http://www.hariansinggalang.co.id/link/tajuk.php, Rabu,13 September 2006
Tidak dapat dianggap masalah kecil, di Sumatra Barat terdapat sekitar 265.370 orang (13, 24) penganggur. Ini bukan jumlah yang kecil dan diperkirakan dari tahun ke tahun akan terus meningkat. Selain menjadi beban berat bagi pemerintah daerah, tidak tertutup kemungkinan bertambahnya pengangguran dapat menimbulkan efek negatif. Pengangguran adalah mereka yang putus sekolah dan yang tamatan SLTA dan perguruan tinggi. Kesulitan mendapat pekerjaan, antara lain disebabkan karena tidak memiliki keterampilan khusus. Bagaimana pekerjaan akan didapat,keterampilan saja tidak punya! Kalau ada sebahagian yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, terkendala biaya. Dalam Rapat Kerja Bupati-Walikota se Sumbar di Sikuai, Senin (11/9) masalah itu diapungkan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi. Mengapa menganggur? Jawaban klise yang kita terima selama ini adalah terbatasnya lapangan kerja. Di lapangan, kesempatan kerja pun semakin sulit. Adakah sistem pendidikan kita yang salah, atau lapangan kerja itu yang benar-benar sulit? Alternatif memprioritaskan penerimaan siswa kejuruan dibanding sekolah umum, menjadi salah satu pilihan. Perlu diingat, selama ini hanya ada satu-dua SLTA Kejuruan yang baru bisa menghasilkan lulusan siap pakai. Selebihnya? Ya, itu tadi, kalau tidak melanjutkan, menjadi pengangguran. Nah! Kalau tidak ingin menghasilkan lulusan jadi pengangguran, sekolah kejuruan perlu didorong. Tidak hanya dana, bentuk-bentuk keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja sangat diperlukan. Seberapa banyak hal-hal seperti itu diterapkan di sekolah-sekolah kejuruan? Yang kita ketahui selama ini, jurusan-jurusan yang dimiliki sekolah kejuruan belum banyak berubah, sementara kebutuhan keterampilan di lapangan menuntut perubahan drastis. Kalau lapangan kerja yang terbuka baru di bidang kelapa sawit, mengapa kejurusan yang dibuka industri pertukangan? Kurangnya kemampuan bersaing memperebutkan lapangan kerja juga karena minimnya penguasaan teknologi dan bahasa. Sedikit sekali lulusan sekolah kejuruan yang menguasai bahasa asing. Ini sudah kita bicarakan dari tahun ke tahun dan sampai sekarang. Kalau kemudian muncul pertanyaan, apakah lapangan kerja sangat terbatas? Jawabnya "ya". Penyebab kesulitan itu antara lain, sulitnya investor masuk ke daerah ini. Kalau ada janji-janji kemudahan, kenyataan di lapangan belum sejalan dengan apa yang dialami calon investor. Investor banyak mengaku menjadi 'sapi perahan'. Baru akan memulai pembuka lahan, sudah mengantri berbagai jenis pungutan, baik yang resmi apalagi yang tidak resmi. Kalau masih begitu-begitu saja keadaanya, mungkinkah lapangan kerja akan bertambah? Lalu kalau kemudian calon investor mengalihkan usahanya ke daerah lain, timbul saling menyalahkan. Ujung-ujungnya pengangguran bertambah. Muncul nada pesemis dari pelosok. "Kalau hanya untuk jadi pengangguran, mengapa harus bersekolah tinggi-tinggi". Karena itu, untuk mengurangi pengangguran, selain membuka lapangan kerja dengan mendatangkan investor, juga tidak kalah pentingnya membuka lahan perkebunan di tingkat nagari. Lahan di nagar-nagari di Sumbar yang belum digarap, bukan sedikit jumlahnya. Mumpung Sumbar kini memprogramkan penanaman ratusan ribu hektare tanaman kakao. Salah satu upaya menggurangi pengangguran mungkin dapat diatasi melalui program itu. Pertanyaannya, apakah penganggur itu siap menjadi petani? o * On 9/13/06, Z Chaniago <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamu'alaikum WW > > ....dari tajuk di harian kompas ....satu-duo minggu nan lalu....., ambo > cukia-kan > - quote > > Pemenang hadiah Nobel Ekonomi, Amartya Sen, menulis, orang menjadi miskin > karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu, bukan karena mereka tidak > memiliki sesuatu. > -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

