Ass. Wr. Wb.
  Dunsanak kasadono, iko ado dari lapau sabalah, mungkin bermanfaat.
  Wass.
  [EMAIL PROTECTED]
   
  To: BlankOn <      .com>
  From: Bayu Adh... <..........
  Subject: 
   
  Pa’ Dang UN, manusia diciptakan sebagai makhluk sempurna tapi bodoh. Manusia 
terlanjur sok berani mengemban amanah padahal lemah dan dungu. Dikala berstatus 
orang, kepandiran menguadrat sehingga kian dalam menggerogoti cahaya2 
peradaban, terkilir oleh tingginya angan2 duniawi. Pada masa kejayaannya di 
bumi, jadilah ia pemimpin yg pongah berotak kancil.... (istilah UW).  Bila 
menguasai tampuk, lengkaplah predikatnya sebagai predator yg kanibal. 
   
  Jadi...., ini bukanlah sebuah residu peradaban yg tak pernah terkikis tuntas 
di masa lalu (sorry beda dg Mr.HH nih). Kita sebenarnya telah salah memetik 
peradaban utk diawetkan. Keteladanan2 yang beradab sebenarnya telah tuntas 
dipertunjukkan 14 abad lalu oleh Rasul yang agung dan sahabat2 beliau. 
Tengoklah misalnya keteladanan Khalfah Umar bin Khattab. Ketika bangsa ini 
sibuk memikirkan rumusan land-reform, sang khalifah telah menjalankannya 14 
abad silam dgn sempurna. Pajak/zakat telah terumuskan dg sempurna dan 
diterapkan secara adil shg mampu mensejahterakan seluruh rakyat. Kenanglah 
kisah sang khalifah sewaktu memikul sekarung gandum ke rumah seorang wanita & 
anak2nya yang lapar dengan menempuh jarak 3 mil. Soal KKN? NO WAY bukan NATO. 
Umar bahkan mendera sendiri anaknya (Abu Syahma) yg terbukti bersalah hingga 
tewas. Keteladanan serupa juga ditunjukkan pada masa kekhalifahan Bani Umaiyah. 
Sang khalifah, Umar bin Abdul Aziz yg terkenal amat bersahaja, memadamkan
 lampu yg menerangi ruang  kerjanya ketika tahu putranya masuk utk 
membincangkan urusan keluarga. Dst.... dst.....
   
  Belakangan ini, bangsa kita luar biasa gencar membunyikan slogan 
penanggulangan kemiskinan, flu burung, peningkatan kesejahteraan (pangan, 
pendidikan, kesehatan dll). Semua tiba2 merasa paling pandai dan benar dalam 
menggagas program. Di ujung kegiatan kelak, para petinggi dan cerdik cendekia 
itu akan berujar dengan senyum khasnya bahwa masalah kemiskinan memang tidak 
pernah bisa teratasi. Benarkah demikian? Separah itukah?? Mari belajar ke masa 
lampau bagaimana Rasul dan para sahabat memperlakukan kaum fukara dan duafa. 
   
  Alkisah, di suatu tempat terlihat Rasulullah saw berkumpul bersama para 
sahabatnya yg kebanyakan orang miskin yang hampir semuanya bekas budak (al. 
Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal, Suhayb Khabab bin Al-Arat).  Pakaian 
mereka lusuh, berupa jubah bulu yg kasar.  Tetapi mereka adalah sahabat senior 
Nabi, para perintis perjuangan Islam. Serombongan bangsawan Quraish yg baru 
masuk islam datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang2 di sekitar Nabi, 
mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya. Mereka berkata kepada Nabi, "Kami 
mengusulkan agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab 
akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah arab akan 
datang menemui Anda. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dg budak-budak 
ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila 
urusan kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka Anda." 
Maka turunlah Malaikat Jibril menyampaikan surat al-An'am, 52: 
   
  "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yg menyeru Tuhannya di pagi hari dan 
di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul 
tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka. Begitu pula mereka tidak 
memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu 
(berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang2 yang zalim." 
   
  Nabi segera menyuruh kaum fukara duduk lebih dekat lagi sehingga lutut2 
mereka rapat bertaut dengan lutut Rasulullah. "Salamun 'alaikum," kata Nabi 
dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraish. 
Lalu turun lagi surat al-Kahfi, 28. Sejak itu, apabila kaum fukara tsb 
berkumpul bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat sebelum orang-orang 
miskin itu pergi. Apabila beliau masuk ke majelis, beliau memilih duduk dlm 
kelompok mereka. Seringkali beliau berkata, "Alhamdulillah, terpuji Allah yg 
menjadikan di antara umatku kelompok yg aku diperintahkan bersabar bersama 
mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fukara muslim dg 
cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum 
orang-orang kaya setengah hari, yg ukurannya 500 tahun. Mereka bersenang-senang 
di surga sementara orang2 kaya tengah diperiksa amalnya." 
   
  Sekarang mari buka dan tatap cermin di hati kita. Apakah kita seperti 
pembesar Quraish yg terganggu dg bau tubuh orang miskin sehingga kita enggan 
berdialog di majelis2 sederhana yg pengap ? Apakah ketika kita berbicara (bukan 
berdialog) ttg org miskin, kita enggan bergabung dg mereka di gubuk kumuh dan 
lereng2 terjal, tetapi kita memilih hotel berbintang. Saya kuatir perilaku kita 
lebih menyerupai pembesar Quraish daripada perilaku Nabi Yg Mulia. Ironisnya, 
kita begitu sering lupa dengan prilaku kita selama ini. Jangan2 karena merasa 
telah lelah kuliah dan mendapat gelar tinggi lalu kita hanya ingin menikmati 
majelis yg nyaman? Jadi sebenarnya kita perlu menanyai diri “Seberapa 
beradabkah kita, dan peradaban manakah yang kita konversi selama ini ??” 
   
  Berikutnya, ttg kacamata kuda ala oomUW. Saya sependapat.  Bagaimana kalau 
kita pakai kacamata kerbau. Kenafa begicu ?? Jawabnya ada di relung hati JJ 
..... eiitt... mungkin dlm sebuah parodi ttg Kerbau, Kelelawar, Cacing dan 
Manusia berikut ini. 
   
  Dikisahkan, suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril AS menemui 
kerbau utk menanyakan apakah dia senang diciptakan Allah sebagai seekor kerbau. 
Saat ditanya, si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur 
kepada Allah yg telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku 
dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yg ia mandi dg kencingnya sendiri". 
Mendengar jawaban itu Jibril segera pergi menemui seekor kelelawar untuk 
menanyakan hal serupa. Kelelawar menjawab: "Masya Allah, alhamdulillah, aku 
bersyukur kepada Allah yg telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dp aku 
dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dlm tanah, berjalannya 
saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu, Jibril 
lalu segera menemui seekor cacing yg sedang merayap di atas tanah dan 
menanyakan hal serupa. Cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah, aku 
bersyukur kepada Allah yg telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dp
 dijadikan-Nya  aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tdk memiliki iman 
yg sempurna dan tdk beramal saleh, ketika mati mereka akan disiksa amat pedih". 
   
  Jadi.... yuk menggunakan kacamata kerbau ketimbang kacamata kuda !!! Gemana 
Pa’Dang??  Tuan Don kemana ya ??? apa masih di Syracuse??
   
  Oh ya di Indonesia minggu ini kerja 3 hari ya, enak banget, mau pulang ah.
   


[EMAIL PROTECTED]
www.geocities.com/aatantuah/AsrulAgin.html
                
---------------------------------
Blab-away for as little as 1¢/min. Make  PC-to-Phone Calls using Yahoo! 
Messenger with Voice.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke