FYI

________________________________

From: suheimi ksuheimi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, August 31, 2006 10:44 AM
To: Elthaf (elthaf)
Subject: RE: artikel


ANDAI DIA PERCAYA
Oleh : K Suheimi 
 
Hal-hal kecil dan hampir tiap hari kita alami. Berbicara soal kesabaran dan 
tata tertib mengendara, Kisah-kisah seperti ini sangat menarik hati'
Hari ini saya dengar suara Adi yang khas  menyentuh dan menyejukkan, dia 
membacakan bahan dan ceritra yang telah di olah Yanti. Kisah ini sangat 
menyentuh dan menarik, Ingin saya ceritrakan juqa pada pembaca saya yang setia. 
Agar kita sama-sama berbagi.   
Ceritranya sederhana, bahannya berasal dari Meidi. Meidi sedang melanjutkan 
pendidikan pasca sarjananya di UNP. Dia suka sekali membongkar-bongkar 
internet. Banyak ceritra menarik dan penuh makna yang didapatnya , Seperti hari 
ini dia bertutur tentang Keledai. Ceritra inilah yang akan saya sampaikan pada 
pembaca dalam kolom Resonansi Jiwa. 
 
Memang sulit sekali membuat orang lain mempercayai pihak lain, walaupun untuk 
hal-hal yang sederhana,, Soal lampu rem misalnya, jika ia menyala, itu pasti 
pertanda bahwa ada hambatan di depan,, Maka sudah sepantasnya, si belakang 
mengikuti si depan , karena depanlah yang tengah menjadi imam , melihat dengan 
mata kepala sendiri, dan yang paling menguasai data dan informasi,,
Tapi karena azasnya sudah tidak dipercayai , maka otoritas ini sering dianggap 
sepi,, Saat itu, aku yang mestinya paling berhak untuk mengerti bahwa di depan 
ada becak yang hendak menyeberang,, Biarlah ia lewat, karena bebannya berat 
amat,, Kalau ia harus berhenti dan menggejot dari awal lagi, tentu repot 
sekali,, 
Tapi keputusanku ini ternyata cuma membuat mobil di belakang itu salah paham,, 
Baru saja aku menginjakkan rem , klaksonnya sudah menyalak dengan galaknya,, 
Tapi keputusan telah ditetapkan, dan si tukang becak telah mengambil jalan,, 
Hanya si mobil belakang ini juga telah membulatkan hati: memilih menyalipku 
katimbang ikut berhenti,, Maka yang terjadi ....terjadilah,,
(Smasshhhh... preeennggngngg)
selanjutnya ia harus kaget setengah mati ketika becak itu nongol begitu saja di 
depan mobilnya, lalu ia menginjak rem sekuat yang ia bisa,, Tabrakan keras 
memang tidak terjadi ... tapi sekadar ciuman bumper... telah membuat sang becak 
terguling,, Muatan buahnya yang menggunung berhamburan ke sekujur jalan,, 
Sebagai kecelakaan si becak tentu bukan hal yang aneh ,  tapi buah-buah yang 
berhamburan itu benar-benar telah menjadi provokasi tersendiri,,
Jalanan macet seketika, Si mobil yang tadi dibelakangku hanya bisa pucat pasi,, 
sepertinya ia seorang lelaki yang terpelajar, tapi saat itu sudah berubah 
menjadi orang dogol,, Posisi mobilnya secara mencolok mengatakan bahwa dialah 
biang keladi kemacetan ini, sehingga semua pihak kini menudingnya,, Dan abang 
becak yang terkapar ini entah belajar teori drama dari mana, membangun 
sensasi,, Ia membiarkan saja becaknya telentang,, Ia sendiri dengan ketenangan 
seorang jagoan, memilih bangkit dan berjalan menghampiri si pengemudi dan 
langsung menghajarnya,,
Cerita selanjutnya bukan urusanku lagi, tapi tak sulit merekonstruksi ending 
insiden ini,, Betapa tidak enak membayangkan pengemudi mobil tadi, seorang yang 
tampak terpelajar, bertampang bersih, tapi cuma jadi bahan olok-olok lingkungan 
dan dipukuli abang becak lagi,, Padahal, jika ia mau sedikit bersabar, dan 
terpenting, mau mempercayaiku untuk ikut berhenti, musibah ini tentu tidak akan 
terjadi,, Tapi begitulah memang keadaan di negeriku, orang lain tak pernah 
dibiarkan menjadi imam, walau ia memang tengah memegang otoritas yang 
sesungguhnya,,
Inilah kenapa kita selalu terdorong main klakson kepada mobil yang ada di 
depan,, Itulah kenapa dalam hal antre, leher kita cenderung terjulur demikian 
panjang untuk selalu gatal menginterogasi keadaan di depan,, Padahal di depan 
itu sering tidak terjadi apa-apa,, Kemacetan itu masih baik-baik saja,, Sekeras 
apapun klakson ini kita ledakkan, kita tetap saja akan macet jika waktu lancar 
memang belum tiba,, Pada gilirannya, antrean pasti akan bergerak maju dengan 
caranya sendiri,, Jika semua masih terhenti, pasti karena masih ada persoalan,, 
Tapi biarlah itu persoalan yang di depan,, Kita di belakang sini, tinggal 
mempercayai,, Berat memang, tapi inilah ongkos hidup bersama,, Harus ada 
semacam tebusan sebagai ongkos kepercayaan,,
classy people , ketidaksabaran membayar ongkos yang mahal. inilah yang membuat 
hidup kita sering dilanda kekacauan,, Para imam, pemimpin, dan pihak yang di 
depan itu, memang bisa saja menyelewengkan kepercayaan, kita boleh kecewa tapi 
tak perlu trauma,, Karena untuk hidup bersama, manusia memang butuh saling 
percaya,, Soal bahwa sesekali kita tertipu, tidak usah diherankan pula,, Siapa 
yang bisa membebaskan diri dari nasib sial? , Rasanya tak ada kecuali Tuhan,,,
 
Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman suci Nya dalam Al Qur'an surat 
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan 
dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya setelah mereka 
memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. 2:75)
 

________________________________

Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls 
<http://us.rd.yahoo.com/mail_us/taglines/postman1/*http://us.rd.yahoo.com/evt=39663/*http://voice.yahoo.com>
  to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke