sanak Rul Jamal yang baik

Iko kaba nan baru pulo Baa kok indak LKAAM Kaba mengejutkan Baa kok kok sampai 
hanyo Nagari Tanhung Alam  Tambah ruwet  Bisuak mungkin Nagari Selayo dan 
banyak lagi Nagari  Ambo sedih  Alah co iko keadaan awak Kok dipacalekkan kalua 
perecahan kito ka urang banyak Io makin hebat urang Minang kini Ambo indak tau 
kalau ado nan bangga  atau tidak peduli urang tau rasio dapua kito  

Ambo danga ado yang manyampaikan ka baliau supayo jan sampai beliau manarimo 
Pacah urang Minang Itu kan kesan indak elok Ambo labiaeh setuju bertempur para 
ahli adat kito dulu Itu pulo nan ambo sampaikan ka pak Syaf Kalua kito tetap 
satu 

Ch N Latief Dt Bandaro 78

----- Original Message ----
From: rul djamal <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, September 21, 2006 10:29:29 AM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Ketek Banamo, Gadang Bagala


Ass Wr Wb
mano sanak di palanta rantaunet
tadi pagi ambo mandanga radio elshinta, bahasonyo pak SBY jam 08.30 alah
mandarat di BIM, acara baliua tu hari ko manarimo gala DR HC dari UNAND, dan
dilanjuikkan jo peresmian Program Pemberantasan kemiskinan berbasis nagari
Bisuak hari jumaek akan ke Bukittinggi salah satu acaranyo manarimo gala
sangsako adat dari KERAPATAN ADAT NAGARI TANJUANG ALAM untuak Pak SBY dan
Ibu Ani, bukan dari LKAAM SUMBAR
Baa komentar sanak nan dari Tanjuang Alam ?

Wass

cd rajosampono ( 57+)

----- Original Message ----- 
From: "Datuk Endang" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, September 17, 2006 5:15 PM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Ketek Banamo, Gadang Bagala


Dunsanak ysh,
  Secara pribadi saya mempunyai pendapat sendiri mengenai hal ini, dan telah
berjuang untuk menolak hal-hal semacam itu sejak tahun 1994.

  Perlu saya sampaikan, bahwa pada hari Sabtu 11 Desember 2004 yang lalu,
Ninik Mamak Minangkabau DKI Jakarta telah mengadakan musyawarah yang
hasilnya kurang lebih sebagai berikut :
  1 Tidak setuju dan menolak setiap pemberian Gelar Kehormatan "Gelar Ninik
Mamak / Penghulu Pemangku Adat nan Bagala Datuak".
  2 Pemberian gelar kehormatan tersebut bila telanjur diberikan oleh
perhimpunan Masyarakat Minang di rantau atau di kampung atau KAN tertentu,
dianggap telah melanggar prinsip adat dan harus dinyatakan 'tidak syah'.
  3 Gelar kehormatan kepada seseorang yang berstatus non-Minang/Minang atas
penilaian tertentu tersebab telah mengharumkan nama Minangkabau, hanyalah
sebatas gelar 'Sutan' atau gelar-gelar lain yang bukan milik para pemangku
adat atau ninik mamak.

  Tindak lanjut ke depan sebagaimana dalam diskusi terdahulu, saya
menyarankan agar diusut para pelaku yang berada di belakang itu, dan kalau
boleh saya sebut bila hal ini sudah ada semacam 'mafia' yang
memperjualbelikan kehormatan masyarakat Minangkabau. Rasanya orang-orangnya
tidak jauh dari yang dulu-dulu juga.

  Bila dari info Pak Saaf acara tersebut akan segera dilangsungkan, perlu
kiranya kita mengingatkan dan diluruskan, atau setidaknya memperhatikan
aspirasi para Ninik Mamak di Jakarta tersebut.

  Demikian, dan wassalam,

  -datuk endang


mondrian_em mondrian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Assalamualaikum Wr
Wb
Ambo sangat setuju tulisan sanak iko..pemberian gelar Datuk yang tidak
sesuai dengan aturan yang ada akan menumbuhkan sipat FEODAL.
Salam


dutamardin umar wrote:
Ketek Banamo, Gadang Bagala
Oleh: Ivan Adila


Tersiarlah kabar bahwa Presiden SBY akan menerima gelar adat. Gelar Yang
Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam itu diberikan oleh Lembaga Kerapatan
Adat Alam Minangkabau (LKAAM). Pemberian gelar adat untuk orang di luar
Minangkabau bukanlah gejala baru. Di tahun 1965 pernah ada rencana
memberikan gelar adat Bundo Kandung Agung kepada Hartini Soekarno, yang saat
itu menjadi ibu negara. Rencana itu berubah setelah A.A.Navis berhasil
meyakinkan pihak militer bahwa gelar yang berasal dari tokoh mitos itu tidak
layak disandang oleh ibu negara.
Maka kemudian, Hartini diberi gelar Ibu Kandung, dianugerahkan di
Bukittinggi.
Sejak beberapa tahun terakhir, gelar adat telah diberikan kepada Yusril Ihza
Mahendra, Taufiq Kiemas, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Surya Paloh dan Anwar
Nasution.

Begitu pentingkah gelar adat Minangkabau bagi pejabat dan pengu&shy;saha di
negeri ini? Ataukah di antara orang Minang merasa penting benar memberi
gelar terhadap seseorang dari suku lain?

Bagi lelaki Minangkabau, gelar adat adalah sebuah kemestian. Pepatah adat
mereka mengatakan, ketek banamo, gadang bagala (kecil punya nama, setelah
dewasa diberi gelar).

Setiap lelaki yang sudah menikah tentu diberi gelar adat, yang diumumkan
dalam sebuah acara sederhana saat perhelatan kawin. Pemberian gelar itu
merupakan pengakuan bahwa mereka kini telah menjadi lelaki dewasa, yang akan
diikutsertakan dan diakui hak suaranya dalam musyawarah kaum. Jika kini SBY
baru akan diberi gelar, apakah itu artinya orang Minang menganggap beliau
belum dewasa? Bukankah beliau sudah punya istri, punya anak dan dikenal
sebagai pemimpin yang elegan?
Dari sudut pandang adat, tak secuil pun alasan yang bisa dihi&shy;dangkan
untuk menjelaskan alasan pemberian gelar itu. Warisan adat itu hanya sako
(immaterial) dan pusako (material). Kalau kemudian ada pula yang namanya
gelar sangsako, pastilah itu kato kemudian, kato bacari. Helah untuk mencari
pembenaran. Karena itu, kita harus mencari penjelasannya dari sudut pandang
lain.
Pemberian gelar adat untuk pejabat ini hanyalah lanjutan belaka dari gejala
yang terjadi sejak tahun 1980-an.

Pada masa itu, gelar adat hampir-hampir menjadi jimat yang menja&shy;min
jabatan seseorang. Seorang pejabat merasa belum aman jika belum menyandang
gelar adat. Karena itu banyak pejabat yang memburu gelar adat, terutama
gelar datuk. Syukurlah jika mereka punya tunas tempat tumbuh.

Peresmian gelar tinggal mencari hari baik saja. Hari baik itu adalah masa
menjelang Pemilu atau Pilkada. Bagi yang tidak punya tunas tempat tumbuh,
ada calo gelar yang akan melakukan tugas untuk mereka. Ranji kaum diusai dan
diungkai, dicocok-cocokkan, bahkan dibelokkan agar gelar itu bisa diperoleh.

Anehkah itu? Tentu saja tidak. Sejak zaman pra-sejarah kaum aristokrat
selalu mengaitkan diri dan turunan mereka dengan sesuatu yang hebat.
Raja-raja Eropa mengaitkan silsilah mereka dengan Dewa Zeus. Di Nusantara
ada raja yang lahir dari buih ludah sapi jantan, meni&shy;kah dengan
penguasa samudera, atau berkat kekeramatannya ia hamil tanpa suami. Berbagai
mitos dibuat untuk meyakinkan masyarakat tentang keluarbiasaan itu.
Tujuannya jelas, melanggengkan kekua&shy;saan. Itulah yang kemudian
melahirkan sikap feodalistis di kalan&shy;gan aristokrat.
Di antara ciri utama sikap kaum feodal adalah pandangan bahwa pejabat yang
berada di lingkaran pusat kekuasaan adalah seorang atasan dengan nilai
kebangsawanan dan kekuasaan yang lebih tinggi daripada mereka yang berada di
daerah. Sebagai bawahan, pejabat daerah akan melakukan berbagai hal untuk
menyenangkan hati dan mengajuk perhatian atasannya.

Dengan semua itu mereka mengharapkan berkah dan hadiah dari atasannya. Jika
pejabat pusat datang ke daerah, maka kalangkabu&shy;tlah para pejabat daerah
menyiapkan acara penyambutan dan pelaya&shy;nan. Pemberian gelar rupanya
salah satu modus efektif untuk itu. Tentu saja, hanya Tuhan dan kelompok
feodal daerah sajalah yang tahu bentuk dan banyaknya udang di balik gelar
itu.

Sikap feodal lahir dari rasa rendah diri. Rendah diri karena kita orang
daerah, karena kita orang miskin, karena anak kemenakan kita dihantam
marasmus, karena kita tak mampu mendanai pembangu&shy;nan daerah sendiri.
Pokoknya berkekurangan. Bagi orang rendah diri, berderet alasan lain mudah
dicari. Tampaknya rasa rendah diri itu kini dipelihara, dipupuk baik-baik,
kemudian dipalang&shy;gakkan kepada orang banyak.
Telah lupakah Tuan, bahwa negeri ini telah menyumbangkan banyak pejuang,
pemikir, seniman, wartawan, ulama dan sastrawan untuk membangun bangsa ini
sejak dulu? Kenapa Tuan tak ingat bahwa negeri ini dulu berani bergolak
untuk mengoreksi pusat kekuasaan yang salah arah. Negeri ini jugalah yang
melahirkan M. Hatta, founding father Indonesia. Kini ia menjadi negeri yang
ngeri memandang pusat kekuasaan.

Alangkah lebih berharga dan bermanfaat jika biaya perhelatan pemberian gelar
yang -tentulah cukup besar dan dihabiskan dalam sehari-dua- itu dikumpulkan.
Dari uang itu kita memberi makan rakyat yang kekurangan gizi, membina anak
jalanan yang makin banyak, melengkapi buku perpustakaan sekolah dan mesjid,
memban&shy;gun laboratorium sekolah, atau mengembangkan perekonomian rakyat.
Sehingga beberapa tahun ke depan orang Minang kembali bangkit menyumbangkan
prestasi mereka pada bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan. Sumbangan
yang jauh lebih berharga dan berman&shy;faat daripada sekadar gelar adat. o
*
--------------------------------------------------------------


---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small
Business.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke