Maa Angku Saafroedin Bahar sarato Rang Lapau nan Basamo,

Saroman ambo janjikan sabanta ko, ikolah postiang nan ambo dapek di arsip. Walaupun lah baumua 10 tahun wawancara ko, banyak saketeknyo ado hubuangan psikologi jo topik pesong-mamesong, tiru-maniru mambandiangkan kacobeh Urang Lain jo Awak, nan sadang dibaicarokan di Lapau ko. Ambo porowaikkan kasadoalahe untuak kito baco basamo.

Salam,
-- Sjamsir Sjarif

[INDONESIA-L] UMMAT - Leila Budiman
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Mon Jan 27 1997 - 16:34:00 EST


--------------------------------------------------------------------------------


From: John MacDougall <[EMAIL PROTECTED]>
Received: (from [EMAIL PROTECTED]) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id UAA15958 for [EMAIL PROTECTED]; Mon, 27 Jan 1997 20:34:07 -0500 (EST) Subject: [INDONESIA-L] UMMAT - Leila Budiman: Tak Seluruh Masyarakat Kita Sakit


Forwarded message:
From [EMAIL PROTECTED] Mon Jan 27 20:11:38 1997
Date: Tue, 28 Jan 1997 01:58:08 +0100 (MET)
Message-Id: <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
From: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [INDONESIA-L] UMMAT - Leila Budiman: Tak Seluruh Masyarakat Kita Sakit
Reply-To: [EMAIL PROTECTED] (Pesan/Posting - Gratis/Free)


Alamat/Address Admin: [EMAIL PROTECTED] (Sub/Unsub)
Catatan/Remark: Berlangganan/Subscribe INDONESIA-P (Berita/News)
Ongkos/Cost INDONESIA-P: US$120 Satu Tahun/One Year
Sender: [EMAIL PROTECTED]
Precedence: bulk



X-URL: http://www.ummat.co.id/216waw.htm

           Leila Ch. Budiman : Tak Seluruh Masyarakat Kita Sakit

   Kita makin diresahkan dengan berbagai kerusuhan sosial di banyak
   tempat. Berbagai tinjauan sosial, ekonomi, politik telah diuraikan
   untuk mencari akar masalahnya. Tapi, sejauhmana kerusuhan itu dapat
   dijelaskan dari sudut psikologi massa? Leila Ch. Budiman membincang
   soal ini, termasuk pelbagai masalah sosial lainnya dengan UMMAT, belum
   lama berselang.

   Dari rumahnya yang asri dan sejuk di Desa Kemiri, Salatiga, psikolog
   kondang yang bersuamikan "demonstran abadi" Arief Budiman ini
   membeberkan pandangan-pandangannya.

   "Pers juga ikut mendorong agresivitas massa itu," katanya.

   Apa yang Anda lihat di balik kian gampangnya emosi massa tersulut
   akhir-akhir ini?

   Ada suatu eksperimen yang membuktikan: semakin banyak terdapat makhluk
   hidup dalam suatu ruangan yang sempit, semakin tinggi agresivitas
   mereka. Mereka akan lebih mudah untuk saling menyerang. Belum lagi
   adanya pengaruh globalisasi, ketika kita belajar dari negara-negara
   lain bagaimana agresivitas diungkapkan. Dari sudut psikologi, inilah
   penyebab kian gampangnya emosi massa tersulut, yang berbuntut
   kerusuhan sosial.

   Faktor lain adalah stres dan frustrasi akibat berbagai keterbatasan
   dalam banyak bidang. Ingat, populasi manusia semakin banyak. Pilihan
   jadi kian terbatas. Masalah tawuran pelajar di Jakarta, misalnya,
   mungkin lebih disebabkan oleh frustrasi mereka yang tak dapat naik
   bus, karena bus-nya tak mau berhenti. Sudah capek belajar di sekolah,
   mau pulang tidak bisa. Tentu saja itu menjengkelkan.

   Secara umum, adakah hubungannya dengan praktik kekuasaan yang
   sewenang-wenang?

   Sebaiknya memang yang tua-tua memberikan contoh konkret kepada yang
   muda bahwa kekuasaan bukanlah segala-galanya. Jangan mentang-mentang
   kuasa, lalu bisa menang di mana-mana. Saya kira, memang praktik
   keteladanan dari kalangan pemimpin di Indonesia masih banyak yang
   kurang baik.

   Tapi, saya juga melihat, sedikit banyak media ikut berperan dalam
   mendorong terjadinya agresivitas itu.

   Maksud Anda?

   Memang tak salah jika sebuah media mengekspos besar-besaran masalah
   praktik kekuasaan yang tidak fair. Misalnya, kasus pembunuhan
   wartawan. Itu dapat merupakan bagian dari fungsi kontrol. Tapi, untuk
   hal-hal yang sadistis atau yang aneh-aneh, janganlah terlalu
   ditonjolkan. Misalnya, diekspos sampai setengah halaman koran.

   Mbok, ya, soal pencapaian ilmu pengetahuan, misalnya, juga mendapat
   tempat yang baik. Kalau perlu, ditampilkan sebesar-besarnya. Mengekpos
   secara besar-besaran anak muda atau peneliti yang mencapai prestasi
   ilmiah, akan menjadi pendorong bagi yang lain. Setidaknya akan timbul
   pandangan, wah kalau ingin masuk koran dan terkenal harus berprestasi
   dulu....

   Selama ini, Anda melihat itu belum dilakukan media?

   Saya kira media lebih banyak menulis masalah perkosaan, pembunuhan,
   dan sebagainya. Itu memang menarik. Tapi juga mendidik orang untuk
   melakukan kejahatan, agar terkenal, dipotret, dan diwawancara.

   Coba, mana ada media yang mengungkapkan keberhasilan penelitian IPB
   dalam menghasilkan varietas padi berkualitas unggul, yang bisa ditanam
   di bawah pohon kelapa sawit dan pohon karet? Penelitian itu dilakukan
   bertahun-tahun, lho!

   Prestasi itu, bagi saya, amat mengharukan dan membanggakan. Penemuan
   varietas itu akhirnya membuat para transmigran di Kalimantan urung
   kembali ke Jawa. Mereka sebelumnya sudah mau pulang saja, karena sawah
   ladangnya tak menghasilkan apa pun. Kini padang alang-alang yang
   berhektare-hektare itu telah berubah menjadi hamparan padi. Tapi
   berita ini tak pernah terbaca di media. Yang ada malahan berita-berita
   tentang pil ekstasi dan semacamnya. Bahkan, berhari-hari!

   Baiklah. Selain media massa, apa lagi faktor yang ikut mendorong
   agresivitas?

   Justru dari keluarga. Kalau dalam satu keluarga itu orang tua otoriter
   dan suka main tampar, itu akan dipahami anak sebagai cara untuk
   menyelesaikan masalah secara efektif.

   Selain mengajar, Anda juga mengasuh ruang psikologi di sebuah harian
   ibu kota. Selama 12 tahun mengasuh ruang itu, apa kesimpulan menarik
   yang Anda temukan?

   Tiga tahun lalu saya pernah membuat pengkategorian berbagai masalah
   yang masuk. Yang terbanyak dikeluhkan adalah persoalan keluarga,
   disusul persoalan pendidikan dan pekerjaan. Dan kategori terendah
   adalah persoalan-persoalan sosial lainnya, seperti penggusuran, korban
   kebakaran, dan sebagainya.

   Kira-kira apa sebabnya?

   Yang menulis kepada saya, terutama adalah orang-orang yang hanya ingin
   memaparkan persoalan pribadinya. Atau, juga yang paling dekat dengan
   dirinya (keluarganya). Jadi bukan persoalan sosial yang ingin mereka
   keluhkan. Meskipun, sebenarnya, persoalan pribadi pun sering merupakan
   dampak dari berbagai aktivitas sosial yang terjadi.

   Dalam masalah penggusuran atau kebakaran, misalnya, akan menjadi
   persoalan jika yang digusur adalah ayah atau diri kita sendiri. Tentu
   itu akan lebih menjadi problem daripada hanya kita baca dari koran,
   atau kita tinggal jauh dari tempat itu. Itulah sebabnya tak banyak
   persoalan sosial yang sampai ke meja saya --dalam mengasuh rubrik
   psikologi itu.

   Berbagai problem itu banyak bersumber dari masalah sosial?

   Sumbernya bisa dari segala arah. Bisa dari problem masyarakat, bisa
   juga dari dirinya sendiri. Di dalam manusia modern Indonesia sekarang
   ini, banyak persoalan yang dulu tak pernah dipertanyakan kini mulai
   ditanyakan. Misalnya, soal ekstasi dan AIDS.

   Bahkan, beberapa tahun lalu, persoalan yang ditanyakan ada juga yang
   berdimensi politis, misal soal "bersih lingkungan". Dulu ada kasus
   seorang guru di Manado yang frustrasi gara-gara urung menjadi guru
   terbaik se-propinsi. Pasalnya, dia tidak bersih lingkungan, sehingga
   tak jadi mendapatkan penghargaan.

   Kalau membaca berita-berita di media tentang kebrutalan remaja, seks
   bebas, dan sebagainya, rasanya sudah sampai tingkat yang mencemaskan.
   Bisakah disimpulkan masyarakat kita sedang sakit?

   Agaknya tak semudah itu kita mengatakannya. Dilihat dari surat yang
   masuk ke meja saya, nyatanya tak hanya masalah tawuran dan seks yang
   dipersoalkan. Ada juga persoalan anak muda yang masuk ke dalam kantor
   dan merasa frustrasi, karena melihat banyaknya kasus sogok-menyogok.
   Padahal di sekolah dia belajar bahwa semua harus lurus, baik, dan
   perfect .

   Dari sini, kita masih bisa berharap terhadap pemuda kita. Masih ada
   yang baik dan sadar bahwa hal semacam itu tak boleh dilakukan.
   Artinya, tak seluruh masyarakat kita sakit.

   Tapi, bukankah kualitas problem sosial itu memang kian meningkat?

   Betul. Saya ingin kembali pada penjelasan di atas. Misalnya, di dalam
   suatu akuarium banyak sekali ikannya. Tentu saja kebebasan ikan untuk
   bergerak menjadi terbatas. Akan berbeda jika hanya ada dua atau tiga
   ekor ikan saja. Penuhnya populasi ikan akan menyebabkan meningkatnya
   agresivitas itu. Demikian jugalah dengan keadaan kita sekarang ini.

   Jika demikian, apa berarti hanya di kota-kota besar saja agresivitas
   itu kian mencemaskan?

   Lebih banyak. Bandingkan dengan desa tempat saya tinggal sekarang ini.
   Anda lihat, rumah kami ini hampir tak ada pintunya, kok. Toh,
   aman-aman saja. Perabotan saya tak ada yang hilang. Buah-buahan di
   depan itu juga tak ada yang mengambil. Kalau ada yang mau, mereka
   tinggal minta saja, kok. Saya tak bisa membayangkan keadaan rumah
   semacam ini ada di Jakarta.

   Sejauhmana Anda melihat peranan keluarga sebagai basis pengembangan
   nilai-nilai?

   Sekarang ini sangat dilematis. Akibat kemajuan pendidikan, kini bukan
   bapak saja yang kerja, tapi juga ibu. Padahal untuk memberikan contoh
   yang baik, anak perlu mendapatkan informasi riil. Mereka harus melihat
   sendiri secara konkret bagaimana orang yang paling dekat dengan
   dirinya melaksanakan nilai-nilai moral. Bila orang tuanya tak ada,
   dari mana si anak akan belajar? Mungkin, dia akan belajar dari
   pembantu yang tak begitu terdidik, atau dari teman-teman se-gengnya.
   Ini memang dilema yang sulit.

   Kalau ikatan keluarga sudah renggang, masyarakat harus menolong.
   Konkretnya dibuat begitu rupa, sehingga si anak tak sampai ditinggal
   sendiri di rumah. Mesti ada lembaga-lembaga pendidikan yang menangani
   si anak mulai dari bayi. Pihak yang menangani harus benar-benar
   berkompeten, sehingga dapat mengembangkan fisik dan jiwanya secara
   optimal. Saya kira ini perlu sekali. Sekarang ini banyak rumah yang
   mulai kosong, anak ditinggal sendiri di rumah. Ini menghasilkan
   bibit-bibit yang kurang baik.

   Apa sistem pendidikan kita sekarang belum mampu menangani?

   Saya pikir problem dunia pendidikan kita sangat kompleks. Guru yang
   seharusnya menanamkan nilai-nilai yang baik, masih disibukkan dengan
   belitan ekonomi keluarganya. Mereka harus mencari kerja tambahan untuk
   menutup penghasilan yang sedikit. Sedang yang berkualitas, justru
   mendapat pekerjaan yang lebih baik di luar sekolah, kecuali mereka
   yang betul-betul ingin menjadi dosen.

   Memang, tampak ada korelasi antara rendahnya pendapatan, dengan
   malasnya orang-orang berkualitas menjadi pengajar. Kalau memang ingin
   guru itu betul-betul baik, mereka harus dicukupi kebutuhannya. Diberi
   tunjangan yang baik, agar mereka dapat hidup layak.

   Bagi sebagian orang, kehidupan keluarga Arief dan Leila Budiman
   mungkin dianggap kelewat terbuka. Setidaknya, orang masih canggung
   mendengar Leila dan kedua anaknya menyapa Arief Budiman hanya dengan
   menyebut nama. Bisa jadi, itu cara-cara Arief dan Leila menanamkan
   nilai-nilai demokratis.

   "Kami mendidik anak secara lebih demokratis. Kita dengarkan dan
   tanyakan pendapat mereka. Setelah dewasa, kami menganggap mereka
   sebagai sahabat," tutur Leila. Sebagai suami-isteri, mereka menerapkan
   azas kesetaraan. "Jika saya lagi sibuk, Arief tak segan-segan
   membikinkan kopi untuk saya," ujar Leila memberi contoh. Tanpa
   gembar-gembor, sepertinya mereka sudah menerapkan apa yang selama ini
   diperjuangkan kaum feminis: kesetaraan.

   Sejauh ini bagaimana Anda memandang gerakan feminisme?

   Gerakan feminisme sangat berkaitan dengan kemajuan tingkat pendidikan
   kaum wanita. Mereka kian sadar dan mengerti akan hak-haknya, selain
   kewajiban. Hak lahir setiap insan adalah sebagai manusia, dan bukan
   sebagai budak atau pemimpin. Setiap perempuan kini sadar bahwa mereka
   berharga sebagai manusia. Sehingga yang diperjuangkan adalah
   kesetaraan dengan kaum lelaki. Konsekuensinya, yang berpotensilah yang
   akan berkembang --di segala bidang. Jadi, tempat perempuan tak selalu
   harus di dapur.

   Tapi kini muncul kesan, kaum feminis tak lagi hanya memperjuangkan
   kesetaraan, tapi lebih mengedepankan power. Contoh, dalam kasus
   perburuhan, kaum feminis hanya memperjuangkan buruh wanita, padahal
   bukankah setiap buruh kini dalam keadaan tertindas?

   Kalau demikian, memang tidak tepat. Setiap yang tertekan memang harus
   dibela. Hanya saja, dalam hal ini kedudukan buruh perempuan memang
   lebih tertekan dibanding laki-laki. Karena kodratnya sebagai wanita,
   umpamanya, suatu saat ia harus melahirkan. Nah, sering dalam kasus
   demikian mereka bisa langsung kena pecat.

   Mungkin hal-hal macam ini yang membuat mereka lebih diperjuangkan.
   Karena ada hal-hal tertentu yang berkaitan dengan soal
   keperempuanannya yang membuat dia kurang bisa lebih berprestasi.

   Jika demikian bukankah wajar kalau buruh laki-laki mendapat upah lebih
   tinggi?

   Kita bisa belajar dari negara yang lebih maju seperti Australia atau
   Swedia. Di sana, kalau seorang buruh wanita melahirkan, bukan hanya
   dia yang mendapat cuti. Suaminya pun mendapat hak cuti selama 3 bulan.
   Nah, ini kan membuat si laki-laki juga setara dengan perempuan. Jadi,
   perempuan --karena melahirkan-- tak "ever alone at home", atau harus
   menderita sendirian di rumah. Tidak si istri saja yang cuti mengurus
   anak, tapi juga si suami. Saya kira, ini salah satu bentuk kesetaraan
   yang bisa dipelajari. Artinya, dengan demikian kan tak ada masalah
   dalam hal produktivitas antara laki-laki dan perempuan?

   Anda melihat ada perbedaan antara feminisme Barat dengan yang berlatar
   Islam?

   Saya pikir dalam Islam lebih maju sekali, lho. Pada zaman Nabi dulu,
   bukankah ada seorang panglima perang wanita? Bandingkan dengan zaman
   jahiliyah, bila ada bayi perempuan lahir langsung dipendam. Di zaman
   Nabi, situasinya sudah lebih maju.

   Jika belum lama ini ada ribut-ribut soal warisan dalam hukum Islam,
   saya kira kita harus menerjemahkan ayat-ayat itu secara
   konstitusional. Hukum itu memang menempatkan laki-laki sebagai pihak
   yang mendapat bagian lebih besar dibanding perempuan. Menurut saya,
   dalam hal ini kita harus melihat laki-laki sebagai kepala rumah
   tangga. Sebagai kepala rumah tangga, laki-laki harus membiayai anggota
   rumah tangganya. Jika perempuan sebagai kepala rumah tangga, saya
   percaya dia mempunyai hak yang sama juga.

   Lagipula, saya pikir kita tak dapat hanya melihat pada satu ayat saja.
   Banyak ayat lain yang sangat mendukung adanya kesetaraan wanita dan
   pria sebagai manusia. Tuhan menciptakan manusia sama-sama dari tanah.
   Laki-laki dan perempuan di mata Allah sama. Yang dilihat hanyalah iman
   dan ibadahnya, amal salehnya. Kenapa kita tak merujuk hal-hal yang
   banyak menyamakan laki-laki dan perempuan?

   Kita memang sering terjebak hanya menyoroti satu ayat saja untuk
   dipersoalkan.

   Tulus Widjanarko, Yuyun H.



--Sjamsir Sjarif
X___________________________________________Sjamsir Sjarif
Indonesian Translator, Interpreter, and Cultural Consultant
        335 Gault St. #1, Santa Cruz, CA 95062, USA
Email: [EMAIL PROTECTED]     Tel. (831)-426-1333 Fax (831)426-8907
                               http://www.usindo.net/hambo
                                             Member of:
ATA,     American Translators Association http://www.atanet.org/
NCTA, Northern California Translators Association http://www.ncta.org/
IPA,      Indonesian Professional Association   http://www.ipanet.org/
=======================================================  

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.10.5/403 - Release Date: 7/28/2006
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke