Assalamu'alaikum WW Kalau kemarin Pak Ridwan mengetengahkan tentang potensi....khususnya Sumbar....artikel ini sebagai pelengkap-nya....
Wassalam Palai Rinuak http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/22/ekonomi/ Pijaklah Bumi, Garap Pertanian...! Andi Suruji dan M Fajar Marta Produksi sejumlah komoditas pertanian kian merosot. Nilai ekspor pun jeblok. Lebih dari itu, sejumlah negara nonagraris malah mengancam menggeser posisi Indonesia di pasar internasional. Itulah wajah suram pertanian Indonesia. Saudagar sejagat zaman penjajahan pun berlomba-lomba datang ke Nusantara. Pasalnya, mereka ingin berdagang hasil bumi. Pascakemerdekaan pun, pemerintah yang sudah berdaulat sepertinya tidak sepenuh hati membangun pertanian yang seharusnya menjadi prioritas dan didukung habis karena di sektor inilah kita unggul. Potensi besar anugerah Tuhan seolah menjadi tersia-siakan. Kesalahan bermula di zaman Orde Baru tatkala "meninggalkan" pertanian, termasuk kelautan, sehingga terjadi proses marjinalisasi sektor ini. Kita "melompat" ke industri manufaktur, yang sebagian cabangnya bukan kompetensi dan keunggulan kita. Sebagian memang padat karya sehingga menyerap tenaga kerja banyak. Namun, pilihan tidak dijatuhkan pada industri yang berbasis pertanian. Maka, tidak heran jika sampai sekarang pun komoditas pertanian yang kita ekspor sedikit sekali hasil pengolahan, tetapi komoditas primer yang semakin merosot kinerjanya. Memang selama 30 tahun (1967-1997) berlangsungnya pembangunan ekonomi terjadi pertumbuhan tinggi yang tidak bisa dimungkiri. Dalam proses tersebut, berlangsung apa yang disebut sebagai perubahan struktural, terutama dilihat dari perubahan pangsa (share) sektoral, di mana sektor-sektor yang mengalami proses peningkatan nilai tambah peranannya meningkat, dan sektor primer menurun perannya. Akan tetapi, menurut ekonom senior, Sjahrir, perubahan share tersebut tidaklah serta-merta dapat dikategorikan sebagai peningkatan efisiensi ekonomi secara nasional. Kuncinya daya saing Pascatumbangnya Soeharto pun belum juga kita mengambil pelajaran. Pada masa krisis ekonomi, krisis moneter, industri manufaktur banyak tiarap dan bangkrut. Sementara para petani, atau setidaknya pedagang lokal dan eksportir hasil bumi, justru menikmati krisis. Volume produksi yang sama menghasilkan nilai uang yang berlipat-lipat lantaran anjloknya nilai tukar rupiah. Tetapi, sungguh ironis, Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara penghasil dan pengekspor kakao terbesar tidak direken sebagai penghasil makanan cokelat terkemuka. Majalah ekonomi The Economist beberapa waktu lalu merilis laporan yang berjudul "World in Figure", memuat peringkat produk-produk unggulan dari masing-masing negara. Hal yang menarik dari laporan itu, terdapat beberapa produk Indonesia yang mendapat peringkat yang baik dari sisi daya saing. Bukankah daya saing merupakan kunci memasuki arena globalisasi? Ini adalah sebuah potensi besar yang kita miliki dalam era globalisasi seperti saat ini. Lebih dari itu, 49 persen dari angkatan kerjanya bekerja di sektor pertanian. "Inilah sebenarnya yang menjadi dasar bagi kita untuk bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi besar di masa depan. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan kita, sektor yang akan menjadi modal dasar untuk memupuk kepercayaan diri bangsa ini," kata Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Burhanuddin Abdullah, yang juga Gubernur Bank Indonesia. Lebih dari itu, pada komoditas-komoditas tertentu, selain unggul secara global, juga akan memenuhi tuntutan pemerataan secara kewilayahan dan akan lebih banyak menggerakkan anggota masyarakat yang memang sudah berkecimpung sejak lama di sini. Pertanian yang bagaimana? Dalam persaingan global, menurut mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih dan Tungkong Sipayung dalam makalah yang dipaparkan pada Kongres ISEI, Indonesia tidak mungkin unggul pada semua produk atau industri. Oleh karena itu, Indonesia perlu memusatkan perhatian pada pengembangan industri-industri yang berpeluang besar Indonesia dapat unggul. Apa itu? Menurut guru besar Institut Pertanian Bogor tersebut, agroindustri berbasis tropis. "Atau adakah industri lain yang Indonesia bisa unggul selain pada agroindustri?" katanya bertanya. Untuk memodernisasi sistem agrobisnis, agroindustri merupakan penggerak utama. Agroindustri yang memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang relatif tinggi, serta angka pengganda tenaga kerja dan nilai tambah yang juga relatif tinggi, menjadikan agroindustri dapat menjadi lokomotif yang menggerakkan sistem agrobisnis dan perekonomian secara keseluruhan. Dalam memanfaatkan persaingan global, kata mereka, Indonesia perlu mengembangkan agroindustri berbasis tropis melalui pengembangan beberapa kluster agroindustri. Kluster agroindustri yang dimaksud adalah kluster agroindustri pangan dan pakan, kluster agroindustri serat alam, kluster agroindustri biofarmasi (obat- obatan, pestisida, antibiotik, produk kecantikan), kluster agroindustri energi nabati (biodiesel, etanol), dan kluster industri floris (bunga-bungaan). Kluster agroindustri Tentu saja keunggulan bersaing Indonesia pada kluster agroindustri tersebut tidak datang dengan sendirinya. Keunggulan bersaing hanya akan kita peroleh melalui kerja keras yang terarah dan konsisten dalam mendayagunakan keunggulan komparatif yang kita miliki menjadi keunggulan bersaing. Strateginya bagaimana? Untuk membangun keunggulan bersaing pada kelima kluster tadi, diperlukan suatu peta besar (road map) dan komprehensif pengembangan agroindustri. Peta yang dimaksud adalah bergerak dari industri yang dihela oleh pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang belum terampil, lalu bergerak kepada agroindustri yang dihela oleh pemanfaatan modal dan sumber daya manusia lebih terampil, dan kemudian melangkah maju kepada agroindustri yang dihela pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sumber daya manusia terampil. Jadi kuncinya, kerja keras, terarah, konsisten, ada road map yang rinci dan dapat diimplementasikan. Tetapi, dalam hal-hal inilah kita acapkali lemah. Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com ====================================================================== Alam Takambang Jadi Guru ====================================================================== -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

