Dik Rahima ysh, baiklah saya jawab sedikit. Namun mohon maaf bila kurang memuaskan, karena memang saya lagi sibuk dan kebetulan ada tamu juga.
--- In [EMAIL PROTECTED], Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- datuk_endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, raso > > dibao naiak, > > pareso dibao turun, pareso bana raso di dalam, antah > > iyo antah > > indak. Ungkapan ini sebenarnya memiliki nilai > > hakikat yang tinggi. > > Pertama, kesepakatan untuk meletakkan sistem nilai. > > Kedua, upaya > > introspeksi masing-masing, khususnya untuk kaum > > Paderi. > > Kanda datuak Endang, tarimokasih ateh storynyo. > > The best story, but,..not answer my question?. > > Sudah lama saya tidak membaca, bahkan sudah lupa sama > sekali cerita sejarah Indonesia, Sumbar, dllnya, > kecuali yang hangat-hangat saja, yang realita ada > didepan mata saya aja.Kata orang, sering kalau menulis > sejarah itu, tergantung siapa penulisnya, versi > manakah dan dimanakah dia berada. Ingat perkataan > sanak Arnoldison, bahwa menulis sejarah itu haruslah > melihat dua sisi, dan ...seterusnya. > > Juga saya ingat saat kanda menceritakan di milist RGM, > sejarah sia tuh da, lupo pulo ambo, mengenai urang > Minang di Arab, Turki. Katiko tu ambo kecekkan indak > baitu, dan pak Saaf kalau indak salah, atau sialah nan > sapandapek jo ambo juo. > > Soal sejarahko macam-macam versi urang, urang Belanda, > japang, kamudian baa kurikulum sejarah nan ado di > sekolah-sekolah, biasonyo katiko Bpk Soeharto > manjabat, maka nan elok satantangan masa > pemerintahannyo, samantaro nan lain di...baitulah > sataruihnyo, dan itu sababnyo kurikulum awak acok > baganti taruih, tagantung sia nan mamaciknyo. > > Balain jo sejarah /story nan ado di AlQuran, dari dulu > sampai kini baitu juo, dek nan mambueknyo Allah > Ta'ala. Senang bila adik sudah ada perhatian mengenai hal ini. Ketiga orang Minang itu adalah mahasiswa Al Azhar, dan inisiator pertama gerakan Paderi. > > > > > Mohon kita pahami, kenapa ungkapan itu dimulai > > dengan "adat", dan > > bunyi "kato"-nya mendaki. Bahwa orang Minang > > mendasarkan falsafah > > hidupnya terhadap adat, yang bersesuaian dengan > > syariat Islam. Bahwa > > adat itu sendiri adalah jalan Islam, setelah > > membuang hal-hal yang > > tidak bersesuaian dengan syariat. > > Buliah ambo batanyo kakanda, dek ambo lahia dan gadang > dirantau urang, jadi kurang mangarati masalah iko. > Kecek kanda dalam carito tu, bahwa alah tajadi > pergulatan antaro urang ugamo dan urang adat. Kalau > buliah ambo tau, apo-apo sajo nan jadi pertentangan > tu, dan baa caritonyo koq sampai akhianyo tajadi > kesepakatan lahia motto ABS_SBK. > > Jadi ABS_SBK tu, indak dari awal munculnyo yo? Hmmm... > > Dan dalam alinea, atau paragraf diateh, kanda tuliskan > > setelah > > membuang hal-hal yang > > tidak bersesuaian dengan syariat. > > Apo tuh nan dibuang yang tidak sesuai dengan syari'at? > Kisah tentang Perang Paderi ini terserak di berbagai tempat, dapat juga dipelajari dari informasi di internet, dapat digunakan mesin pencari yahoo atau google. Beberapa tambo juga menyebutkan sejarah ini. Sebelum ABSSBK, falsafahnya adalah adat basandi alua jo patuik. Sebagian versi menyebutkan adat basandi syarak, syarak basandi adat. Hingga menjelang Paderi, kekuasaan para penghulu adalah hampir tak terbatas di dalam negerinya masing-masing. Kekuasaan ini cenderung disalahgunakan, seperti beristri banyak, judi, khamar, dsb. Karena tidak ada otoritas lain di atas setiap negeri. Karenanya kalau disimak tambo yang diterbitkan setelah itu, ketentuan adat sangat fokus terhadap persyaratan seorang penghulu. Termasuk berbagai perlambang yang mengingatkan tugas dan kewajibannya. Hal ini kemudian melahirkan tatacara baru, seperti: kalau tidak ada yang pantas, jabatan penghulu dapat dilipek, digantuang baju, atau hingga ditumpang. > > > > > Sebuah contoh saya coba kemukakan, terkait diskusi > > yang tengah > > berlangsung, dan mohon diperhatikan lambat-lambat. > > Masalah tanah > > ulayat, apakah memang merupakan harta yang dapat > > diwariskan? Saya > > tertarik dengan analisis Ali Shariati yang mengambil > > dikotomi Habil > > (pendamai) dan Qabil (pembunuh). Perbedaan mereka > > terletak pada > > pekerjaan mereka: Habil adalah seorang > > pemburu/penggembala, dan > > Qabil adalah seorang petani. Pola pekerjaan telah > > membentuk watak > > yang sangat berbeda. Habil melakukan kegiatan > > ekstraktif, sekedar > > mengambil dari alam yang telah diberikan oleh Allah > > begitu saja. > > > Qabil melakukan kegiatan reproduktif, mengolah tanah > > dan melakukan > > kegiatan pertanian. Pola ekstraktif melahirkan watak > > merdeka dan > > pasrah; > > Allahu'alam. rato-rato negara awak adolah negara > agraris, masyarakatnyo banyak nan jadi petani. Apakah > banyak diantaro kito berwatak merdeka dan pasrah? > > Banyak pulo diantara manusia yang menjadi > pengembala.Peternak. Mohon juga dipahami teknik analisis Ali Shariati. Seperti Karl Marx, hanya dengan menganalisis Revolusi Perancis malah sudah bisa melahirkan "agama" baru. Saran saya, sebaiknya dibaca dulu Man and Islam itu, mungkin saya kurang tepat menjelaskan. > > pola reproduktif melahirkan watak ingin > > menguasai dan > > memberikan batas. Ketika diminta persembahan untuk > > membuktikan > > ketaatan, watak merdeka berusaha memberikan yang > > terbaik, sedangkan > > watak terkungkung justru menakar bentuk persembahan. > > Akhir cerita, > > ketidakpuasan melahirkan cerita pembunuhan. Dan > > sungguh merugi kita > > ternyata kita adalah anak keturunan seorang > > pembunuh. Dengan > > tipikal: suka terhadap penguasaan tanah, > > memberi-beri batas, dan > > seterusnya. > > Bagaimana dengan hukum-hukum Allah yang memberikan > batas-batas dalam banyak hal, apakah ini juga tipikal > pembunuh, tipikal suka menguasai, sebenarnya type suka > menguasai siapakah, dan dari daerah manakah, serta > bagaimanakah bentuknya? > etc.. Saya kurang bagus menjelaskan, sebaiknya baca langsung bukunya. > > .> > > Walau saya tidak sepenuhnya sependapat dengan Ali > > Shariati, bertahun- > > tahun saya mencari-cari kelemahan itu dalam Islam > > dan ternyata tidak > > ketemu. Apalagi dik Rahima sudah menjelaskan hadits > > dhaif mengenai > > cinta negeri itu sebagian dari iman. Dan sedikit > > kesimpulan: > > sebenarnya Islam tidak mengatur masalah wilayah, > > atau steril > > terhadap pengaturan tanah. Dengan kata lain, > > ber-Islam adalah > > berkeinginan untuk melepaskan hal-hal yang > > mengungkung pemikiran, > > bersyukur nikmat, dan pasrah terhadap kekuasaan > > Allah. > > Tepat, islam tidak mengukung pemikiran seseorang, > karena itu banyak dalam AlQuran dipakai " Apakah kamu > tidak berfikir?". > > Tapi dalam hal-hal tertentu ada yang harus kita taati > dan pasrahkan, apabila itu sudah menjadi ketentuan > dari Allah ta'ala, termasuk masalah pembagian warisan, > apakah itu warisan berupa tanah, ladang, sawah > etc,..karena Allah maha kuasa mengatur segalanya. > > > > > Karenanya saya cukup takjub dengan kearifan nenek > > moyang kita dulu, > > bahwa memang tidak ada kepemilikan individu di dalam > > komunitas adat, > > apalagi itu harus diwariskan ke anak keturunan. > > Bahwa tanah ulayat > > itu memang berbatas, namun sebatas penunjukan jari > > tangan, untuk > > menghindari perbenturan dengan kaum lain dalam > > pengolahan. Tanah itu > > tidak dimiliki, tapi dikuasai untuk dimanfaatkan > > secara bersama > > dalam kaum. Bukankah ini suatu bentuk kehidupan yang > > Islami? Dan > > rasanya berabad-abad, berbilang zaman, dan berbilang > > mazhab hal ini > > tidak menjadi masalah di ranah Minangkabau. > > Saya masih kurang mengerti dengan tanah ulayat ini. > Masalah madzhab? Saya kira pembahasan dalam madzhab > mengenai ranah Minang belum tercantum memang, dalam > madzhab yang ada adalah hukum-hukum islam secara umum. > Jadi gimana mau dipermasalahkan oleh madzhab, karena > memang belum ada. Ataukah masalah ranah Minang lebih > dulu lahir, atau madzhab yang lebih dulu ada? Kurang lebih maksudnya, agama Islam di Minangkabau telah ada sejak sekurangnya 700 tahun yang lampau. > > > > > Sistem adat juga mengatur sistem keseimbangan > > terhadap penggunaan > > lahan ini. Mungkin sejak awal abad 20 ketika tanah > > yang ada > > dirasakan semakin sempit, orang Minang terpaksa > > harus "keluar" dan > > menumbuhkan budaya merantau. Hal ini menunjukkan > > penghargaan > > terhadap sistem nilai yang ada. > > Saya kurang faham masalah ini, apa yang dimaksudkan > semakin sempit, dan menghargai terhadap sistem nilai > yang ada. kenapa sampai jadi semakin sempit, ada apa > dan kenapa dengan sistem nilai? Pengertian sempit adalah di atas sawah nan sabingkah, hasilnya harus dimakan oleh lebih banyak orang. Sistem nilai: untuk mengembangkan sawah ladang tidak memungkinkan, sehingga harus mencari hasil "di tempat lain". > > > > Bila sekarang hal itu menjadi masalah, mohon diingat > > ada > > faktor "eksternal" yang berperan di sini. Namun juga > > tidak dinafikan > > faktor "internal", seperti perubahan budaya bertani, > > sehingga "cara" > > penggunaan lahan menjadi berubah. > > Faktor eksternalnya apa kanda? Untuk masalah tanah: sistem kadaster, cultuur stelsel, pajak kopi, hingga politik pertanahan. > > > > Mudah-mudahan ini dapat menjelaskan keheranan saya > > tentang sistem > > wakaf, wasiat, faraidh, dan sebagainya yang > > didiskusikan di dalam > > konteks tanah ulayat. Dan sungguh dapatkah kita > > katakan adat dan > > agama itu bagai aua jo tabiang, rueh jo buku, dst, > > setidaknya dalam > > pemahaman masyarakat umum? > > Allahu'alam. Diskusi kita adalah masalah HPT, asal > usulnya bagaimana, dan terkahir saya bertanya : Apakah > HPT itu termasuk dari tanah atau harato: > > 1. Warisan > 2.Wasiat/amanah > 3. Syarikat > 4. Wakaf > 5. Luqthah(dapatan begitu saja asalnya) Dari diskusi yang ada saya dapat memaklumi bila Rahima tidak salah dan penanya atau pemberi keterangan juga tidak salah. Rahima menjawab dengan dalil agama yang dikuasai, karena berdasarkan keterangan atau pemahaman yang umum seperti itu. Dalam kesempatan ini izinkan saya meluruskan berbagai persepsi yang ada, bilamana tanah ulayat itu bukanlah terkategori "harta" dalam pemahaman umum dan agama. Penjelasan saya terdahulu mohonlah dikembangkan juga oleh para ahli. Sebenarnya beberapa puluh tahun yang lalu, telah ada upaya pengkategorisasian tanah ulayat, seperti yang saya temui dari alm. Dt. Rajo Penghulu. Beliau menyebutkan, di dalam suatu negeri terdapat kategori tanah ulayat: - ulayat negeri - ulayat kaum, di dalamnya terdapat pusako tinggi - ulayat penghulu. Bila diizinkan saya mengembangkan rumusan sebagai berikut: - Ulayat negeri, termasuk di dalamnya hutan rimba, tanah lapang, fasilitas umum, dlsb, berada dalam pengelolaan kerapatan - Ulayat kaum, pengelolaannya dilakukan oleh penghulu dibantu dengan mamak kaum - Ulayat penghulu, atau tanah kebesaran, berada dalam kewenangan penghulu. Di dalam ulayat kaum terdapat lingkungan rumah gadang, pandam pakuburan, sawah ladang, permukiman kaum, dan sebagainya. Seorang penghulu dapat melimpahkan wewenang pengelolaan tanah kepada seorang kemenakan untuk diolah menjadi rumah, sawah, dsb, yang sering juga disebut sebagai tanah pangatuo. Tanah pangatuo ini yang kemudian sering disebut HPT, sehingga dalam diskusi di milis ini merasa bisa diwariskan kepada keturunan dst. Fungsi penghulu dan mamak kaum kesudahannya hingga saat ini adalah mengawasi penggunaan tanah itu untuk kesejahteraan kaum. Seharusnya, penggunaan tanah pangatuo tetap harus mendapatkan izin dari penghulu yang bersangkutan dan disepakati oleh anggota kaum yang lain. Sebagai contoh adalah kakek saya dari bapak, dulu sebagai sumando diserahkan untuk mengolah sebidang tanah. Namun karena beliau jasadnya kuat ditambah tanggungan anak yang banyak, beliau diperkenankan untuk mengolah tanah yang lebih luas lagi. Saat ini di taratak itu, tanah nenek memang paling luas, walaupun tanah persawahan itu tidak diolah lagi. Namun bagi anak keturunan nenek ada yang ingin menggunakan tanah itu, dipersilahkan, walaupun saat ini tidak ada lagi yang berprofesi sebagai petani, sehingga banyak diperbiarkan terlantar. Jadi asal-usul HPT adalah seperti itu. Tidak patut tanah itu diperwariskan sedemikian rupa. Termasuk juga diperjual-gadaikan, terkecuali dalam keadaan yang "sangat" terpaksa. Sekali lagi "sangat" terpaksa. Sehingga dapat dipermaklumkan di dalam kaum. Hasil usaha yang dilakukan di atas tanah tersebut, dapat dimakan anak keturunan, dan bila perlu dapat menjadi kekayaan yang diwariskan. Namun tanahnya sendiri adalah tetap dalam penguasaan kaum. Bila demikian, apakah masih berlaku hukum faraidh? Sekalian menjawab pertanyaan mengenai asal mula tanah ulayat. Ketika rombongan pertama masuk ke suatu tempat, masing-masing kaum menentukan sendiri wilayah pengusahaannya. Ada bermacam cara, seperti melepaskan kuda berlari, memilih keunggulan lokasi, dsb. Pada masa itu tidak ada masalah, karena tanah masih luas. Tanah penguasaan itu kemudian diolah (manaruko). Jadi batasnya adalah seluas mana kemampuan manaruko. Batas-batas itu kemudiannya diteruskan di dalam kaum, dan merupakan ulayat kaum. Hutan rimba diperbiarkan, sebagai tempat mencari kayu bakar, ataupun hasil-hasil hutan lainnya, sehingga relatif dikuasai secara kolektif. Ini yang kemudiannya menjadi ulayat negeri. Demikian selanjutnya diwariskan hingga kita sekarang ini. > > Memang baru sejak tahun 1815 gerakan ini > > mulai terarah > > kembali, ketika Imam Bonjol telah memegang tampuk > > kepemimpinan dan > > mengarahkan penyerangan ke utara, yaitu mengIslamkan > > tanah Batak. > > Tanah yang di pasaman itu mukasuiknyo kanda. Sebab > katiko di Pasaman ambo banyak mancaliak lahjah(dialek) > Minang disinan mirip Batak. Lebih tepat lagi adalah sampai ke daerah Mandailing (Tapanuli). Tuanku Imam Bonjol menunjuk Tuanku Rao memimpin benteng di Rao, dan Tuanku Tambusai di benteng Dalu-dalu. Sisingamangaraja X meninggal dalam invasi ini. > > > > > Upaya pengIslaman yang terlalu keras kepada > > masyarakat, melahirkan > > resistensi tersendiri, dan malah menimbulkan > > antipati. Hal ini > > tentunya bukan cara yang Islami, dan tentunya > > diperlukan sikap > > empati: bahwa ada hukum Tuhan yang juga tengah > > berlangsung di dalam > > suatu masyarakat yang betapapun dirasakan > > jahiliyahnya. > > Iyah benar. Apa maksud bahwa ada hukum tuhan yang > tengah berlangsung disutau masyarakat yang dirasakan > betapapun jahiliyahnya. Apa itu, bolehkan saya diberi > informasi mengenai hal ini? "Kesadaran" terhadap kemanusiaan, keadilan, persamaan hak, dlsb. di dalam "sebagian" masyarakat itu. > > > > Sikap empati ini juga merupakan sifat Rasulullah dan > > dapat ditemukan > > pada banyak hadits, kalau di dalam adat kita kenal > > sebagai raso- > > pareso. Raso diibaratkan tumbuh di dada, dapat > > berupa budi pekerti; > > yang bersifat kian menurun, karenanya selalu dibawa > > naik. Pareso > > diibaratkan tumbuh di kepala, dapat berupa > > akal-pemikiran, yang > > bersifat kian menaik, karenanya selalu dibawa turun. > > Jadi raso dan > > pareso harus bersesuaian, untuk tercapai > > keseimbangan. Pareso bana > > raso di dalam, antah iyo antah indak. > > Ungkapan nan elok, andaikan ini dimiliki semua orang > "raso pareso", pakai dada/hati dan akal, kan lamak > ndak? tapi apokah realitanyo baitu urang awak > kasodonyo? Koq banyak juo nan ambo danga, atau bahkan > saksikan sendiri baa mental-mental nan kurang elok > masih bersemayam didado urang awak ko. Nan terakhir > ambo caliak postingan dari ajo Dutamardin di RGM, jo > di japri ambo ado mangecekkan : "Baitulah mental urang > awakko, bilo kabarubahnyo lai" > > > > > Saya mengambil sedikit kesimpulan: bahwa perjanjian > > Marapalam dengan > > ikrar ABSSBK adalah sepakat dengan ketentuan syarak > > dalam > > pelaksanaan adat, namun dengan sedikit teguran: agar > > masing-masing > > introspeksi, khususnya untuk kaum Paderi. > > Kenapa harus dikhususkan pada kaum paderi kanda, siapa > mereka-mereka itu dengan pastinya, dan kenapa sampai > begitu. Kalau setahu ambo : "haasibuu anfusakum qablaa > antuhaasibuu". "Intropeksi diri kamu, sebelum kamu > mengintropeksi urang lain". > > Sikap pancimeeh, dllnya nan kurang elok tu dari maa, > dari kaum adatkah, masyarakatkah atau agamakah, kaum > paderikah? > > Jadi manuruik ambo kekhususan itu bukan di > golongannyo, tapi tagantuang pribadi nan malaksanakan > watak-watak nan kurang eloktu. Baa caronyo supayo nyo > batingkah laku sasuai jo adat dan ugamo. mailangkan, > marubah sikap nan kurang elok tu. Bukankah itu daulu > nan diinstropeksi? Saya melihat dalam konteks ini, kaum adat cenderung adalah orang- orang tua, sedangkan kaum Paderi cenderung dari kalangan muda. Mungkin karena itu sebutan untuk urang siak, alim, dsb populer disebut sebagai angku mudo. Selanjutnya begini, mempelajari sejarah adalah tuntunan dalam Al Qur- an, surah pertama. Mohon petunjuk terhadap jalan yang benar, "jalan orang-orang terdahulu" yang Allah telah memberi nikmat, orang-orang yang tidak dimurkai dan tidak pula sesat. Jadi harus berpengetahuan untuk dapat menilai dan memahami hal tersebut. Untuk belajar khususnya mengenai sejarah diperlukan sikap tawaddu' dan sabar. Bolehlah saya bercerita untuk adik yang juga senang bercerita. Beberapa ribu tahun yang lalu, di suatu tempat tidak jauh dari tempat adik duduk sekarang ini, adalah seorang pemuda yang penuh kharisma dan pandai. Sehabis menyampaikan pidato di depan khalayak, terbersit di dalam hatinya kekaguman, "Wahai, mereka terkesima dengan perkataanku". Ketika turun dari podium, seorang lelaki terlihat nista dan renta menghampirinya dan berkata setengah berbisik, "Ada seseorang yang lebih pintar dari anda, pergilah ke pertemuan dua laut". Karena saya tidak begitu pandai bercerita, kelanjutannya dapat adik baca di 18:60-82. > > Wassalamu'alaikum Rahima. Wa'alaikum salam. -datuk endang -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

