Mak Ban, Setuju jo pandangan mamak ko. Ambo nan hampir duo puluah tahun di perminyakan mengenal siapa Pertamina. Dimata rakyat Pertamina adalah perusahaan raksasa yang bisa menghasilkan minyak dari perut bumi, tapi dimata kita yang mengetahui taingkah laku mereka tidak lebih sebagai biokrat yang menambah rantai biaya dari pada menambah nilai produksi. Pandangan rakyat tentunya terbangun salah satunya karena di tahun tujuh puluhan banyak sekali jalan raya dan fasilitas umum yang dibangun oleh dana Pertamina dan diberi papan nama besar "Proyek ini dibangun oleh Pertamina"
Perdebatan panjang dimedia yang mengharapkan agar Ladang Cepu dikelola oleh Pertamina agar bisa lebih hemat, tentunya berdasarkan anggapan orang banyak bahwa Pertamina pasti mampu dan bisa lebih hemat karena mereka makan nasi seperti kita semua tidak makan steak seperti layaknya orang asing. Untuk menjalankan perminyakan tidak hanya melibatkan orang-orang dilapangan tetapi perlu didukung oleh network yang baik antara operator dan lembaga pendukung teknis. Bagi orang perminyakan kita mengetahui bahwa setiap perusahaan minyak besar memiliki lembaga sebagai profit center yang bertindak sebagai Research and Development Center - ada yang husus untuk bidang Explorasi & Production ada dibidang Drilling Technology ada dibidang Refinery dan lain lain. Lembaga ini bekerja sama dengan konsultan yang menghususkan pada pengembangan jasa dan memilki lab yang dapat melakukan penelitian yang lebih detail. Ini baru berkaitan dengan operasi lapangan, belum berkaitan dengan kepercayaan untuk memperoleh dana dan untuk membuat kontrak penjualan jangka panjang. Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apakah Lemigas dan Migas memikirkan hal itu selama ini? Apabila kita pertanyakan tentunya akan sampai pada jawaban dananya dari mana? Kalau kita tanya lebih jauh, kenapa Petronas bisa lebih baik? Itulah yang harus kita pelajari. Kalau tidak bisa membangun lab sendiri, apakah bisa mengajak lab diluar untuk membangun bersama? Mungkin ini yang seharusnya dipaksakan kepada kontraktor asing agar mau membangun lab di dalam negeri, sehingga transfer of technology bisa lebih jelas. Kembali ke mengelola lapangan habis masa kontrak. Seharusnya Pertamina mulai sekarang lebih proaktif untuk menghitung dari sisa kandungan minyak dalam perut bumi sebelum kontrak habis masanya. Contoh gampang, lapangan gas Arun yang produksinya sudah menurun hampir sepertiga dari rate tertinggi sebelumnya masih memilki kandungan yang lumayan, apalagi kalau dipertimbangkan untuk kepentingan gas domestik. Apa sebab Pertamina tidak turun tangan meminta kepada ExxonMobil untuk mengoperasikan lapangan ini biarpun masa kontraknya belum habis? Gas Arun masih akan cukup untuk menghidupkan industri hilir di Lhokseumawe puluhan tahun. Kontrak penjualan gas yang sudah terlanjur ditanda tangani bisa dialihkan dari produksi lapangan gas di Papua yang belum semua terjual. Pertamina suatu waktu akan menjadi perusahaan publik yang perlu nama untuk mendapatkan kepercayaan publik terutama publik Indonesia. Terjun di Arun, selain akan memperoleh keuntungan akan juga memperoleh nama baik. Wassalam, R Sampono Sutan (57-5hari) Diambiak aliah pertamina (was RE: Perombakan Direksi......) | | Ambo indak tahu apokoh ado lapangan bekas dari PSC | (Production sharing contract) yang diserahkan ke pertamina | dikarajokan sendiri oleh pertamina. Biasono pertamina | me-ngontrakkan lagi ke kontraktor (kecil) lain. | | Nan ambo tahu dan ado nan terlibat lansuang, | ado duo lapangan di offshore diserahkan ke pertamina. | Salah satunya dari arco ke pertamina (lapangan Arimbi | (Xray) dipantai Balongan. | Tapi setelah penyerahan, bertahun-tahun lapangan tsb | tidak diurus. Jangankan di dipelihara, dijagapun tidak. | Sehingganya peralatan di atas anjungan habis dijarah maling. | Deck dan sebagian instalasi hancur karena berkarat. | Ambo sebagai orang lapangan, -dimana peralatan perminyakan- | merupakan "bagian dari anggota tubuh" ; | rasanya "menangis" melihat peralatan yang tidak dijaga | ( pada 2003 kami datangi / 8thn setelah serah terima), | dimaling, bahkan kalau tidak bisa dicopot, equipment | tsb dirusak maling. | Bayangkan, mesin alat angkat (crane) diatas anjungan, | 6 meter diatas deck bisa dimaling. Apalagi yang berada di deck. | | Setelah sekian tahun lapangan tsb "tersiksa", oleh pertamina | lapangan tsb dikontrakkan ke kontraktor untuk me re-produksinya. | Yang jelas peralatan yang hilang, rusak karena tidak dijaga | harus dibeli, dipasang, total overhaul lagi. | Mengenai hasil sumur ?? | Biasanya lebih kecil karena sumur yang mampet karena berbagai | factor; minyak beku, sumur kotor / karat / scale / peralatan | dlm sumur macet. (Sumur yang ditinggal biasanya "disumbat") | Bisa lebih besar jika kontraktor punya modal besar untuk | work over, wire-line, drilling untuk meningkatkan produksi. | | Seperti biasa Pertamina biasanya hanya menunggu laporan. | | Alah du, pasai urang mambacono. | nyaak......nyaaak ...... nyak ...... minyooaaaak | | Capt. | Tolong fwrdkan ke sma-1 kito. Mokasi | | Wass | mak ban | 14 - 29 maret manggaleh babelok | ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ | -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

