AssWrWB,
Banyak nya para dosen/guru besar yg direkrut oelh
Pmrth baik Pemda atau Pusat, merupakan phenomena
tersendiri. Dibwh ini saya forwardkan sebuah artikel
ttg hal itu. Masalahnya apakah kita punya alat ukur
/parameter yg mengulut kinerja "birokrat dr tokoh
universitas tsb? Dan mau melaksanakan nya scr terbuka
kinerja/dan leadership yg telah dilaksanakannya?
Bukan berdasarkan teori "perasaan/embel gelar akademis
saja dan aliansi politik". Krn ada yg mengatakan "
leadership is art". Siapa mendapatkan apa adalah
politik, bgmn lamak diawak katuju diurang, ini soal
lain lagi., hak2 rakyat yg terayomi/terlindungi..ini
"a lot of thing to do man"..
Saya melihat disini lah peranan LSM utk memonitor
kerja pemimpin dan mengevalusinya.Saya Terimakasih
sama FPSB yg telah menelorkan usaha2nya yg brilliant. 
Pertanyaan : Apakah Ikatan Alumni mau dan bisa
memberikan kontribusi utk menilai kinerja Pemimpin yg
berasal dari /dibesarkan di dan dari Universitas.
Saya pesimis..but anyway.."kegontongroyongan ,
volunteersm, kesukarelawaan dan kepudulian kita" sudah
menurun dan merosot.

Wass. Muzirman
=====================================================



Tokoh Universitas
Oleh Yulizal Yunus, Dekan Fakultas Ilmu Budaya dan
Sastra IAIN Imam Bonjol Pada 
Minggu, 14-Mei-2006, 04:20:46 6 clicks   
 
 
Sebagai seorang warga negara, seorang dosen (tokoh
universitas) terjun menjadi birokrat atau politikus
adalah sah-sah saja. Hal itu dijamin oleh UUD 1945
pasal 28D ayat 3 yang berbunyi bahwa setiap warga
negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintahan.  
 
 
Apalagi dosen itu adalah warga negara terdidik dengan
gelar prestisius doctor atau professor. Dosen itu
termasuk orang yang telah mendapatkan haknya
sebagaimana dinyatakan dalam UUD 1945 pasal 28C bahwa
setiap orang berhak mendapat pendidikan dan memperoleh
manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi demi
meningkatkan kualitas hidupnya. Apalagi kalau dosen
itu adalah PNS. Sebagaimana guru, dalam Undang-Undang
nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen ditegaskan
bahwa guru yang diangkat oleh pemerintah atau
pemerintah daerah dapat diangkat pada jabatan
struktural. 

Bukan sekedar sah-sah saja, tetapi juga banyak yang
berharap dari tokoh universitas yang terjun ke dunia
birokrasi atau politik. Minimal ada tiga alasan.
Pertama, tokoh universitas sudah terbiasa dengan
konsep-konsep, sehingga dia akan selalu berpikir dan
berbuat secara konseptual. Ketika dia telah menjadi
birokrat atau politikus diyakini dia akan melahirkan
sejumlah konsep yang dilahirkan dari pemikiran dan
penalaran secara keilmuan. Kemudian konsep-konsep itu
diubah menjadi sejumlah aksi yang sesuai dengan sifat
keilmuan. 

Kedua, tokoh universitas itu sudah terbiasa dengan
sikap kebenaran dan kejujuran. Mereka sering dikenal
sebagai orang-orang yang idealis, jujur, dan
menjunjung kebenaran. Dalam melaksanakan konsep-konsep
yang dihasilkan dari pemikiran keilmuan tadi, dia
selalu berpegang dan melaksanakan secara konsisten,
jujur dan benar. 

Ketiga, tokoh universitas adalah orang-orang yang
cerdas, pintar. Kalau tidak cerdas dan pintar tentu
tidak mungkin mereka mampu menamatkan pendidikan
sampai doktor dan memperoleh jabatan sebagai profesor.
Jika kehidupan birokrasi dan politik sudah diisi dan
digerakkan oleh orang-orang cerdas dan pintar, tentu
persoalan-persoalan kehidupan, kemasyarakatan akan
dipecahkan secara cerdas dan pintar guna mencapai
kesejahteraan orang banyak. 

Selain ketiga alasan itu, masih ada alasan lain yaitu
motivasi mereka terjun menjadi birokrat atau politikus
adalah “membangun kampung halaman, menyumbangkan
dedikasi untuk masyarakat, dll.” 

Kalau setelah menjadi birokrat atau politikus sang
tokoh tidak seperti yang diharapkan, maka itu adalah
musibah. Misalnya, setelah doktor atau profesor itu
menjadi birokrat atau politikus, tidak dilahirkan
pemikiran konseptual di bidang tugasnya. Malahan dia
telah hanyut dengan tugas rutin yang tanpa konsep. Dia
sudah hanyut dengan membaca atau membuat memo,
menandatangani kwitansi (kadang sengaja di- mark-up). 

Misalnya lagi, setelah doktor atau profesor itu
menjadi birokrat atau politikus, tidak adalagi
semangat idealisme dalam sikap dan perbuatannya. Dia
sudah menjadi orang yang pragmatis, “kemana kelok
loyang, ke sana pula kelok lilin”. Atau, malah dia
sudah menjadi tukang pancing yang dilarikan ikan. Dia
tidak lagi menentang korupsi, malah ikut menikmati
korupsi itu (bahkan lebih ganas dari bukan tokoh
universitas). Atau, dia tidak lagi menentang kolusi,
malah ikut bermain proyek, jabatan untuk
konco-konconya. 

Contoh musibah lainnya adalah jika setelah doktor atau
profesor itu menjadi birokrat atau politikus dia tidak
lagi mampu berpikir dan bertindak secara cerdas dan
pintar. Dia telah berubah menjadi “Bujang Selamat”.
Dalam rapat dinas sang (belum tentu sarjana atau
doktor) bupati atau walikota, atau gubernur enak saja
berkata kepadanya, “Pejabat macam apa you ini? Si anu
saja yang tamat diploma bisa menyelesaikan masalah
ini.” 

Sebenarnya kalau ditelisik lagi, kalaupun terjadi
musibah itu pun dapat dimaklumi. Mengapa? Karena dunia
birokrasi dan politik itu sangat jauh berbeda dengan
dunia universitas. Dunia birokrasi dan politik
merupakan dunia “sistem sarang burung tempua” yang
sangat rumit, heterogen. Dunia birokrasi dan politik
penuh kepentingan dan intrik. 

Kalaupun sang tokoh telah menghasilkan suatu konsep
yang bagus, belum tentu juga bisa dilaksanakan. Sebuah
konsep tidak mungkin bisa diaplikasikan seorangan. Dia
membutuhkan pembantu, staf. Pembantu atau staf ini
adalah manusia yang bukan robot, yang bisa dipencet
tombol tertentu lalu jalan sesuai instruksi. Sangat
banyak faktor yang menyebabkan ketidakbisaan konsep
tadi dilaksanakan. 

Kalau ada sang tokoh kehilangan semangat idealisme
juga dapat dipahami. Dia hanya sendiri. Sementara yang
dominan adalah lingkungannya. Jika pada awal tokoh itu
masuk ke dunia birokrat atau politik pasti semangat
idealisme itu masih ada. Namun, lama-kelamaan karena
pengaruh lingkungan sedikit demi sedikit jiwa
idealisme itu terabrasi oleh berbagai godaan dan
intrik dari berbagai pihak. Pemancing dilarikan ikan. 

Musibah itu akan berubah menjadi bencana jika motivasi
tokoh itu terjun ke dunia birokrasi atau politik tidak
lagi demi membangun kampung halaman, pengabdian
masyarakat atau tridharma perguruan tinggi. Melainkan,
seperti yang disinyalir Edison Munaf (salah seorang
tokoh universitas) pada salah satu media 16 April lalu
bahwa mereka itu pindah menjadi birokrat atau
politikus karena penghasilan sebagai dosen atau
profesor itu kecil. Ini berbahaya. Mereka bisa menjadi
“intelektual rakus”, materialis, dan semacamnya. Salah
satu ciri kerakusan mereka itu adalah mereka mamakai
“coki duo nokang”. Mereka menjadi orang super,
birokrat atau politikus sekaligus tetap jadi dosen.
Menulis disposisi, sekaliguis membimbing penulisan
tesis mahasiswa. 

Jika itu sudah terjadi, maka yang dicemaskan Zayardam
Zubir (tokoh universitas juga) juga pada salah satu
media tanggal 9 April telah terjadi, yaitu kecelakaan
intelektual. Akibatnya, universitas dengan gelar
akademisnya tidak lagi dinilai sebagai sesuatu yang
prestisius. Lebih parah lagi, seperti yang diungkapkan
Edison Munaf pada Padek 21 April 06, orang mulai
melecehkan yang dulu dipandang prestisius, membuka
toko universitas. Gelar-gelar akademis (magister,
doktor, profesor) diperjual belikan, bahkan dijajakan
dari pintu ke pintu. 

Lalu bagaimana lagi? Terpulang kepada mereka. Kata
almarhum Asrul Sani, “Apa yang kau cari Palupi?”
Sebab, seperti dikemukakan di awal tulisan ini menjadi
birokrat atau politikus itu adalah hak azasi yang
dijamin oleh UUD 1945. Kita berharap mereka itu
bersikap kesatria dalam menentukan pilihan. Jangan
“coki duo nokang” (konsep pejudi kartu ceki). Kalau
mau jadi birokrat atau politikus, ya sungguhan. Kalau
mau jadi tokoh universitas, ya sungguhan. 

Kalau mau jadi birokrat atau politikus, ya seyogyanya
tinggalkan dunia universitas. Kalau perlu embel-embel
universitas (doktor, profesor) itu diletakkan dulu
karena tidak ada relevansinya dengan dunia birokrasi
atau politik. (Kalau berani?) urus pindah status
kepegawaian dari Universitas ke tempat tugas sebagai
birokrat. Konsentrasilah pada pekerjaan birokrasi atau
politik yang kadangkala tidak mengenal batas hari atau
waktu. Mustahil menjadi manusia super yang Senin
sampai Jumat menjadi birokrat, lalu Sabtu memberi
kuliah calon magister atau doktor, dan membimbing
tesis. Apalagi kalau menjadi birokrat itu ratusan
kilometer dari kampus. 

Kalau mau jadi tokoh universitas, seyogyanya juga
tinggalkan dunia birokrasi dan politik itu.
Berbaggalah dengan gelar akademis yang prestisius itu.
Kan masih teringat betapa susahnya meraih gelar
akademis doktor itu dulu. Apalagi bagi yang kuliah
tanpa ada bea siswa dari pemerintah dan sponsor.
Memupuk pohon ilmu pengetahuan juga sebuah prestasi.
Melahirkan sekian konsep, melakukan sejumlah
penelitian, menulis sekian buku atau makalah adalah
pengabdian. Menjadi tokoh universitas adalah
prestisius, kebanggan civitas academika serta
masyarakat, bahkan lebih monumental.*** 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke