Assalamualaikum ww
Suai bona ambo jo Dt Endang ............... mari kito cek baliak, syukran
---------------------------------------------
Istilah Padri berasal dari al Badri
Angin malam membawa berita bahwa tanah Hejaz telah diserbu para Kafir Nejed,
hanya beberapa kilometer lagi jika tidak segera dibendung akan sampailah mereka
ke Tanah Haram Makkah al Mukaramah
Gemuruh darah didado hati nan indak sanang lai, kampuang halaman kedua
setelah Ranah Bundo dalam keadaan terancam, ingin rasanya terbang saat ini juga
berjihad bersama para mujahid lain-nya mengusir Kapia2 Nejed, tapi ka- baa-lah
tugas dawah sadang tabangkalai, tabayang wajah guru2 para Syaikh yang telah 13
tahun membina (1790-1802) sejak dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad al Amir ash
Shanani al Makki, Syaikh Muhammad ad Dasuqi asy Syafii, Syaikh Muhammad Said
bin Muhammad Sanbal, Syaikh Tahir bin Muhammad Said, Syaikh Sayid Ahmad Alwi
Jamalulail dan masih selusinan lagi berkualifikasi tim penguji S3, namun yang
paling mengesankan tentu saja Syaikh Ahmad bin Muhammad Yunus al Badri al
Madani dari Mesjid Nabawi Madinah al Munawarah, dosen yang satu ini sangat
berpengaruh baik karena keilmuan yang dimilikinya maupun pesona tampilan dan
suaranya yang memukau dan lebih dari itu beliau memiliki kemantapan beribadah
sehingga banyak murid2nya menisbahkan diri padanya dan
menyebut diri sebagai al Badriyin (kaum Badri) yang kemudian dengan
berjalan-nya sang waktu kita baca sebagai Kaum Padri
6 kuda berlari kencang meninggalkan kepulan debu 3 al Badriyin H. Miskin
Pandai Sikek, H Abdul Rahman Piobang Payakumbuah dan H Sumaniak Batu Sangkar
bersama asisten masing2 ngebut menuju Bonjol tepatnya Kampuang Koto surau Sayid
Usman saudagar mubalig asal Yaman yang baru tiba bersama istrinya yang orang
Bonjol itu setelah hampir setahun berdagang hingga ke Maghribi Arab sono
Walau kafir Nejed dapat dihalau namun perang tersebut telah menelan korban
tidak sedikit terutama kader2 dawah yang telah menguasai berbagai disiplin
Ilmu2 Islam hasil didikan para Syaikh Masjidil Haram dan Nabawi, demikian
tutur Sayid Usman sumando rang Bonjol itu
Silaturahmi ke Bonjol membawa berkah lain, tidak jauh dari surau tersebut
adalah sebuah rumah adik perempuan Sayid Usman yang bernama Hamatun yang
bersuamikan saudara sepupu istri sayid Usman yang mempunyai anak bernama
Muhammad Sahab (lahir 1772) pemuda berwajah Arab Hadhramaut yang sedang
giat2nya memperdalam ilmu2 Islam yang karena kealiman-nya mendapat gelar Malin
Mudo yang kelak dikenal sebagai Peto Syarif Panglima Perang Padri Tuanku Imam
Bonjol
Walau Peto Syarif bukan jebolan Makkah Madinah namun memiliki buku2 lengkap
kan paman-nya Sayid Usman yang saudagar mancanegara itu tiap pulang menggalas
membawa oleh2 buku bermutu, tidak heran kutu buku yang satu ini telah
menghasilkan karya2 Ilmiyah dalam bahasa Arab, lebih dari itu Peto Syarif yang
lancar ngomong Arab ini ternyata mempunyai fikrah sejalan dengan 3 Wahabi Muda
murid al Badri dan siap meperjuangkan dawah di Minangkabau
Setelah mendapat juklak dari 3 al Badriyin ini, Peto Syarif mulai merekrut
dan men-tarbiyah calon2 kader dawah, kalau selama ini Peto Syarif berdawah
menggunakan system belajar mengajar, pidato2an dan ceramah2an yang monolog
masuak talingo suok kalua talingo kida yang kurang efektif itu, kini mulai
menggunakan system terpadu memiliki program berjenjang dengan silabus yang
lengkap dengan system monitoring dan evaluasi, Alhamdulillah, sejak itu tampak
perubahan signifikan dalam ber-Islam di Bonjol dan sekitarnya
Adalah Tuanku nan Tuo yang lemah lembut dalam berdawah dibanding muridnya
Tuanku nan Renceh yang tegas dalam Syariat Islam (bahkan sempat menerapkan
hukum qisas walau kepada saudara ibunya yang bersalah), setelah silarurahmi
dengan H Miskin membuka cakrawala ber-dawah yang selama ini salingka nagari
kini dilayangkan pandang nan jauah ditukiakan pandang nan hampia tatumbuak
pandang katanah Batak maka mufakat menugaskan Tuanku Nan Renceh kesana,
Alhamdulillah sukses tarbiyahnya juga mengorbitkan pemuda berbakat marga
Harahap sebagai korlap Kordinator Lapangan yang kelak dikenal sebagai Tuanku
Rao
Di Luhak Tanah Datar Wilayah Dawah H Sumaniak pun terkatrol anak muda yang
kita kenal sebagai Tuanku Lintau yang mendapat tugas ke Pagaruyuang diakhir
1803 menyeru orang2 istana meninggalkan tradisi2 jahiliyah dan ber-Islam-lah
secara kaffah serta bertaqwa dengan se-benar2 taqwa yang disambut Rajo Alam
Muningsyah III dengan baik namun diluar Istana terjadi ketegangan yang dipicu
seorang keluarga istana yang kurang simpatik (urusan doso pahalo urusan
sorang2, indak paralu bana kalian cikarau urusan kami) yang berujung bentrok
fisik ditengah keramaian acara peringatan 40 hari kematian kerabat istana di
Koto Tangah Tanjuang Barulak, rombongan kecil Tuanku Lintau terdesak namun
salah seorang anggotanya lolos yang selanjutnya dapat ditebak dengan
berdatangan murid2 Padri yang berakhir dengan huru hara ber-darah2 yang
me-newaskan Raja Muningsyah III dan Istano Alam Pagaruyung musnah terbakar dan
malam itu juga keluarga Istana terutama putra mahkota Sutan Bagagarsyah yang
masih berumur 9 tahun dan kakak perempuannya Tuan Gadih Reno Haluih dan
suaminya Yam Tuan Garang Tuanku Sati gelar Tuanku Sumbayang III Rajo Ibadat
yang berkedudukan di Sumpur Kudus mengungsi ke Istano Rajo Tuan Gadih di
Singingi Rantau Kuantan (Riau) yang selanjut dipengasingan Tuanku Sembahyang
III sebagai temporary assignment Wali Raja Minangkabau hingga Sutan Bagagarsyah
dewasa kelak
Walau insiden2 kecil sudah sering terjadi dengan kaum adat diperbagai pelosok
yang dimasuki Islam Reformis namun insiden Pagaruyuang ini telah membuka
jalan kapia2 Bulando untuk lebih mencengkeramkan kaki kepedalaman Minangkabau,
makmalin kembali setelah ini
Wasalam
abp
Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dunsanak ABP ysh,
Berikut sebagai perbandingan saya kutipkan saja catatan AQD di milis ApaKabar
untuk menilai asal mula gerakan Paderi I di Minangkabau. Di dalam tambo Dt.
Batoeah juga disebutkan asal mula perang Paderi. Dan juga katanya di buku
Parlindungan.
Sebagai tambahan, saya menemukan sebuah sumber yang menyebutkan pada tahun 1780
telah terjadi gerakan reformasi Islam di Minangkabau. Hanya sampai sekarang
saya belum jelas bentuk dari gerakan tersebut termasuk yang mempeloporinya.
Catatan berikutnya, hingga 1821 belum ada pengaruh asing (Barat dan lainnya)
yang masuk ke Minangkabau. Walaupun Inggris pernah cukup lama berkuasa di
Bengkulu sebelumnya. Dan baru pada tahun 1796 Inggris menguasai 'Padang'. Tahun
1819 Belanda masuk ke Padang, dan baru pada tahun 1821 mulai mengukuhkan
kekuasaannya, dan menyebabkan mulainya perang Paderi II. Satu catatan lagi,
tahun 1793 seorang bajak laut Perancis pernah menduduki Padang selama beberapa
bulan.
Mohon kiranya dicermati juga 'faktor eksternal' yang terjadi di Eropah pada
priode2 tersebut.
Demikian, wassalam.
-datuk endang
AQD:
Latar belakang lahirnya kaum Padri mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi
yang muncul di Saudi Arabia, yaitu gerakan yang dipimpin oleh seorang
ulama besar bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1703--1787). Nama gerakan
Wahabi ........... maaf dikarek men kan alah dibaco ...
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================