Assalamualikum WW

Dari milist subalah. Kok lai ado nan maniru dikampuang awak. Indah usah jo
website Rp. 2 M saroman nan di Mentawai bagai doh.

Wassalam
Darul
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] 
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of RoNi
Sent: Sunday, August 13, 2006 7:56 AM
To: tangandiatas
Subject: [tangandiatas] Telecenter: Membuka Akses Pasar 
Jangkrik (Gatra.com)

Membuka Akses Pasar Jangkrik

Telecenter berhasil meningkatkan pendapatan penduduk. Dia 
menjadi jembatan komunikasi yang efektif. Produsen yang tidak 
tahu pasar bisa mendapatkan mitra ketika berselancar di dunia 
maya internet.

Dari Telecenter Pabelan, Magelang, Jawa Tengah, seorang santri 
berhasil meraih juara kedua lomba aplikasi yang diselenggarakan 
Microsoft. Di samping ada hadiah fulus, ia juga berhak 
mengenyam pelatihan ke Korea. Demikian juga dengan Telecenter 
Muneng, Madiun, Jawa Timur. Peternak jangkrik bertemu dengan 
pembeli dari Jakarta, Surabaya, Semarang, dan beberapa kota 
lain di Jawa. Ia kebanjiran order: 3 kuintal per minggu. Kini 
Muneng jadi sentra jangkrik. Dari seorang peternak pun 
berkembang menjadi 37 orang.

Kisah sukses juga bergulir dari Telecenter Semeru Kertosari, 
Lumajang, Jawa Timur. Para peternak kodok setempat berhasil 
menjalin kontak bisnis dengan pelanggan Singapura dan Cina. 
Usaha budi daya bull frog (katak lembu) itu pun terdongkrak 
naik. Permintaannya dua ton per bulan.

Kini di Indonesia telah berdiri enam telecencer percontohan. Di 
Jawa Timur ada Telecenter Semeru dan Muneng. E-Pabelan di Jawa 
Tengah. Lainnya di Sulawesi, yaitu Telecenter Lapulu (Sulawesi 
Tenggara), Tuladenggi (Gorontalo), dan Salubomba (Sulawesi Tengah).

Telecenter Lapulu berdiri pada 7 Maret 2006. Keberadaannya 
memberi manfaat langsung pada masyarakat. Terutama bagi para 
pengguna teknologi infomasi dan komunikasi. Telecenter Lapulu 
terletak di Kelurahan Lapulu, di kawasan kota Kendari, Sulawesi 
Tenggara.

"Kami tidak hanya membuka akses internet, melainkan juga kursus 
komputer dan bahasa Inggris," kata Joko Susyanto, Manajer 
Telecenter Lapulu. Sedikitnya 20 orang setiap hari mengakses 
internet lewat telecenter. Ada 30 kelompok studi di bidang 
komputer dan empat kelompok di bidang bahasa Inggris.

Dengan melek komputer plus becus berbahasa Inggris, diharapkan 
kehidupan nelayan setempat akan terdongkrak. Maklum, penduduk 
Lapulu 80%-nya miskin. Dengan mengenal internet, mereka punya 
akses untuk memasarkan hasil laut mereka, seperti lobster, 
kerapu, dan kepiting, ke pelbagai penjuru dunia.

Beragam informasi yang diperoleh dari internet membuat para 
nelayan menjadi lebih bergairah dan kreatif. Mereka membentuk 
usaha, selain melaut. "Saat ini ada enam kelompok usaha, 
seperti budi daya tanaman hias, pembuatan pot bunga, dan 
produksi abon ikan," katanya. Joko menganggap kehadiran 
telecenter-nya tepat sasaran. Yang kasatmata, ada peningkatan 
kualitas hidup. "Masyarakat yang sudah memanfaatkan jaringan 
ini bisa berkomunikasi dan menyalurklan produksi mereka," ujarnya.

Manfaat bagi pengguna juga dirasakan Telecenter Semeru, yang 
berdiri pada 2 Januari 2005 tapi baru aktif pada 30 Mei 2005. 
Sahlan Basyar, ketua pengelolanya, mengatakan bahwa Telecenter 
Semeru merupakan hasil kerja sama Badan Perencanaan Pembangunan 
Nasional (Bappenas) dengan bantuan UNDP (United Nations 
Development Programme). "Bantuannya dalam bentuk barang, bukan 
dana," kata Sahlan.

Pengelola Telecenter Semeru adalah masyarakat sekitar. Mereka 
sebelumnya mendapat pendidikan dan pelatihan dari 
UNDP/Bappenas. Kini para pengelola masih melakukan sosialisasi 
tak hanya di satu kecamatan. Beberapa kecamatan sekaligus 
menjadi daerah target.

Untuk sosialisasi, pengelola memanfaatkan pelbagai kegiatan 
masyarakat. Mulai resepsi perkawinan hingga sunatan massal. 
Mereka sengaja tidak membuat sebuah pertemuan khusus tentang 
telecenter, karena pasti akan sepi pengunjung.

Mujarab. Setiap hari, sedikitnya 15 hingga 20 orang rela antre 
menggunakan fasilitas internet. Masing-masing pengguna 
rata-rata menghabiskan waktu dua jam. Tersedia lima unit 
komputer yang dilengkapi webcam, kamera digital, USB, mesin 
faks, LCD, DVD player, dan sebagainya. Para pengguna tak perlu 
mengeluarkan uang sesen pun alias gratis.

Kini ada 12 KSM (kelompok swadaya masyarakat) yang telah 
merasakan manfaat telecenter. Salah satunya adalah Agung 
Wahyono, pemilik KSM Alam Lestari Sejahtera. Produk yang 
dihasilkan adalah virgin coconut oil, lantas dipasarkan melalui 
internet. Ada beberapa yang merespons. "Tapi masih belum ada 
yang deal," kata Agung.

Manfaat telecenter juga dirasakan Annisa Arum, 12 tahun. Nisa 
kerap memanfaatkan Telecenter Muneng, Pilangkenceng, Madiun. 
Dia membuka situs yang menyajikan mata pelajaran matematika, 
IPS, IPA, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Apalagi saat 
menjelang ujian nasional, beberapa waktu lalu. "Lumayan untuk 
latihan," katanya. Hasilnya, Nisa yang kini siswi kelas I SMPN 
1 Mejayan ini mendapat skor terbaik sekecamatan dengan nilai 
66,84 untuk sekolah dasar. "Saya senang bisa meraih hasil ini," 
tuturnya.

Menurut Dwi Murdiyanto, salah satu perintis Telecenter Muneng, 
banyak manfaat yang dirasakan masyarakat, baik petani, 
peternak, maupun pelajar. Sebab di sana mereka bisa menambah 
wawasan mengenai dunia yang digelutinya. Misalnya untuk petani 
dan peternak.

Mereka bisa menambah pengetahuan tentang bagaimana bercocok 
tanam atau memelihara ternak yang baik. Kelak hasil yang 
diperoleh pun akan lebih tinggi, kualitas maupun kuantitasnya. 
Sedangkan manfaat yang bisa dirasakan oleh pelajar seperti 
Nisa, "Ini salah satu cara menembus dunia," kata Dwi.

Telecenter Muneng menempati tanah kas desa atau biasa disebut 
tanah bengkok. "Semua biaya ditanggung pemerintah," ia 
menjelaskan. Telecenter Muneng sendiri punya karyawan honorer 
tujuh orang yang digaji Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 
Rata-rata 10 pengunjung per hari ke telecenter.

Melalui telecenter, orang juga bisa mencari harga cabe. Itulah 
yang dilakukan Muhammad Suyudi, 35 tahun, petani dari Desa 
Pabelan, Mungkid, Magelang. "Saya sedang mencari harga cabe di 
pasaran," katanya. Suyudi mengenal dunia maya itu baru setelah 
ada Telecenter e-Pabelan. Fasilitas itu merupakan proyek 
percontohan hasil kerja sama Bappenas dengan Pondok Pesantren 
Pabelan, 23 April 2004. Gedung seluas 80 meter persegi 
disediakan pesantren, sedangkan peralatan seperti komputer dan 
akses internet ditanggung Bappenas.

Hadirnya telecenter menghasilkan 10 kelompok belajar mandiri. 
Suyudi sendiri bergabung dengan kelompok Sidomulyo, dengan 
anggota 15 orang. Kebanyakan mereka petani cabe. Setiap 10 
hari, kelompok digilir mengunjungi e-Pabelan, dengan durasi 
pemakaian dua jam.

Banyak pengetahun baru bisa dipetik. "Misalnya, bisa mengetahui 
jenis-jenis penyakit dan obat yang cocok," kata Paryanto, 52 
tahun, rekan sekelompok Suyudi. Menurut Paryanto, internet 
lebih jujur ketimbang bertanya kepada penyuluh pertanian. 
"Kadang penyuluh membawa misi produk obat," katanya.

Selain kelompok tani, para santri juga memanfaatkan telecenter. 
Masyarakat umum pun bisa memakainya. Tarifnya untuk umum Rp 
3.000 per jam. Anggota kelompok tani dikenai tarif Rp 1.000.

Pada awalnya, telecenter bisa diakses gratis oleh masyarakat. 
Karena pada waktu itu masih disubsidi pihak Bappenas. "Sejak 
Februari lalu, kami tidak disubsidi lagi," kata Istiatun, 42 
tahun, pengelola e-Pabelan.



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke