AssWrWB, Bbrp waktu lalu saya forwardkan dibukanya jur. Hubungan International di Unand,. dwh ini juga saya copy-paste kan berita yg terkait dgn hal itu. Mudah2n bisa menamnah diskusi kita,.InsyaAllah. Wass. Muzirman ==============================================
Pasang Surut Diplomat Minang: Semua Kita Diplomat Oleh St. Zaili Asril, PU Padek Minggu, 28-Mei-2006, 01:20:24 105 clicks Memiliki wawasan internasional dan perangkat lunaknya, bukan semata untuk menjadi diplomat, tapi, terpikirkankah oleh kita.. ... bagaimana membuat kepala daerah (gubernur/walikota/bupati), pengusaha/pedagang, politisi/tokoh/pimpinan Ormas, dan rakyat kita sampai ke ujung nagari/pinggang bukit pun juga harus memliki wawasan internasional!? ADA kerisauan, kalau masyarakat Minang akan kehilangan peran di pentas diplomasi Indonesia, justeru pentas diplomasi ditoreh/diramainkan anak-anak bangsa dari Ranah Minang. Tiang diplomasi Indonesia ditancapkan proklamator/wakil presiden pertama Mohammad Hatta. Kita menyebut sejumlah diplomat ulung etnis Minang. Para diplomat senior gundah kalau jumlah pegawai negeri sipil (PNS)/calon PNS yang masuk Departemen Luar Negeri (Deplu) kian berkurang. Secara matematis, rasio perbandingan jumlah diplomat/calon diplomat dari etnik Minang/perguruan tinggi (PT) Sumatera Barat yang direkrut Deplu mungkin mencemaskan -- ada kecurigaan kalau para post graduate strata-1 etnis Minang sudah kalah dan menyangka diri tak akan lulus seleksi Deplu!? Ada kemasgulan, kelak di masa depan pentas diplomasi Indonesia di Deplu/kedutaan besar (Kedubes)/konsulat jenderal (Konjen) akan sepi dari putra terbaik dari etnik Minang? Diplomat kawakan retired hendak menggugah, kiranya perkembangan merisaukan itu menyemangati pngelola PT negeri atau swasta di provinsi Sumatera Barat mebuka pendidikan tinggi yang memungkinkan para lulusannya run to be a diplomat. Mereka itu, antara lain, Hasjim Djalal, Boer Mauna, Alwis Azizat Moerad, Ny. Misma, Zubir Amin, misalnya, sampai mereka bersedia menggunakan sisa usia tua mereka untuk mengajar -- ajakan dedikatif yang kemudian diakomodasi Rektor Universitas Andalas (Unand) Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim MSc. Insya Allah, setelah ada jurusan hukum Internasional pada Fakultas Hukum (FH-Unand), akan dibuka pula jurusan Hubungan Internasional pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip Unand). Perkembangan yang bisa jadi juga dapat dirintis PT lainnya, seperti Universitas Bung Hatta (UBH) -- apalagi wawasan internasional bukan semata dimiliki para diplomat, bukan? Rektor Prof. Musliar meminta Dekan FISIP Bakarruddin Ph.D mempersiapkan, termasuk round table discussion (RTD) Sabtu (22/5), di Rektorat, Kampus Limaumanis, Padang. FISIP Unand mendatangkan berbagai pihak dari unsur pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumatera Barat, politisi/anggta DPRD, pengusaha, tokoh masyarakat, budayawan, pers, selain kalangan staf pengajar FH dan FISIP Unand -- Cucu Magek Dirih diundang dan mengikuti RTD dari pagi sampai sore/selesai. Selain diplomat senior asal/etnik Minang seperti Hasjim, Boer Mauna, Ny. Misma, Alwis, juga pembicara dan periset The Jakarta Institute Anis Baswendan Ph.D. Bersempena 50 tahun usia Unand tahun ini, RTD membangun persepsi/membuka perspektif: kelak Unand menghasilkan calon diplomat sehingga ke depan para anak bangsa Indonesi dari etnik Minang kembali memiliki kesiapan bertarung dalam rekrutmen diplomat Deplu. DALAM pemahaman Cucu Magek Dirih, kebangunan atas pendidikan tinggi wawasan internasional, tak semata menyiapkan calon PNS Deplu. Wawasan internasional dan pirantinya dibutuhkan kepala daerah (provinsi/kota/kabupaten) -- sampai walinagari/lurah -- dalam konteks otonomi -- khusus dalam hal kerjasama langsung dengan negara/negara bagian dan upaya menarik investor asing, pengusaha jadi mitra investor asing dan pengusaha memasarkan/membeli produk/berdagang ke luar negeri dan atau menerima mitra dagang asing (impor/ekspor), pengelola industri pariwisata melayani/mencari tamu luar negeri, pengelola restoran berkelas sampai kaki lima karena ada tamu asing makan di tempat mereka, edagang -- termasuk perajin -- di perkotaan/pedesaan karena ada pembeli turis asing, para sopir taksi/becak karena ada orang asing naik taksi/becak, dan sampai rakyat biasa yang kedatangan tamu asing ke rumah mereka melalui televisi. Kepala daerah (provinsi dan kota/kabupaten) mutlak memiliki wawasan internasional dan segala piranti lunaknya karena di era otonomi bukan hanya akan kedatangan tamu/investor asing, tapi, membuka pergaulan/peluang kerjaama langsung dengan negara/negara bagian (luar negeri). Perangkatnya pun bersentuhan/berurusan dengan hubungan internasional. Sebut saja badan koordinasi penanaman modal daerah (BKPMD), badan perancang pembanggunan daerah (Bappeda), dinas teknis seperti perindustrian, perdagangan, pariwisata, tenaga kerja, bahkan pendidikan dan kesehatan. Mereka tidak hanya menerima/melayani, tapi, menyusun formula kerjasama dengan pihak asing -- sebetulnya mereka pun harus memiliki wawasan bisnis. Lalu, sudahkah kepala daerah (provinsi/kota/kabupaten) memiliki visi/perspektif international, staf yang memadai yang secara post graduate mampu mengerjakan tugas-tugas dari kepala daerah atau badan/dinas teknis yang berkaitan? Para pengusaha/pedagang lokal kita, apakah sudah disiapknan/siap jadi pemain di era globalisasi/perdagangan bebas? Baik menerima investor/mitra bisnis dengan jadi pengusaha lokal yang siap menjadi mitra terpecaya -- apalagi mencari mitra bisnis/investor ke luar negeri? Jangan-jangan pengusaha lokal masih tetap pemain lokal, dan bila diajak kepala daerah keluar negeri -- seperti kepala daerah/jajaran -- hanya reakreasi? Begitu pula para produsen/pedagang dan pengelola galeri kerajinan yang kedatangan pembeli asing -- di antaranya membeli partai besar/beberapa koli untuk mereka jual di negeri mereka. Para pengelola industri pariwisata (hotel/penginapan dan homestay, restoran/rumah makan/warung, dan agen-agen perjalanan/pengelola paket wisata -- termasuk para sopir taksi/becak dan rental kenderaan), apakah sudah benar-benar memiliki wawasan internasional/siap melayani tetamu asingnya? Betapatah rakyat kita sampai pelosok daerah/ujung nagari/kaki-pinggang bukit yang bersentuhan dengan barang/nilai asing (internasional). Bukan terutama turis datang -- ada turis suka masuk kampung/bahkan menetap beberapa hari di homestay dan berharap dpat pengalaman unique/sangat berkesan/tidak terlupakan, tapi, terutama globalisasi yang akan mengubah visi/wawasan yang masuk melalui kotak ajaib di rumah/kamar mereka? Betapa sisi/cara pandang rakyat dan generasi kita diubah paksa oleh televisi!? Adakah kepala daerah/politisi/tokoh-ormas/guru/budayawan/seniman/pers, dan entah siapa lagi, menyadari/memiliki awareness bahwa sedang/akan terus terjadi pengubahan paksa sisi/cara pandang rakyat dan remaja kita sampai di pelosok/ujung negeri/kaki-pinggang bukit? Apakah kita merasa cukup dengan menyalahkan/mengerutu/mengomel -- tanpa awareness pada apa yag tengah terjadi dengan gobalisasi/dunia tanpa dapat dibatasi wilayah administratif (boardesless)!? KIRANYA, view/perspektive kita menerima kehadiran jurusan Hubungan Internasional FISIP Unand tidak sebatas melipur nelangsa reduksi/kehilangan peran di pentas diplomasi Indonesia!? Kita perlu menegaskan, semua pihak harus memiliki wawasan internasional dengan segala piranti/etika pergaulan terbuka/internasional. Kita membuka diri atas dan harus mampu menerima/menyiapkan diri menerima apa pun yang ada pada orang lain/tamu/mitra asing kita, dan memperkokoh basis/posisi kita untuk tidak mudah terpngaruh/terhanyut dalam sisi/cara pandang dan budaya/tradisi mereka yang amat sangat mungkin akan menyilaukan sebagian kita. Kiranya kita, bukan akan menjadi orang terhanyut/tergilas globalisasi dan praktek free trading, tapi, mampu menjadi pemain dan mengambil peran positif sebesar-besarnya dari pergaulan terbuka dengan dunia internasional/globalisasi/perdagangan bebas. Kita memerlukan post grduates yang mampu membuka/memberikan wawasan internasional dan memecahkan masalah yang kita dihadapi!*** H.Sutan Zaili Asril __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

