aSSwRwB, Apakah ini namanya menuju dan mengembangkan kemandirian dinamakan "Unggul", tentu kita bisa berbeda dgn sudut pandang yg berbeda pula. Tp bagi saya ini sdh lumayan dikatakan "product sekolah unggul". Krn end product dr sekolah unggul adalah utk bisa mandiri, dgn motivasi yg kuat, mereka dapt nerinisiatif utk mengembangkan bakat dan masa depan yg di idami nya dan yg akan di capai nya. Sekolah unggul harus mempunyai dan dilengkapi dgn guru yg unggul, fasilitas yg unggul, adminstrasi yg unggul, dan siswa yg unggul, dan yg lbh penting system yg unggul. Salah satunya adalah bgmn menciptakan kemandirian siswa utk belajar bagaimana belajar, dan tentu di support dgn mentor dan guidance nya.
Pertanyaan saya utk Pak guruonline: Gub Sumbar dan Diknas, tlh menanda tangani MOU ttg sekoalh unggul dgn INS, Kayu Tanam...Apakah kriteria sekolah unggul yg dimaksud tersebut dan apa2 kriteria nya. Batusangkar juga mencanangkan seklaoh unggul. Doa saya semoga berhasil, InsayaAllah. Wass. Muzirman. Berita Utama KOMPAS. Rabu, 24 Mei 2006 Merintis Kemandirian Mereka Tak Peduli Ujian Nasional... Wahyu Haryo dan P Bambang Wisudo Ketika anak-anak Kelas III SMP di seluruh pelosok Tanah Air khusyuk mengerjakan soal-soal ujian nasional atau UN, Senin (22/5), sebagian besar siswa Kelas III SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga, Jawa Tengah, justru tenggelam dengan eksperimen Ilmu Pengetahuan Alam. Tidak seperti anak-anak lain yang dipaksa mengikuti UN, sekolah desa yang diperlengkapi dengan akses internet 24 jam itu membebaskan muridnya untuk mengikuti atau tidak mengikuti UN. Di halaman belakang rumah kayu milik seorang petani yang berdekatan dengan lokasi sekolah, Amri (15) dan Zulfi (15) sibuk membakar daun bambu kering dalam sebuah periuk tanah liat. Mereka tengah menguji ulang percobaan pembuatan briket dari sampah daun bambu kering. Pembuatan briket ini merupakan tugas akhir Amri di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Ia sengaja membuat tugas akhir, yang di situ disebut dengan istilah "disertasi". Karena di desa itu banyak sampah daun bambu yang terbuang sia-sia, ia bermimpi briket daun bambu akan dapat menjadi energi alternatif. Sayangnya, percobaan itu belum berhasil. Setelah serbuk daun bambu diperoleh dan dikeringkan, ternyata briket tak bisa menyala. "Saya baru bisa membuat abu, belum bisa menjadikannya sebagai briket," kata Amri. Selain Amri yang membuat briket sampah daun bambu, Hilmy mencoba membuat bio-urine sebagai pengganti pupuk urea yang makin mahal. Siswa lain mengembangkan jahe untuk apotek hidup. Sementara itu, Vina mempersiapkan penelitian dampak pabrik tekstil terhadap lingkungan hidup di desanya. Keputusan untuk membebaskan siswa ikut atau tidak ikut UN diputuskan dalam rapat yang melibatkan siswa dan orangtua murid. Sebagian besar anak menolak tawaran ikut UN dan justru mengusulkan membuat "disertasi" sebagai tugas akhir. "Ide cemerlang ini tentu saja langsung kami dukung, bahkan kalau perlu hasil disertasinya bisa disampaikan di hadapan sejumlah profesor dan diminta menandatangani laporan anak-anak tersebut," kata Bahrudin, Koordinator Qaryah Thayyibah. Tidak butuh ijazah Mengapa siswa-siswi ini menolak mengikuti UN? Rasih Mustaris Hilmy, salah satu siswa, menyatakan, mengikuti UN tidak ada gunanya. Jika mengikuti UN hanya untuk syarat mendapatkan pengakuan berupa ijazah, katanya, ia tidak membutuhkan ijazah. "Ijazah bukan satu-satunya jalan untuk hidup. Saya melihat di televisi, orang tidak memiliki ijazah ada yang sukses menjadi pengusaha besi bekas," kata Hilmy. Ditanya mengenai pilihan anaknya yang tidak mau ikut UN, Kini (50), ibu Amri, mengaku tidak ada ketakutan sedikit pun akan masa depan anaknya. Tiga kakak Amri mengantongi ijazah SMA dan ketiganya jadi buruh. Empat anak yang memilih ikut UN pun punya alasan berbeda-beda. Fikri mengikuti UN hanya untuk berjaga-jaga, andaikan suatu saat di masa depan ia membutuhkan ijazah. Siti mengaku, dengan memiliki ijazah ia bisa mendapat pengakuan sama seperti siswa lain. Vina melihat UN sebagai sebuah tantangan untuk belajar lebih, sedangkan Izza mengikuti UN untuk mencari pengalaman. Akan tetapi, Izza mempertanyakan mengapa seseorang divonis tidak lulus hanya gara-gara nilai di satu mata pelajaran tidak memenuhi syarat. "Saya punya kemampuan di Biologi, Siti bagus di Fisika, teman yang lain punya kelebihan masing-masing," ujar Izza. Gugatan cerdas Izza tentu saja tidak akan membatalkan UN. Tidak adil Amien, pelajar Kelas III Pondok Pesantren Al Falakh, dalam diskusi di Kantor Pelajar Islam Indonesia (PII) Menteng, Jakarta, mempertanyakan mengapa kelulusan seseorang hanya ditentukan oleh nilai mata pelajaran yang masuk dalam UN. Padahal, menurut buku yang ia baca, kecerdasan orang lain-lain. Dari puluhan surat yang dihimpun PII dari anak-anak yang mau mengikuti UN, hanya dua anak saja yang menyatakan setuju UN dilakukan. "Kita belajar, masuk, kepanasan, kehujanan, kesandung-sandung selama tiga tahun, tapi cuma ditentuin selama tiga hari, selama enam jam doang. Maunya meningkatkan mutu, tapi malah njerumusin ke lubang sengsara. Mana tanggung jawabmu Mendiknas..?" tulis Wahyu, murid SMA Jurusan IPS di Jakarta. Suparman, guru SMA Negeri 17 Jakarta Barat, mengemukakan, UN tidak adil dan tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan kelulusan siswa. Ia mengungkapkan, tahun lalu di sekolahnya dari 230 anak yang ikut ujian, 69 tidak lulus. Dari jumlah itu, 80 persen berasal dari keluarga miskin. "Itu situasi di sebuah sekolah yang hanya 1,5 kilometer dari Kantor Presiden. Bagaimana dengan yang di Ambon atau Papua?" kata Suparman. Rasa diperlakukan tidak adil itu membuat beberapa sekolah membangkang. Bocoran jawaban sampai di tangan peserta ujian. Di Banten terungkap ada sekolah yang membocorkan jawaban melalui layanan pesan singkat (SMS), yang diduga melibatkan guru. Itu semata demi mengejar target jumlah siswa yang lulus UN. Bagaimanapun UN menyangkut gengsi sekolah dan pemerintah daerah. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

