menghabiskan waktu
berhari-hari bahkan berminggu-minggu ia tidak putus asa. Saat ini ia
telah berhasil menyelesaikan membaca cukup banyak buku tentang
pendidikan anak dan agama dan bahkan fasih berbicara tentang pendidikan
anak kepada adik-adiknya. Saat ini ia bahkan dianggap sebagai
‘intelektual’ oleh saudara-saudaranya karena kemampuannya menjelaskan
beberapa hal tentang pendidikan anak yang dikuasainya dari buku
bacaannya.  It’s a big jump for her! Jangan salah kira. Istri saya
lulusan akademi pariwisata.
Dan begitulah. Pagi itu ketika kami semua asyik dengan bacaan kami
masing-masing tiba-tiba Yufi melontarkan pertanyaan yang tak terduga.
“Kenapa sih Tuhan itu menciptakan bencana?” seolah bertanya pada
dirinya sendiri. Saya tiba-tiba terdiam dan tidak mampu menjawab. Meski
sederhana ini bukan pertanyaan yang mudah untuk saya jawab. Ini
pertanyaan yang ‘filosofis’ bagi saya. Otak saya langsung bekerja untuk
mencari-cari jawaban yang pas untuknya. Pertama muncul jawaban bahwa
Tuhan tidak menciptakan bencana, tapi manusialah yang menciptakannya.
Di benak saya lantas berkelebat berbagai bencana penyakit, banjir dan
longsor yang menimpa banyak daerah belakangan ini. Dibelakang itu
terpampang gambaran berbagai perbuatan manusia yang merusak seperti
korupsi, serakah, tamak, jorok, dll. Tapi jawaban itu saya tepis karena
akan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut yang saya tidak akan siap
menjawabnya. Lalu muncul jawaban lain bahwa Tuhan marah dan menghukum
manusia karena kesalahan-kesalahannya. Tapi ini juga saya tolak karena
saya tidak ingin ia mempunyai kesan bahwa Tuhan itu Maha Pemarah atau
Maha Penghukum. Saya tetap ingin ia memiliki pemahaman bahwa Tuhan itu
Maha Pengasih dan Penyayang lebih dahulu sebelum ia mengerti bahwa
Tuhan juga bisa menghukum manusia atas kesalahan-kesalahannya. Jadi
jawaban itu saya pinggirkan juga. Beberapa detik berlalu dalam
kesunyian dan saya belum bisa menjawab ketika tiba-tiba istri saya
menyelamatkan saya dengan menjawab.
“Tuhan menciptakan bencana karena Ia ingin menguji siapa diantara kita
yang beriman dan yang tidak.”  Syukurlah!
Jawaban standar memang, tapi daripada saya tidak bisa menjawab. Saya
mesti memberi kredit untuk istri saya karena itu. Semula saya kuatir
bahwa jawaban tersebut bakal mengundang pertanyaan lain yang lebih
rumit dari Yufi tapi ternyata tidak. Nampaknya ia cukup puas dengan
jawaban tersebut. Konsep beriman dan kafir nampaknya sedikitnya sudah
ia pahami atau paling tidak pernah diajarkan padanya dari sekolahnya di
Istiqamah. Atau ia mungkin ia sekedar bertanya dalam hati saja tentang
mengapa Tuhan menciptakan bencana setelah membaca buku tersebut.
Sampai siang ini saya masih tetap bersyukur bahwa kegiatan membaca kami
tersebut dapat membuat Yufi melontarkan pertanyaan yang ‘filosofis’
seperti itu. Pertanyaan tersebut tentunya tidak akan terlontar atau
tidak akan pernah ada dibenaknya jika ia tidak membaca tentang bencana.
Apa yang dibacanya membuatnya menjadi lebih ingin tahu lebih banyak.
Saya yakin kelak ia akan mencari tahu sendiri berbagai
pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya. Dan jika ia memiliki
ketrampilan membaca maka ia akan tahu bagaimana cara untuk mendapatkan
jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya dan dimana ia bisamendapatkannya.
Membaca telah memberinya bekal untuk mencari jawaban dari
pertanyaan-pertanyaannya di masa depan.

Balikpapan, 21 Februari 2006
Satria Dharma


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke