*Playboy dan Dunia yang Tercengang *

Sehari setelah Playboy Indonesia terbit, Sabtu (8/4) lalu Hugh Hefner,
pendiri 'kerajaan' Playboy itu, berulang tahun ke-80. Bertelekan pada
sofa berlapis bulu tebal, dikelilingi ratusan model yang hanya berbalut
bikini, sementara sampanye dan kaviar tak henti mengaliri tenggorokan,
Hefner terlihat sangat bungah di mansion bergaya Gothiknya di Los
Angeles, Amerika Serikat.

Tentu bukan karena seorang gadis pirang membantunya memotong kue dan
menyuapinya sepotong demi sepotong. Prosesi itu pasti terlalu lumrah,
bahkan membosankan, di usianya yang menginjak delapan dekade. Ada hal
lain yang seharusnya membuat kakek berpiyama sutra itu bergirang hati.

Benar atau tidak, yang pasti pada ulang tahun ke-80 itu Hefner
memperoleh 'kado istimewa', persembahan Erwin Arnada dan kawan-kawan
dari Indonesia. Hefner sangat layak bergembira. Revolusi seks yang
dipeloporinya sejak 1950-an, berhasil menaklukkan Indonesia, salah satu
negeri Muslim terbesar di dunia.

Bukankah kini Hefner, dalam usia yang secara logika telah di rembang
petang, bisa menyatakan diri sukses membuat gaya hidupnya menjadi
universal, merambah hingga pojok-pojok dunia yang tadinya dianggap
paling musykil sekalipun? Siapa akan membantah, keberhasilan Playboy
terbit di Indonesia -- meski dengan kemasan tak terlalu vulgar --
merupakan sukses besar bagi imperium bisnis Playboy.

''Ini merupakan momen spesial, karena ultah ke-80,'' kata Hefner dalam
sebuah wawancara televisi. Meski tak menyebut Indonesia, Hefner
menambahkan, ''Saya tidak pernah merasa sebaik ini.''

Wajar saja, karena mungkin 'Mr Playboy' merasa menemukan tempat untuk
memulai eksperimen baru. Sebagaimana dikutip AFP yang meliput pesta
semalam suntuk itu, Hefner memang telah menggerakkan perubahan baru di
masyarakat Barat. Betapa permisivitas, keserbabolehan, telah dimulai
ketika pemuda Hugh Hefner merancang majalah pertamanya itu pada 1953.
Setelah itu, revolusi seks pun bergulir tak tertahan, bahkan tidak
terduga oleh Hefner.

''Ada tiga penemuan besar dalam sejarah kemanusiaan,'' kata Hefner,
suatu kali. ''Penemuan api, roda, dan ...Playboy,'' katanya, setengah
berkelakar.

Di lain pihak, wajar pula jika dunia Islam -- bukan hanya Indonesia --
tercengang dengan lolosnya Playboy di negeri ini. ''Negara berpenduduk
Muslim terbesar di dunia mulai mengedarkan Playboy, sebuah majalah porno
asal Amerika,'' bunyi teras berita harian Al Rayah, Qatar, pekan lalu.
Judul yang dipampangnya pun bombastis, ''Negeri Muslim Terbesar di Dunia
Terbitkan Majalah Playboy.''

Sementara, situs harian Arab Saudi, Al Watan, menulis dengan judul lain,
''Banyak Protes Atas Penerbitan Playboy Indonesia''. Tetapi, intinya
tetap bernada cemas. Lihat saja mereka menulis, ''Dikhawatirkan majalah
porno itu akan berkembang sebagaimana di negara asalnya, meski pada
edisi pertama Indonesia itu tidak terdapat gambar telanjang,'' tulis Al
Watan. Kekhawatiran itu juga tecermin di harian Jordania, Al Ra'yu.
''Edisi pertama itu memang tidak memuat gambar porno. Tetapi, semua tahu
itu majalah porno. Langkah sengaja pada edisi pertama itu tampak
merupakan kecerdikan penerbitnya,'' tulis Al Ra'yu.

Kekhawatiran itu bahkan telah merebak ke negara tetangga, Malaysia.
Hanya sehari setelah terbitnya Playboy di Indonesia, pihak Bea dan Cukai
negara itu memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap para pendatang dari
Indonesia. Tidak hanya orang Indonesia, tetapi terutama warga Malaysia
yang baru pulang dari Indonesia.

''Kita tidak akan menoleransi siapa pun yang mencoba menyelundupkan
Playboy Indonesia ke sini,'' kata Dirjen Bea Cukai Malaysia (KDRM),
Datuk Abdul Rahman Abdul Hamid. Abdul Rahman berjanji, pihaknya akan
menerapkan hukuman berat, berupa denda maksimum 20 ribu ringgit, dan
atau hukuman maksimal tiga tahun untuk para penyelundup Playboy atau
barang berbau pornografi lainnya.

Ia juga menyatakan, pemeriksaan ketat itu diberlakukan pada setiap pintu
masuk menuju Malaysia, antara lain, Bandara Internasional Kuala Lumpur,
Bandara Bayan Lepas, Pulau Pinang, serta Bandara Sutan Ismail di Senai,
Johor. Bagi pendatang lewat laut, mereka akan diperiksa di Pelabuhan
Malaka, Pelabuhan Stulang, Johor, serta semua pelabuhan yang ada.

Layakkah kekhawatiran itu? Di luar pemeriksaan ketat, praktisi media
senior, Farid Gaban, menyepakati hal tersebut. Farid, yang gigih
mempertahankan sikapnya bahwa Playboy tidak hanya sebuah majalah,
melainkan gaya hidup, juga mempertanyakan keistimewaan yang diperoleh
Playboy Indonesia untuk 'tampil lain'.

''Membeli franchise sebuah majalah asing, setahu saya, tidak semata
membeli brand tapi juga serangkaian standard operating procedure (SOP):
tata cara beroperasi secara bisnis, dalam pemasaran, penyajian, bahkan
dalam keseluruhan corporate culture,'' tulis Farid dalam sebuah polemik
di dunia maya. Hal itu, menurutnya, berlaku sebagaimana McDonald's,
Starbucks, atau National Geographics Indonesia.

Jadi, menurut Farid, bagaimana Playboy Indonesia bisa demikian istimewa
untuk keluar dari corporate culture Playboy, seperti tecermin dari pesta
ulang tahun Hefner tadi?

Atau, benar sebagaimana kekhawatiran banyak pihak. Playboy versi
Indonesia saat ini sedang berselimut, sebelum membuka jati diri pada
saatnya kelak.
(dsy/afp )


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke