Jalur perjalanan Bandung Jakarta, adalah jalur yg paling sering saya 
lalui , sebagai pekerja commuter Bandung - Jakarta ( tinggal di 
Bandung kerja di Jakarta ) . Ada beberapa alternatif jalur, jalan 
darat lewat puncak-cianjur, atau jalan tol cipularang - cikampek , 
atau jalur kereta api , kereta api parahyangan yg legendaris, salah 
satu jalur gemuk nya PT KAI. Untuk kondisi saat ini jalur kereta 
parahyangan dan jalan tol cipularang adalah jalur yg paling disukai. 
Namun beberapa saat belakangan ini agak terhambat karena ada bagian 
jalan yg mengalami longsor.

Pepatah Minang, "Alam terkembang menjadi guru" , selalu terngiang di 
kepala , bila melakukan perjalanan, termasuk perjalanan antara 
Bandung dan Jakarta. Merenungi perjalanan dari Bandung ke Jakarta, 
ternyata bisa sebagai gambaran dari perjalanan sejarah kita bersama , 
bahkan bisa kita analogikan bagaikan perjalanan sejarah bangsa kita , 
mungkin terasa mengada ngada , tapi tak salah juga kita bisa belajar 
dari alam nan terkembang tsb.

Jalur dari Bandung sampai Cikampek, masih asri, penuh dg pebukitan , 
sawah, kebun teh/ karet , sedangkan jalur dari cikampek sampai 
jakarta adalah jalur yg banyak kawasan industri didirikan

kalau di analogikan dengan era Sosiologi , jalur antara bandung 
cikampek akan kita temukan suasana era agraris (pertanian) , 
sedangkan dari Cikampek sampai jakarta adalah suasana era industri.

Kalau kita berangkat dari Bandung ke Jakarta, keluar kota Bandung , 
kita akan menemui alam yg masih asri , pegunungan dll. Akan sangat 
jelas terlihat kalau kita naik kereta api. Keluar kota Bandung 
selepas Padalarang , kita akan menemui hamparan pebukitan , 
pesawahan , rel kereta api akan meliuk liuk diantara bukit dan 
lembah , bahkan ada jembatan kereta yg sangat panjang melewati lembah 
yg dalam , jembatan sasak saat panjang nya sekitar 600 meter , 
melewati lembah yg dalamnya sekitar 60 meter di titik tertinggi nya. 
1 km kemudian rel kereta akan masuk ke dalam terowongan membelah 
bukit sepanjang hampir 900 m. Selepas terowongan kita akan menemui 
hamparan perkebunan teh, di daerah cikalong, dilanjutkan dg pebukitan 
dan pesawahan sampai ke daerah sekitar waduk jatiluhur.

Selepas waduk jatiluhur , kita akan lewati daerah plered yg terkenal 
dg industri kecil keramik nya , berlanjut sampai purwakarta- cikampek 
akan banyak ditemui industri2 dan daerah perkotaan. Bisa dikata ini 
adalah daerah transisi antara era agraris dg era industri. Antara 
Cikampek sampai Jakarta adalah daerah yg banyak pabrik, kawasan 
industri, cerminan era industri.

Ada cerita menarik ketika beberapa tahun yang lalu ketika sering naik 
kereta api parahyangan , di lintasan antara cikalong sampai plered , 
dimana penduduk sekitar rel adalah masyarakat petani yg miskin , ada 
saya temui seorang penumpang kereta api  yg misterius yg ketika 
kereta sedang berjalan, melemparkan berbagai macam makanan dan 
bingkisan lain nya pada masyarakat di pinggir rel tsb. Masyarakat di 
daerah itu pun nampaknya sudah tahu sehingga mereka selalu berkumpul 
di sekitar rel, pada saat2 tertentu.  Waktunya antara lain sekitar 
sore hari, sehingga bila kita lewat jalur tersebut sekitar jam 7 
malam, maka sepanjang jalur tersebut banyak penduduk yg berdiri di 
pinggir rel sambil membawa obor , berharap2 menunggu lemparan 
bingkisan dari pintu kereta yg lewat. Saya sempat satu gerbong dengan 
dermawan bersangkutan, seorang bapak tua yg nampaknya tak ingin 
diketahui orang banyak amalnya, tsb, sehingga cenderung menghindar. 
Telah lama saya tak menemui lagi darmawan misterius tersebut

Daerah lintasan sepanjang cikalong sampai menjelang plered adalah 
daerah pertanian yg relatif subur, tapi rakyatnya kurang makmur.
Menjelang plered, daerah industri kecil keramik, kondisi ekonomi 
masyarakat mulai membaik, terlihat dari rumah2 nya yg cukup bagus.
Dari cikampek sampai jakarta, kita akan disuguhi pemandangan kawasan 
industri di sela sela pesawahan , sampai bekasi dan jakarta, industri 
mulai berkurang , berganti pemukiman padat.

Lain lagi ceritanya kalau kita menggunakan jalan tol , mulai ruas tol 
cipularang dan ruas tol cikampek. Di ruas tol cipularang kita akan 
disuguhi pemandangan yg indah pula pebukitan priangan si jelita , 
kata pengarang Ramadhan KH. Ruas tol cipularang banyak bersinggungan 
dengan jalan rel kereta api ruas antara padalarang sampai purwakarta.

Menurut teman ahli geologi, daerah memanjang sejak dari majalengka-
subang-purwakarta sampai ke jonggol, adalah daerah yg dikenal dg 
istilah geologi sebagai formasi Subang, dimana banyak terdapat tanah 
lempung ( karena itu pulalah di Plered banyak pengrajin keramik yg 
bahan dasarnya adalah tanah lempung ) , sehingga banyak kita temui 
tanah longsor atau bergeser pada jalan2 yg berada di jalur tersebut.

Sehingga kejadian longsor yang seringkali menimpa ruas jalan tol 
cipularang , adalah hal yg telah dimafhumi oleh ahli geologi ,namun 
kenapa sampai tetap terjadi juga , tetap menyisakan sebuah pertanyaan 
yg mungkin sebagian kita sudah bisa menduga jawaban nya. Jalur rel 
kereta api di sekitar daerah tsb ada juga yg pernah mengalami anjlok 
walau kecil, seperti di daerah ciganea-purwakarta , tapi saya lihat 
pengelola kereta api , telah bisa mengantisipasi dengan baik. 
Dan saya punya keyakinan bahwa para insinyur pembuat jalan dan rel , 
di jaman Belanda dulu , telah mengetahui juga karakter tanah tersebut 
sehingga mereka bisa membuat jalan dan jalur rel dg baik, sehingga 
bisa kuat puluhan tahun. Jalur rel kereta api tersebut dibangun 
hampir seratus tahun yg lalu. terowongan kereta api di dekat jalur 
tersebut, selesai dibangun tahun 1902 , tertulis di dinding kalau 
kita akan memasuki terowongan. 

Ada hal yg menarik kalau kita melakukan perbandingan antara jalan rel 
kereta api dan ruas jalan tol yg lokasinya berdekatan tersebut , 
dimana jalan tol nya sering longsor, sedangkan jalur rel kereta api 
lebih tahan lama , menyisakan sebuah pertanyaan miris , betapa para 
insinyur belanda jaman jajahan dulu , bisa membuat jalan dengan 
baik , sedangkan para ahli kita yg hampir seratus  tahun kemudian 
membangun jalan di jalur yg sama , ternyata banyak menemui masalah ? 
ada apa selama seratus tahun ini ? 

Lepas ruas tol cipularang kita akan memasuki ruas jalan tol cikampek, 
di jalur ini lain lagi ceritanya, kita akan disuguhi pula karakter 
pengguna jalan tol Indonesia, yg tak mempedulikan aturan. 

Pada saat2 tertentu misal di malam hari atau subuh dini hari , ketika 
bis2 besar dan truk2 raksasa dari jalur pantai utara Jawa (Pantura )  
ingin cepat2 memasuki jakarta sebelum pagi hari , agar tak terjebak 
kemacetan atau dicegat polisi, mereka berkejaran di jalan tol tsb.

Betapa mobil2 bis2 besar jago balap dari jalur pantura dengan penuh 
keberanian menyalip kendaraan di depannya dari sebelah kiri, melalui 
bahu jalan , di ikuti pula oleh mobil2 sedan baru berkecepatan 
tinggi , kadang mereka kucing2 an dg mobil patroli jalan tol . Suatu 
tindakan yg sangat berbahaya , menyalahi aturan , dan terbukti ruas 
jalan tol ini sering terjadi kecelakaan. Itulah cerminan yang 
menggambarkan sikap dari sebagian kita2 juga

Menjelang pintu tol pondok gede bekasi sampai ke cawang - grogol , 
kita akan disuguhi kemacetan yg memanjang. Di tengah kesuntukan 
menghadapi kemacetan tersebut ada tulisan nakal dari iklan di pinggir 
jalan tol " Mendapat hambatan, di jalan bebas hambatan" , tanya 
kenapa ?

Baik melewati jalur rel kereta api, ataupun jalur jalan tol , 
melewati area agraris antara bandung sampai purwakarta maupun di area 
industri antara cikampek - jakarta , kalau jeli kita melihat banyak 
permasalahan yg cukup esensial , pada masyarakat agraris dan 
masyarakat industri dan juga adalah cerminan dari kita semua juga.

Pada daerah2 pertanian yg subur tanah nya, para petani, tak bisa 
serta merta menjadi makmur karena kondisi alam tersebut , walau 
tanahnya subur menghasilkan banyak hasil panen, tapi nilai tukar 
hasil pertanian yg kalah bersaing dengan kebutuhan membeli barang2 
industri membuat petani susah untuk bisa makmur. Istilah kasarnya , 
perlu jutaan butiran keringat untuk menghasilkan beberapa karung 
beras yg diperlukan untuk membeli barang2 keperluan era industri 
seperti televisi, radio, HP, motor , mobil atau untuk keperluan 
mendasar seperti untuk pendidikan dan kesehatan.

Bahkan untuk kondisi yg kronis, petani terpaksa menjual gabah dengan 
harga murah,  tapi tak cukup lagi uang nya untuk mendapatkan bahan 
pangan yg layak . Apalagi untuk keperluan anak2 muda nya yg terbujuk 
rayuan untuk membeli barang komoditas kapitalis yg berharga mahal , 
seperti motor atau hand phone misalnya .

Nilai jual hasil produksi pertanian , cenderung menjadi rendah nilai 
tukarnya bila dibandingkan dengan nilai beli barang2 industri. 
Istilah menjadi petani hanya membuat keluarga menjadi tambah miskin 
dibandingkan , bila mereka bekerja di perkotaan atau industri.

Banyak terjadi para petani dengan hasil sawah dan ladang nya , 
membiayai sekolah anak2 nya sampai ke sekolah tingkat atas, SMA atau 
bahkan perguruan tinggi, tapi sungguh disayangkan ilmu2 yang mereka 
peroleh di sekolah , tak ada nilai tambahnya untuk meningkatkan hasil 
pertanian orang tua nya. Akhirnya mereka menjadi para pencari kerja 
di perkotaan, mulai dari Calon PNS sampai menjadi calon buruh2 pabrik 
yg bergaji pas pasan , sehingga tak cukup dana untuk menabung bagi 
pengembangan hidup keluarga nya sendiri.
Kurikulum pendidikan pada sekolah2 yg diterima anak2 di daerah 
pertanian tersebut, entah mengapa malah membuat mereka menjadi 
terasing dengan masalah pertanian, terasing dari daerahnya sendiri , 
dan malah tersedot dengan logika untuk menjadi pekerja di kota2 besar 

Anak2 dari daerah pertanian tersebut lah , yg kemudian pergi ke kota 
atau kawasan industri antara lain menjadi buruh2 murah di daerah2 
industri sekitar cikampek sampai jakarta , atau menjadi pekerja 
informal seperti tukang ojek, penjual makanan atau tukang kebun di 
perumahan2 mewah sebelah kawasan industri.

Terjadi pemiskinan secara struktural dari masyarakat agraris, ketika 
mereka secara terpaksa tersedot ke masyarakat industri , mereka hanya 
menjadi sekrup2 kecil di era industri , tidak bertambah makmur 
hidupnya atau kasarnya tersisihkan. Pada sisi lain daerah pertanian 
subur milik orang tua mereka, tak bisa terolah dengan cara yg lebih 
baik, banyak lahan terlantar, karena anak2 muda nya lebih memilih 
kerja di industri atau pergi ke kota, daripada berkotor2 di sawah 
atau kebun , yang hasilnya juga jadi tak seberapa. Apalagi dengan 
kasus seperti import beras atau import buah2 an yg marah akhir2 in, 
tambah membuat para petani terpuruk

Ketika di luar negeri , pertanian telah dilakukan dg cara yg lebih 
modern dengan berbagai perbaikan metode dan teknologi , kebanyakan 
petani kita masih mengolah pertanian nya seperti cara yg sama 
berpuluh puluh tahun yg lalu, sehingga wajar saja pertanian kita 
kalah bersaing dg luar negeri. Diperparah lagi dengan kehilangan 
tenaga muda yg produktif yg pergi ke perkotaaan atau daerah industri.

Entah siapa lagi yg akan membela para petani yg termiskinkan 
tersebut ?
yah, dermawan yg saya ceritakan tadi, yg melemparkan bingkisan2 
makanan sepanjang rel kereta api parahyangan, setidaknya cukup 
menjadi hiburan sementara bagi para petani miskin tersebut , walaupun 
tetap tak menyelesaikan permasalahan mendasar mereka.

Kedermawanan bapak tua, tsb mungkin hampir mirip pula dengan beberapa 
program / proyek pemerintah, baik dari dana APBN maupun bantuan 
asing, untuk pengembangan masyarakat pedesaaan atau usaha kecil 
menengah, banyak yg akhirnya jatuh ke tipikal proyek , sekedar 
memberikan ikan, daripada memberikan kail yg lebih bisa berdampak 
luas dan jangka panjang.

Di jalur area industri antara cikampek sampai jakarta , mungkin kita 
bisa menganggap majunya industri di negeri kita, tapi menurut saya 
itu semua semu, karena kalau di lihat, pabrik2 besar di sepanjang 
kawasan industri tersebut adalah sebagian besar milik PMA ( Penanaman 
modal asing ) , hanya sebagian kecil yg benar2 , milik swasta 
nasional , angka2 eksport yg tinggi , yg sering jadi harapan para 
ekonom makro, sebenarnya profit nya kembali ke pundi2 para investor 
asing yg menanamkan modalnya pada industri2 tsb.   Hanya sebagian 
kecil yg menetes kembali ke rakyat setempat, yg sawah2 dan ladang2 
nya telah terjual menjadi kawasan2 industri tersebut.

Keuntungan kompetitif upah buruh rendah yg kita dengung2 kan selama 
ini kepada para investor luar negeri,benar2 membuat para buruh 
bekerja dg upah yg pas-pas an. Saya lebih melihat jargon upah buruh 
rendah dan kemudahan investasi lain nya, hanya membuat negeri kita 
jadi buangan sunset industri ( industri yg tak efisien lagi ) , 
industri yg banyak pencemaran dan industri2 masal yg tak susah 
membuat buruh2 tersebut bisa hidup layak. Malah bisa jadi Itu semua , 
saat ini menjadi sebuah jebakan  bagi kita semua.

Industri indonesia pun , rentan karena ketergantungan pada modal 
asing , sunset industri seperti tekstil hanya membuat negara kita 
menjadi buangan industri yg tak efisien dan mencemari lingkungan. 
Industri kita tak memiliki kekuatan yg mendasar, sehingga bisa oleng 
ketika diserbu produk2 murah dari negara seperti China.
Dosen saya di jurusan teknik industri ITB, dulu bercerita bahwa 
negara kita tak memiliki basis industri yg kuat, karena kita hanya 
banyak mendirikan pabrik2 , tapi tak benar2 membangun masyarakat 
industri, yah masyarakat kita masih berpola pikir agraris, walau di 
jaman industri sekalipun.
sehingga bila ada sedikit guncangan saja terhadap industri seperti 
kenaikan BBM, TDL , atau hambatan quota eksport, kemajuan teknologi 
atau serbuan barang industri murah , industri kita mudah goyang 
karena nya.

Pembangunan Industri2 yang tak terencana dengan baik menyisakan pula 
berbagai permasalahan kronis seperti sanitasi yg jelek di daerah 
sekitar nya , pencemaran , kemacetan dll.  Bila kita berjalan ke 
pinggir2 kawasan industri , akan kita temui pemukiman2 kumuh dimana 
buruh2 murah terpaksa tinggal dengan sanitasi yg jelek , jalan2 yg 
sempit sehingga menimbulkan kemacetan dan berbagai permasalahan 
sosial lain nya , seperti kriminalisme.

saya sempat bekerja di kawasan Industri Pulogadung Jakarta, dalam 
kawasan memang tertata rapih, tapi cobalah sekali2 tengok keadaan di 
luar dinding batas kawasan, kita temui pemukiman padat, rumah2 kumuh, 
gang2 kecil , got yg mampet dan sanitasi buruk lain nya, di sana lah 
tinggal buruh2 yg mendapat upah rendah ( walau masih di atas UMR ) , 
tapi memang hanya di sana lah mereka masih bisa tinggal sesuai upah 
yg mereka dapat kan.

sanitasi lingkungan yg jelek pulalah ,yg menyebabkan banyak penyakit2 
menular seperti deman berdarah, flu burung dll, begitu cepat menjalar 
dan susah untuk diatasi segera. Inilah salah satu harga mahal yg 
harus diterima masyarakat rendah, yang menjadi ekses dari proses 
pembangunan selama ini.

Pada beberapa kawasan Industri di sekitar Jakarta , bila ada truk2 yg 
membawa barang untuk di kirimkan ke  pabrik2 di sana, atau membawa 
bahan bangunan , ia terpaksa memberikan semacam uang portal/lewat 
atau uang lelah untuk menurunkan barang2 di area tersebut. Supir2 
truk sering di minta uang secara paksa ketika memasuki area tersebut 
oleh jagoan setempat , bila tidak akan ada permasalahan dengan 
keamanan barang2 mereka. Beberapa kawasan industri , bahkan juga pada 
beberapa perumahan2 mewah sekitar jakarta ada yg areanya "dikuasai" 
oleh sekelompok preman2 setempat yg sekarang mulai memiliki nama 
organisasi resmi, padahal prinsipnya sama saja. Itu semua adalah 
masalah sosial yg menjadi dampak tambahan dari era industri yg banyak 
menyisihkan masyarakat agraris sekitar yg tak siap dengan perubahan. 
Mereka orang2 yg tersisihkan secara sistemik dan tak ada cara lain 
untuk menghidupi keluarga , sehingga akhirnya mencari jalan pintas, 
tapi akhirnya merugikan orang banyak juga.

Bila dibuat perbandingan, mereka yang lebih bisa menyambut era 
industri adalah kaum pedagang , seperti etnis cina atau minang , 
mereka lebih bisa berhasil berkecimpung di dunia industri 
dibandingkan dengan mereka yg berasal dari era agraris, karena logika 
pedagang lebih dekat dg logika industri, daripada logika petani. 
Secara sosiologis, tahapan ideal perkembangan peradaban ialah dari 
masyarakat pertanian menjadi pedagang baru kemudian menjadi 
industrialis

Tapi memang sudah demikian lah adanya saat ini , kondisinya, kita 
harus siap dan melakukan perbaikan sebisa nya. Sebab bila tidak 
gempuran2 dari  kekuatan global seperti kesepakatan WTO untuk hasil 
pertanian , konspirasi besar MNC global atau serbuan produk2 industri 
murahan , benar2 membuat kita menjadi bangsa koeli , suatu hal yg 
ingin dirubah sejak jaman bung Karno dulu .

Asap knalpot bis kota dan kebisingan klakson mobil di tengah 
kemacetan jalan , rumah2 kumuh di pinggir rel ,  serta kumpulan para 
pengemis di perempatan jalan menjelang stasiun Gambir 
Jakarta ,menyadarkan diri, bahwa perjalanan kereta Parahyangan sudah 
hampir sampai.

Gedung2 tinggi yg mentereng yang banyak menjulang sampai ke sekitar 
tugu monas , bisa membuat hati berbunga menganggap negeri kita cukup 
maju. Diantara gedung2 tinggi tersebut, menjulang juga gedung 
kedutaan besar Amerika , yg setidaknya menggambarkan pula betapa 
mereka memiliki peran yg tak sedikit pula di negeri kita ini. Namun 
pemandangan gedung2 tinggi tsb, tetap tak bisa menyembunyikan 
pemiskinan struktural yg sedang dihadapi  sebagian bangsa kita , 
karena di pinggir rel kita tetap menemui rumah2 kardus yg dihuni para 
tunawisma.

Seandainya , sepanjang perjalanan antara bandung jakarta ini , ketika 
melewati pemandangan indah selepas kota bandung , saya tertidur dan 
baru terbangun menjelang stasiun gambir jakarta, melihat gedung2 
tinggi menjulang , akan terasa bahwa negeri kita ini Indah dan maju 
ekonomi nya, tapi sayangnya mata ini tak bisa terpejamkan sepanjang 
perjalanan dari padalarang sampai menjelang jakarta, sehingga 
terlihatlah pula kisah2 yg memilukan tersebut.

Seandainya saya tertidur sepanjang perjalanan tadi mungkin akan 
bermimpi indah , betapa tanah2 pertanian yg indah tersebut dikelola 
dengan teknologi tinggi, para pemudanya tak pergi jauh ke kota, tapi 
tetap berada di kampung nya , mengembangkan metode2 pertanian baru yg 
menghasilkan produk2 pertanian bermutu tinggi dan bernilai jual 
tinggi. Sehingga mereka pun bisa hidup layak, tak perlu berdesak 
desakan pindah ke kota besar.

Para pemuda2 desa subur tersebut, merasa bangga tetap bekerja di 
tanah pertanian nya sendiri. Dan tetap bisa berlagak bagaikan pemuda 
kota besar, karena pendapatan nya cukup tinggi, hasil dari penjualan 
hasil pertanian yg cukup bersaing harga nya , sehingga mereka tetap 
bisa pula membeli barang2 komoditas kota besar. Pemuda desa yg kaya, 
tetap ada kemungkinan untuk meraih hati gadis jelita anak kota 
sekalipun. bagaikan pemuda Cowboy amerika , yang walaupun hanya 
pengembala sapi, tapi tetap bisa tampil keren.

Walau rumah mereka di desa , para pemuda desa yg cerdas tersebut 
tetap bisa mengakses internet juga, bisa mengirim email , chating 
atau bahkan mengeksport hasil pertanian mereka atau hasil kerajinan 
di desanya ke luar negeri melalui komunikasi internet dengan pembeli 
diluar sana, mereka bisa cepat tahu harga komoditi pertanian via 
internet.

Mengenai pengembangan pola pertanian , jadi teringat pula dg pola 
Kibutz yg dikembangkan di tanah2 pertanian negara Israel, dimana 
disediakan pula sekolah2 pertanian yg baik di enclave pertanian tsb , 
sehingga tanah pertanian tandus bisa diolah oleh para tenaga muda nya 
yg enerjik dan cerdas menjadi sentra2 pertanian yg produktif. saat 
ini Israel bisa dikata sebagai salah satu tempat yg paling berhasil 
mengembangkan teknologi pertanian bahkan di lahan kering sekalipun. 
Bila hal yg mirip Kibutz tsb, dikembangkan pula di tanah2 pertanian 
negeri kita yg subur ini, betapa akan makmurnya para petani kita.

Tak akan kita temui orang2 desa yg terpaksa pergi ke kota untuk 
menjadi para pengemis, pengamen di perempatan jalan atau bahkan 
menjadi pelaku kriminal yg membuat kita was was juga.

Industri2 yg dikembangkan pun adalah industri yg berbasis pertanian / 
perikanan, sesuai keunggulan potensial negeri kita , atau industri2 
lain nya yg tak mencemari lingkungan. Antara daerah2 kawasan 
industri  dan daerah pertanian bisa bersanding dengan harmonis tanpa 
saling mencemari dan mengganggu dengan masalah sosialnya. Kawasan 
industri dibangun dengan perencanaan matang, seperti kawasan industri 
Guangzhou di China selatan atau semacam cyberjaya di Malaysia.

Para pekerja nya pun bisa mendapatkan upah yg layak , sehingga mereka 
bisa menyekolahkan anaknya dg baik dan memberikan sanitasi yg baik 
pula untuk keluarga nya , sehingga terlahirlah anak2 yg cerdas pula.

Pabrik2 yg berdiri sebagian besar adalah milik para pengusaha kita 
sendiri pula , sehingga keuntungan2 dari industri dan bisnis 
tersebut , akan menyebar pada masyarakat kita sendiri.
Tak akan sampai terjadi ada kesenjangan pendapatan yg begitu jauh 
antara presiden direktur dengan office boy sekalipun. Keuntungan 
bisnis tersebut kemudian akan tersebar meluas , pada masyarakat kita 
pula , membawa kemakmuran bersama, gemah ripah loh jinawi , kata mas 
slamet, teman duduk di sebelah .

Bangun2 dek, kata mas Slamet , sudah hampir sampai nih , membuyarkan 
mimpi saya tersebut , bangunan tinggi di tengah kota Jakarta 
menjelang stasiun Gambir mulai terlihat, tapi tetap tak bisa 
menyembunyikan , gubuk2 reot di pinggir rel , menyadarkan saya untuk 
kembali ke dunia nyata.

salam hangat

Hendra Messa , malin sinaro
Commuters  Bdg - Jkt

note :
Artikel tulisan ini , bisa juga dilihat pada blog  
<http://hdmessa.multiply.com/journal>
gambar2 pemandangan alam antara bdg-jkt bisa dilihat pula pada blog
tsb.





--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke