Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuhu.

Saudara di milist. Awal mulanya, saya melayani
pertanyaan(saat itu bukan diskusi, beda antara
bertanya dengan diskusi, kalau diskusi saling
memberikan argument, kalau bertanya, satu pihak
bertanya, pihak lain menjawab).

Mulanya antara saya dengan saudara Huttaqi adalah "
sebuah pertanyaan saja". Dia bertanya, saya menjawab.

Menurut netters yang lain, jawaban saya saja sudah
cukup jelas, namun bagi saudara Huttaqi katanya belum
jelas. Itu sebabnya saya katakan apa yang salah
dikita, orang jelas, kita belum jelas?

Apakah memang benar-benar kita belum jelas? Atau hanya
sekedar.....Allahu'alam.Apalagi saya heran, bagi
seorang Huttaqi yang saya dengar seorang guru sufi,
dan salah seorang muridnya akhirnya keluar
darinya(bisa dibaca keterangan terlampir yang saya
sengaja copykan dari milist media-dakwah)

(hehehe..kayak surat resmi saja, pakai kata terlampir
segala, maaf, mungkin dikarenakan kebiasaan saya
menulis laporan resmi, jadi terbawa-bawa, pakai
mengingat, menimbang, memutuskan, dan surat keterangan
terlampir).

Bukan karena apa-apa, ini dikarenakan masalah ilmiyah
saja, kejujuran sangat diperlukan, karena nasib
pemikiran ummat Islam yang akan dipertaruhkan. Salah
penyampaian, bisa salah semuanya. Kalau tanpa
disengaja, tidak diketahui kesalahan penyampaian itu,
dimaafkan, yang disengaja itulah yang dosa dan
ancamannya masuk neraka.

Mulanya saya ngak tahu siapa saudara Huttaqi ini,
pertanyaannya saya jawab dengan sabar dan tenang,
tanpa emosi sedikitpun, mungkin sikap ketegasan dalam
penyampaian masalah hukum agama, terutama mengenai
hadist saja, yang bagi sebahagian netter, kelihatannya
emosi, padahal hakikatnya saya biasa saja, tetapi
cukup jujur saya akui, saya akan tegas dalam memegang
prinsip saya, dalam permasalahan agama ini, karena
ilmu hadist yang sudah jelas keshahihan dan
kepalsuannya itu, adalah ilmu yang yakin, bukan
praduga, karena ini berkaitan dengan Rasulullah
shalllllahu'alaihiwasallam, jangan dipermainkan.

Kemudian, entah kenapa, saya baca-baca postingan
dimilist media-dakwah, sebagaimana copy yang saya
lampirkan, dan setelah mengalami sendiri bagaimana
berhadapan dengan yang namanya saudara Huttaqi, baru
saya menyadari, ternyata yang saya hadapi ini begini
pemikirannya? Pantas sajalah saya pikir akhirnya
berputar-putar bagai mengukur panjang lebar kain
sarung, balik kesitu-situ juga. Yang anehnya lagi,
sudah jelas itu hukumnya palsu, masih bersikeras
saudara Huttaqi mengatakan lain lagi. Masih keras juga
"cinta tanah air itu sebahagian dari Iman, " sebuah
hadist .

Saya ingat dalam sebuah hadist yang pernah disampaikan
juga, seorang sahabat pernah menasehati orang lainnya
akan hadist Rasulullah, kemudian orang tersebut
menyalahi juga, maka apa jawab sahabat tersebut : "
Laa ukallimuka abadan"(Saya tidak akan berbicara
padamu selamanya). Saya kira sahabat itu tidak emosi,
namun tegas dalam hal agama, apalagi masalah hadist
Rasulullah ini, karena sangat berat ancamannya, masuk
neraka.Nah begitulah yang terjadi pada diri saya, saya
akan tegas, sebagaimana sahabat tadi lebih tegas lagi
" Tidak akan aku berbicara padamu selamanya"(bayangkan
itu betapa tegasnya sikap para sahabat)

Orang sudah dikasih tahu yang benar, masih juga keras
akan pendapatnya, menyalahi hukum Rasulullah " Barang
siapa yang dengan sengaja membuat kedutaan padaku,
maka hendaklah menempati tempatnya didalam neraka
jahannam". 

Kemudian, setelah membaca komentar-komentar di milist
media dakwah, mengenai pendapat saudara Huttaqi yang
sudah jelas menyalahi hadist Mutawatir mengenai
turunnya Isa Al Masih, juga yang saya tahu, ketika
saudara Huttaqi memakai nama Annawawi, untuk
menguatkan pendapatnya mengatakan hadist lemah "cinta
tanah air sebahagian dari Iman" boleh dipakai, padahal
saya tahu betul, Imam An Nawawi sendiri tidak ada
mengatakan hal itu sama sekali, saya sudah baca buku
beliau di Al Adzakaar, tidak ada sama sekali.Janganlah
sampai saudara Huttaqi menyisipkan, memakai nama ulama
lain, untuk menguatkan pendapat yang sudah jelas-jelas
salah itu. 

Betul-betul saya heran dengan orang semacam ini,
sampai terakhir sekali, seberani itu saudara Huttaqi
mengatakan " Mana tahu itu benar dari Rasulullah ",
sementara Huttaqi sudah diberitahu itu hadist palsu,
masih ngotot juga, seakan-akan ulama hadist yang telah
meneliti itu minim informasi masalah
perawi,(naudzubillahimindzalik, sampai kita mengatakan
begitu) dan macam-macam lagi alasannya, dan dengan
alasan sikap kritis.

Naudzubillahimindzalik, dari sikap semacam itu.
Padahal Allah sudah berfirman : " Ta'atilah Allah dan
rasulnya", dan tidak ada pilihan bagi kamu ummat
(mukminin), kalau Allah, dan RasulNya sudah menetapkan
sesuatu selain harus mengikutiNya."sami'naa
waatha'naa".

Kita meragukan para ulama terdahulu, kita tahu bukan
betapa kedudukan ulama itu semacam apa, dan siapa yang
benar-benar takut pada Allah" Inanmaa yakhshallahu
min'ibaadihi alulamaau".(Sesungguhnya yang benar-benar
takut pada Allah, hanyalah para ulama)

Yang paling lucu lagi, ketika saya menyampaikan sebuah
hadist shahih juga firman Allah Ta'ala akan larangan
banyak bertanya(yang nyinyir tentunya, saya sudah
jelaskan pertanyaan semacam apa yang dilarang dalam
ayat dan hadist tersebut), penyebab kehancuran ummat
terdahulu. Saudara Huttaqi bilang : " Anda bukan nabi
"( hehehehe ).

Siapa bilang pula saya nabi. Kalau begitu AlQuran
diturunkan pada Rasulullah, hadist dari rasulullah,
lantas tugas ummat setelah rasulullah apa? Bukankah
penyampai dan penerus risalahnya?

Nah,..hal-hal yang sampai sudah titik ketinggian
terakhir itulah membuat saya memutuskan bersikap
sebagaimana sikap para sabahat terhadap mereka yang
menyalahi Rasulullah.Tugas sudah saya jalankan,
pertanyaan-pertanyaan sudah saya jawab dengan jelas
dan memakai dalil,  sebagai penyambung risalah
Rasulullah, dan saya berlepas diri dari mereka yang
menyalahi Rasulllah, karena dalil dan argumen sudah
saya jelaskan sejelas-jelasnya, terbukti netters lain
mengatakan sudah jelas, kenapa saudara Huttaqi masih
belum jelas ada apa yang salah didiri apakah tidak
perlu kita bertanya diri? Ada apa didiri kita? 

Pertanyaan ini, semakin jelas jawabannya setelah saya
tahu siapa saudara Huttaqi, setelah membaca komentar
dibawah ini.yang saya  kirimkan dimilist ini.

Untuk diri saya sendiri, ketahuilah, meski saya mau
magister atau bahkan akan doktor sekalipun, namun saya
tetap merasa masih belum berarti apa-apa dibandingkan
para ulama terdahulu, bagaikan langit dan bumi, namun
saya akan terus berusaha kearah jalan orang-orang
terdahulu, menegakkan kalimah illahi, menyampaikan
risalah Rasulullah, tegas dalam prinsip agama.Saya
masih penuntut ilmu sampai saya pun mati, saya akan
tetap berstatus penuntut ilmu, gelar akedemik yang
diperoleh itu hanyalah semata-mata mengikuti zaman
sekarang yang memang memakai gelar akademik Lc, MA. Dr
Prof.

Karena memang zaman dahulu semasa Imam Al Ghazali,
Imam Bukhari dllnya, gelar akademik itu belum ada,
belajar saja masih dimesjid-mesjid, Di Al Azharpun
sampai tahun keberapa, masih semacam itu, hanya saja
berselang beberapa tahu kemudian, zaman semakin maju,
maka gelar akademikpun semakin semarak. 

Namun bukan gelar itu yang menjadi tujuan utama dan 
dicari, ilmu dan pengalaman, serta pengamalan terhadap
itu sendiri yang harus diterapkan. Andaikan saja masa
Imam Bukhari, Imam Ghazali sudah ada gelar profesor,
saya percaya gelar tersebut pasti ada diberikan ummat
bersama nama mereka. Tapi apalah artinya sebuah gelar,
kalau amalannya kosong melompong?

Banyak yang mengatakan, ketika saya menulis sebuah
artikel, sangat menyentuh hati, lembut,enak dibaca, 
tetapi ketika berhadapan dengan persoalan agama,
sangat tegas. Seakan-akan keras. Sebenarnya bukan
keras, tetapi memang tegas. Kenapa begitu? Karena
memang yang halal itu jelas, haram itu jelas,
begitupun dengan hadist yang shahih itu jelas, yang
lemah itu jelas, yang palsupun jelas, maka
penyampaiannya[un harus jelas dan tegas.

Rencana saya sampai ingin menulis bagaimana penulisan
hadist-hadist mulai zaman rasulullah, sampai penulisan
yang resmi dan sampai saat ini, dikarenakan membaca
tanggapan saudara Huttaqi dengan mengatakan :
Modifikasi zaman Abu Bakar, Umar, Ali belum ada,
sehingga minim informasi ulama hadist mengenai
perawinya, jadi bisa jadi hadist yang sudah jelas
dikatakan ulama terdahulu palsu, masih bisa dikatakan
" Mana tahu Rasulullah ada mengatakannya", dengan arti
kata mana tahu itu hadist?(hehehe, saya lucu membaca
komentar itu, sungguh bukan emosi sama sekali, cuman
lucu)

Padahal penulisan hadist, sudah ada dizaman
Rasulullah, pengelompokanpun sudah ada dizaman para
sahabat.

Tapi syukur Alhamdulillah saya dibantu oleh banyak
netters lainnya dengan menjelaskan maslaah-masalah
hadist tersebut. Alhamdulillah berkuranglah tugas
saya, padahal pikiran saya, "wah,.tugas nulis sejarah
hadist dari awal lagi nih..?". Alhamdulillah sudah
dibantu oleh rekan-rekan dimilist lain, untuk itu saya
ucapkan terimakasih banyak buat yang membantu
saya.Jazakumullahukhairaljazaa.


Buat saudara Huttaqi , mulailah menyadari diri, kalau
salah mohon ampunlah pada Allah, terimalah kebenaran
itu dengan lapang dada, walaupun saya percaya sekali,
umur saya mungkin jauh lebih muda dari saudara, jangan
bersikeras lagi terhadap apa yang sudah dikatakan oleh
para ulama terdahulu yang memang sudah ahlinya, mari
sama banyak belajar, jangan pakai akal semata,
pakailah iman didada kita.Tundukkan akal diatas Iman,
pakai Iman dan akal untuk melihat hakikat nash. Nomor
satu adalah " Iman didada ".

Dan saudara Arif yang masih mengatakan : hadist di
Imam Al Ghazali hadist shahih semuanya", saya
sarankan, janganlah sampai kita menjadi orang yang
taklid buta, itu sangat tidak baik, sangat dicela
dalam agama, jangan terfokus para guru semata, carilah
informasi yang benar yang sekian ulama mengatakan
kebenarannya. Saya percaya saudara Arif seorang yang
baik, sikap saudara terhadap Imam Al Ghazali seorang
ulama Islam, sudah cukup baik, tetapi jangan sampai
kita taklid buta, bisa jadi ulama terdahulupun belum
mengetahui itu hadist lemah, karena bisa dimengerti
beliau bukanlah muhaddsit(ahli hadist).

Saya percaya sekali, andaikan saja Imam Al Ghazali
masih hidup, maka sikap beliau sebagaimana sikap Imam
As Syafi'i dengan mengatakan : " Andaikan saja ada
hadist yang shahih, maka itulah madzhabku". 

Imam terdahulu sikapnya semacam itu, tidak taklid
buta, megapa kita tidak mengikuti prinsip ulama
terdahulu itu?.

Semoga bermanfaat buat kita semua. Allahua'lam
bisshawaab.

Wassalamu'alaikum. Rahima (36 thn)


--- "Teguh, Imanullah (PSU)"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bismillah
> Sedikit membantu Ibu Suhana untuk Pak Dodi,
> 
> Alhamdulillah saya sudah mengenal Ibu Suhana di
> Milis YISC Al Azhar
> hingga sampai menghantarkan saya ikutan ngumpul ke
> milis ini.
> Dari perkenalan itu saya tahu bahwa Ibu Suhana
> selama menjadi aktivis
> YISC Al Azhar "dulunya" sering mengikuti kajian yang
> gurunya adalah
> bapak Huttaqi yang nota bene adalah seorang penganut
> aliran Tasawwuf
> atau sufi" dan bisa dibilang sudah menjadi pengikut.
> 
> Kemudian terkait dengan kepada siapa kita mengambil
> ilmu kita mesti
> mengambil contoh dari seorang Imam Besar Ahli Hadits
> yakni Imam Bukhari
> yang selalu meneliti gurunya sebelum berguru
> kepadanya kalo bisa sampai
> menginap di rumahnya. Imam Bukhari selalu meneliti
> akhlak gurunya atau
> narasumber yang meriwayatkan sebuah hadits. Jika
> guru tersebut lolos
> "ujian keshalihan" maka layak untuk diambil ilmunya
> yang bermanfaat
> karena ilmu dan amalnya sesuai. Artinya ilmu yang
> dimiliki gurunya
> sesuai dengan pengamalannya dengan kata lain dapat
> ilmu langsung
> diamalkan.
> 
> Begitu pula kasus kitab yang berjudul "Jangan
> ditunggu!!! Isa bin Maryam
> Tidak Akan Turun di Akhir Zaman".
> Karena Ibu Suhana sudah sangat mengenal betul salah
> satu gurunya yang
> bernama HUTTAQI dan ibu Suhana sudah baro (berlepas
> diri) darinya karena
> Ibu Suhana sangat meragukan akidah yang dimiliki
> oleh seorang Huttaqi.
> 
> Oleh karena itulah kenapa Ibu Suhana tidak
> merekomendasikan kitab itu
> untuk dibaca.
> 
> Disamping itu dari judul kitabnya saja sudah melawan
> banyak hadits yang
> mengindikasikan turunnya Nabi Isa ke Bumi untuk
> membunuh Dajjal.
> 
> Hadits itu khan dari Rosulullah! Apa iya dengan
> membaca bukunya Huttaqi
> malah menambah kecintaan kepada nabi Muhammad wong
> isinya saja menentang
> perkataan Rosul...!!!
> 
> Bagian dari keimanan atau ketauhidan seorang muslim
> adalah membenarkan
> apa-apa yang datangnya dari Allah dan Rosul-Nya.
> 
> Demikian kiranya keadaannya Ibu Suhana sepengetahuan
> saya untuk
> selebihnya bisa dijelaskan oleh yang bersangkutan
> dan mohon maaf jika
> ada kata yang tak berkenan.
> 
> Wassalamu'alaikum
> Teguh
> 
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> On Behalf Of dodindra
> Sent: Friday, March 10, 2006 2:30 PM
> To: [email protected]
> Subject: [media-dakwah] Re: cintamu pada
> umatmu....refrensi buku:)
> 
> 
> Bismillahirrohmaanirrohiim,
> mbak Hana yang semoga dirohmati Alloh SWT,
> Sebelumnya saya mohon maaf
> karena menyampaikan tulisan ini.
> Saya tidak ingin membela siapa-siapa, namun, demi
> kebaikan kita bersama,
> sekali lagi saya mohon maaf, saya mesti menyampaikan
> kebenaran yang saya
> ketahui.
> 
> mbak Hana menulis :
> "kalau benar isi buku tsb spt yg anda ceritakan,
> tolong tanyakan kepada
> penulis, apa maksudnya memberikan judul yg
> membelokkan Akidah umat???
> kalau niat penulis tsb ingin syiar islam, syiar
> islam yg mana yg ingin
> penulis sampaikan?? kalau penulis murni ingin
> menyampaikan isi spt yg
> anda ceritakan, lalu kenapa penulis tidak jujur
> untuk memberikan judul
> yg sama spt isi yg anda ceritakan??"
> 
> dodi menjawab berdasar isi buku "Jangan Ditunggu !!!
> Isa bin Maryam
> Tidak Akan Turun di Akhir Zaman! Ready or Not Jesus
> is Not Coming"
> (dodi belum pernah ketemu muka langsung
> penulisnya,baru kenal foto dan
> dari milis Islam, jadi jawabanku merujuk dari isi
> bukunya saja) :
> 
> Menurut penulisnya, justru ingin meluruskan Akidah
> Umat, bahwa jika
> ingin memahami sesuatu , kaidahnya adalah berangkat
> dari ALQUR'AN.
> Baik Hadits, atau Ij'ma' harus diuji kembali kepada
> Al Qur'an.
> Menurut saya, ini adalah justru akidah yang sangat
> lurus.
> Jadi, syiar Islam yang ditekankan penulis, adalah Al
> Qur'an adalah
> pegangan utama, walaupun ada hadits yang kuat, maka
> harus diuji terhadap
> Al Qur'an. Pada buku tersebut pengujian-pengujian
> tersebut dipaparkan,
> khususnya tentang wafatnya dan masalah turunnya 
> Nabi Isa bin Maryam
> nanti, hingga kesimpulan penulis seperti judul buku
> itu.
> Masalah judul buku, itu adalah hak penulis buku
> masing-masing.
> Jadi, masalah subyektifitas mbak Hana tentang judul
> ini, bukan area saya
> untuk ikutan, bukankah mbak Hana kenal dengan
> Penulisnya, kenapa tidak
> kontak saja untuk menyampaikan saran mbak ? Atau
> diundang saja ke milis
> MD tercinta kita ini, lalu kita semua dialog dengan
> Penulis
> tersebut,Gimana MODERATOR SEMUA ??
>  masalah perbedaan faham, menurut saya adalah hal
> yang lumrah, dan harus
> disyukuri, yang utama adalah mengambil hikmah dari
> perbedaan itu.
> 
> mbak Hana nulis lagi :
> "kebetulan aku adalah salah satu pengikutnya yg
> dahulu dan aku tahu
> sekali atas dasar apa penulis menulis buku tsb. dan
> sikap terbuka yg
> menjadi dalih penulis di dasarkan atas pikiran orang
> ahmadiyah yg tidak
> mengakui Muhammad sbg nabi terakhir dan Mirza Ghulam
> Ahmad adalah imam
> mahdinya. dan ayat yg dijadikan landasan penulis
> untuk menulis adalah
> sitiran ayat "Khataman Nabiyyin", yg selalu
> dijadikan kunci orang2
> ahmadiyah ttg penutup para nabi.
> 
> dodi menjawab lagi :
> Dari buku tersebut, yang saya tangkap kok berbeda
> dengan mbak Hana,
> justru pada buku tersebut, penulisnya malah
> mengIMANI bahwa Rosululloh
> SAW adalah "Khataman Nabiyyin", seperti kandungan Al
> Qur'an. Dan penulis
> tidak sepakat pandangan AHmadiyyah. 
> Kesimpulan penulis Isa bin Maryam Tidak Akan Turun
> di Akhir Zaman,
> adalah menguatkan firman Alloh bahwa Muhammad SAW
> adalah "Khataman
> Nabiyyin" seperti QS Al Ahzab ayat 40 tersebut.
> Dibuku itu disebutkan, pemahaman banyak ulama yang
> meyakini Isa bin
> Maryam akan turun lagi, adalah seperti keyakinan
> Ahmadiyyah, bahwa akan
> ada Nabi lagi setelah Rosululloh SAW.
> Hal itu , menurut penulis buku itu, bertentangan
> dengan Al Qur'an dan
> Hadits-hadits Nabi tentang "Khataman Nabiyyin".
> Ulama besar yang sepakat dengan penulis ini
> (HUTTAQI) di Indonesia
> adalah Bp. Hamka, dalam tafsir Al Azharnya, juga Bp.
> M. Qurais Shihab
> dalam Tafsir Al Mishbahnya.
> 
> Mbak Hana yang baik dan saudaraku semua, monggo,
> marilah ....dibaca
> bukunya dulu, baru kita berkomentar, jadi komentar
> kita itu adalah haq,
> bukan berdasarkan prasangka-prasangka...yang bisa
> jauh dari kondisi
> kebenaran sesungguhnya.
> 
> Mbak Hana, sekali lagi , saya minta maaf jika
> kesannya saya membela
> penulis buku "Jangan Ditunggu !!! Isa bin Maryam
> Tidak Akan Turun di
> 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke