Media Indonesia hari ini ( 9 Agustus -2006) menulis :
WNI keturunan Tionghoa kini memiliki landasan hukum dan politik yang kuat untuk
mencalonkan diri sebagai presiden dan wakil presiden dalam Pemilu 2009. Ini
setelah kontroversi pengertian WNI asli dihapuskan seiring disahkannya UU
Kewarganegaraan.
Disahkannya UU Kewarganegaraan telah berdampak pada peningkatan hak-hak
politik WNI keturunan Tionghoa, termasuk hak untuk mencalonkan diri sebagai
presiden dan wapres," kata pengamat politik Dr J. Kristiadi dalam diskusi
tentang Hak Politik WNI Tionghoa di Jakarta kemarin.
Menurut Kristiadi, sebelum disahkannya UU Kewarganegaraan, partisipasi
politik WNI keturunan Tionghoa masih rendah. Hal ini tidak lepas dari adanya
citra negatif masyarakat tentang peran politik WNI Tionghoa. "Juga ada kendala
yang dirasakan WNI Tionghoa itu sendiri," ujarnya.
Menurut dia, selama ini selalu ada perdebatan panjang tentang siapa WNI asli
itu. Pandangan mayoritas yang mengemuka mengatakan, WNI keturunan Tionghoa
bukan WNI asli, sehingga partisipasi politik mereka dibatasi. "Harus diakui,
ada pandangan bahwa WNI keturunan Tionghoa itu tidak nasionalis," katanya.
Padahal, lanjut Kristiadi, di beberapa daerah seperti di Pontianak dan
Singkawang, WNI Tionghoa ini justru merupakan penduduk "asli". Sebab, mereka
lahir dan besar di sana dan jumlah mereka pun lebih banyak ketimbang pribumi.
"UU Kewarganegaraan akan mengakhiri pro-kontra mengenai siapa yang bisa
mengklaim sebagai Indonesia asli," paparnya.
Pasal 2 UU Kewarganegaraan mengatur tentang siapa yang menjadi warga negara
yang dikutip dari pasal 26 UUD 1945. Bunyinya: "Yang menjadi WNI adalah
orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan
dengan UU sebagai warga negara.”
Yang dimaksud dengan orang-orang bangsa Indonesia asli itu adalah orang
Indonesia yang menjadi warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak
pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendak sendiri.
Namun, Kristiadi juga mengingatkan, WNI keturunan Tionghoa jangan sekali-kali
mendirikan partai politik atau mencalonkan diri sebagai presiden dan wapres
dengan hanya mengandalkan dukungan primordialisme. "Kalau hanya mengandalkan
sentimen kesukuan atau ras, akan sulit untuk menang."
Dia mencontohkan, di Kupang (NTT) partai yang berasaskan Katolik tidak
mendapat dukungan suara yang signifikan. "Jadi, yang penting programnya,"
ungkapnya. (rdl/IM)
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! MessengerÂ’s low PC-to-Phone call rates.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================