Assalamu'alaikum WW

Ruponyo Sumbar iko masih agraris, dengan 60,8% panduduak masih batani.
Untuak padi dengan hasia 4,5 ton per hektar, dengan mamakai 300 kg pupuak 
urea nan harago sakilo Rp 1.500.

Jikok dipakai etong-etongan dengan bibit unggul untuak 1 ha Rp 500.000, 
dengan pupuak urea 500 kg didapekkan potensi 12 ton per ha, diambiak sajo 8 
ton per ha.

Dengan asumsi harago gabah kering ketetapan pemerintah Rp 1.750

4,5 ton dibandiang 8 ton (tambah Rp 500.000 untuak bibit unggul) lah ado 
salisiah Rp 5.325.000 per musim tanam. Apolai jo 12 ton salisiahnyo lah jadi 
Rp 12.325.000 per musim tanam.

etong-etongan di ateh karateh....lah pernah bacubo sakali duo...tapi alun 
dapek mambarikan kontribusi nan banyak lai....

Salut juo untuak Pak Djoni...sesepuh anak fakultas pertanian unand..nan 
masih konsisten dengan pertanian organik.......

Wassalam



http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/14/sumbagut/2879196.htm


Petani Tetap Miskin
Paling Banyak Memberikan Kontribusi



Padang, Kompas - Nasib petani belum banyak menjadi perhatian, padahal kalau 
dicermati justru petani yang paling banyak memberikan kontribusi terhadap 
pendapatan kotor suatu daerah. Di Sumatera Barat, sektor pertanian 
memberikan kontribusi 23,57 persen terhadap pendapatan kotor.

Bahkan, dari 23 persen itu, 11,66 persen berasal dari sektor pertanian 
tanaman pangan. Kepala Dinas Pertanian Sumbar Djoni mengatakan, dari 4,456 
juta penduduk Sumbar, 60,8 persen atau 1,052 juta jiwa adalah petani atau 
639.700 rumah tangga petani.

"Hidup petani kalau dicermati dari nilai tukar petani, indeks harga yang 
diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani, tetap di bawah garis 
kemiskinan. Untuk mengubah nasib pera petani ini, harus ada program yang 
terarah dan berkelanjutan," katanya, Jumat (11/8) di Padang.

Djoni melukiskan, produktivitas padi, misalnya, hanya berkisar 44,89 sampai 
44,94 kuintal per hektar. Persoalan selama ini, bibit yang digunakan bukan 
bibit/benih unggul. Dalam bercocok tanam, petani terlalu bergantung pada 
pupuk kimia dan pestisida, yang harganya relatif mahal.

"Pupuk (urea), misalnya, dibeli dengan harga Rp 1.500 per kg, melebihi harga 
pupuk subsidi. Untuk 1 hektar, petani memakai 250-300 kg pupuk urea. 
Padahal, kebutuhan utama tanaman bukan urea, tetapi nitrogen. Sementara 
unsur nitrogen ini ada di mana-mana, bahkan pada urine kambing sudah bisa 
diolah jadi pupuk organik," katanya.

Dari hasil penelitian, lanjut Djoni, dalam urine kambing terdapat kandungan 
nitrogen 36 persen, sedangkan dalam urea 45 persen. Artinya, 2,5 liter urine 
kambing setara dengan 2 kg pupuk urea. Ke depan, petani di Sumbar disarankan 
tidak lagi membeli pupuk kimia dan pestisida agar pendapatannya bisa 
meningkat karena modal berhasil ditekan.

Pertanian tanaman pangan dan hortikultura dengan sistem organik, kata Djoni, 
tidak saja dapat menekan modal, tetapi produksi dan produktivitasnya juga 
meningkat. Bahkan nilai jualnya pun lebih tinggi daripada menggunakan pupuk 
kimia.

"Pada sayuran jenis wortel, misalnya, kandungan nutrisi 1 kg wortel organik 
sama dengan kandungan nutrisi pada 3 kg wortel yang bukan organik dan tentu 
lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan," kata Djoni, yang baru empat 
bulan menjadi Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumbar, tetapi sudah 20 tahun 
mengembangkan dan menularkan pertanian organik.

Djoni berpendapat kemiskinan petani selama ini karena mereka diperdaya dan 
selalu dibuat bergantung pada pupuk kimia dan pestisida. Bagi petani, ini 
menguntungkan karena jam kerjanya hanya tiga jam sehari, padahal sebenarnya 
merugi. Dengan sedikit mengolah tanaman semak sekitar, petani dapat membuat 
pupuk dan pestisida sendiri, seperti yang kini dikembangkan petani-petani di 
Institut Pertanian Organik (IPO) di Nagari Aia Angek, Kabupaten Tanah Datar, 
Sumbar.

Djoni menjelaskan, saat ini pihaknya baru mengembangkan pertanian organik di 
lahan seluas 2 hektar. Ke depan, pertanian organik akan terus ditingkatkan 
sehingga tahun 2010 menjadi 2.000 hektar. "Untuk program ini tak bisa 
seperti membalik telapak tangan, karena yang diubah perilaku dan cara 
berpikir petani. Jerami saja sering dibakar petani. Padahal, kalau 
dikembalikan ke tanah, jerami bisa menjadi kompos, memberikan unsur hara dan 
merombak unsur organik, sehingga bisa membuat tanaman produktivitas padi 
makin tinggi," ujarnya. (NAL)





Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke