Dear George,

"Kemendur" (Dutch: commandeur) bukanlah a "military commander", tidak sama 
dengan "komandan" (Dutch: commandant). Saya bukan pembahasa Belanda tetapi 
ingin melihat istilah Kemendur itu dalam Konteks Minangkabau di masa 
Pemerintahan Hindia Belanda tempo doeloe.

Dalam konteks Siti Nurbaya di masa Pemerintahan Hindia Belanda, daerah 
Sumatera Barat itu dinamakan Residentie [Keresidenan] yang dikepalai oleh 
seorang Resident. Residentie dipecah manjadi Afdeling [Luhak atau Kabupaten 
sekarang] yang dikepalai oleh Asistent Resident (Asisten Residen) dan 
kemudian Afdeling itu dipecah lagi menjadi Onderafdeling [kira-kira 
kewedanaan sekarang] yang dikepalai oleh seorang Commandeur. Itulah 
hierarki pangkat-pangkat yang semuanya dipegang oleh Orang 
Belanda.  Daerah-daerah pecahan di bawah onderafdeling itu baru boleh 
dijabat oleh Orang Melayu [Minangkabau]. Commandeur adalah jabatan kepala 
daerah yang terendah yang dipagang oleh Orang Belanda.

"Commandeur" diucapkan oleh lidah Orang Minangkabau menjadi "Kumandua", 
dimelayukan/diindonesiakan/dihaluskan oleh penulis-penulis Minang menjadi 
"Kumandur" atau "Kemendur". Karena di depan pangkat Kumandua itu juga 
dipakai kata gelar kehormatan "Tuan", orang Minangkabau memanggikannya 
sebagai "Tuan Kumandua". Dalam permainan kata-kata [orang Minang senang 
dengan oral culture] "Tuan Kumandua" ini diplesetkan juga manjadi "Tuanku 
Mandua" (seperti panggilan-panggilan "Tuanku" kepada ulama). Tuanku (bukan 
Tuan) di "Tuanku Laras" ("Tuanku Lareh") yang mengepalai daerah Laras 
(Lareh)  di bawah onderafdeling tadi.

Tetapi panggilan "Tuanku Mandua" ini agak sinis sedikit karena kata "madua" 
dalam Bahasa Minang setidak-tidaknya berarti dua, (1) mandor (pengawas, 
supervisor) dan (2) mandua (mandul, tidak dapat mempunyai anak). Jadi 
Tuanku Mandua itu adalah Tuanku Mandul (yang tidak dapat mempunyai anak ... 
:).

Adalagi sinonim dalam istilah-istilah itu. Tuan Residen dipanggilkan jua 
"Tuan Basa Padang" karena berkedudukan di Padang, Tuan Asisten Residen 
dipanggilakn juga "Tuan Luhak" atau "Tuan Luwak" yang paling bawahnya 
adalah "Tuan Kumandua".

"Tuanku Laras" (Minang: "Tuangku Lareh") adalah pangkat tertinggi yang 
dipegang oleh Orang Minang dengan daerahnya Laras [Minang: "Lareh" 
kira-kira kecamatan sekarang]. Rasanya di bawah Tuanku Lareh ada lagi 
pangkat Asisten Lareh yang dipanggilkan orang Minang sebagai "Inyiak Asih". 
Sesudah itu baru "Kapalo Nagari" (Village Headman) atau dispanggilkan pula 
"Inyiak Palo".

Padang Hulu di sini artinya Padang Highland and Bukitinggi is the seat of 
Tuan Luhak Agam. Barangkali baik dicek kembali kalimat dengan frase 
"berkumpullah di kantor Residen Bukit TInggi", karena Kantor Residen ada di 
Padang, bukan di Bukittinggi. Di Bukittinggi  ada Kantor Asisten Residen.

Mengenai aspiran-aspiran yah memang calon-calon atau kandidat-kandidat. Oh 
ya, di Bukittinggi jua ada jalan (main street) yang namanya Jalan Sapiran; 
apakah ada hubungan kata Sapiran ini dengan Aspiran, hanya satu pertanyaan 
yang menggatalkan benak saya saja yang perlu saya garut kapala sekarang.  :)

Sayang agak panjang komentar saya, mudah-mudahan dapat memberikanalatar 
belakang sistem pemerintahan Belanda di Sumatera Barat tempo doeloe.

Salam,
-- Sjamsir Sjarif
I cc this comment to Rantaunet [Minangkabau Mailing List] to shed the light 
to our members.

>Kemendur-Kemendur and Aspiran-Aspiran

Tue Sep 19, 2006 7:13 am
"george fowler" <[EMAIL PROTECTED]>

>Here is a question for our Dutch speakers. This episode in the concluding
>part of "Sitti Nurbaya" (yep, almost finished a first draft) describes the
>convening by the Dutch colonial apparatus of meetings with local headmen and
>sub-district heads, etc. to explain why Batavia feels it necessary to impose
>a "belasting" on the region of West Sumatra. The period is the 1880's. I
>would like to get your views on how to deal with the subject terms.
>
>Pada suatu hari berkumpullah di kantor Residen Bukit TInggi, sekalian Tuanku
>Laras keresidenan Padang Hulu. Asisten-Asisten Residen dengan
>Kemendur-kemendur dan Aspiran-Aspirannya pun ada serta hadir.
>
>Kemendur does seems to indicate "military commander." Can this be
>corroborated?
>
>As for Aspiran, ALan's dictionary glosses this as "aspirant, candidate."
>Only here I have trouble putting such functions into the context. Unless the
>meaning is some kind of understudy to important civil service or military
>positions. In fact the context says the aspiran-aspiran were those of the
>kemenders. Would this indicate some kind of aide-de-camp or adjutant, if
>indeed kemendurs are "military commanders"?
>
>Thanks for any input.
>
>George



-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.405 / Virus Database: 268.12.5/450 - Release Date: 9/18/2006



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke