Satria Dharma <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Sekolah Kenapa Harus Gratis? (Part 1)

Dalam sebuah percakapan tiba-tiba seorang teman kepala sekolah bertanya
pada saya,
:”Kenapa Sampeyan kok menginginkan sekolah gratis termasuk bagi orang
kaya? Apa nggak sebaiknya sekolah gratis itu bagi orang miskin saja?” 
ini pertanyaan yang sering ditanyakan dan juga sudah sering saya jawab
tapi ternyata banyak orang yang belum juga paham, termasuk teman kepala
sekolah tersebut.
Jadi saya jawab. Pertama, itu bukan keinginan saya tapi keinginan
bangsa kita semuanya. Itulah sebabnya klausul tentang sekolah gratis
ini masuk dalam UU saking pentingnya. Indonesia telah merdeka selama
lebih dari 60 tahun tapi masalah pembiayaan pendidikan dasar masih juga
belum mampu ditangani oleh pemerintah. Padahal pemerintah seharusnya
mengambil alih sebagian besar pembiayaan itu karena memang sudah
merupakan tangungjawabnya. Bandingkan dengan bangsa-bangsa dan negara
lain yang meski baru merdeka sudah mampu menganggarkan biaya pendidikan
yang tinggi dan mampu menghilangkan pungutan di sekolah. Itu karena
mereka betul-betul meyakini pentingnya pendidikan bagi suatu bangsa dan
negara dan tidak berwacana belaka. Kedua, semua rakyat tanpa
diskriminasi memang berhak untuk memperoleh pendidikan dasar (SD dan
SMP) berkualitas tanpa dipungut biaya karena memang seharusnya
pemerintahlah yang membiayainya. Biayanya dari mana? Ya dari rakyat
juga. APBN dan APBD yang dikelola oleh pemerintah pusat dan daerah
sebenarnya adalah uang rakyat yang diperoleh dari berbagai macam sumber
dan paling besar sumber tersebut justru dari pajak yang ditarik dari
masyarakat. Jadi uang itu sebenarnya juga uang rakyat yang dikelola
oleh pemerintah.

“Tapi anggaran kita kan kecil dan tidak mampu untuk membiayai
pendidikan seperti yang diamanatkan UU?”
Ya dan tidak. APBN kita memang seret dan mepet karena negara harus
membayar cicilan hutang yang luar biasa besarnya sehingga memang sulit
untuk menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan. Tapi untuk tingkat
daerah tidak ada alasan karena pemda kita tidak punya hutang kepada
negara atau daerah lain yang harus dicicil dari APBD-nya sehingga
sepenuhnya APBD dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat langsung.
Kesehatan dan Pendidikan Dasar adalah dua hal dan dua hak paling
penting dari rakyat yang harus dipenuhi oleh pemerintah. APBD yang
kecil juga bukan alasan untuk tidak memenuhi amanat UU tersebut karena
banyak daerah yang APBDnya kecil ternyata mampu menggratiskan
sekolahnya, bahkan sampai SLTA, seperti Jembrana, Enrekang, Sinjai, dan
Musi Banyuasin, misalnya. Semestinya daerah yang memiliki APBD yang
lebih besar dari daerah-daerah tersebut merasa malu karena belum mampu
memberikan hak yang seharusnya diperoleh oleh rakyatnya.

“Tapi kenapa orang kaya juga harus menikmati pendidikan gratis? Kan
tidak fair!”
Bicara soal adil tidaknya (fairness) sebenarnya orang miskinlah yang
tidak berhak untuk memperoleh pendidikan gratis. Lho kok bisa? Bisa
saja. Kan pembayaran pajak yang menjadi sumber anggaran kita justru
berasal dari orang-orang kaya tersebut. Secara logika, semakin kaya
seseorang semakin banyak juga pajak yang ditarik darinya sehingga kalau
bicara soal ‘hak’ dan ‘fairness’ justru merekalah yang paling berhak
untuk menikmati pendidikan gratis yang biayanya diambil dari pajak
tersebut. Orang miskin sebetulnya justru hanya ‘ikut’ menikmati
pemanfaatan pajak tersebut lha wong semakin miskin seseorang juga
semakin sedikit pajak yang bisa disumbangkannya kepada negara. Bahkan
orang miskin sebenarnya membebani anggaran sebuah negara karena harus
selalu disubsidi macam-macam. Itulah sebabnya kemiskinan harus
diperangi dan rakyat harus disejahterakan agar mereka tidak lagi harus
disubsidi dan justru sebaliknya akan dapat mengeluarkan pajak bagi kas
negara. 

“Lantas bagaimana cara mensejahterakannya? 
Ya melalui pendidikan. Semakin bermutu pendidikan di dalam sebuah
negara semakin maju dan semakin makmur negara tersebut nantinya, dan
sebaliknya semakin rendah mutu pendidikan suatu negara semakin miskin
juga negara tersebut. Orang-orang yang memiliki pendidikan yang lebih
tinggi mutunya memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memperoleh
atau menciptakan pekerjaan dibandingkan dengan orang yang tidak
berpendidikan. Ini berarti orang-orang yang memiliki pendidikan yang
bermutu tinggi juga akan memiliki kesempatan untuk lebih makmur
kehidupannya ketimbang orang yang tidak berpendidikan. Itu sudah hampir
menjadi suatu keniscayaan.
Jadi pendidikan gratis memang diperlukan agar orang-orang miskin dapat
memperoleh pendidikan yang diharapkan berkualitas dan pada akhirnya
akan dapat mengangkat derajat, martabat dan tingkat kesejahteraan
mereka. Jika kelak mereka sudah semakin sejahtera maka mereka akan
dapat dikenai pajak yang lebih tinggi agar pendapatan negara juga
semakin bertambah dan negara menjadi semakin makmur. Kalau tidak ada
pendidikan dasar gratis maka akan semakin banyak orang-orang miskin
yang akan tetap miskin karena tidak mampu membiayai pendidikannya. Dan
itu juga berarti negara akan semakin besar mengeluarkan subsidi
nantinya yang artinya akan membuat negara semakin melarat. Semakin
berat tingkat perekonomian rakyat semakin perlu pendidikan dasar
gratis. Dan semakin makmur masyarakat semakin banyak biaya pendidikan
yang bisa ditarik dan digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Semakin lama negara mengingkari amanatnya dibidang pendidikan akan
semakin lama pula penderitaannya karena tidak akan mampu bangkit dari
keterpurukan. Indnesia adalah contoh yang paling tepat.

“Bagaimana kalau untuk sementara yang kita gratiskan adalah orang-orang
miskin dulu dan nanti belakangan orang kaya baru kita ikutkan?”
Ya tidak bisa karena itu namanya diskriminatif dan negara tidak boleh
diskriminatif. Setiap warganegara berhak untuk memperoleh jaminan
kesehatan dan pendidikan dasar sesuai dengan amanat UU. Tidak perduli
apakah ia kaya atau miskin. Lagipula, seperti diterangkan diatas,
anggaran yang diperoleh pemerintah pusat dan daerah dalam menjalankan
kepemerintahannya adalah justru berasal dari pajak-pajak yang
dikumpulkan dari orang kaya. Itulah sebabnya di negara manca, baik yang
sudah maju ataupun yang masih baru bangkit macam Vietnam, siswa tidak
membayar uang sekolah jika mereka bersekolah di sekolah publik alias
sekolah-sekolah negeri, tidak perduli apakah ia anak orang termiskin di
dunia, seperti pengakuan Hamdan Attamimi, atau ia anak orang terkaya di
dunia, seperti Bill Gates. Jika masuk sekolah negeri ya tidak bayar.
Kecuali kalau tidak puas dengan pelayanan sekolah negeri dan mau masuk
sekolah swasta dengan biaya sendiri, ya silakan! Yang penting
pemerintah dan negara telah melaksanakan kewajibannya untuk memberikan
pendidikan bagi rakyatnya dengan pembiayaan sepenuhnya di
sekolah-sekolah negeri tersebut. Lagipula, percayalah, orang-orang kaya
sebenarnya tidak pingin sekolah gratis lha wong mereka mampu bayar
sekolah yang mahal di swasta. Orang-orang miskinlah yang memerlukan
sekolah gratis dan itulah yang kita perjuangkan, tanpa harus
mengingkari hak yang dimiliki oleh orang-orang kaya. Dengan sendirinya
nanti orang-orang kaya akan mencari sekolah swasta yang mutunya lebih
tinggi dari sekolah negeri yang gratis tersebut, meskipun harus
membayar biaya yang mahal untuk itu.

“Apa maksudnya gratis? Apakah semua biaya akan ditanggung oleh
pemerintah?”
Tentu saja tidak. Tidak ada satupun negara didunia ini yang bisa
menanggung semua biaya pendidikan warganya karena ada biaya-biaya yang
masih harus ditanggung oleh orang tua seperti : biaya transportasi,
pakaian seragam, biaya buku dan alat tulis sekolah, perlengkapan
sekolah, akomodasi, konsumsi, kesehatan, karyawisata, uang saku,
kursus, iuran macam-macam, dan forgone earning. Masih begitu banyak!
Semua ini masih merupakan biaya yang harus ditanggung oleh orang tua
dan jumlah yang harus disediakan juga masih tetap besar bagi sebagian
besar rakyat Indonesia yang semakin lama semakin miskin ini. Dengan
demikian meskipun sekolah sudah gratis orang tua masih tetap menanggung
biaya pendidikan bagi anaknya yang tidak tercakup dalam BSP (Biaya
satuan pendidikan) yang dikeluarkan oleh sekolah. Ini merupakan
implementasi dari UU yang menyatakan bahwa (biaya) pendidikan adalah
tanggung jawab pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat (yang
diterjemahkan secara sempit sebagai orang tua disini).
Jadi kalau ada guru atau sekolah yang menyatakan bahwa kalau sekolah
itu gratis sama artinya dengan orang tua tidak bertanggungjawab
terhadap pendidikan anaknya adalah suatu kekeliruan besar (a big
ignorance) atau mungkin suatu usaha pembodohan masyarakat.
Sebagai contoh, kalau kita bilang ada acara 'nonton gratis' berarti kan
meski nontonnya gratis, alias tidak bayar tiketnya, tapi transportasi
menju ke bioskopnyanya ya bayar sendiri, popcornnya dan sodanya bawa
sendiri, dst. Tidak ada orang yang berpikir kalau nonton gratis berarti
uang trasnportnya juga bakal dikasih dan nanti dapat camilan gratis
pula.

Setelah menjelaskan hal ini kepada teman kepala sekolah tadi, ia lantas
manggut-manggut dan berhenti bertanya. Mudah-mudahan ini pertanda baik
bahwa ia semakin mengerti mengapa sekolah gratis itu perlu, dan tidak
justru menentangnya.

Balikpapan, 12 April 2006

Satria Dharma

_________________________________________________


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke