Gubernur Berebut Pesan Nutrisi Saputra

Kemarin Presentasi di Depan Menteri 
JAKARTA  -  Sidang  Kabinet  Indonesia  bersatu  kemarin lain daripada
biasanya.  Presiden  Susilo  Bambang Yudhoyono (SBY) menghadirkan Umar
Hasan  Saputra,  pencipta  nutrisi  esensial, formula ajaib yang sudah
terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman pangan.

Setelah   sidang,   pencipta   Nutrisi   Saputra   (NS)   itu  diminta
mempresentasikan  temuannya  di depan Wakil Presiden Jusuf Kalla, para
menteri, dan gubernur se-Indonesia.

SBY  sengaja  mengajak  Saputra -sapaan Umar Hasan Saputra- memaparkan
formula  yang  diberi nama Nutrisi Saputra (NS) tersebut. Rupanya, SBY
terpukau  saat  sehari  sebelumnya  melihat langsung nutrisi tersebut.
"Saya  juga  tidak menyangka disuruh presentasi di depan semua menteri
dan  gubernur.  Nervous  juga,"  kata  Saputra  setelah sidang kabinet
kemarin.

Hari  itu  Saputra  ditemani  pengusaha nasional Ir Ciputra. Kali ini,
selain  membawa contoh nutrisi, Saputra juga membawa contoh beras yang
dihasilkan  dari  padi  bernutrisi  esensial.  Beras yang diberi label
Saputra  Teknologi  itu  berbiji  lebih  besar. Pecahannya juga sangat
sedikit.

Saputra  maupun  Ciputra sama sekali tidak menyangka, para menteri dan
gubernur   begitu  antusias.  "Semua  gubernur  tadi  minta  daerahnya
didahulukan untuk mencoba nutrisi Saputra itu," kata Ciputra.

Kekhawatiran  Saputra bahwa para menteri dan gubernur sulit memercayai
formula  ajaib  itu  ternyata  tidak terbukti. Yang dipertanyakan para
menteri  dan gubernur bukan lagi soal bukti keberhasilan. Tetapi lebih
kepada keinginan memakai nutrisi tersebut.

"Kalau  presiden  sudah  percaya,  kami  tentu  percaya," kata Menteri
Kehutanan  M.S.  Ka'ban.  Dia  juga  sempat  bertanya,  apakah NS bisa
dipakai untuk meningkatkan produktivitas tanaman di kawasan hutan.

Keyakinan   para   gubernur  itu  semakin  bertambah  karena  Gubernur
Gorontalo  Fadel  Muhammad  kemarin  memberikan testimoni atas formula
Saputra  tersebut.  Maklum, nutrisi itu memang pertama dikembangkan di
Gorontalo.

"Di tempat saya (Gorontalo, Red), produksi jagung meningkat 300 persen
berkat  nutrisi  ini,"  kata Fadel. Dia memaparkan, biasanya sehektare
tanah  menghasilkan  2  ton jagung. Sejak memakai SN, produksinya naik
menjadi 6 ton. "Ongkos produksinya juga jauh lebih murah," ujarnya.

Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Sri Sultan Hamengku Buwono X
meminta NS ini diujicobakan di Gunung Kidul. "Saya ingin tahu apa bisa
dipakai  di  tanah  berbatu  seperti  Gunung Kidul. Nutrisi ini sukses
diuji coba di lahan gambut di Bantul," kata Sultan.

Gubernur   Papua   Barnabas  Suebu  sempat  menanyakan  secara  detail
teknologi  yang dipakai Saputra. Dia juga mengharapkan SN bisa dipakai
untuk tanaman sagu.

Pjs  Gubernur  Aceh Mustafa Abubakar meminta Aceh diprioritaskan untuk
mempercepat pertumbuhan ekonomi di sana.

Yang  paling detail bertanya adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kepada
Saputra, Kalla minta dijelaskan secara rinci bagaimana bentuk dan cara
kerja  NS  tersebut.  "Kalau  benar,  berarti  tidak perlu impor beras
lagi," kata Kalla.

Kepada  para  gubernur  dan  menteri,  Saputra  menjelaskan,  NS  bisa
diterapkan  di  semua  jenis  lahan. Mulai lahan kering, lahan gambut,
hingga lahan berpasir. Hanya, produksinya masih terbatas. "Nanti diuji
coba di semua provinsi. Tahap pertama 100 ribu hektare," ujar Saputra.

Saputra  juga  menyampaikan, dia tidak ingin terlalu cepat memproduksi
NS secara masal. Bagaimanapun juga, produksi NS harus dilakukan secara
gradual. "Tidak bagus kalau terlalu cepat," katanya.

Saat  ini,  Saputra  mengurus hak paten nutrisi temuannya. Karena itu,
wajar  formula nutrisi itu masih dirahasiakan. "Masih dicari nama yang
menonjolkan Indonesia," ujarnya.

Karena  itu, NS belum diproduksi secara masal. Meski demikian, Saputra
mengaku sudah kebanjiran order. Saat launching perdana 15 Agustus lalu
di  Hotel  Ciputra,  Jakarta,  dalam dua jam, order NS mencapai Rp 120
miliar.  "Sementara,  saya masih membatasi sampai Rp 250 miliar," kata
Manajer PT Suba Indah Tbk itu.

Tidak  hanya  Saputra  yang  gembira.  Pak  Ci  -sapaan  Ciputra- juga
berbinar-binar  usai  sidang  kabinet  kemarin.  "Saya semakin optimis
Indonesia  bisa  swasembada  beras  pada 2008 dan menjadi lumbung padi
internasional pada 2009," ujar Pak Ci.

Menurut  Pak Ci, dukungan para menteri dan gubernur sangatlah penting.
Ke  depan,  pemerintah  memang  harus  membuka jalan bagi ilmuwan yang
ingin mengembangkan inovasinya di Indonesia. "Banyak ilmuwan Indonesia
yang  mengembangkan  inovasinya di luar negeri karena merasa terhambat
di Indonesia," kata Pak Ci. "Akibatnya, yang maju justru negara lain,"
sambungnya.

[Non-text portions of this message have been removed]




--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke