Carito dibawah mungkin bisa dikatokan sbg : "Kisah sial seorang koruptor"
Di sisi lain, ado ndak urang nan namuah mancaritokan "keberhasilan" nyo membina rumah tangga dari hasil korupsi ? punyo rumah gadang batingkek, oto bakilek-kilek, dsb (jadi ingek lagu Cik Uniang Elly Kasim saisuak), termasuk berhasil menyikolakan anak2nyo sampai tinggi dan berhasil, bahkan bisa naiak haji dari hasil korupsi ? Lebih jauah lai, ybs bahkan bisa jadi tokoh masyarakat yg dermawan. Korupsi disiko bukan berarti sekedar mancilok pitih negara, tapi bisa juo pitih swasta, atau panggaleh nan pangicuah. Kok nyampang ado diantaro awak nan manjadi koruptor yg sukses tun, yg punyo kisah sukses (success story) surang, atau ado sanak nan tau koruptor sukses tun, (otobiografi atau biografi) bagi2lah caritonyo yo....nak imbang lo caritonyo. Tarimokasi sabalunnyo. Wass, Jumardi St.Chaniago. ----- Original Message ----- From: "Arnoldison" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, September 01, 2006 1:06 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya > Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya > > *) Jamil Azzaini (16/08/2006 - 12:58 WIB) > > Jurnalnet.com (Jakarta): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan > bahwa korupsi di Indonesia sudah terlalu besar dan diluar kontrol. > Korupsi sudah > merasuki semua sendi kehidupan dan telah terjadi baik di eksekutif, > legislatif maupun yudikatif. Pernyataan presiden yang disampaikan pada > cara Presidential Lecture di Istana Negara pada Rabu, 2 Agustus 2006, > itu > mengisyaratkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih jauh dari > harapan. > > Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi yakinkah kita bahwa > mereka benar-benar lolos dari jerat hukum? Ngomong-ngomong soal korupsi > saya > ingin berbagi cerita. > > Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan > sebuah perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara > tentang "hukum kekekalan energi", yang intinya, menurut hukum > kekekalan energi dan semua agama, apapun yang kita lakukan pasti akan > dibalas sempurna kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita > melakukan "energi positif" atau kebaikan maka kita akan mendapat > balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan "energi > negatif" atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa > keburukan pula. > > Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu > mengkritik pedas "hukum kekekalan energi". Walau saya sudah > menjelaskan dengan eragam argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam > kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin. Sampai kami berpisah, kami > masih pada pendapat masing-masing. > > Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. "Pak > Jamil, saya ingin bertemu anda," ujarnya singkat. > > Karena penasaran, undangan dari beliau saya prioritaskan. Singkat > kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu. > > Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian. Begitu saya datang, > beliau segera menyambut dengan sebuah pelukan erat. Cukup lama beliau > memeluk saya. "Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya," ucapnya, sambil > terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini > saya diam saja. > > Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. "Saya sekarang yakin > dengan apa yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita berbuat energi > positif maka kita akan mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi > negatif maka pasti kita akan mendapat keburukan," ujarnya. > > "Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?" tanya saya. > > "Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang > yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima > ratus dua puluh enam juta rupiah," katanya. > > Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini > tentang anaknya. > > "Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena > narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan > Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan teman pengguna > narkobanya > ketika di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun > dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan makin parah, pak." > Selama bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya yang basah dengan air > mata yang terus meleleh seperti tak mau berhenti. > > "Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak saya?" > Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata lirih, > "Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang > kotor yang saya terima, pak!" > > Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengka n kepala disertai isak tangis > yang makin keras. Dengan terbata lelaki itu berkata, "Uang korupsi itu > telah > merusak anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tuayang baik. Saya > telah merusak anak saya, pak!" > > Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya tumpah. > Tangisnya semakin keras.... > > Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi pengguna narkobadan > sakit untuk berhenti korupsi? > > Keterangan Penulis: > Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller. > KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup. > > > > > -------------------------------------------------------------- > Website: http://www.rantaunet.org > ========================================================= > * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi > keanggotaan, > silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting > * Posting dan membaca email lewat web di > http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages > dengan tetap harus terdaftar di sini. > -------------------------------------------------------------- > UNTUK DIPERHATIKAN: > - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply > - Besar posting maksimum 100 KB > - Mengirim attachment ditolak oleh sistem > ========================================================= > > > -- > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.1.405 / Virus Database: 268.11.7/433 - Release Date: 8/30/2006 > > -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

