Waalaikumsalam w.w. Ambo sabana taharu dan hormat kapado satiok urang nan barani maubah nasib jo tanagonyo sandiri dan mulai dari bawah, saroman Ananda Amrizal nan dicuritokan itu. Mudah-mudahan iko mambuktikan sakali lai batuanyo ajaran ugamo kito bahaso Tuhan indak kamaubah nasih uran surang kalau indak inyo surang nan maubahnyo. Ambo paliang maleh mandanga dan mancaliak urang nan mangaluah sajo bakapanjangan, padohal apo pun bisa bahasia asa tekun, dan .... jujur. Wassalam, Soetan Madjolelo (69th).
Z Chaniago <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamu'alaikum Ww .....hhhmmmmm..... karakok pun dapek iduik di ateh batu ...... suatu mamangan nan acok dikatokan Alm Angku Dt Usup ( M.Yusuf Dr Tan Tumajolelo-Tuo) ka kami ketek-ketek di awal 80-an di Kelok 1......di saat maagiah semangat untuak malakukan sesuatu daripado bapangku tangan..... .... dengan 'menjual rasa dan pelayanan', apapun bisa dijual..... Wassalam Palai Rinuak - http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/08/metro/2634945.htm Amrizal, Modal Awal Cuma Rp 120.000 Jika Anda hanya punya uang Rp 120.000, apa yang dapat Anda lakukan dengan modal sejumlah itu? Di tangan Amrizal (36), lelaki kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, modal tersebut dibelikannya lima liter beras, setengah kilogram ikan kembung, tiga ayam, satu kilogram daging sapi, dan lima butir telur ayam. Bersama istrinya, Amrizal mengolahnya menjadi masakan padang dan dijual di kios kaki lima berukuran 2 x 2 m di Pusat Jajan Golden Road, di seberang pusat perbelanjaan ITC Bumi Serpong Damai, Tangerang. Hari pertama berjualan, 24 Januari 2005, ia memperoleh pendapatan Rp 175.000 dari menjual nasi padang seharga Rp 5.000 per porsi. Pada hari itu bahan bakunya masih tersisa, 20 potong daging rendang. Dalam waktu tiga bulan, omzet dagangan nasi padang yang dia beri nama Ombak Muaro ini rata-rata Rp 600.000 per hari. Dan sejak ITC dibuka pada Mei 2005, omzetnya naik lebih dua kali lipat, menjadi rata-rata Rp 1,5 juta per hari! Hingga kini omzetnya tetap stabil pada kisaran angka itu. Sebelum membuka warung nasi padang, Amrizal dan istrinya pusing tujuh keliling mencari pinjaman uang, mengingat rumah kontrakannya di Serua Permai sudah harus dibayar, sedangkan tabungannya nol. Satu-satunya hartanya adalah Honda GL 1995. "Tadinya mau saya gadaikan, tapi tak ada yang mau memberi pinjaman," tutur Amrizal, yang pernah bekerja menjadi kernet dan sopir angkot di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Istrinya bahkan sempat menangis akibat sulitnya mencari pinjaman. Akhirnya, motor Honda GL itu laku dijual Rp 5 juta. Dari jumlah itu, Amrizal dapat membayar rumah kontrakan Rp 2 juta setahun, membeli etalase kios Rp 1 juta, dan perabotannya seharga Rp 380.000. Ia masih memiliki sisa untuk pembayaran uang muka membeli motor Honda Supra X Rp 1,5 juta. "Sisa Rp 120.000 itulah yang saya jadikan modal awal membeli bahan baku makanan," papar Amrizal kepada Kompas. Dalam waktu 11 bulan sejak dia memulai usaha, pada Desember 2005 ia sudah mampu membeli mobil Toyota Kijang tahun 1988 seharga Rp 43 juta dari hasil berjualan nasi padang itu. "Saya punya target, dalam satu bulan harus dapat menabung sedikitnya sepuluh juta rupiah," ungkapnya sambil tertawa riang. Pernah kuliah Lelaki yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Fakultas Olahraga di Padang tapi tidak tamat ini mengenang masa-masa sulitnya. "Saya pernah jadi pengojek di Ciputat. Tetapi, karena saya membawa Honda GL dan mungkin tampang saya seram, banyak yang takut kalau menumpang ojek saya. Hanya pada saat-saat hujan orang menggunakan jasa ojek saya," kenang Amrizal, yang selama lima bulan sempat menjadi pengojek. Lalu dia punya tekad kuat untuk mengubah nasibnya. "Tuhan tak akan mengubah nasib manusia jika kita tak mengubah nasib kita sendiri," ungkapnya. Berbekal kesabaran, keuletan, kerendahhatian, Amrizal yang bermental baja ini pun memutar otak dan akhirnya memutuskan untuk berdagang masakan padang, yang menjadi keahlian turun-temurun keluarganya di Pariaman, Sumatera Barat. Kini harga masakan padangnya Rp 7.000 per porsi, sudah termasuk tambah nasi. "Yang sering dicari adalah ikan bakar karena racikan bumbunya asli dari kampung saya di dekat laut," tuturnya. Amrizal selalu menegur sapa siapa saja yang lewat di pusat jajan kaki lima itu, walaupun yang dipesan adalah makanan lain. Ia memberi potongan harga Rp 1.000 untuk anggota satpam dan semua pedagang di pusat jajan itu. Ia juga sering memberi insentif kepada orang yang memesan makanan kepadanya. Selain itu, ia juga menerima layanan jasa pesan-antar dalam radius 3 kilometer tanpa tambahan biaya. Ia rajin mendatangi para pedagang toko emas dan telepon seluler di ITC, dan mempromosikan masakannya. Jika pada masa awalnya Amrizal dan istri harus membeli sendiri semua bahan baku ke Pasar Ciputat, kini justru ada yang mengantarkan semuanya ke rumahnya dengan harga diskon pula. "Sekarang saya tak punya utang kepada siapa pun," ungkap Amrizal yang berputra satu ini dengan nada bangga. Ia menambahkan, "Hidup ini merupakan ibadah. Apa pun yang kita kerjakan adalah ibadah, karena itu harus dilakukan dengan ikhlas demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat." (ksp) --------------------------------- Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone calls to 30+ countries for just 2ยข/min with Yahoo! Messenger with Voice. -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

