datuk Endang, yo dunsanak sadonyo, ambo kiro memang urang awak jaman saisuak, telah mengembangkan suatu keahlian geografis yg terstruktur rapih , yg bisa jadi berawal dalam skala kecil pada penentuan struktur penataan sebuah nagari yg kemudian diperluas .
Hal tsb bisa terlihat pada penamaan nagari di seputaran luhak nan tigo yg menggunakan angka. ado istilah ampek angkek, 5 koto , bahkan ada nama yg unik " 6 x 12 lingkuang" ( lupo ambo pasti nyo, tapi kiro2 spt itu isi nya ), tigo baleh ( di bukittinggi )dan banyak nama nagari yg menggunakan angka. ini suatu hal yg sangat unik sekali, dan jarang ditemukan di daerah lain di Indonesia ( kalau di palembang sederhana saja,spt ; 12 ilir dst ) khusus mengenai nagari sakaliliang gunung merapi, ambo dapek carito dari rang gaek, bahwa dahulu "urang gaek" awak telah membuat kesepakatan tak tertulis, bahwa ada batas diameter Km tertentu dari puncak merapi yg tak boleh dirambah , tak boleh ditanami, tak boleh dijadikan pemukiman, sampai jaman belanda konon batas geografis tsb , ditaati juga oleh penjajah belanda. dan karena itu lah sampai kini , bagian atas gunung merapi masih terpelihara keaslian hutan alam nya , beda sekali bila kita bandingkan dg hutan2 pegunungan di tanah jawa misalnya. sekian sekedar tambahan dari ambo wassalam Hendra M di tengah keheningan kebun teh lereng gunung malabar bandung selatan --- In [EMAIL PROTECTED], Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dunsanak ysh, > > Bilamana ditanya apakah ada unsur keyakinan (seperti fengshui) dalam perletakan permukiman di Minangkabau, jawabannya tentunya adalah ada. Saya memang belum memperhatikan sampai satu unit bangunan `rumah' katakanlah rumah gadang, tapi `sedang' memperhatikan pola regional atau wilayah yang lebih luas. Hingga sampai pada kesimpulan sementara: sebenarnya orang Minang memiliki bakat genetik yang sedikit lebih unggul dibandingkan suku bangsa lain dalam hal apresiasi geografi. > > Sebenarnya dulu secara tidak sengaja saya mempelajari pola-pola permukiman awal, terutama setelah dituntun melalui tambo. Dan memang ada orientasi tertentu seperti gunung, sungai, dst. Hal ini merupakan suatu proses alamiah bagi setiap permukiman masa itu. Namun pola geografis ini janganlah disamakan dengan fengshui dalam pemahaman masa kini. > > Seiring dengan perkembangan zaman, tentunya keahlian ini kian tersimpan, dan bilamana tidak jeli memperhatikan akan mudah mengatakan tidak ada. Beberapa tersimpan di dalam pitatah-patitih, dan semua menggunakan lambang-lambang dalam alam takambang. Seperti persyaratan nagari disebutkan bakorong bakampuang, balabuah batapian, dst. Termasuk pembagian luhak nan tigo, disebutkan: luhak tanah datar airnya jernih ikannya jinak buminya dingin, luhak agam airnya keruh ikannya liar buminya hangat, luhak lima puluh airnya manis ikannya jinak buminya pun demikian juga. Tentunya akan lebih banyak lagi contoh-contoh kalau kita cermat memperhatikan. Namun untuk sementara saya baru memperhatikan untuk `skala wilayah' atau nagari, dan belum kepada single entity bangunan. > > Bilamana ada kesempatan berdiskusi langsung, saya juga ingin menunjukkan di atas peta tentang adanya pola-pola yang luar biasa dari pola permukiman tempo doeloe, yang telah menginsipirasi di antaranya pembentukan adat dan budaya Minangkabau. Dalam bentangan geomorfologis hal ini dapat menunjukkan kekompakan dan keteraturan sistem budaya Minangkabau yang terbentuk sedemikian rupa. Sehingga tentunya sangat riskan bagi kita untuk sekedar memahami satu atau beberapa bagian saja dari adat budaya tersebut, konon pula untuk mengubahnya. > > Untuk skala wilayah, kompleksitas spatial-culture ini lebih rumit dibandingkan dengan Bali (hasta bumi). Namun untuk skala yang lebih besar, tentunya pola Bali akan lebih mudah terbaca dan lebih simbolik (hasta kosala kosali). Saya juga mulai mempelajari sebuah pola yang terbentuk di hulu Sungai Musi, yang kelihatannya juga cukup unik. > > Sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, apresiasi geografi ini adalah genetik untuk orang Minang, sehingga membentuk ciri. Untuk sama-sama kita pelajari tentang hal ini saat ini, seperti pemilihan tempat tinggal, lokasi usaha, dll, sampai dengan `dua langkah di depan Cina'. Mungkin kompetisi pemilihan ruang ini bisa sebanding dengan suku bangsa lain, namun untuk aspek pergi ke tempat- tempat jauh hingga terpencil `sendirian', kelihatannya belum saya lihat bandingannya. > > Wassalam, > -datuk endang > > > zul amry piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Siapa bilang orang Minang dalam mendirikan suatu bangunan tidak > memperhatikan "fengsui" atau "kosali kosali" kata orang Bali . Umumnya > rumah rumah yang berada diselingkar gunung Merapi termasuk kampung > saya di Solok akan menghadap kearah gunung tersebut , dah katanya ini > akan membawa berkah . Tak satupun bangunan yang ada menghadap matahari > terbenam , karena akan dianggap akan berakibat kurang baik , yaitu > surutnya rejeki sesuai redupnya matahari dikala senja . Arah yang > paling baik konon katanya menghadap timur . Entah sejak kapan aturan > ini mulai berlaku di Minangkabau , tak seorang pun yang saya temui > bisa menjelaskannya dengan jelas dan rinci . Barangkali ada sanak di > palanta yang tahu tentang hal tersebut . > > Wassalam : zul amry piliang di pantai jimbaran bali > -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

