Republika, Jumat, 02 Juli 2004
H Abdul Karim Amrullah 
Penyeru 'Revolusi Jiwa' 

Nama  ulama  terkemuka Buya Hamka tentu tidak asing lagi. Sumbangihnya
sangatlah  besar  di bidang pendidikan keagamaan dan dakwah Islamiyah.
Akan  tetapi,  bila menyebut nama Abdul Karim Amrullah, sangat sedikit
yang  mengenalnya.  Padahal  dia  tidak lain adalah ayahanda dari Buya
Hamka.

Seperti halnya sang putra, H Abdul Karim Amrullah juga merupakan ulama
besar  pada  awal  abad  20. Berasal dari Minangkabau, selama hidupnya
beliau telah mencurahkan segala perhatiannya guna mengembangkan dakwah
agama di tanah kelahirannya.

Masa  kecilnya  dihabiskan di kampung halamannya yang terletak di desa
Kepala  Kabun,  Nagari  Sungai Batang, Maninjau, Agam. Ayahnya bernama
Syekh  Muhammad  Amrullah  adapun  ibunya bernama Tarwasa. Abdul Karim
yang   di  masa  kecilnya  diberi  nama  Muhammad  Rasul,  mendapatkan
pelajaran agamanya yang pertama di desa Sibalantai, Tarusan, Painan.

Selama lebih kurang satu tahun, dia belajar Alquran di sana. Pada usia
13  tahun, kembali ke kampung halamannya untuk belajar nahwu dan saraf
bersama  ayahnya  sendiri. Adapun pelajaran selanjutnya dia peroleh di
Sungairotan,  Pariaman,  pada  Tuanku  Sutan Muhammad Yusuf selama dua
tahun.

Tahun  1894 tepatnya ketika berusia 15 tahun, ia dikirim ayahnya untuk
belajar ilmu agama Islam ke sumbernya langsung di Makkah. Dan di tanah
suci,   pelajaran   agama  itu  didapatnya  dari  seorang  ulama  asal
Minangkabau pula bernama Syekh Ahmad Khatib Minangkabau yang waktu itu
menjadi  guru  dan imam Masjidil Haram. Tujuh tahun lamanya ia menimba
ilmu.

Bersamaan waktunya terdapat pula beberapa putra-putra Minangkabau yang
menuntut  ilmu  di  Makkah  dan  menjadi  teman  seperguruan. Tercatat
diantaranya  Muhammad  Jamil Jambek serta Taher Jalalludin. Di samping
itu,  Abdul  Karim  Amrullah  juga  pernah berguru pada sejumlah ulama
terkenal  antara  lain  Syekh  Abdullah  Jamidin, Syekh Usman Serawak,
Syekh Umar Bajened, Syekh Saleh Bafadal, dan banyak lagi.

Usai  menyelesaikan  masa belajarnya, pada tahun 1901 ia ke tanah air.
Pengaruh  gurunya, Syekh Ahmad Khatib, membuatnya menjadi seorang yang
revolusioner  terhadap  adat Minangkabau dan kepada tarekat-tarekat di
Sumatera Barat, khususnya tarekat Naksyabandiyah.

Disebutkan  dalam  buku  Ensiklopedi  Islam,  bahwa Syekh Ahmad Khatib
selama  di  Makkah,  sesuai  dengan  beberapa pertanyaan yang diajukan
kepadanya,  sudah  menulis sejumlah buku yang mengungkapkan kekeliruan
tarekat  tersebut.  Selama  di  Makkah,  Muhammad Rasul telah menerima
pendirian dan sikap gurunya itu dengan baik.

Di  tahun-tahun  awal  kedatangannya,  Muhammad Rasul kemudian mencoba
meluruskan  praktek  tarekat  yang menurutnya tidak ada dasarnya dalam
Islam.  Upayanya  ini tidaklah mudah. Selain karena ulama yang sepaham
dengannya  tidaklah banyak, juga dia harus menghadapi ulama-ulama yang
tak  lain  adalah pengikut ayahnya sendiri, seorang syekh dari tarekat
Naksyabandiyah.

Pertentangan  paham  antara  ayah  dan anak pun tak terelakan. Kendati
demikian,  Muhammad  Rasul  yang  saat itu sudah mendapat gelar Tuanku
Syekh  Nan  Mudo,  tetap  berusaha  menjaga hubungan baik dan berbakti
kepada  sang  ayah. Sebaliknya, timbul rasa bangga pada ayahnya ketika
mengetahui  keteguhan  pendirian  anaknya  hingga menjadi seorang yang
pemberani.

Beberapa  tahun  kemudian,  Muhammad  Rasul  kembali  ke  Makkah untuk
menimba  ilmu  lebih  dalam  lagi.  Akan  tetapi,  niatnya  ini kurang
disepakati  oleh  gurunya,  Syekh  Ahmad  Khatib, lantaran menilai dia
justru  sudah  layak menjadi guru. Anjuran tersebut dipatuhinya hingga
akhirnya  membuka  ruang pendidikan di rumahnya di Syamiah, Makkah. Di
antara  muridnya  adalah  Ibrahim  bin  Musa Parabek dan Muhammad Zain
Simabur.

Muridnya  makin lama makin bertambah banyak. Untuk itu, dia disarankan
untuk  mengajar  di  Masjidilharam mengambil tempat di Bab al-Ibrahim.
Namun,  kegiatan  mengajarnya  di Masjidilharam ini tidak disukai oleh
syeh-syekh  Arab  waktu  itu.  Jadilah  kemudian dia mengajar di rumah
keponakan Syekh Ahmad Khatib.

Tak  lama  dia  tertimpa  musibah.  Istrinya  meninggal  dunia setelah
melahirkan anak keduanya, yang juga meninggal. Sampai selanjutnya usai
berhaji  tahun  1906,  ia  pulang ke kampung halaman dan menikahi adik
istrinya.  Dari  istri keduanya itu, Muhammad Rasul memperoleh seorang
putra  yang diberi nama Abdul Malik. Dikemudian hari, anaknya itu akan
dikenal orang sebagai ulama besar yakni Prof Dr Hamka.

Perjuangannya  untuk  meluruskan ajaran tarekat Naksyabandiyah semakin
gencar. Dia kian bersemangat menjalankan ide-ide gurunya. Pertentangan
dengan  para  penganut  tarekat Naksyabandiyah mencapai puncaknya yang
ditandai  oleh  istilah pertentangan antara 'kaum tua' dan 'kaum muda'
(umumnya  adalah  murid-murid  Syekh Ahmad Khatib). Saat itu, Muhammad
Rasul telah berganti nama menjadi H Abdul Karim Amrullah.

Sekitar  tahun  1925,  Abdul  Karim  mengadakan perjalanan ke Jawa dan
sempat  bertemu  dengan  HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan. Mereka
lantas  saling  bertukar  pikiran  satu  sama  lain.  Dari  situ,  dia
menangkap  kesan  yang  dibawanya  ke Sumatera Barat bahwa Islam perlu
diperjuangkan dengan sebuah organisasi yang baik. Hingga pada akhirnya
dia  mengubah  perkumpulannya 'Sendi Aman' menjadi cabang Muhammadiyah
di Sungaibatang, kampung halamannya sendiri.

Kiprahnya  untuk mengembangkan agama Islam di Sumatera Barat sangatlah
bernilai. H Abdul Karim banyak mengajar di berbagai tempat, menyiarkan
Muhammadiyah  di  Minangkabau.  Selain  itu,  dia  juga  peka terhadap
penderitaan  rakyat  kecil  dan  kerap  meluangkan waktu untuk menulis
buku.

Sesuai  prinsip  yang  diajarkan  oleh gurunya, dirinya meyakini bahwa
perjuangan  di  jalan  Allah  tidak  akan pernah berakhir selama hayat
masih  di  kandung badan. Syiar Islam harus dikumandangkan di kalangan
manapun  dan  di berbagi tempat. Berkat semangatnya itu, H Abdul Karim
disegani oleh rekan-rekannya sesama ulama.

Meski  begitu, perjuangannya tadi tidak berkenan di hari para petinggi
kolonial  Belanda.  Dia beberapa kali diasingkan. Pada 12 Januari 1941
misalnya,   pernah  mendekam  di  penjara  Bukitinggi.  Agustus  1941,
diasingkan  ke  Sukabumi.  Pemerintah Belanda khawatir dengan pengaruh
yang  dimiliki  H  Abdul Karim lantaran dalam berbagai kesempatan, dia
selalu melontarkan kecaman terhadap hukum dan peraturan Belanda.

Pun  pada  saat  tentara  Jepang menduduki Indonesia, dia dengan tegas
menolak  keharusan  membungkukkan  badan  ke  arah  timur  laut  untuk
menghormati  Tenno  Haika.  Menurutnya,  bagi pemeluk Islam, tidak ada
yang bisa disembah selain Allah SWT.

Tokoh ulama kharismatik ini di akhir hayatnya memilih tinggal di Jawa.
Ia  seringkali mengadakan pengajian-pengajian di Jakarta dan Sukabumi.
Pengunjungnya   selalu   ramai.   Pada  tanggal  2  Juni  1945,  Allah
memanggilnya dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet Jakarta.

( yus ) 



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke