Dalam salah satu kolom saya di Superkoran "Apakaba"---mengutip Prof 
Tariq Ramadan (2001)---saya menulis: “Ketika mengamati peta dunia, kita 
sadar bahwa kebanyakan kaum muslimin hidup di belahan bumi selatan dalam 
berbagai kondisi yang sering dramatis. Hasilnya, 85% dari 1,5 miliar 
kaum beriman hidup dalam kemiskinan dan 60% di antaranya buta huruf.”

Oleh sebagian tokoh dan ulama Islam, penyebab terjadinya hal tersebut
sering dituduhkan disebabkan oleh kesalahan pihak lain, yaitu
kolonialisme dan neo-kolonialisme Barat. Dalam batas-batas tertentu,
tuduhan tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun kesalahan terbesar ialah
para tokoh dan ulama tersebut lupa pada kesalahan mereka sendiri yaitu
terlalu asyik memelihara konflik yang sebagian besar bersumber dari
ketidakmampuan dalam menoleransi perbedaan mazhab, aliran dan pemikiran,
termasuk di Indonesia. Akibatnya begitu banyak waktu dan sumber daya
terbuang untuk “menjaga akidah” dan terlalu sedikit untuk meningkatkan
etos kerja dan daya upaya untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan
kemandirian dalam bidang pangan dan teknologi.

Buruk rupa cermin dibelah.

Dalam perspektif ini, International Conference of Islamic Scholars
(ICIS) II, yang diselenggarakan PBNU, 20-21 Juni 2006 dan diikuti
berbagai peserta dari 53 negara, baik pakar Muslim mapun
non-Muslim---sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof Ayzumardi Azra dalam
kolomnya di harian Republika, Kamis, 22 Juni 2006 yang saya lampirkan di
bawah ini---“memiliki banyak signifikansi”.

Bagi saya yang menarik ialah bahwa tema dan misi ICIS ini sangat kuat
diwarnai oleh sikap moderat dan tasamuh (toleransi) yang sudah membudaya
di kalangan nahdhyin. Gus Dur bisa diganti oleh dan kemudian kurang akur
dengan KH Hasyim Muzadi, atau PKB dapat saja pecah dua bahkan pecah
tiga, atau para ulama sepuh dapat saja mefatwakan bahwa “liberalisme”
yang dewasa ini digandrungi oleh sebagian generasi mudanya sebagai
“haram”. Tetapi sebagai jamiah, NU selalu terlihat sebagai kesatuan yang
utuh.

Alhamdulillah, Indonesia beruntung dengan adanya NU.

Wassalam, Darwin


====================================================================

ICIS NU

Oleh : Azyumardi Azra

Republika, Kamis, 22 Juni 2006

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=253239&kat_id=19

International Conference of Islamic Scholars (ICIS) II, yang
diselenggarakan PBNU, 20-21 Juni 2006 kemarin di Jakarta memiliki banyak
signifikansi.

Konferensi yang diikuti berbagai peserta dari 53 negara, baik pakar
Muslim mapun non-Muslim, seperti dikemukakan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim
Muzadi, merupakan usaha untuk membumikan keyakinan kaum Muslimin, bahwa
Islam adalah rahmatan lil `alamin, rahmat bagi alam semesta; seperti
tema konferensi yang diungkapkan dalam bahasa Inggris: "Upholding Islam
as Rahmatan lil `Alamin toward Global Justice and Peace", menjunjung
Islam sebagai agama rahmatan lil `alamin menuju keadilan dan perdamaian
global.

Memang, kaum Muslimin meyakini bahwa Islam diturunkan Allah SWT dan
disampaikan Nabi Muhammad SAW adalah sebagai rahmat bagi alam semesta.
Dengan tema seperti di atas, tersirat bahwa kaum Muslimin belum
sepenuhnya mampu mewujudkan sebagai rahmat bagi alam semesta; bahkan
sebaliknya, kaum Muslimin di berbagai tempat di muka bumi ini, termasuk
di Indonesia, menghadapi banyak masalah internal dan eksternal.
Menghadapi berbagai masalah internal dan eksternal itu, kaum Muslimin
akibatnya belum juga mampu memajukan dirinya menjadi lebih kompetitif
menghadapi negara-bangsa lain dalam pertarungan internasional.

KH Hasyim Muzadi mengakui hal tersebut. Dalam wawancara panjang dengan
koran Seputar Indonesia (19/6/2006), KH Hasyim Muzadi menyatakan,
penyelenggaraan ICIS II menyusul ICIS I pada 2004 bertepatan dengan
meningkatnya berbagai konflik internal di kalangan umat Muslimin di
banyak negara Muslim, termasuk di Indonesia. Menurut dia, perbedaan
antarmazhab dan aliran menjadi pemicu konflik internal tersebut.

Konflik internal di kalangan kaum Muslimin juga menjadi keprihatinan PM
Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi. Berbagai konflik sektarian memecah
belah umat Islam. Akibatnya umat Islam terpuruk ke dalam kemiskinan;
sekitar 50 persen umat Muslimin hidup dengan pendapatan kurang dari 2
dolar AS (sekitar Rp 18.000) sehari. Selanjutnya adalah lingkaran setan;
kemiskinan mengakibatkan umat terbelakang dalam pendidikan, kesehatan,
dan kejahatan, semua ini melestarikan umat Islam dalam kemiskinan.

Ketika saya berbincang-bincang dengan Pak Lah, panggilan akrab Abdullah
Badawi, di suite-nya sebelum acara pembukaan ICIS berlangsung, ia juga
menekankan bahwa umat Islam harus menerobos lingkaran kemiskinan dengan
meningkatkan etos kerja dan daya upaya untuk meningkatkan kemandirian
(self-sufficiency), dalam bidang pangan dan teknologi, misalnya. Jika
umat Muslimin miskin dan tergantung pada pihak luar, maka lingkaran
kemiskinan umat tersebut menjadi lestari.

Sebagian kita mungkin lebih senang menyalahkan pihak lain atas
kemiskinan dan keterbelakangan kaum Muslimin. Tapi, sudah waktunya umat
lebih jujur melakukan koreksi dan kritik internal. Tidak jarang, banyak
hal baik tentang Islam, tidak bisa diwujudkan secara aktual. Karena itu,
seperti dikemukakan Abdullah Badawi, kaum Muslimin harus menunjukkan,
tidak hanya dalam teori tapi juga dalam praktik, bahwa Islam tidaklah
berlawanan dengan kemodernan; bahkan tidak secara antagonistis
bertentangan dengan Barat. Kaum Muslimin juga seharusnya sadar, bahwa
mereka tetap bisa menjadi modern tanpa harus menjadi Barat; kaum
Muslimin perlu melakukan modernisasi, bukan westernisasi.

Hal yang sama juga ditekankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam
sambutan pembukaannya. Dunia Islam dan umat Muslimin menghadapi empat
masalah pokok: kemiskinan, konflik, pengabaian, dan terorisme. Di
samping itu, Presiden juga melihat meningkatnya gejala Islamofobia di
kalangan masyarakat internasional. Untuk menghadapi gejala tersebut,
umat Islam harus menunjukkan tindakan terpuji dan patut dicontoh, serta
pembelaan yang gigih bahwa umat Islam adalah masyarakat yang cinta damai.

Apa yang disampaikan para pimpinan negara dan tokoh Muslim tersebut
sebenarnya tidaklah terlalu baru. Tetapi, mesti tetap relevan dan
penting dikemukakan. Hal ini tidaklah lain, karena berbagai masalah yang
mereka ungkapkan juga masih juga terus berlangsung di kalangan umat
Muslimin. Lebih khusus di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, di
masa reformasi ini, berbagai kalangan umat Islam terlibat dalam krisis
dan konflik internal yang seolah-olah tidak berujung; sejak dari
parpol-parpol Islam yang terus terpecah belah, sampai kepada
kelompok-kelompok Muslim yang, misalnya, mengusir dan melakukan
kekerasan terhadap kaum Muslimin lain yang berbeda pandangan dengan mereka.

Karena itu, seperti juga ditekankan KH Hasyim Muzadi, umat Muslimin
haruslah meningkatkan sikap tasamuh (toleransinya). Dan ini kebutuhan
yang sangat mendesak. Setiap anggota umat memang diwajibkan untuk
senantiasa melakukan tawshiyyah bil haq; tetapi itu harus dilakukan
sesuai dengan prinsip tawshiyyah bish shabr, saling berwasiat, berpesan
dengan kesabaran.





--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke