Sabtu, 06 Mei 2006,(Jawapos) Semua Boeing 737-200 Dilarang Terbang Setelah Batavia Air Tergelincir
JAKARTA - Departemen Perhubungan mengeluarkan larangan sementara pengoperasian pesawat Boeing 737 seri 200. Keputusan yang berlaku hingga ada hasil pemeriksaan oleh DSKU (Dewan Sertifikasi Kelaikan Udara) tersebut dikeluarkan setelah pesawat jenis itu milik Batavia Air tergelincir di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 5.30 kemarin. Dirjen Perhubungan Udara Moh. Iksan Tatang mengatakan, pihaknya telah menyurati setiap maskapai agar tidak menggunakan Boeing 737-200 sebelum pemeriksaan DSKU tuntas. Saat ini, ada 50 pesawat Boeing 737- 200 yang masih dimiliki maskapai nasional. "Kelemahan pesawat 737-200 ini pada sistem hidrolisnya. Ini yang akan diteliti, apakah pesawat jenis tersebut masih laik terbang," terangnya. Nahas yang menimpa Batavia Air kemarin diduga juga akibat kerusakan sistem hidrolis. Pesawat bernomor penerbangan BTP 843 itu tergelincir saat hendak mendarat darurat. Meski tidak ada korban jiwa, tiga penumpang mengalami luka-luka serius. Iksan menjelaskan, tergelincirnya Batavia berawal ketika pesawat dengan 127 penumpang tersebut baru saja take off. Begitu memasuki ketinggian 1.000 kaki, pesawat mengalami gangguan mesin. Itu terlihat dari menyalanya lampu peringatan. Sesuai prosedur keselamatan penerbangan, pilot Sutrisno memutuskan untuk mendaratkan pesawat kembali ke Bandara Soekarno Hatta. Namun, pendaratan darurat tersebut tidak berjalan mulus. Roda belakang pesawat terperosok ke dalam tanah hingga satu meter. Akibatnya, pesawat itu keluar dari landasan. Kejadian tersebut sempat membuat para penumpang pesawat panik. Akibatnya, tiga orang penumpang -Ishak Mandala, 51, anggota DPD asal Irian Jaya Barat; Margie Putubesi, 11, warga Jalan Raya Rajawali No 4 Lembah Hijau, Cimanggis, Depok; dan Johan Siswono, 53, warga Jalan Biru Laut 8 No 18, Cawang, Jakarta Timur- terluka. Mereka sempat mendapatkan perawatan di poliklinik bandara. Dua di antara mereka diperbolehkan pulang. Satu orang, Johan Siswono, kini masih dirawat di Rumah Sakit Medika Internasional Jakarta Timur. "Kita masih menyelidiki kejadian ini. Jadi, belum bisa menyimpulkan apa penyebab kerusakan pesawat," kata Iksan. Sementara itu, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Setyo Raharjo memastikan, pesawat Batavia Air tergelincir karena mengalami kerusakan di sistem hidrolis pada alat otomatis untuk membuka tutup kokpit dan membuka roda. "Hidrolisnya tak berfungsi normal," tegasnya. Setyo menambahkan, komite akan menyelidiki hubungan antara indikator yang menyala tersebut dan ban pesawat yang pecah ketika kembali mendarat. Proses evakuasi penumpang dan pesawat berjalan cukup lama. Sebab, pesawat Batavia Air tersebut tergelincir hingga keluar jalur landasan. Sebagian badan pesawat rusak karena terkena gesekan, sementara semua rodanya masuk ke dalam tanah. Sampai pukul 16.00 kemarin, pesawat masih berada di pinggir landasan runway selatan. Petugas sedang berupaya mengeluarkan roda pesawat yang masuk ke dalam tanah. "Setelah roda dikeluarkan, baru pesawatnya bisa ditarik dari landasan ini," kata salah seorang petugas evakuasi. Karena posisi pesawat tepat di tengah landasan pacu dan akan mengganggu pesawat-pesawat lainnya, pihak bandara memutuskan menutup landasan tersebut dari pukul 6.00 hingga 9.00. (chn/jpnn) -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

