Bukittinggi di Peta Sastra
Oleh Adek Alwi 
Suara Karya, Minggu, 12 Februari 2006
KOTA Bukittinggi, Sumatera Barat, boleh jadi sudah lenyap dalam peta sastra
Indonesia. Atau bulatan-merahnya yang dulu tegas, nyata, sekarang samar
saja. Tidak terdengar lagi aktivitas sastra di kota itu. 
Juga tak terbaca karya sastrawan yang ada di kota itu, misalnya dalam jurnal
dan majalah sastra atau ruang-ruang sastra surat kabar. Beda dengan kota
tetangganya, dan yang lebih kecil, Payakumbuh. Payakumbuh satu-dua dasawarsa
terakhir bersinar dengan kegiatan sastra serta karya sastrawan yang
berdomisili di sana, seperti Gus tf, Adri Sandra, Iyut Fitra dan banyak yang
lainnya. 
Sebenarnya, pada dasawarsa 1950-an dan paling tidak sampai penggal pertama
1960-an, Bukittinggi justru kota penting dalam atlas sastra Indonesia.
Keberadaannya tak hanya patut ditandai bulatan-merah, melainkan bulatan yang
dikurung segi-empat. Persis keberadaan kota itu pada peta bumi Indonesia
masa itu, yakni ibu kota Provinsi Sumatera Tengah (Sumatera
Barat-Riau-Jambi); atau beberapa tahun sebelumnya, yaitu sebagai ibu kota
PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia), ketika ibu kota RI,
Yogyakarta, diduduki oleh Belanda. 
Bukittinggi pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an bercahaya dalam jagat sastra
Indonesia tentu tak ada kaitannya (secara langsung) dengan statusnya sebagai
ibu kota provinsi berdaerah luas, atau ibu kota pemerintah darurat republik.
Tapi, lebih karena, (1) di kota itu tinggal sejumlah sastrawan yang
menghidupkan kegiatan sastra, dan (2) adanya penerbit yang memiliki komitmen
menakjubkan terhadap kehidupan sastra. 
AA Navis dkk

Sastrawan yang menetap di Bukittinggi pada dekade 1950-an diantaranya ialah
AA Navis, juga sastrawan yang lebih muda, seperti Rusli Marzuki Saria,
Nasrul Sidik, Motinggo Busye (sebelum kuliah sekaligus pindah ke Yogya).
Merekalah, antara lain, yang menghidupkan kegiatan sastra di kota itu,
dengan berbagai diskusi, pembacaan serta ulasan puisi di RRI Bukittinggi,
dan (sudah tentu) penulisan karya-karya sastra secara individual. Cerpen
Robohnya Surau Kami Navis yang terkenal itu juga dia tulis di kota itu,
bulan Maret 1955, dan dimuat dalam Majalah Kisah edisi No.5/Th III Mei 1955.
Lalu meraih Hadiah Majalah Kisah, pada tahun yang sama. 
Rusli Marzuki Saria kemudian kita kenal sebagai penyair yang tak putus-putus
berkarya, sehingga melahirkan banyak sekali kumpulan puisi (diantaranya:
Pada Hari Ini Pada Jantung Hari; Ada Ratap Ada Nyanyi; Sendiri-Sendiri,
Sebaris-Sebaris dan Sajak-Sajak Bulan Februari; Sembilu Darah). Rusli juga
pernah jadi anggota DPRD Tk II Kodya Padang, dan redaktur kebudayaan (kini
pensiun) Harian Haluan, Padang. Selama di Haluan pula (puluan tahun) ia
menyediakan ruang untuk tempat anak-anak muda berolah sastra, dan kemudian
tumbuh sebagai pengarang ataupun penyair andal. 
Nasrul Sidik tokoh pers di Padang, dan terakhir Pemimpin Redaksi Mingguan
Canang. Sedangkan Motinggo Busye adalah seniman sangat produktif,
menunjukkan reputasinya di berbagai cabang kesenian: sastra (cerpen, novel,
sajak, naskah drama), penulisan skenario maupun sutradara film, dan juga
seni rupa dengan melukis. 
Penerbit Nusantara

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Rendra, selain penyair, pemain film dan
dramawan, adalah juga pengarang cerpen. Kumpulan cerpennya, Ia Sudah
Bertualang (yang memuat sembilan cerpen) diterbitkan oleh NV Nusantara,
Bukittinggi, tahun 1963. 
Penerbit (juga percetakan) Nusantara berkantor pusat di Bukittinggi (cabang
di Jakarta), dan sejak pertengahan 1950-an hingga pertengahan '60-an aktif
menerbitkan karya sastra. Dedikasi Nusantara dalam hal ini sungguh
menakjubkan (apalagi dilihat dari kacamata masa kini yang amat berorientasi
ekonomis), karena menerbitkan karya sastra merupakan proyek rugi. Namun,
langkah Nusantara itu dapat dimaklumi bila tahu siapa di balik penerbit
tersebut. 
Penerbit NV Nusantara didirikan Anwar Sutan Saidi, kelahiran Sungai Puar,
Bukittinggi, 1910. Ia seorang saudagar, aktivis pergerakan, pejuang. Dia
juga tokoh utama pendiri Bank Nasional tahun 1930 di Bukittinggi, yang latar
belakang kelahiran bank ini khas mencerminkan semangat zaman itu: memajukan
perekonomian rakyat yang tertindas oleh penjajah. 
Pertengahan 1950-an Anwar Sutan Saidi menjabat Presdir NV Nusantara, dan
anaknya, Rustam Anwar, selaku direktur. Sang anak rupanya tidak kalah
idealis dari ayah. Maka mengalirlah lewat Penerbit NV Nusantara karya para
sastrawan Indonesia yang tumbuh dan berkembang pada dekade 1950-an hingga
paruh pertama 1960-an. 
Di samping kumpulan cerpen Rendra di atas misalnya, Nusantara menerbitkan
kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami dan Hujan Panas (AA Navis); Di Tengah
Padang (A Bastari Asnin); Pertemuan Kembali (Ajip Rosidi); Malam Bimbang dan
Supir Gila (Ali Audah); Datang Malam (Bokor Hutasuhut); Umi Kalsum (Djamil
Suherman); Pesta Menghela Kayu dan Dara Di Balik Kaca (Dt B Nurdin Jacub);
Dua Dunia (Nh Dini); Lukisan Dinding (M Alwan Tafsiri); Keberanian Manusia
dan Matahari Dalam Kelam (Motinggo Busye); Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasjah
Djamin); Mabuk Sake (Purnawan Tjondronagoro); Di Luar Dugaan dan Istri
Seorang Sahabat (Soewardi Idris); Perjuangan dan Hati Perempuan (Titie
Said); Di Medan Perang (Trisnojuwono). Beberapa kumplan cerpen ini mengalami
cetak ulang, paling tidak dua kali, oleh penerbit yang sama. 
Selain itu juga diterbitkan NV Nusantara sejumlah novel asli Indonsia,
antara lain Kemarau (AA Navis); Tidak Menyerah (Motinggo Busye); Hati Yang
Damai (Nh Dini); Midah Si Manis Bergigi Emas (Pramoedya Ananta Toer);
Mendarat Kembali (Purnawan Tjondronagoro); Di Balik Pagar Kawat Berduri
(Trisnojuwono). Dan juga terjemahan karya-karya pengarang luar seperti karya
"raksasa" sastra Rusia masa lalu, Maxim Gorki. 
Dengan buku-buku terbitan Nusantara itu, tak pelak jagat sastra Indonesia
pun semarak serta semakin kaya pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an. Dan
Bukittinggi, ditambah dengan aktivitas para sastrawan yang saat itu bermukim
di sana, menerakan keberadaannya dalam peta sastra Tanah Air dengan bulatan
merah yang tegas. Malah, bulatan yang dikurung tanda segi-empat, menyamai
Yogya dan nyaris Jakarta! 
Namun tanda itu belakangan pudar. Bukittinggi tinggal sejarah, persis posisi
kota itu dalam sejarah Indonesia. Dan kita tidak tahu kenapa. Memang ironi,
tetapi, bagaimana lagi? Sebab agaknya benar petuah orang bijak:
mempertahankan lebih sulit ketimbang merebut. Apalagi, pada zaman yang
menderas dengan semangat yang tak menyentuh (dan malah dapat membunuh) daya
hidup sastra, seperti dewasa ini.*** 
* Penulis, sastrawan dan wartawan 



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke