Assalamu'alaikum Ww

Tentang seorang sesepuh...ups... pituo mungkasuik-nyo..........nan masih aktif...

SOL

Wassalam

Palai Rinuak



http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/08/nasional/2633080.htm


Awaloedin Ubah Buruh Jadi Pekerja
Kenangan Pribadi atas Semua Presiden



Julius Pour

Peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei selalu membekas di hati Prof Dr Awaloedin Djamin. "Waktu itu, akhir Maret 1966, pangkat saya masih KBP, setara kolonel, dan baru saja ditunjuk oleh Pak Harto untuk menggantikan posisi Menteri Perburuhan Soetomo, yang digeser karena dinilai sebagai Orde Lama," tuturnya.

Waktu itu Indonesia baru saja berhasil menggagalkan aksi perebutan kekuasaan kaum komunis, Gerakan 30 September (G30S). Pada kenyataannya, Partai Komunis lewat Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) selalu mengklaim bahwa buruh adalah kekuatan utamanya.

Untuk menghilangkan konotasi keliru, Awaloedin langsung mengganti istilah buruh menjadi tenaga kerja. "Maka saya jadi menteri tenaga kerja, bukan menteri perburuhan. Tetapi, dilemanya langsung harus saya hadapi, mengingat sebulan kemudian sudah masuk ke tanggal 1 Mei, ada tidak peringatan Hari Buruh?"

"Kalau tidak ada peringatan, pasti terjadi geger yang enggak perlu. Saya putuskan, harus diperingati. Maka tanggal 1 Mei 1966, pemerintah Orde Baru ikut melakukan upacara tersebut. Tahun berikutnya langsung saya hapuskan. Kita cari Hari Buruh Nasional saja, tak perlu yang internasional, nanti malah harus nyanyi lagu Internasionale... segala."

Mennaker pertama

Berbincang dengan Prof Dr Awaloedin Djamin sangat menyenangkan. Meski usianya sudah 78 tahun, pengalamannya yang beragam, dilengkapi pengetahuan luas serta daya kritisnya dalam menyorot setiap persoalan, menjadikan pembicaraan menjadi hangat. Pada umumnya orang hanya ingat bahwa dia bekas Kepala Polri sekaligus pensiunan jenderal polisi berbintang empat.

Tidak banyak yang sadar, dia adalah mahasiswa Indonesia pertama alumnus program master dari The Graduate School of Public and International Affairs Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, AS, sekaligus doktor ilmu administrasi negara dari University of Southern California di Los Angeles.

Dengan pangkat kolonel polisi, tahun 1966 dia telah ditunjuk menjadi menteri tenaga kerja pertama di masa pemerintahan Orde Baru. Selepas itu jadi Ketua Lembaga Administrasi Negara (LAN), Ketua Proyek Penyempurnaan Aparatur Pemerintahan dan Ekonomi Negara, duta besar di Jerman, baru kemudian jadi Kepala Polri pada masa Jenderal Yusuf menjabat Panglima ABRI.

Semasa jadi mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) angkatan pertama, Awaloedin pernah main film Dosa Tak Berampun arahan sutradara Usmar Ismail, kemudian juga pemain utama dalam drama I Swasta Setahun di Bedahulu karya Nyoman Pandji Tisna.

Karier dalam politik juga menarik: Sekretaris Dewan Pembina Golkar sampai Ketua Fraksi Karya Pembangunan di DPR. Setelah pensiun, dia diminta jadi Rektor Universitas Pancasila. "Bahkan sampai hari ini dia satu-satunya bekas Kepala Polri yang masih berkantor di Mabes Polri, sebab kini jabatan resminya Koordinator Staf Ahli Kepala Polri," ujar Hermawan Kartajaya, pendiri lembaga riset Mark Plus.

Pemimpin yang baik, menurut Awaloedin, harus tanggap kepada persoalan dan cepat serta cermat ketika memilih kebijakan. Dalam mengatasi keruwetan personalia, dia memuji ketegasan Pak Harto, sebagaimana tampak ketika menghadapi rangkap jabatan wakil presiden dan Ketua Umum Golkar. Pujian serupa juga dia kemukakan untuk Bung Karno.

"Tanggal 7 November 1963 Menteri Pertama Djuanda mendadak meninggal dunia. Ada dua menteri yang saat itu berambisi menggantikan posisi almarhum, Soebandrio dan Chaerul Saleh. Bung Karno tentu saja memahami hal tersebut, maka seketika itu juga diumumkan, jabatan menteri pertama dihapus, diganti dengan istilah perdana menteri yang akan dia jabat sendiri."

Rivalitas antara Soebandrio dan Chaerul Saleh dikendalikan dengan cara Soebandrio dijadikan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I, Leimena Waperdam II, dan Chaerul Saleh Waperdam III dengan tambahan pesan, kedudukan semua waperdam sejajar. "Pak Djuanda satu-satunya Menteri Pertama dalam sejarah Indonesia. Setelah beliau meninggal, jabatan tersebut tidak pernah lagi diadakan."

Pejabat presiden

Menyinggung pembagian tugas antara presiden dan wakil presiden, Awaloedin mengingatkan, "Zaman dulu, setiap kali Bung Karno bepergian ke luar negeri, oleh karena dia sudah tidak punya wakil presiden setelah Bung Hatta mengundurkan diri, selalu dibikin surat pengangkatan pejabat presiden. Biasanya Pak Djuanda. Kemudian, setelah (Djuanda) meninggal, pejabatnya selalu Pak Leimena. Setelah surat penetapan dibikin, Bung Karno berangkat ke luar negeri, bisa sebentar, tapi pernah juga selama beberapa minggu. Selama itu tugas sehari-hari presiden secara otomatis langsung diambil alih pejabat presiden...."

Oleh karena itu, Awaloedin tidak habis mengerti, mengapa beberapa waktu lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mengadakan telekonferensi segala, padahal dia secara resmi mempunyai wakil presiden. "Bagaimana dia bisa tuntas tugasnya di tempat kunjungannya kalau masih berusaha tetap (ingin) memimpin rapat kabinet. Jangan lupa, perbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika sekitar 12 jam. Lha apa Presiden tidak pernah beristirahat?"

Tanggal 6 Oktober 1969 di Bandung terjadi perkelahian massal antara mahasiswa ITB dan taruna Akabri Kepolisian, sebagai dampak dari tewasnya Rene Coenraad yang tertembak oleh polisi. Awaloedin melukiskan suasana saat itu.

"Kepala Polri Hoegeng dan Deputi Operasi Katik Soeroso sedang melawat ke luar negeri untuk menghadiri sidang Interpol. Sementara itu, Wakil Kepala Polri T Azis sakit, jatuh saat di mimbar ketika mendampingi Jenderal Panggabean pada upacara peringatan Hari ABRI."

"Waktu itu saya hanya Deputi Kepala Polri Urusan Khusus. Karena memang tidak ada lagi pejabat lain, saya tiba-tiba harus langsung menjadi pimpinan Polri, menjadi pejabat Kepala Polri tanpa SK, surat keputusan, mengingat situasinya memang kritis...."

Insiden itu kemudian berhasil diselesaikan. Rene dimakamkan di Jakarta, maka dia minta Gubernur Ali Sadikin menyediakan tanah di kuburan Blok P Kebayoran, dia minta Panglima Kodam Jaya Poniman membantu angkutan untuk para mahasiswa dan Awaloedin datang sendiri ke gereja dan kuburan mengucapkan bela sungkawa.

Beberapa hari kemudian, Kepala Polri Hoegeng kembali dari lawatannya dan Awaloedin menyampaikan laporan tentang peristiwa Rene. "Prinsip saya, selagi saya masih mampu menangani, saya tidak akan pernah melaporkan kepada atasan yang sedang bertugas di luar negeri. Begitu juga Pak Hoegeng, meski beliau mendengar dari berita di radio bentrok antara mahasiswa dan polisi, beliau tidak lantas menelepon atau mencoba memberi petunjuk.

Langkah kami profesional, harus dan sudah tahu tugas masing-masing," katanya.

Tidak memanfaatkan

Dengan semua presiden Indonesia, Awaloedin memiliki kenangan pribadi tersendiri. Sebagai buah dari hasil studinya di bidang ilmu administrasi pemerintahan, dia selalu menempatkan segala sesuatunya secara proporsional dilandasi sikap profesional.

Dalam kata-katanya, "Saya tidak ingin menjadikan sebuah kedekatan pribadi untuk bisa meraih keuntungan. Bung Karno adalah saksi perkawinan karena saya menantu Pak Djuanda. Dengan Pak Harto, beliau yang meminta saya menjadi menteri tenaga kerja pada bulan Maret 1966 sesudah Menteri Perburuhan Soetomo ditangkap karena terlibat G30S. Habibie, saya menjadi dubes di Jerman ketika dia masih di sana."

Tentang Gus Dur, Awaloedin punya kisah menarik. "Waktu itu saya akan meluncurkan buku tentang Pak Djuanda. Oleh karena saya ingin acaranya berlangsung lancar dan saya lihat kesibukan Gus Dur sangat luar biasa, maka saya sengaja datang ke Mega, waktu itu dia wapres.

"Secara resmi saya minta kata sambutan untuk acara peluncuran buku. Kurang sehari dari saat acara berlangsung, baru saya menghadap Gus Dur, di kantornya di Jalan Irian. Saya sampaikan mengenai acara peluncuran buku termaksud. Sambil berbaring santai di sofa, Gus Dur bertanya, ’Wal, kapan acaranya?’ Besok malam, jawab saya. Langsung saja Gus Dur menukas, "Ya, saya datang."

Awaloedin berkata, "Baru kali itu saya benar-benar sangat kaget. Semula saya pikir, kalau diberi tahu waktunya mepet, Gus Dur pasti tidak bakal bisa hadir. Lha, ini malah dia pastikan datang. Terpaksa, saya telepon Mega, meminta maaf, besok dia enggak perlu membacakan sambutan. Selama acara peluncuran buku berlangsung, Gus Dur dan Mega duduk satu meja dengan saya. Tetapi, hanya Gus Dur yang kemudian tampil memberi kata sambutan...."

Julius Pour Wartawan, Tinggal di Jakarta




Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke